CATATAN KECIL DALAM MERTI DESA
https://www.instagram.com/reel/Cxk0xuSSngD/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
Mendamaikan realita dan asa
Sejak 2017 saya stay di bumi Ngayogyakarta Hadiningrat baru tahun ini 2023 ikut berpartisipasi sebagai peserta dalam merti dusun/desa. Alhamdulillah, ahad pon kemarin 24 September 2023 sebagai keikutsertaan untuk pertama kalinya sebagai perwakilan dari Jama’ah Masjid Baiturrohmaan.
Kami Bersama tim Muslimah dan adik-adik santri TPA SABA (Santri Baiturrohmaan) meniatkan partisipasi ini mampu memberi warna baik bagi kehidupan bermasyarakat di kapanewon Panjatan ini.
Sebab menebar kebaikan itu artinya bersedia ‘’srawung’’ dengan warga, berinteraksi secara santun bersama mereka, menggali apa keinginannya, menangkap rasa yang mungkin sulit terungkap dan memfasilitasi kebutuhan mereka.
Namun ya srawung ini tentu menjadi hal yang menantang, apalagi jika pijakan nilai ada perbedaan. Seni berinteraksi sangat diperlukan dalam kondisi seperti ini pastinya. Agar harmoni tetap terjaga.
Alhamdulillah merti desa telah berlalu, namun masih meninggalkan beberapa catatan. Semoga catatan ini bisa menjadi bahan muhasabah bagi siapa saja yang merindukan perubahan kearah kebaikan.
1️⃣ Qimatul ‘amal ( tujuan nilai dari sebuah amal perbuatan)
Setiap manusia yang beraktivitas ( baca : beramal) tentu memiliki qimah. Dalam agama Islam, kita diajarkan untuk menancapkan qimah ini karena dan untuk Allah Sang Pencipta.
Ø¥ِÙ†َّ صَلاتِÙŠ ÙˆَÙ†ُسُÙƒِÙŠ ÙˆَÙ…َØْÙŠَايَ ÙˆَÙ…َÙ…َاتِÙŠ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ رَبِّ الْعَالَÙ…ِينَ
Dan menurut informasi yang kami dengar dan kami baca disini, merti desa/dusun ini diadakan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas segala karunia yang telah diberikan Sang Pencipta.
Rasa aman, panen/rezeki melimpah, ketentraman, dan keselarasan hidup yang tercipta diatas Buminya Allah. Nikmat berharga itu sudah sepatutnya untuk senantiasa disyukuri. Maka sangat lazim ditemui tradisi merti desa seperti ini dimanapun, bahkan dilestarikan secara turun temurun.
Sampai disini insyaaAllah semua akan aman, namun merti desa/dusun akan mulai menjadi kegiatan yang tidak perlu dilestarikan apabila dalam perspektif agama Islam bertolak belakang dengan aturan-aturan syariat.
2️⃣ Posisi budaya dalam agama.
Budaya itu bukan agama, dan budaya tidak dapat menggeser agama.
Dahoeloe orang arab jahiliyah (sebelum mengenal dakwah Islam) memiliki budaya dan adat istiadat yang baik, dan setelah Islam turun masih tetap dipertahankan (selama tidak menyelisihi nilai-nilai islam). Contohnya memuliakan tamu, solidaritas warga (membela ketika ada yang didzolimi), keberanian.
Jika dibawa ke dalam kearifan lokal di negeri kita, maka budaya memberi makan, kebersamaan (guyub), saling perhatian, tepa seliro, rukun, gotong royong adalah nilai-nilai budaya yang juga patut dijaga.
Poinnya selama budaya tersebut tidak menyelisihi nilai agama, silakan dilestarikan.
Namun jika budaya tersebut ada yang bertentangan dengan syariat, maka harus ditinggalkan. Contohnya kesyirikan, khurafat, sesajen (biasa ditemukan di kuburan leluhur, tempat-tempat mistis / sumur tua/pohon keramat dll. Amalan-amalan ini oleh para ulama menyebutnya perbuatan keji.
‘’Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah, "Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh berbuat keji. Mengapa kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (Qs. Al A’rof: 28)
Perbuatan keji diatas itu barangkali memang tidak merugikan manusia lainnya, namun sesungguhnya ia adalah bentuk kedzoliman kepada hak Allah. Beralasan sebagai kearifan lokal dan warisan simbah leluhur bukanlah alasan yang dapat diterima secara syar’i.
Sehingga, kita sebagai generasi intelek di akhir zaman ini semestinya bisa lebih cerdas menakar hal tersebut.
3️⃣ False Celebration
False celebration adalah cara asik untuk merenungi sebuah kesalahan/kekeliruan.
Bikin klustering hal-hal yang sudah baik dan hal-hal yang perlu diperbaiki. Dengan begitu kita akan fokus pada faktor kebaikan apa yang tetap dilestarikan dan yang akan dibenahi kedepannya.
Misalnya,
^ yang sudah baik : menyapa masyarakat dengan keramahan ✅
^ yang perlu diperbaiki : susunan acara merti sebaiknya tidak menabrak jam sholat, ❎
opsi solusi : ada break ishoma (istrahat-sholat-makan).
Sekiranya demikian catatan kecil seputar Merti Desa/Dusun, teriring do’a semoga negeri kita, 🇮🇩 Indonesia menjadi negeri yang baldatun thoyyibah wa robbun ghofuur ( negeri yang diberi kelimpahan kebaikan alamnya dan kebaikan akhlak masyarakatnya ).
Salam kebaikan,
Lina Ibune Azzam
Dari Masjid Baiturrohmaan Untuk Masyarakat Cerme Panjatan