Follow Me @linaibuneazzam

Kamis, 30 November 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (1)

23.26 0 Comments
Kamis, 30 November 2017

Hari ini menjadi hari pertama pelaksanaan tantangan 10 hari game Level 10, Bunda Sayang.

Bertema "Membangun Karakter Lewat Dongeng"

Karena langit Jogja beberapa hari ini dilimpahi air hujan yang masyaaAlloh sangat  banyak, ibu akhirnya mencoba membuat cerita rekayasa untuk menghadirkan pesan terkait fadhilah air hujan, bagaimana terjadi hujan, adab manusia terkait saat hujan dan menanamkan makna keTuhanan dalam proses hujan sebagai rahmat dari sang maha pencipta.

Cerita berkisah tentang sekelompok kodok yang sedang berpesta menikmati limpahan air hujan, mereka sangat bahagia dan berucap syukur atas rizqi air hujan itu. Alif 2th & Aisy 5th sangat excited mendengarkan cerita ibu, bahkan seolah-olah sampai memaknai bahwa cerita ibu itu nyata adanya. Karena, si kodok di belakang rumah pas bernyanyi dengan suaranya yang riuh rame.

Sementara mas Azzam 10th dan mbak Syifa 8th melakukan kegiatannya sendiri. Dan, ternyata... mereka pun membuat ceritanya sendiri.
Cerita mas Azzam

Berikutnya cerita Syifa...
Cerita mbak Syifaa

Waaaah... senangnya anak-anak menikmati sensasi bercerita yang bermakna. Mari terus latihan ya nak...

#Tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#Level10
#GrabYourImagination





T10 Kelas Bunda Sayang Level 10

21.38 0 Comments
🎊🎊Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang level 10 🎊🎊

🌈Membangun Karakter Anak melalui Dongeng 🌈

Dongeng adalah salah satu usaha laku kita dalam bertutur tentang sebuah cerita yang pasti tidak akan ditolak oleh anak-anak. Maka sangat pantaslah jika kita sebagai seorang ibu harus berlatih untuk mendongeng :

📝 Bagi yang anak-anaknya dibawah 12th / belum baligh :
🦋 Latih diri kita untuk membuat dongeng kreatif yang mengandung nilai karakter yang ingin kita tanamkan ke anak-anak, ceritakan kepada anak-anak dengan cara yang kreatif juga & catatlah prosesnya setiap hari.

📝 Bagi yang anak-anaknya sudah baligh:
🦋 Latih diri kita untuk terlibat bersama anak-anak mencari & ngobrol bareng tentang segala sesuatu yang menginspirasi ( tentang siapa, apa , bagaimana , dst ) dan mempunyai nilai2 kebaikan kemudian catat kisah serunya setiap hari .

📝 Untuk semuanya :
Silakan latih diri kita untuk menjawab segala keluh kesah anak atau anggota keluarga atau teman dengan dongeng/kisah

Contoh :

"Ibu, ini bulan-bulan yg sangat berat dalam hidup saya, saya nggak sanggup lagi kayaknya untuk melanjutkan proses yg sdh saya mulai"

Jawab :
"Hmmm...sini ibu peluuuk....kisahmu ini sepertu pilot yang sedang menembus gumpalan awan,, ada rasa takut untuk memasukinya, tapi sang pilot memutuskan harus masuk awan itu, tidak bisa balik, karena pasti tidak akan sampai tujuan.  Apa yang dilakukan sang pilot? Full Konsentrasi, dan High Speed masuk ke awan dan turbulensi yg luar biasa. Penumpang pun berteriak menyebut nama Allah, pilot pun mungkin keluar keringat dingin, adrenalinnya naik, emosinya diguncang, tapi dia harus tenang. Alhamdulillah suasana seperti itu hanya sesaat, yang penting berani unt dilalui. Pilot Pun segera bersyukur tenang.. penumpang mulai senyum bahagia. Sampai di daratan peristiwa di atas tadi memang menakutkan tapi akan menjadi bagian cerita perjalanan kita.


