Follow Me @linaibuneazzam

Minggu, 29 Mei 2016

NHW#3 Part 1 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah Berbasis Hati Nurani

10.53 0 Comments
MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH BERBASIS HATI NURANI
Part_1
I. Membuat Kurikulum Belajar yang “Gue Banget”
Bunda, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #3 dari proses belajar kita. Setelah semalam bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah berbasis hati nurani, maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Belajar konsisten untuk mengisi checklist harian, yang sudah anda buat di Nice Homework #1. Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

b.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #2, kemudian tetapkan pada diri bunda, Misi Hidup apa yang kita emban di muka bumi ini, bidang apa yang ingin anda kuasai.
Contoh : Misi Hidup : memberikan inspirasi kepada banyak orang
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator
c. Setelah itu susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka tahapan ilmu yang harus saya kuasai adalah sbb:
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
contoh : Saya dulu menetapkan KM 0 saya pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang saya di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari saya dedikasikan 8 jam waktu saya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang saya buat saat itu :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#1, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Ini sejarah hidup saya dulu, maka buatlah sejarah hidup Anda.

Salam,
/Septi Peni/
Dateline pengerjaan NHW3 :
Ahad 29 Mei 2016 pukul 16.00 wib. Selamat mengerjakan Nice Homework#3

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
maka, berikut jawaban NHW#3 saya...
Pertama, tidak mudah ternyata "berbicara pada diri sendiri" mencoba menggali siapa diri dan mengenali tujuan penciptaan diri yang terkandung dalam misi spesifik. Saya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan lama, hingga mendekati deadline NHW#3 ini pun rasanya tetap akan kembali rewritre, reread dan akhirnya revise.
Sehingga saya mencoba memberanikan diri untuk menuliskan tugas NHW#3 ini;
a. InsyaAllah akan belajar konsisten, walaupun sangat menyadari bahwa memelihara konsistensi itu berat. Namun, saya tidak sendiri, ada banyak temen-temen peserta kelas matrikulasi yang menjadi pejuang konsistensi... xi xi xi
b. Mencoba menetapkan diri; 
  • Misi Hidup : memberikan penyembahan hanya pada Allah, memberikan manfaat bagi sesama makhluk Allah dan alam semesta.
  • Bidang : Pendidikan Karakter Ibu dan Anak (genre Entreprenur)
  • Peran : Educator ( V Coach)
c. Untuk menjadi ahli, maka tahapan ilmu yang harus saya kuasai adalah, diantaranya :
  • Diniyah dan Tsaqofah Islamiyah
  • 4 Pilar Tahapan Ibu Profesional
  • Bisnis Mastery (Business Road Map, Financial Literacy)
  • Madrasah Karakter
  • Psikologi Islam
  • Self Sabotage
  • Public Speaking

d. Milestone
Saya mencoba menetapkan waktu "belajar mengasah keprofesionalan" saya dalam sehari 8 jam untuk mendalami hal-hal pada poin b dan c diatas dengan rincian
3 jam belajar diniyah, 
2 jam belajar bisnis, dan 
3 jam belajar menjadi ibu dan istri profesional (ilmu parenting dan keluarga).

KM 0 saya pada tahun 2007 , usia 25 tahun.

Goal harapannya pada usia 35 tahun sudah berani tampil di depan umum, memberikan inspirasi dan pelatihan bagi sesiapapun bunda yang ingin produktif dalam bidang usaha.

Catatan : pada Km 9 hingga Km 20 sebenarnya bersifat resolusi pribadi yang saya ajukan kepada Allah Ta'ala, tidak pernah bermaksud untuk mendahului takdir.

Wallahul Musta'an, hanya kembali memohon dan mengharapkan pertolongan Allah untuk mengabulkan serta mewujudkan keinginan ini.

