Follow Me @linaibuneazzam

Selasa, 30 Januari 2018

Agar anak tangguh dan bahagia

11.24 0 Comments
Tulisan kali ini bertajuk "agar anak tangguh dan bahagia". Tentu di zaman now, hal tersebut menjadi impian para orang tua. Terlebih dengan kenyataan pertumbuhan dan perkembangan zaman yang begitu cepat. Sehingga terkadang mampu membuat para orang tua menjadi lebih cemas, kuatir atau takut dengan masa depan si anak. Perasaan yang berdasar emosi itu seolah-olah hadir dan dihadirkan tanpa melalui proses berpikir rasional. Alih-alih mempersiapkan dan mendidik agar anak menjadi tangguh, orang tua malah terjebak melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah menjadi jamak dilakukan. Kesalahan tersebut diantaranya; 

  1. Terprovokasi oleh pencapaian anak lain (membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain atau bahkan dengan saudara sekandungnya)
  2. Sibuk meratakan lembah, bukan meninggikan gunung (memberikan drilling pada subjek pelajaran tertentu, tapi mengabaikan potensi unggul anak)
  3. Menyempitkan ruang kreativitas anak dengan dalih agar lebih cepat berpacu dengan anak lain
  4. Menyeragamkan makna kecerdasan anak, dan menolak teori kecerdasan majemuk
  5. Menitik beratkan pada penilaian kognitif dan terbatas pada angka-angka, dan mengabaikan kebahagiaan anak
Itulah kurang lebih diantara kesalahan-kesalahan fatal yang entah disadari atau tidak, terkadang masih banyak orang tua zaman now yang melakukan hal ini.

Sebenarnya jika kita sebagai orang tua mau berkenan meluangkan waktu untuk melakukan perenungan dan menginsafi diri maka insyaAllah akan terbuka petunjuk dari Ilahi. Sebuah petunjuk bagaimana seyogyanya kita menemani anak-anak dan mengantarkan mereka kepada masa depan yang gemilang.

Diawali dengan mengenali diri. Memahami tujuan penciptaan. Kemudian menyusun life evolution dari titik nol hingga kita telah tiada. Menancapkan janji diri kemudian merancang education map sekeluarga.

Memahami makna Kecerdasan 

"Kemampuan untuk merespon lingkungan secara tepat dan akurat" - Adriano Rusfi
Definisi yang disampaikan Bapak Adriano Rusfi diatas merupakan pengertian kecerdasan yang dituliskan dalam buku-buku psikologi klasik. Sehingga, pada asalnya makna kecerdasan ini sangat luas. Namun, pada abad 19 makna kecerdasan dipersempit hanya terbatas pada sisi intelektualitas saja, terbukti dengan bermunculan dan berkembangnya tes-tes IQ oleh Thurstone, Binet dan sebagainya.

Dari situlah maka akan pelan-pelan terurai benang kusut pemikiran kita. 

Pertama, memahami makna kecerdasan yang hakiki, adalah segala kemampuan manusia dalam mengoptimalkan potensinya, kreatif dan menemukan pemecahan masalah. 
Kedua, mengerti secara arif bahwasanya kecerdasan manusia itu sangatlah dinamis dan memiliki domain kecerdasan yang tidak hanya satu. Nah, maka kita pun akan terdorong untuk belajar menjadi gurunya manusia. Pendidik manusia berarti menghargai dan memanusiakan anak kita. Sehingga kesalahan orang tua zaman now diatas akan tereliminasi dengan sendirinya.
Ketiga, belajar memahami pendidikan berbasis fitrah. Bahwa dalam pendidikan anak, sesungguhnya kita hampir tidak melakukan apapun dalam keberhasilan pendidikan mereka. Karena, secara fitrah mereka telah dibekali potensi unik, khas dan unggul. Sang Penciptanya telah mengkaruniakan manusia fasilitas-fasilitas yang akan dikelolanya dala menunjang proses kehidupan dan penghambaan.

Setelah benang kusut itu mulai terurai, perlahan kita akan mencari cara bagaimana menstimulus kecerdasan anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang tangguh dan bahagia.