⏳Periode tantangan 30November-16 Desember 2017⏳

📚Kumpulkan tantangan pada link berikut ini :

http://bit.ly/GAME10_FASIL_Bunsay


💻Bagi anda yang menggunakan blog , gunakan label :
Ibu Profesional
Bunda Sayang
Level 10
Tantangan 10 hari

🖥 Gunakan hashtag berikut saat pengumpulan tugas:
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Selasa, 28 November 2017

Berpikir Tingkat Tinggi (Belajar HOTS, bagian 2)

22.59 0 Comments
Setelah menelaah karakteristik abad 21 dan pergeseran model pembelajarannya, maka tahap selanjutnya kita akan memahami bagaimana proses berpikir yang selaras dengan karakteristik abad 21 tersebut. Berpikir yang dimaksud adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS, High Order Thinking Skill).

Apa itu HOTS?


HOTS ini merupakan kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kemampuan berpikir kreatif dan divergen (creative thinking and divergen), kemampuan berargumen (reasoning) dan kemampuan mengambil keputusan (decision making). Kemampuan-kemampuan tersebut dimaknai sebagai kecakapan berpikir pada level tinggi.

Gagasan HOTS ini awalnya, secara sederhana dijelaskan oleh Benjamin S. Bloom (1956) dalam Taxonomy Bloom, yang kemudian mengalami revisi oleh muridnya Anderson, L.W (2001). Mari kemudian kita cermati bersama,

https://thesecondprinciple.com/teaching-essentials/beyond-bloom-cognitive-taxonomy-revised/

Awalnya taksonomi Bloom terdiri atas dua domain, domain kognitif dan afektif. Sehingga pada taksonomi Bloom (old) disusun dalam bentuk kata benda/sifat. Hingga pada versi revisi, terlihat bahwa terdapat penambahan domain psikomotorik melengkapi versi lama.

Maka, pada tahun 2001 murid Benjamin S.Bloom yang bernama Lorin Anderson mempublikasikan hasil revisinya dan diberi nama Revisi Taksonomi Bloom. Beberapa poin perbaikannya adalah;
1. Masing-masing kategori masih dalam urutan hirarkis (dari level terendah, menengah dan tertinggi)
2. Perubahan kategori dalam bentuk Verb Form
3. Kemampuan analitis dan sintesis diintegerasikan menjadi analisis saja
4. Menambahkan kategori creating pada puncak level berpikir


Bagaimana memahami Revisi Taksonomi Bloom?


https://www.karenwalstraconsulting.com/home/index.php?ipkArticleID=15

Tingkatan berpikir itu diawali dengan proses mengerti (remembering) yakni mengambil kembali info yang tersimpan dari memori. Ini masuk pada tingkatan berpikir level terendah ( LOTS, Lower Order Thinking Skills).

Dua tahap berikutnya adalah memahami (understanding) yakni membangun koneksi konsep di dalam pikiran, kemudian menggunakan konsep tersebut dalam sebuah penerapan (applying). Tahap ini masuk ke dalam tingkatan berpikir level menengah ( MOTS, Middle Order Thinking Skills).

Hirarki berikutnya merupakan tingkatan berpikir pada level tertinggi (HOTS, Higher Order Thinking Skills). Dimulai dengan kemampuan menganalisa, mengkritisi, mengidentifikasi kemudian meningkat memeriksa, membuat keputusan, menalar hingga menemukan sebuah solusi dari masalah dan pada puncak HOTS ditandai dengan kemampuan berpikir kreativ (creative thinking), mampu mengorganisasikan segenap informasi yang dimiliki dengan cara baru atau cara yang berbeda.



Referensi :

http://alief-hamsa.blogspot.co.id/2012/11/revisi-taksonomi-bloom.html

Sabtu, 25 November 2017

Bersiaplah Berubah (Belajar HOTS, Bagian 1)

01.12 0 Comments
Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena ia hidup di zaman berbeda dengan zamanmu - Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu
Nasehat tersebut benar-benar terjadi saat ini, dimana zaman terus mengalami perubahan demi perubahan. Tentu bunda sepakat bahwa zamannya orang tua sepuh kita terdahulu memiliki perbedaan yang cukup jelas dari zaman kita hidup. Demikian pula zamannya anak kita nanti akan berbeda dari zamannya kita. Maka apa yang perlu kita persiapkan?