Karawang, kota perantauan 29 Mei 2016
Lina Ibune Azzam

Review NHW Matrikulasi#2

00.19 0 Comments
REVIEW NICE HOMEWORK #2
"Membangun Peradaban dari Dalam Rumah"
"Kalau kamu ingin berbincang-bincang ke Allah, maka sholatlah. Tetapi apabila kamu ingin mendengar Allah berbicara, memahami apa kehendak Allah padamu, maka IQRA',bacalah semua tanda cinta ALLAH untuk kita, mulai dari surat cintaNya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita"
Apa yang sudah teman-teman lakukan di proses nice homewaork #2 ini adalah proses IQRA'. Dimulai dari membuat surat cinta. Mengapa harus membuat surat cinta? karena bagaimana anda bisa merasakan surat cintaNya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda.
Dan kita semua belajar bagaimana melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna biru 😀 sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis di wall FB yang membuat hati makin mengharu biru.😍
Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta, kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah ditentukan, candle light dg hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan.
Tetapi DIA tetap mencintai kita, tanpa Pamrih.
Menyitir puisi Sapadi Djoko Damono,
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Maka tetaplah alirkan cinta kepada pasangan anda, anak-anak anda, jangan pernah berhenti, seberapapun menyakitkannya balasan yang anda terima.
Terima kasih untuk kebesaran hati teman-teman mempercayakan grup ini untuk menerima aliran rasa anda.
Pahamilah makna "misi keluarga" dan " misi kehidupan" anda...


Dan, percayalah bahwa semua menginginkan keberadaan kita, bahwasanya kita diciptakan tidak sia-sia...


Materi Matrikulasi#3 Part 1 Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah Berbasis Hati Nurani

00.08 0 Comments
MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH BEBRBASIS HATI NURANI
Oleh : Septi Peni Wulandani
Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

“The only reality is YOUR PERCEPTION”

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu anda pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online anda ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda. Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#1, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #2. Misi hidup dan misi keluarga sudah anda tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“Just DO It”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. Bahkan tidak hanya kita para ibu, pemerintahpun terlihat “galau” ingin memasukkan sebanyak-banyaknya pelajaran ke anak-anak kita, tanpa melihat fitrah keunikan masing-masing anak. Kalau kita belum bisa mengubah sistem pendidikan di negeri ini, maka mulailah perubahan dalam sistem terkecil yang anda miliki yaitu keluarga.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH BERBASIS HATI NURANI.

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.
d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.
Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition”

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.
Inilah framework pendidikan dalam keluarga kami,