Prinsip utama dalam pembentukan anak yang tangguh dan bermental baja adalah ketegasan bukan kekerasan. Mengajarkan anak-anak sebuah konsekuensi dari pengambilan sebuah keputusan.

Memberikan anak-anak ruang berkreasi agar gagasan brilliant mereka keluar dan meminimalisir intervensi bahkan jika perlu  meniadakannya. Memberikan kepercayaan dengan menerima semua gagasan tersebut, dan mengapreasiasinya.Untuk anak yang lebih besar, melalui diskusi dalam family forum dapat ditingkatkan tantangannya agar lebih terpacu. Begitupun dalam hal merngsang kberanian ananda, maka perlu diberikan peran kepemimpinan dalam proyek keluarga.

Merancang kegiatan belajar berbasis proyek adalah hal menyenagkan ynag dapat dilakukan. Baik di dalam rumah maupun di sekolah. Pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) ini memiliki banyak sekali manfaat. terutama dalam pengembangan potensi dan kompetensi anak. Selain itu dapat juga menjadi alat ukur (temperature check) dan mempererat bonding keluarga. Kegiatan proyek ini tentu berbeda dengan aktivitas harian yang spontan dan cenderung dinamis. Kegiatan ini lebis terstruktur dan terencana dengan baik dan melibatkankan sinergi dari seluruh anggota keluarga.

Secara sederhana Project itu seyogyanya memenuhi kaidah SMART dan PDCA.

Apa itu?

Seperti halnya dalam menyusun Goal Setting maka kaidah SMART ini pun berlaku pada family project. S (Spesific ), M (measurable), A (Achiveable), R (Realistic), T (Timebond). Artinya bahwa sebuah gagasan proyek keluarga itu haruslah spesifik, terukur, mudah diwujudkan, realistis dan memiliki batas waktu.

Selain dari itu pula, sebuah proyek keluarga semestinya melewati proses PDCA (planning-do-check-adjust); proyeknya memiliki perencanaan, kemudian dikerjakan, dievaluasi dan diupayakan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Siap membuat sebuah proyek? Mari kita mulai bersama dalam keluarga-keluarga kecil kita.

Itulah sekilas tentang bagaimana menstimulus kecerdasan anak melalui kegiatan berbasis proyek. Dan kembali pada pertanyaan bagaimana membetuk pribadi tangguh anak, maka menurut saya, jika anak-anak terpelihara fitrahnya dengan baik dan lurus maka peran kita hanyalah sebagai kawan tumbuh dan berkembang bersama mereka. Anak-anak akan menjadi guru kecil kita dan kita akan menjadi pelatih dan mentor mereka. Terlebih untuk membangun jiwa mandiri dan ketangguhan anak, maka "kerasnya" kehidupan sudah turut berkontribusi positif dalam membangun kecerdasan menghadapi tantangan.

Wallahu 'alam

Ngayogyakarto, 29 Januari 2018

Sumber tulisan:

https://munifchatib.wordpress.com/2012/11/19/multiple-intelligences-menurut-prespektif-munif-chatib/

Materi Bunsay 2017

Sabtu, 27 Januari 2018

Anak adalah Bintang

23.15 0 Comments

Anak adalah Bintang


Bintang. Secara filosofis dapat dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki pendaran cahaya. Cahaya ini juga diartikan sebagai sebuah keadaan yang awalnya gelap kemudian menjadi terang, awalnya tidak tahu kemudian menjadi tahu. 

Posisi bintang di langit menyiratkan makna ketinggian, kemuliaan atau sesuatu yang berbeda/unik dari yang lain. Mungkin demikianlah yang dimaksud dengan kalimat “setiap anak adalah bintang”. Asosiasi kata “bintang” dipilih untuk mengesankan juga bahwa setiap anak itu unik dan semua lahir sebagai bintang sesuai dengan kekhasan atau potensi diri mereka yang boleh jadi tidak seragam dengan anak-anak lainnya.