Tentu, yang pertama bekalilah diri kita dengan ilmu dahulu. Mengenali ciri-ciri dimana zaman anak kita akan hidup dan berkarya. Dengan mengenali karakteristik zaman tersebut berarti kita mempersiapkan diri dan keluarga kita menuju perubahan yang lebih baik.

Baiklah, mari kita amati ciri-ciri abad 21.

http://www.ishaqmadeamin.com/2015/03/pembelajaran-abad-21.html
Dari info diatas memperlihatkan bahwa zaman anak kita nanti menuntut keterampilan berpikir kritis dan kreatif, mahir menjadi pengambil keputusan strategis, dan juga menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi. Ini sebuah tantangan bukan?

Setelah memahami hal tersebut, tentu akan mengantarkan kita pada sebuah tingkatan berfikir tahap berikutnya, yakni menalar fenomena perubahan zaman yang akhirnya membuat kita berusaha bergerak untuk memberi kontribusi positif bagi pembangunan peradaban. Jika kita menginginkan sebuah perbaikan kualitas generasi ke generasi, maka kita perlu berbenah. Mulai dari mana? Mulai dengan membenahi cara belajar kita dan anak-anak tentunya.

Belajar Bagaimana Belajar


Artinya apa?

Model belajar konvensional relatif tidak menjawab tantangan abad 21 ini. Kita sebagai generasi konvensional (abad 20) tentu mampu menilai bagaimana pola pendidikan pada masa itu. Dulu pembelajaran terpusat pada guru (teaching), para siswa hanya menyimak dan mengerti (knowing), terkadang sangat teoritis dan abstrak sehingga sulit diterapkan dalam dunia nyata (unkontekstual), mempersempit makna belajar hanya dalam sekotak ruangan kelas.

Sehingga sebagai ibu agen perubahan, hanya ada 2 (dua) pilihan. Change or Not, if you're not to change, you'll be die. 

Nah, salah satu strategi untuk berubah adalah dengan menggeser pola pendidikan yang telah lalu. Konsep CTL (Contextual Teaching & Learning) menjadi pendekatan metode belajar yang menyenangkan, berpusat pada siswa dan mengaitkan mata pelajaran dengan dunia nyata sehari-hari. Sehingga harapannya metode CTL ini akan mewujudkan budaya belajar yang meaningfull (beresensi) dan real (nyata/riil).

Karena terkadang masih banyak orang tua atau malah praktisi pendidikan yang tergesa-gesa mencari konten belajar anak tanpa pernah terlebih dahulu mencari cara bagaimana mengemas konten itu dalam sebuah konteks pembelajaran yang menggairahkan, yang merangsang fitrah rasa ingin tahu anak sebagai makhluk pembelajar. Sehingga, di saat anak-anak mulai "burn out", orang tuanya pun tertular menjadi "mati gaya". Karena telah tergerus kekreatifannya untuk menyajikan menu belajar yang menyenangkan dan meaningful tersebut. Akibatnya belajar menjadi hilang ruhnya.

Bagaimana dengan bunda?

#tingkatanberpikir #ctl #abad21 #21stcentury

Refleksi 13 Nov

00.01 0 Comments
13 November tahun Masehi merupakan tanggal kelahiranku beberapa puluh tahun yang lalu. Kemarin sebenarnya tidak ingat kalau usia ini makin bertambah, karena memang terakhir ultah-ultahan itu waktu seventeenan dengan backsound "kuch-kuch hota hei" (ketahuan banget angkatan berapa, hahaha).

Hari ini bermaksud membuat refleksi terkait penambahan usia yang sejatinya malah kesempatan untuk hidup semakin berkurang. Yah... banyak hal yang ingin kutuangkan, namun entah begitu jemari menari diatas keyboard seakan menjadi blank, tak berdaya. Mengingat betapa banyak aku lebih sering tak bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah beri. Betapa kurangnya kebaikan-kebaikan yang tak kulakukan karena kemalasan dan kebodohanku.

Duhai diri,
Ratapilah dirimu di dunia ini,

Hmmm kembali terpekur dalam diam...

Mulai dari mana yah?