TANYA JAWAB
  1. Andita - Malang. "Bukan sy, sbg teman bljr anda di iip slama ini, maupun pr ahli parenting lain yg akan mnentukan tahapan ilmu yg hrs anda kuasai, melainkan diri anda sendiri" Yg ingin sy tnykan Bunda Septi...Dalam menyusun list tahapan ilmu yg akan dipelajari..Dimulai dr ilmu yg mmg jd tantangan kt dlm arti mnjadi kekurangan kt/dari ilmu yg emg kt suka dl atw yg jd Sumber kekuatan kt/kah ilmu ttg tumbuh kembang anak dl?  --> Mbak Andita, dalam menyusun list tahapan ilmu itu berdasarkan dari kebutuhan utama kita. Misal kita ingin menjadi ahli di bidang pendidikan anak, maka ilmu apa saja yang harus kita kuasai untuk mencapai hal tersebut. Tetapkan mulai dari Ilmu-ilmu di ranah domestik sampai ke Ilmu di ranah publik. Maka ilmu itu berdasarkan Misi hidup. Ketemu misi hidup kita kemudian ketemu bidang yang ingin kita kuasai. Dari sanalah muncul berbagai turunan ilmu yang harus kita pelajari,✅
  2. Annisa - Bandung. Darimana kita mendapatkan ilmu ttg fitrah anak, misal usia sekian fitrah anak itu begini dan begitu?, terima kasih bu Septi. --> Teh Annisa, sejatinya ilmu fitrah itu ada di Al Quran mbak. Kemudian diterjemahkan oleh manusia dari berbagai disiplin ilmu. Ada yang meneliti dari pengamatan perkembangan anak, dari sisi pertumbuhan psikologis anak dll. kalau saya menentukan dari berbagai macam pengamatan sehari-hari. Sehingga memunculkan sebuah konsep yang paling cocok untuk ketiga anak-anak saya adalah sbb : 0-7 th : kaya akan wawasan; 7-14 th : kaya akan gagasan; 14-21 th : Kaya akan aktivitas.
  3. Novi Ardiani. Apakah mendidik anak sbg kewajiban ayah ibu, menurut bu Septi, boleh didelegasikan?.....jika ya mengapa bu. Jika TDK pun mohon penjelasan. --> Mbak Opi, Mendidik anak itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya mendidik anak itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya. Jadi sejatinya tidak ada yang bisa didelegasikan dalam mendidik anak. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Mendidik anak dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg akil baligh secara bersamaan. Mendidik anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa. Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya. Mendidik tidak hanya sekedar membesarkan dan memberi materi, melainkan anda sedang membangun sebuah sejarah peradaban.
  4. Novita - Tangsel. Kalau ilmu yang harus dipelajari tak searah dengan bidang kerja kita mana yang harus diprioritaskan bu? Ilmu yang di misi kita atau kerjaan kita? --> Mbak Novita, inti dari hidup ini adalah proses menjalankan misi hidup, sehingga kalau kita merasa bidang pekerjaan kita jauh dari misi hidup kita berarti ada yang OFF Track. Cirinya adalah adanya ketidakseimbangan baik dari sisi emosi, waktu dll. Maka segera penuhi ilmu yang sesuai misi hidup kita, maka disitulah akan mengalir banyak keberkahan.✅
  5. Zy-Depok. Untuk menjadi ahli dibidangnya, harus menguasai ilmunya. Bisakah ilmu itu dipelajari secara otodidak atau harus mempelajarinya secara formal, baru dibilang ahli? --> Mbak Zy, banyak cara untuk menguasai ilmu. Selama ini kita selalu disempitkan hanya dengan satu cara yaitu lewat pendidikan formal. Padahal ada banyak peran hidup yang bisa ditempuh dari berbagai cara. Tingga kita lihat saja. Bidang tersebut berkaitan dengan akademis, misal dosen, maka harus melewati jalur formal. Apakah bidang tersebut masuk jalur profesional? maka cari berbagai lisence dunia, sekarang sudah banyak. Atau justru bidang tersebut di ranah enterpreneur, maka segera ambil jalur magang, belajar langsung ke ahlinya.✅
  6. Dyas-depok. Ketika ibu sedang mengajar anak-anak (diwaktu yg bersamaan) bagaimana cara ibu septi menyusun materi pembelajaran utk masing-masing anak (terkait dgn fitrah perkembangannya yg berbeda)? Tolong berikan contoh yg ibu lakukan ketika mengajar enes, ara dan elan di suatu waktu yg sama? Terima kasih. --> Mbak Dyas, contoh di fitrah belajar, saya ambil tentang mengasah intellectual curiosity. Maka untuk Elan yg saat itu berusia kurang dari 7 th, belajar membuat pertanyaan dengan teman yang sama, Misal saya ambil tema "Jakarta". Elan : a. Mengapa Jakarta macet?, b. Siapa yang bertugas mengatasi kemacetan?, c. Bagaimana caranya membuat aturan lalu lintas untuk membuat jakarta lancar? dll. Enes dan Ara yang berada di usia 7-14 th : a. Mengapa tidak kita usulkan sistem lalu lintas untuk Jakarta, b. bagaimana Jika kita buat hari pakai sepeda?, c. bagaiman jika pom bensin diganti Galon air minum untuk pesepeda dll. Sehingga belajarnya anak berdasarkan dari rasa ingin tahu mereka masing-masing, meski temanya sama.✅
