Gemez dgn obrolan sore kemarin,
Ibu : "kak Aisy besok klo dah masuk (pondok) yang ramah ama temen2 baru yah? Diajak kenalan duluan, gak usah nunggu disapa. Ada yang jauh-jauh dari papua, lombok, makassar juga"
Aisy : "iya bu insyaAllah. Tahu gak buk? Di kelasku yg masuk pondok cuman aku, yg lainnya ke Spansa". (SMP 1 deket sini maksudnya).
Ibu : "ya gpp, itukan pilihan... Semua berhak sekolah dimana aja. Di SMP juga bagus, MTs juga bagus, mau mondok juga bagus... Asal niatnya menuntut ilmu karena Allah, disesuaikan juga dgn minatnya."
Aisy : "tapi buk.... (auto menunduk) temen-temenku bilang pada gak mau mondok, karena kayak anak dibuang. Mereka pilihannya klo gak diterima di Spansa, mau ke PG (smp swasta)."
( berhenti dulu dari oncek bawang, lalu menatap lembut mata putriku yang masyaaAllah indah sekali)
Ibu : "kalo kakak Aisy gimana perasaanmu nak? apakah seperti itu juga?"
(ibu mencoba memvalidasi suara hatinya)
Aisy : ''aku biasa aja, gak kayak mereka."
Ibu : ''mmm...tapi apa kakak mengerti kenapa lulus SD ini lanjut ke W****A?,...... artinya walaupun itu pilihan ibu, tapi aisy juga boleh punya pilihan lain?!''
Aisy : ''iya gpp, aku juga mau kok mondok di W*****A. Cuma teman-teman di kelas kayak gimana gitu tahu klo kakak masuk pondok"
Ibu : ''apa yang ada di benak teman-temanmu, kira-kira?''
Aisy : ''mereka ngertinya klo lulus yo lanjut SMP, makanya mendaftar ke SMP-SMP negeri dulu, klo gak keterima baru ke SMP swasta, kalo gak keterima juga baru masuk pondok"
-------- ibu mulai menerka kearah mana pembicaraan ini ---------------
akhirnya, oncek bawang tertunda dulu, penting banget untuk memfollow up apa yang sedang Aisy pikirkan dan rasakan. Urusan nyate, nongseng dipikir keri...
Anak pondok, anak buangan?
Tulisan judul dalam postingan blog ini mungkin terkesan subjektif (bahkan mengandung unsur tuduhan yang gak berdasar) tergantung bagaimana konteks dan intonasi saat membacanya. Atau mungkin beneran bertanya mencari faktanya seperti apa. Namun dalam beberapa kasus, hal ini bisa benar.
Terlepas dari itu semua, sebagai wali santri saya tidak sepakat dengan judul tersebut. Saya punya cerita di masa lalu, memang benar adanya bahwa "menyekolahkan" anak ke pesantren (di zaman saya sekolah dulu) bukanlah pilihan utama. Orang tua ku sendiri juga gak melirik pesantren sebagai model pendidikan untuk anak-anaknya. Salah satu penyebabnya ya karena dalam sejarah keluarga kami sebelumnya tidak ada satupun anggota keluarga yang mengenyam pendidikan di pesantren.
Mungkin stereotip yang terbangun kala itu, pesantren hanyalah pilihan terakhir (atau malah gak jadi pilihan) diatas pilihan sekolah-sekolah umum dan kejuruan. Atau juga terkadang ada sebagian orang tua yang menjadikan pondok pesantren sebagai ''ancaman'' bagi anak-anak tertentu yang sudah membuat kepala orang tuanya cenat-cenut karena tingkah polah mereka.
Maka muncullah kalimat, ''kamu kalo gak mau belajar yang bener, bunda masukin pondok loh...!", "kalo gak lulus di SMP/SMA favorit ayah bakalan daftarin pesantren aja, biar dapat pembinaan disana..."
Ya begitulah kurang lebih, yang bagiku lebih mirip kalimat mengancam/intimidasi.
Alhasil, anak-anak akan mempersepsikan bahwa pondok pesantren itu sekolahnya para murid yang bermasalah, para murid yang tidak layak mendapat pendidikan bonafid, para murid yang pantas ''dibuang'' ke dalam lembaga pembinaan karakter bernama pondok pesantren.
Boleh jadi, justru kitalah para orang tua yang membingkai pondok pesantren dengan bingkai yang menyeramkan dan tidak menyenangkan, boleh jadi karena ulah kita para orang tua yang tak sengaja jatuh ke dalam dosa ''memfitnah'' kepada pondok pesantren secara umum.
Jika memang demikian adanya, segera istighfar duhai ayah bunda...