Sabtu, 11 November 2017

Think Creative (10)

21.49 0 Comments
Menjadi manusia kreatif memang tidak mudah, namun percayalah insyaAllah bisa. Bukankah manusia terlahir sudah membawa bakat kreatifitasnya masing-masing? Tinggal digali dan menemukannya lalu mengasahnya agar menjadi sebuah kreatifitas yang memiliki nilai manfaat.

Hari ini hari ke sepuluh peiode tantangan 10 hari pada game level 9 Bunda Sayang, seperti biasa anak-anak selalu mendapat beragam cara untuk menjadi kreatif. Tidak sempat terdokumentasikan dalam foto, namun hari ini semua anak-anakku menampilkan aktifitas kreatif ala mereka sendiri.

Azzam membuat stone art, sehingga batu-batu ditata sedemikian rupa dan memberi sebuah cerita. Syifa dan Aisyah bermain peran dengan mengembangkan imajinasi-imajinasi mereka, Alif asyiik dengan gunting menggunting. Bagiku ini adalah bagian dari aktifitas kreatif.

Jumat, 10 November 2017

Think Creative (9)

21.34 0 Comments
Karena anak-anak sudah terlahir kreatif maka orang tua tinggal merawat fitrah itu dan menggali lebih dalam lagi potensi kreatifnya. Dalam hal waktu pun anak-anak ternyata sangat mahir membunuh kebosanan. Adaaaaaa saja yang mereka lakukan, maka apapun itu ragam kegiatannya mereka selalu berhasil melakukannya dengan asyik dan gembira. Seperti hari ini, sang adik mencoba memainkan permainan kakak. Penasaran dan tertantang membuat adik ingin terus mencoba hingga berhasil. Yuuk kita lihat foto-fotonya;


Nah, mainan favorit kakak inilah yang coba dimainkan si adik;

Kamis, 09 November 2017

Think Creative (8)

22.27 0 Comments
Tantangan hari ini lebih ke persoalan manajemen konflik anak-anak balita saya. Dimana masing-masing pihak masih sama-sama kuat fase egosentrisnya.
Ada saja hal-hal sederhana yang membuat mereka terlibat konflik kepentingan. Sama-sama menguatkan pengAKUan dan cenderung tidak ingin mengalah. Sebagai ibu, jujur hatiku sedih melihat mereka berada dalam kondisi yang memanas, sungguh benar-benar suasana yang tidak nyaman. Namun, aku mencoba menahan diri agar tidak terlalu intervensi lebih dalam, mencoba memberi ruang dan kesempatan pada mereka mencari solusi dari konflik tersebut.

Menahan diri bukan berarti membiarkan, karena bagaimanapun duo balita itu masih membutuhkan pendampingan dan bimbingan. Akhirnya aku mulai menghitung, jika pada menit kelima mereka belum juga berdamai, maka IBU hadir menawarkan solusi. Solusi yang win-win happy.

Setelah itu apa yang terjadi?
Nampaknya foto berikut lebih mampu menceritakan daripada tulisanku
Bahwa mereka baik-baik saja. 

Lalu dimana sisi berpikir kreatifnya? ini lah yang sedang aku cari, bagaimana menekan koflik internal anak-anak dengan cara yang kreatif. Help me... please

Calistung Bekal Menghadapi Abad 21

02.33 0 Comments

Tentang Mendidik Anak Agar Suka Membaca

Saya sangat setuju dengan usaha menumbuhkan minat baca anak sehingga is menjadi suka membaca, daripada sekedar bisa membaca.

Sederhananya, anak yang suka membaca pasti bisa membaca. Sementara, anak yang bisa baca belum tentu suka membaca.