  7. Noor - Tangsel. Kalo anak kita sudah usia 12 tahun..untuk ikut dalam tahap perkembangan itu kudu pakai percepatan ya? Bagaimana caranya? --> Bunda Noor, tidak ada yang perlu digegas, maka mulailah mengidentifikasi kemampuan anak-anak kita meski usianya sudah masuk pra aqil baligh akhir. Kemudian kita amati, kemampuan apa saja yang sepertinya harus dipenuhi anak-anak untuk bekal hidupnya kelak. Ingat untuk hidup ya, selama ini kita itu terbuai dengan nilai matematika, IPA, Bahasa dll. Dan merasa sudah cukup mendidik anak-anak. Sehingga lupa untuk melatihnya kemampuan menyelesaikan masalah hidup, kemampuan berpikir kritis, kemampuan kreativitas dll✅
  8. Andita - Malang. Jika misi spesifik hidup terkait mendidik anak dg profesional bu...berati scr tdk lgsg sdh sejalan dg amanah utama..Yg ingin sy tnykan, Bgmn jk misi spesifik hidup tdk berkaitan dg penddikan anak? Apa yg hrs dilakukan utk mnyeimbangkan kedua hal itu? padahal amanah utama tentulah ttp mendidik anak. -->Mbak Andita, saya ambil contoh ya , misal peran hidup kita adalah seorang SERVER, kekuatan diri kita di bidang pelayanan, sehingga misi hidup kita adalah melayani kebutuhan hidup seseorang. Pekerjaan kita di bidang keperawatan. bagaimana dengan penjagaan amanah ke anak-anak? Menjadi perawat adalah kehendakNya dalam hidup anda. Sehingga DIA pasti memiliki rahasia besar, mengapa kita diberi doble amanah. Anak dan pasien. Keduanya memerlukan peran kita sebagai server. Maka profesionallah di keduanya. Kalau anda bisa dengan sabar melayani pasien di RS, maka ketika pulang harus lebih sabar lagi melayani anak-anak, bukan dibalik. Karena kemuliaan anda pada pelayanan. Dan profesional ke anak adalah titik awal anda untuk bisa profesional di bidang pekerjaan kita. Tidak ada yang terpisahkan dan terkorbankan. Ingat Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari.✅
  9. Bunda Ririn. Anak saya usia 10thn belum keliatan mau membaca buku pelajaran sekolah berdasarkan inisiatif nya. Kalau buku pengetahuan yang tampilan nya berupa gambar/komik mau dibaca. Apakah itu sudah dinamakan hobi membaca? Setelah menebak potensi unggul anak. Langkah selanjutnya mau menambah jam belajar nya yg sesuai dengan potensi nya. Apakah orang tua jadinya memaksakan kalau anak dari pagi sampai siang sdh belajar di sekolah negeri lalu sore dan malam di tambah pelajaran sesuai potensi nya? --> Bunda Ririn, anak itu tidak bisa dibohongi, ketika suatu buku sangat menarik minatnya untuk membaca, maka disitulah dia akan membaca tanpa dipaksa. Sehingga kita bisa melihat apakah buku pelajarannya semenarik buku komik? kalau tidak cari buku pelajaran yang seindah komik, banyak gambarnya. Anak yang pagi belajar pelajaran di sekolah, sore harinya tetap les pelajaran itu sama dengan MEMBUNUH anak-anak. Memperkuat potensi unggul itu harus beragam. Delivery methode nya harus banyak. Misal pagi sudah belajar matematika, maka sore harinya ajak silaturahim ke para ahli matematika, ajak untuk bereksperimen untuk melihat matematika yang ada di semesta alam dll,✅
  10. Euis - IIP Sulsel. (1) Bagaimana jika pendidikan dan kegiatan anak di rumah hanya umminya yg menghandle bu krn abinya sibuk?? Gapapakah? (2) Saya masih bingung metode apa yg tepat utk mengajari anak baca tulis dan iqro utk rafi 5,5th... iqro baru jilid3 aism jilid2 hampir slesai, Kl mau mulai harus merayu dulu cukup lama, yg dia minta rutin setiap hari,,, saya disuruh bacakan cerita dr buku2 yg sudah saya saya sediakan. Mohon pencerahan bu...--> 91) Bunda Euis, yakinlah di awal, anda tercipta sebagai makhluk tangguh. kalau suami tidak ikut campur dalam proses mendidik anak-anak, dan tidak mengganggu, itu baik. Tapi apabila suami mau terlibat, maka itu Luar biasa. (2) Jangan pernah paksakan anak, dengan cara kita, kita harus masuk dengan gaya belajar anak. Prinsipnya anak yang bisa berbicara pasti akan bisa membaca. Tugas kita menstimulus terus menerus dengan gaya belajar yang dia sukai. Kesalahan fatal adalah kita memaksakan anak belajar membaca/mengaji dengan cara kita dan dengan gaya belajar kita sebagai orangtua, tidak mau memahami bagaimana "jalan mudah" anak tsb dalam menerima ilmu baru"