Sehingga inilah target pertama dalam menstimulus keterampilan membaca anak. Bukan malah memaksa mereka untuk segera bisa membaca namun minus semangat/gairah terhadap aktivitas membaca. Dalam upaya ini maka hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah;
  • Keteladanan (role model), tentu ayah bundanya juga terlebih dahulu suka membaca, yang kemudian akan mewarnai anak-anak.
  • Membacakan buku dengan suara keras (read aloud), jika dilakukan secara rutin maka anak-anak akan bisa membaca isi buku persis sama dengan ayah bunda membacakannya. Ini disebutnya “magic reading”, kemampuan membaca tanpa orang tua mengajarinya.
  • Bangun perpustakaan keluarga, tempatkan buku-buku anak pada area yang mudah dijangkau, percantik dengan interior yang nyaman dan hangat.
  • Membuat projek literasi bersama keluarga.
  • Menjadikan buku sebagai hadiah/reward atas prestasi anak-anak, prestasi yang dimaksud adalah seluruh progrees kebaikan yang telah dicapainya.
  • Membuat panggung bocah sebagai latihan mereview sebuah tulisan versi anak-anak, dan orang tua cukup memberi apresiasi tak perlu evaluasi.

Begitu diantara usaha yang dapat dilakukan oleh orang tua. Dan, saya pun sedang memperjuangkannya di rumah. Ganbatte ne!

Mari kemudian coba kita kaji bagaimana pola pendidikan zaman dulu dengan zaman now. Saya mulai dengan keterampilan calistung sebagai pengetahuan dasar yang hampir menjadi keharusan untuk dikuasai oleh anak.

Tentang Calistung


Calistung adalah akronim dari baca tulis dan hitung, dan kini kemampuan calistung ini seolah-olah dianggap harus segera dikuasai oleh manusia. Bahkan “sejak dini mampu calistung itu makin baik”. Demikianlah kurang lebih anggapan kebanyakan orang. Sehingga hal ini makin menjadikan pelajaran calistung menempati urutan pertama pelajaran yang harus dikuasai oleh anak-anak. Anak sekolah yang belum mahir calistung kemudian ada yang diberi label anak tertinggal, anak kurang belajar dan semacamnya.

Maka, terlihat hampir menyeluruh di pojok negeri, bertabur kegiatan-kegiatan pengajaran calistung usia dini. Malah cenderung pada usaha drilling (menggegas) tanpa mengedepankan visi “menumbuhkan” atau inside out potensi unggul anak. Padahal para praktisi kegiatan drilling baca tersebut sadar bahwa apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak bukanlah termasuk pendidikan yang ramah anak. Kelak gaya pengajaran seperti ini justru akan memadamkan minat baca anak, memadamkan kreatifitas dan mengkerdilkan self-confident anak. 

Yang lebih parah, jika anak-anak kehilangan ruh belajar. Kehilangan esensi “Learn How To Learn”.

Jika kita mengacu pada pendidikan yang mengimplementasikan visi 21st century, maka UNESCO menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan 21st century readiness, yaitu :
  1. Learning to how (belajar untuk mengetahui)
  2. Learning to do (belajar untuk melakukan)
  3. Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian)
  4. Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
  5. Pendidikan yang membangun kompetensi “partnership 21st Century Learning” yaitu framework pembelajaran abad 21 yang menuntut peserta didik memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran, inovasi, keterampilan  hidup.


Dengan ini pola pendidikan gaya lama sudah harus mengalami revolusi.

“Simpelnya, kita nggak bisa terus menyiapkan generasi muda dengan cara yang sama di dunia yang udah mulai berubah” - Cathy N. Davidson

Dunia berubah begitu cepat, manusia pun harus berubah dan mampu menghadapi perubahan itu. Abad 21 yang ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dengan sangat cepat yang didukung oleh penerapan media dan teknologi digital (information super highway) sehingga informasi tersebut semakin mudah terdistribusi ke seluruh penjuru dunia. 

Merenungkan ini semua, maka kita akan sampai pada satu titik pembelajaran bahwa dalam dunia pendidikan zaman now, tidaklah cukup hanya bisa membaca, menulis dan berhitung saja, namun lebih dari itu. Anak bangsa harus memiliki sikap dan keterampilan belajar calistung, berbicara, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini disebut literasi (National Institute for Literacy, 1998)

Diagram 21st Century Skills

Nah, berdasarkan diagram diatas memperlihatkan kemampuan-kemampuan yang perlu dimiliki oleh anak yang bertemu dengan abad 21 ini adalah;

Pertama, Kemampuan Dasar
Adalah keterampilan fundamen meliputi literasi (membaca, menulis), berhitung, sains, pengetahuan-pengetahuan praktis dan pemahaman finansial serta sosial kemasyarakatan (kearifan lokal) dimana disanalah nantinya anak bangsa akan berdaya dan memberi manfaat bagi sesama.

Kedua, Kompetensi
Adalah keterampilan bagaimana melakukan pendekatan untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meliputi; berpikir kritis, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Keempat kemampuan ini disebut The Four Cs of 21st Century Skills.


Ketiga, Kualitas Karakter

Adalah bagaimana sikap seorang pembelajar menghadapi beragam perubahan. Karakter apa saja yang dibutuhkan agar tetap survive? Diantaranya adalah rasa ingin tahu, inisiatif yang tinggi, tangguh/kegigihan, kemampuan adaptasi, kepemimpinan, serta kepekaan sosial budaya. 


Beruntungnya saya menjadi salah satu murid dalam universitas kehidupan ini dan berkesempatan mendulang ilmu di Institut Ibu Profesional. Saya semakin bertambah wawasan dan memperluas sudut pandang bahwa makna belajar khususnya dalam hal ini belajar membaca tak hanya dibatasi pada kegiatan membaca tulisan kata per kata namun lebih dalam memaknainya sebagai aktivitas “membaca” hikmah dari alam semesta, “membaca” esensi perubahan zaman, “membaca” kearifan local di sekitar sehingga terus berusaha mengasah sisi humanisme yang tidak mampu dikalahkan oleh robot maupun computer di era 21st ini.



Referensi :



Materi Level 5 Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017 https://www.weforum.org/agenda/2016/03/21st-century-skills-future-jobs-students/

http://www.p21.org/our-work/p21-framework

http://www.ishaqmadeamin.com/2015/03/konsep-pendidikan-abad-21-bag-1.html



Catatan: tulisan ini dibuat dalam rangka menunaikan tugas remedial materi Bunda Sayang level#5


Think Creative (7)

00.40 0 Comments
Alhamdulillah keadaan anak-anak semakin membaik. Hari ini kebetulan tidak ada cerita seru, namun mencoba berbagi ke teman-teman pembaca blog saya bahwa memang benarlah anak-anak itu semua terlahir kreatif. Tinggal bagaimana ayah bundanya membangkitkan kreativitas anak pada jalur yang tepat. Mengapa? Penting sekali memastikan bahwa fitrah kreativitas ini tetap berjalan on track, karena di depan anak akan ada banyak jalan-jalan ditempuhnya kelak. Jalan-jalan yang belum tentu mengantarkan pada keselamatan, sehingga ayahnya anak-anak saya membuat sebuah quote sebagai pengingat akan tujuan pendidikan anak-anak kami
"zaman doeloe, mendidik anak-anak agar pinter, zaman kini, mendidik anak-anak agar selamet"
 Berdasarkan hal tersebut, senantiasa dalam mastermind kegiatan pendidikan dalam keluarga kami mencoba menghitung-hitung hal ini. Apa yang sudah kami lakukan hingga pada tahun kesepuluh usia anak sulung kami, apakah kami sduah memberinya bekal menghadapi tahun keemasannya nanti, apa yang sudah baik dan akan kami tingkatkan kualitasnya dalam pendidikan anak-anak.

Mencoba tanya-jawab dengan sisi diri ini membuat kami sadar bahwa masih banyak yang belum sempurna di sana sini. Masih banyak yang perlu ditingkatkan. Allahul Musta'an

Selasa, 07 November 2017

Think Creative (6)

21.59 0 Comments
"Bebaskan pikiranmu, maka kau akan temukan ide cerdas tak terbatas"
( Lina Ibune Azzam, 2017)

Pemandangan hari ini begitu spesial, khususnya dengan subjek Alifa (2th). Si imut anak ke empatku itu tampak asyik bermain peran. Memerankan seorang dokter yang melakukan perawatan kepada pasiennya. Dan, pasiennya ada 2. Baby Miqdad dan si Pinky. Wkwkwkk

Baby Miqdad yang sedang asyik terlelap tidur, nampaknya menikmati pelayanan dari dr.Alifa Kahilatuzzahwa. Aamiin

Untuk sementara hal ini menjadi data bahwa Alif memiliki tema bakat "care taker". Senang melakukan sebuah pelayanan berbasis empati, tanggap pada kondisi yang perlu dibenahi / diobati.