Senin, 23 Mei 2016

NHW#2 Membangun Peradaban dari Rumah

03.59 0 Comments
"Rumah adalah miniatur peradaban,
Semua bermula dari rumah...
Maka penting bagimu menghidupkan dan membangun cahaya peradaban yang unggul dari dalam rumahmu..."

Inilah Nice Home Work#2 kami kali ini.., sementara materi bisa dilihat pada tulisan sebelumnya.

Bunda, setelah semalam kita belajar tentang “membangun peradaban dari dalam rumah” maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

b. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan kekuatan potensi dari mereka, siasati kelemahan masing-masing.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Kearifan lokal apa yang anda lihat? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini.

e. Setelah menjawab pertanyaan a-d, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini.

Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di Nice Homework #2 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.

*************************************


Terimakasih pada mb Niken Tf Alimah yang telah mengingatkan kami sebelumnya tentang perkara keutamaan menjaga cerita-cerita rumah tangga dan kehidupan para istri dengan suami mereka, baik itu kepada kerabat dan teman-teman mereka.

Sumber dari mbak Niken izin saya copas disini

Maka jawaban dari NHW#2 milik Lina Ibune Azzam adalah;

a. Well done!. Saya pun sudah melihat respon suami.
b. Kekuatan dan potensi anak-anak :

  •    Azzam (8 tahun), anak dengan potensi visual dan audio yang kuat ~masyaAlloh~, senang sekali makan bakso dan tidak terlalu suka ikan yang serba digoreng atau rebus. Ikan bakar langsung dihabiskan dengan lahap. Diusianya saat ini sangat membutuhkan penyaluran aktivitas fisik seperti memanah, main sepakbola, sepedaan dan berenang. Pengendalian diri cukup bagus (mampu meredam dan menahan keinginan untuk jajan, atau sekedar bermain diluar terlalu lama). Perasaannya sangat peka untuk saat ini.
  • Syifa (6 tahun), anak yang pandai dalam bahasa, cerdas insyaAllah, sedikit keras kepala dan sangaat manja jika bersama ayah. terkadang perhatian terkadang cuek.
  • Aisyah (3 tahun), anak yang easy going, senengnya sama ibu, menyenangkan dan sangat menghibur kami
  • Alifa (1 tahun), kalem, melankolis namun sudah bisa berontak memperjuangkan keinginannnya
     Alhamdulillah semua lahir secara normal ~gentle bird~, sukses IMD langsung setelah kelahiran, dirawat dan dibesarkan sendiri tanpa art, hanya Allah yang memampukan.

c. Kekuatan dan potensi diri
   ~ sedang merenungkan~

d. masih merenung...

insyaAllah setelah perenungan berakhir akan kembali merevisi dan memperbarui tulisan ini
Demikian,



Sabtu, 21 Mei 2016

Materi Matrikulasi#2 Membangun Peradaban dari Rumah

14.42 0 Comments
Materi disampaikan oleh Bu Septi Peni Wulandai dalam Kuliah WhatsApp Grup Matrikulasi Batch 1, pada Senin pk Senin, 16 Mei 2016 pukul 5:20 WIB.
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya  menuju peran peradabannya”
Bunda, rumah kita adalah miniatur peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pelaku peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Maka tugas utama kita sebagai pelaku peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Allah menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifik’nya, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
Pertama, temukan potensi unik kita dan suami. Coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki?Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini? Potensi unik produktif apa  yang kelak menjadi panggilan hidup atau alasan kehadiran di muka bumi yang menebar rahmat dan manfaat bagi alam dan kehidupan.
Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini?Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa  potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalan-Nya. Karena orang yang sudah berjalan di jalan-Nya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Diskusi seputar materi;