Hmmm...lagi-lagi apakah ini masuk kreatifitas anak? Menurutku iya, atau paling tidak menjadi bagian proses awal pemantik kreatifitas anak. Tetep semangat Alif.... kelak kalau kamu beneran menjadi dokter, jika ibu sakit dr.Alif aja yang merawat yah nak ?!





#thinkcreative
#tantangan10hari
#gamelevel9
#bundasayang
#kuliahinstitutibuprofesional

Senin, 06 November 2017

Think Creative (5)

21.22 0 Comments
Aisyah Daycare Portable

Pertama meluncurkan program ini dan menawarkan kepada penyelenggara event-event, saya kemudian mendapat apresiasi positif dari seorang kawan dengan mengatakan "brilliant, idenya keren dan inovatif banget"

Menurut kawan saya tersebut, daycare portable sangatlah solutif bagi para seminarwan atau seminarwati yang membutuhkan pendampingan anak saat mereka sedang mengikuti event. Selain itu, daycare portable ini menjadi usaha yang minim modal namun tetap provitable.

Wah...benarkah ide saya termasuk ide kreatif? Masih tak percaya diri...


Think Creative (4)

21.16 0 Comments
Hari ke empat dalam periode tantangan 10 hari dengan tema kreativitas. Pfiuh... benar-benar akhir pekan yang menantang. Kini sedang belajar untuk mengubah mindset, dari masalah menjadi tantangan. Sehingga, output yang diharapkan adalah "there's no problem, cancel cancel go away!".
Gitu deh...

Aktivitas di rumah hari ini masih seperti biasa, anak-anak tetap bermain dengan balok dan legonya, jika bosan melanda mereka akan beralih ke kebun samping rumah. Bermain tanah atau pasar-pasaran. Sudah puas, mereka kemudian beralih bermain peran, bercanda dan bahkan bisa saling menjahili antar saudara. Riuh rame tingkah 3 anak-anak pertamaku. Sementara anak ke empat dan kelima sedang merajuk manja karena kurang sehat beberapa hari terakhir ini.

Yah, begitulah anak-anak... mereka makhluk yang homoludens, senang dengan permaianan dan bermain. Tak pernah habis ide mereka untuk mengisi waktu yang luang.

Beda sekali dengan ibunya yang kadang blank, burn out bahkan sampai mati gaya.

Hmmm.... apakah ini dahulunya disebabkan karena saya kelamaan sekolah? Hehehe... no debat between schooling vs unschooling.

Intinya mah, saya harus kembali menggali dan membangkitkan daya kreativitas saya yang mungkin telah lama tertidur pulas dalan tidur panjangnya.

#thinkcreative
#tantangan10hari
#bundasayang
#institutibuprofesional

Think Creative (3)

07.04 0 Comments
Hari ketiga T10 game level 9, benar-benar menantang banget. Ini juga hari keempat baby M bapil, progressnya belum terlalu signifikan. Tantangan saya untuk kemudian mencari cara meredakan pilek yang mengental dan menyumbat hidungnya, terutama di malam hari.

Kakaknya pun ikut tumbang, setelah baby M turun demamnya kini si mbak Alif ijut demam. Gejala bapil pun mengenai Alif.

Bagaimanapun, dalam situasi seperti ini kesehatan anak yang utama. Sehingga tulisan T10 hari ketiga kembali telat dari deadline. Mohon maaf ya bu Leader...

Nah, sebagai bentuk ikhtiar saya mencoba memberi kencur ekstrak buat si kakak, dengan memarutkan kencur. Awalnya diparut langsung diatas parutan, tapi ternyata serpihan kencur banyak yang menempel pada parutan. Bagaimana yah? Jika begini, bagaimana mendapatkan ekstrak kencur yang banyak?

Aha! Akhirnya ketemu ide untuk memberi alas atas parutan dengan plastik atau daun agar ketika memarut, serpihan parutan kencur tetap bisa dikumpulkan dan diperas sehingga menghasilkan ekstrak yang banyak.