#1 Pertanyaan Niken TF Alimah – IIP Salatiga
Antara pekerjaan, berkarya, dan mendidik anak bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Berdasarkan pengalaman ibu, apa saja yang mempengaruhi berapa lama bukti itu datang? Apakah saat kolaborasi jawaban 4 pertanyaan dasar tentang misi hidup tersebut atau ada faktor lain yang menjadi katalisnya?
Jawaban:
Menurut pengalaman saya dan pak Dodik, ternyata kuncinya adalah di nomor satu, penerimaan kita terhadap pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai kehebatan masing-masing, menyiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami. Hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga.
#2 Pertanyaan Nia – IIP Depok
Bagaimana tahapannya kita bisa tahu dan menemukan misi spesifik keluarga kita? Apakah berawal dari memetakan kelebihan kita sebagai orangtua dulu, baru kemudian anak? Usia berapa kita bisa mengikutsertakan anak dalam pemetaan misi spesifik keluarga?
Jawaban:
Betul mbak Nia, dimulai dari pemetaan diri kita berdua sebagai pasangan suami istri, kemudian setelah itu berdua memahami anak-anak yang dihadirkan dalam keluarga ini, selanjutnya potensi unik alam, tempat kita tinggal, komunitas sekeliling kita dan lain-lain. Disanalah kita bakal paham, mengapa Allah menjadikan keluarga kita seperti ini.
Ada gejala-gejalanya, antara lain, ketika kita melakukan hal tersebut,mata kita selalu berbinar-binar, energi tidak pernah habis, serasa ada energi yang terbarukan, tidak pantang menyerah, setiap kali ada ujian, selalu makin bersemangat. (Itu versi saya).
Kalau versi Abah Rama, ada 4 E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Nah untuk itu perlu dicoba satu persatu, ketika menemukan sesuatu yang “gue banget” segera tekuni dan jangan berganti-ganti (mengingat faktor U- umur) disitulah kita akan semakin memahami mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini
#3 Pertanyaan Laila Muhammad – IIP Aceh
Berangkat dari 2 orang yang menikah tanpa visi misi, hanya karena cinta dan merasa sama-sama baik, bagaimana menemukan misi spesifik keluarga? Apakah learning by doing atau harus berupaya dengan membuat poin-poin penting dan dievaluasi?
Jawaban:
Cara menemukan misi spesifik sudah saya jawab di atas ya. Kerentanan sebuah rumah tangga itu biasanya disebabkan karena keluarga tersebut tidak memiliki “misi pernikahan” dan “tidak ada kegiatan mendidik” didalamnya. Hanya sekedar cinta dan merasa sama-sama baik.
Good is not enough anymore, we have to be different.
Harus ada yang membedakan keluarga anda dengan keluarga yang lainnya. Karena keluarga anda adalah unik. Maka tidak bisa keluarga itu asal jalan saja, harus disepakati bersama ke arah mana perjalanan menuju DIA. Dari situlah kita akan paham perjalanan keluarga ini setelah beberapa tahun menikah ON TRACK atau OFF track. Bicarakan dengan suami, dan evaluasi setiap tahun perjalanan hidup.
#4 Pertanyaan Andita – IIP Malang
Boleh tau misi pernikahan Bunda Septi & Pak Dodik? Pada usia berapa tahun menemukan misi spesifik hidup? Boleh tau apa misi spesifik hidupnya?
Jawaban:
Dari awal menikah, Pak Dodik sudah punya misi “membangun peradaban dari dalam rumah”, sehingga meminta saya sebagai calon istrinya untuk melepas SK Pegawai Negeri saya, dan full menjadi ibu bagi anak-anaknya.
Pada usia berapa tahun menemukan misi spesifik hidup? Kalau saya baru menemukan misi spesifik hidup setelah dikaruniai Enes dan Ara.Perlu proses panjang. Kalau pak Dodik kayaknya sebelum menikah sudah punya. Saya banyak belajar dari beliau.
Boleh tau apa misi spesifik hidup? Misi spesifik hidup saya“INSPIRATOR” tugas saya di muka bumi ini ternyata ingin menginspirasi banyak orang. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan “inspirasi” selalu membuat saya berbinar-binar. Dan lebih spesifik lagi khusus untuk pendidikan anak dan keluarga. Kalau pak Dodik ” Developer dan Educator” beliau selalu berbinar ketika menjalankan peran membangun hal baru yang berhubungan dengan pendidikan. Saat ini kami sedang mengamati 3 peran hidup  anak-anak, sedang kita lihat konsistensinya.
#5 Pertanyaan St Annisa M – IIP Bandung
Darimana kita tahu kurikulum yang cocok untuk anak-cocok? Membeli ide dimana biasanya Pak Dodik dan Bu Septi? Saya ibu dari 4 anak, jadi kadang bingung jika ketika mereka belajar bersama. Bahasa yang disampaikan harus ikut bahasa usia anak yang mana.
Jawaban:
Personalized Curriculum untuk setiap anak itu muncul bersamaan dengan penemuan misi spesifik masing-masing anak. Sehingga kami tidak pernah memakai kurikulum baku yang sudah dibuat oleh manusia. Seiring berjalannya waktu kita amati perkembangan anak-anak, kami diskusikan berdua, buka dasar Alqur’an dan Hadist, kemudian bersilaturahim dengan para ahli, setelah itu kita susun bersama dengan anak-anak.
Mengenai konsep belajar, bunda nanti bisa belajar di materi “manajemen kelas” biasanya saya mempraktekkan bagaiman mengajar dengan berbagai usia di rumah. Ikuti terus ya
#6 Pertanyaan Nesri Baidani – IIP Bogor
Saya suka bingung kalau bicara misi. Terakhir kali waktu merumuskan misi keluarga, langkahnya seperti ini:
1. saya buat draft misi keluarga dalam bentuk mind map. draft dibuat.berdasarkan hasil ngobrol ngalor ngidul yang saya simpulkan.
2. mengajukan mind map pada suami
3. mendiskusikan mind map (seringnya sih suami udah setuju aja)
4. kesimpulan misi keluarga.
sudah benar belum ya bu prosesnya?

Jawaban:
Kalau melihat langkah mbak Nesri, terlihat mbak Nesri yang lebih sistematis, lebih proaktif dibandingkan suami. Kalau memang kondisinya semacam itu, maka langkah mbak Nesri sudah tepat untuk saat ini. Ke depan akan lebih baik lagi kalau mindmap itu muncul dari kedua belah pihak, banyakin ngobrol dan libatkan anak-anak. Belajar menjadi fasilitator handal untuk keluarga, sampai kita akhirnya banyak mendengarkan daripada berbicara. Setelah itu sistemasikan
#7 Pertanyaan Lisa Agustina – IIP Banjarmasin
Bu Septi dan Pak Dodik di awal pernikahan apa pernah terjadi perubahan visi misi yang sebelumnya sudah di gagas di sebelum menikah? Jika iya, bagaimana caranya bisa kembali ke visi misi awal atau malah merubah bersama-sama visi misi sesuai keadaan?
Jawaban:
Kalau misi pernikahan dari awal selalu ON Track di membangun peradaban. Yang mengganggu biasanya kerikil-kerikil tajam kehidupan yang disebabkan karena kesalahan metodenya bukan MISI nya yang salah. Metode itu bisa komunikasi yang tidak produktif, cara menyelesaikan masalah yang kurang bijaksana, kekreativitasan dalam mengelola rumah tangga yang berhenti dan lain lain. Jadi yang diperbaiki adalah hal tersebut. Kami berdua selalu menguatkan pada core value sebagai jalan kami yaitu IMAN dan KEHORMATAN. Apakah yang kami lakukan ini menguatkan iman dan kehormatan? Kalau ya lanjut, kalau tidak stop. Itu yang menjadi indikator perjalanan.
Ini adalah pertanyaan tambahan, setelah diberikan Nice HomeWork.
#8 Pertanyaan Zakiyah – IIP Malang
Saya ingin bertanya tentang NHW2 poin B terkait kekuatan potensi dan kelemahan anak. Bolehkah Ibu memberi batasan kekuatan potensi dan kelemahan anak menggunakan parameter apa? Karena jika tidak dibatasi, jawaban akan sangat luas.
Bagi kami dengan label psikologi, untuk melihat kekuatan potensi dan kelemahan bisa dilihat dalam banyak aspek, meski dalam bahasa kami untuk anak lebih tepat menggunakan kata matang dan belum matang. Sedangkan istilah kekuatan dan kelemahan lebih cocok digunakan untuk remaja yang sudah terukur bakatnya. Dengan uraian di atas, saya mohon diberi pencerahan dalam menganalisa kekuatan potensi dan kelemahan anak.
Apakah berdasarkan:
  • Milestone, yg dijabarkan melalui aspek kognitif, emosi, sosial, dorongan/ motivasi dan fisik & motorik.
  • Tipe temperamen anak yang sudah dibawa sejak lahir
  • Perkembangan kognitif oleh Piaget
  • Tahapan psikoseksual oleh Sigmund Freud
  • Tahapan psikososial oleh Erikson
  • dsb
Selain itu dalam melihat kekuatan dan kelemahan anak tidak bisa dilihat sepotong-sepotong berdasarkan milestone, tapi juga perlu dilihat usia dan pola asuh ortu.
Izinkan saya untuk memberi contoh:
– anak umur 4 tahun dibilang kelemahannya agresif & pembangkang. Bagi yang memiliki pemahaman psikologi tentang teori perkembangan anak, mungkin lebih mengerti bahwa anak umur 4 tahun secara umum belum bisa mengendalikan emosi dan masih berada dalam tahap negativistik, sehingga tidak akan menganggap hal tersebut kelemahan. Namun orang awam mungkin bilang itu kelemahan.