Hmmm... ini termasuk kreativitas hukan yaw?

Jumat, 03 November 2017

Think Creative (2)

20.57 0 Comments
“Anak-anak secara fitrah sudah terlahir kreatif, kitalah yang harus mengubah diri agar layak mendampingi para creator di zamannya nanti”
¬ Septi Peni Wulandani ¬

Yup begitulah anak-anak, kreatif adalah fitrah mereka. Dan, hari ini saya menyaksikan hal itu. Dimana saya sedang harap-harap cemas dengan batpil baby M yang memasuki hari ketiga, saya menemukan satu momen emas. Tak sengaja melihat Alifa (2th) menggunakan gunting untuk memotong gulungan lakban putih dan kemudian menempelkannya di atas kursi chitosse. Kursi itu adalah kursi kerja saya, kursi tempat dimana saya kadang merenung dan merancang pola pendidikan anak-anak. Kursi seorang manajer keluarga.

Anak itu...., hmm sejurus kemudian hati saya merasa ada yang membasahi, maknyess...
Terharu bercampur bahagia, momen emas dimana melihat Alifa yang begitu peduli dan berinisiatif sendiri untuk menambal kursi tersebut, semampunya.

belum sadar kamera

ini hasil kreativitas alif hari ini

Think Creative (1)

10.06 0 Comments
Judul postingan kali ini bener-bener keren. Think Creative.
Pembaca awalnya mungkin akan mengira bahwa saya akan share tentang ilmu atau pengalaman tentang kreatif atau berpikir kreatif. hahahaha.... maaf ya, judulnya memang keren namun saya mohon dengan sangat sederhanakan ekspekstasinya yah, kuatir pembaca akan kecewa....

Baik, ini sebenernya tantangan hari 1 di Level 9 pada program Bunda Sayang, setelah saya cuti pada cawu 2 kemarin, nampaknya tantangan terbesar saya adalah mengaktivasi potensi berpikir yang telah lama ikut cuti. Begini nih dulunya kelamaan sekolah, kalo sekolahnya libur belajarnya ikut libur. wkwkwkw... ampuuuun bu Septi (tutup muka)

Tadinya mau izin juga ke teteh Leader Fasil, namun kok jadi malu, mosok baby M cuma batpil trus minta dispensasi gak nyetor. Kebangeten...

Tapi beneran, sih baby M udah 2 malam ngajakin begadang, seharian nempel aja, dan hari ini pun masih merajuk manja. bener-bener menantang saya untuk berpikir kreatif, bagaimana caranya mencari waktu untuk tetap bisa menyetorkan kewajiban sebagai murid Bunsay IIP.

Kali ini, tantangan itu masih on proses untuk dihadapi... doakan ya pemirsa baby M lekas sehat wal afiat, sehingga emaknya bisa nyaman dan aman ngonline... hahaha, doa yang jujur dari lubuk hatiku. Karena, tidak ada cerita dari ibune, maka kali ini mau coba cerita proses kreatif yang dilakukan anak sulung.

Beberapa hari yang lalu, mas Azzam yang sangat menggemari diving, sangat terpesona dengan peralatan-peralatan diving. Namun, saya dan ayahnya belum memberikan kesempatan untuk mendalami kegemarannya yang satu ini dengan pertimbangan biaya. Nah, entah darimana idenya kemudian secara tak terduga (karena saya sendiri tidak mengetahui bagaimana awal dan prosesnya), Azzam mendekati saya dan menunjukkan ''karya sederhana''nya.

Regulator Selam ala Azzam

 Yippiee.... mas Azzam membuat regulator selam dari bahan recycle di gudang rumah. Katanya, nanti akan Azzam pakai saat berenang di sungai belakang rumah.

Jadi, regulator selam ini salah satu dari alat yang perlu dipakai oleh penyelam. Fungsinya mengalirkan udara ke mulut saat bernafas di dalam air. Dan, oleh Azzam sendiri regulator ini sudah di uji coba. ''InsyaAllah bisa bu buat bernafas'' kata Azzam ceria.

Xixixi... unik yah