– Misalnya ortu sangat academic oriented. Sejak bayi,  anaknya sudah diperlihatkan flash card berisi huruf alfabet, kata-kata & angka-angka. Sering diberikan games-games edukasi. Yang semuanya dilakukan sambil duduk. Ortunya kurang menstimulasi anaknya untuk melompat, memanjat, menaiki/menuruni tangga, dan sebagainya. Lalu saat berusia 3 tahun,  si anak sudah bisa membaca kata. Tapi dia belum bisa naik/turun tangga dengan kaki bergantian, belum bisa jalan mundur, belum bisa melompat. Apakah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kekuatan anak itu adalah membaca (persepsi visual, daya ingat) dan kelemahannya adalah motorik kasar? Padahal jika dianalisa lebih jauh ketidakmatangan anak dalam aspek motorik kasar lebih disebabkan oleh treatment dari orangtuanya.
Demikian Bu Septi, mohon konfirmasi dan pencerahan.
Jawaban:
Di point B kita akan khusus mengamati potensi kekuatan anak kita, tidak perlu menuliskan kelemahannya. Karena dengan mengenal potensi kekuatan kita akan bisa mensiasati kelemahan anak.
Prinsip : “pahami kekuatan diri, siasati kelemahan”
“Apabila engkau melihat anakmu berbuat baik, puji dan catatlah, namun ketika anakmu berbuat buruk, tegur, dan jangan pernah kau mencatatnya”  
(-Umar bin Khattab)
Indikator apa yang dipakai? 
Bergantung pada masing-masing keluarga, mau mengambil milestone berdasarkan teori yang sudah dibuat orang lain atau berdasarkan value keluarga yang disepakati. Untuk hal ini semua keluarga tidak bisa seragam. Karena kita beragam. Sepakati dengan suami, mana track yang akan dipakai. Sehingga berdua akan mengatakan ON Track atau OFF track.
Contoh kalau di keluarga kami sepakat melihat kekuatan anak denganindikator kefitrahannya:
a. Fitrah Ilahiyah dengan 4 indikator: iman-akhlak-adab-bicara
b. Fitrah Belajar dg 4 indikator : Intellectual curiosity- creative imagination-art of discovery and invention – noble attitude
c. Fitrah Bakat dg 4 indikator : Enjoy-Easy-Excellent-Earn
d. Fitrah perkembangan : Saya pakai buku KIA nya Jica sejak anak-anak ada dlm kandungan.

Silakan buat sesimple mungkin dan semudah mungkin, sehingga bekerja untuk kita dan anak-anak.
Prinsip terakhir: ” Semua boleh, kecuali yang tidak boleh”. Semua teori yang diyakini keluarga boleh dipakai, yang tidak boleh cuma satu“Mencari kelemahan anak-anak kita”
#9 Pertanyaan Fahrina – IIP Singapore
Maksudnya mensiasati kelemahan bagaimana ya bu? Masih bingung. Kita tidak boleh mencari kelemahan Tapi mensiasati. Kalau mau disiasati bukannya harus tahu dulu? Maaf belum mengerti.
Jawaban:
Benar kelemahan itu terdeteksi oleh kita tapi tidak perlu diungkapkan apalagi ditulis gede-gede dan ditempel.  Yang perlu ditulis gede dan dimasukkan alam bawah sadar kita adalah kekuatan anak-anak.
Misal : anak kita dalam fitrah bakat terdeteksi lemah di bidang art, maka kita akan siasati kelemahan ini ke depannya dengan tidak memaksa anak belajar art melainkan berkolaborasi dengan anak-anak yang kuat di bidang art.