Makna ini senada dengan pernyataan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah ini merupakan bawaan lahir (karakter dasar) manusia. Membahas fitrah ini akan luas sekali cakupannya. Karena manusia terlahir membawa fitrahnya masing-masing yang spesifik, baik itu fitrah belajar, perkembangan, seksualitas, bakat, keimanan dan lain-lain. Di dalam Al Qur'an, dikatakan bahwa “fa alhamahaa fujuuurohaa wa taqwaahaa”, 

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).
Maknanya apa? Bahwasanya manusia tercipta dengan dua potensi jiwa, kefasiqan dan ketaqwaan. Namun pada asalnya, setiap insan akan cenderung pada  jalan ketaqwaan (mencintai hal-hal kebaikan).

Nah, berdasar kaidah ini maka kita sebagai orang tua, tentu akan mengupayakan menjaga, memelihara dan membangkitkan fitrah-fitrah kebaikan ananda. Sehingga harapan kita mempunyai anak dengan bintang yang cerah insyaAllah tercapai. Sebuah kaidah penciptaan manusia yang lain juga turut menguatkan kaidah pertama tadi, yakni bahwa dengan Maha Agung nya Sang Khalik tentu tidaklah Dia menciptakan produk yang gagal / failure. Bahkan pada anak dengan special need sekalipun, bukanlah kemudian menjadikan bahwa itu sebagai sebuah kegagalan penciptaan. Akal manusia yang dangkal terkadang tidak mampu menangkap dan meraba kasih sayang serta hikmah dibalik penciptaan itu. Sehingga, kerap kali ditemukan orang tua yang kemudian memiliki emosi negative dengan hal ini.

Ada sebuah cerita pendek yang inspiratif. Cerita tentang “animals schooling” yang bisa menjadi bahan renungan para pendidik anak-anak untuk mengkaji lebih jernih, jujur dan tulus terhadap makna setiap anak adalah bintang.

Alkisah, tersebutlah sebuah sekolah para binatang yang berada dalam hutan belantara. Sekolah tersebut memiliki status “disamakan", yaitu disamakan dengan sekolah manusia. Sekolah tersebut di pimpin atau dikepalai oleh manusia layaknya sekolah manusia pada umumnya. Karena sekolah tersebut memiliki status “disamakan”, maka sudah pasti kurikulum yang ditetapkan di sekolah binatang tersebut sama seperti standar kurikulum yang diterapkan pada sekolah manusia pada umumnya.

Kurikulum pada sekolah binatang tersebut mewajibkan kepada para binatang bahwa jika ingin lulus mereka harus mendapatkan ijazah, syarat untuk mendapatkan ijasah setiap siswa diwajibkan berhasil menguasai lima mata pelajaran pokok dengan nilai rata-rata minimal 8,00 pada masing-masing mata pelajaran tersebut. Apa saja kelima mata pelajaran pokok tersebut? lima mata pelaran tersebut adalah; Berenang, Terbang, Berlari, Memanjat, dan Menyelam.

Mengingat bahwa mereka diwajibkan mencapai nilai yang telah ditetapkan, maka para binatang tersebutpun berharap suatu saat mereka dapat hidup lebih baik dari pada binatang-binatang lainya, sama seperti manusia yang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Sehingga mereka (para binatang) berbondong-bondong berbagai jenis binatang mendaftarkan dirinya untuk sekolah disana; mulai dari; Tupai, Elang, Rusa, Bebek, dan Katak.

Setelah waktu pendaftaran ditutup proses pembelajaranpun akhirnya dimulai, terlihat jelas bahwa dari masing-masing binatang yang sekolah memiliki keunggulan masing-masing dari setiap mata pelajaran di sekolah tersebut.

Mulai dari Tupai, ia sangat menguasai pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan lihai sekali untuk urusan memanjat pohon, berpindah dari ranting pohon satu ke ranting pohon lainnya. Hingga untuk mencapai puncak pohon tidak ada kesulitan bagi tupai tersebut.

Kemudian Elang, ia begitu menguasai pelajaran terbang; ia mempunyai kemampuan terbang yang hebat yang tidak dimiliki oleh binatang-binatang lainnya. Ia mampu melayang di udara dengan mudah, meliuk dan menikuk di udara dengan leluasa. Bahkan untuk mencapai puncak pohon dia tidak perlu susah-susah melompati ranting-ranting pohon, ia hanya cukup mengipaskan sayapnya saja untuk mencapai puncak tersebut.

Dan disusul oleh Bebek, ia pun tidak mau kalah dengan binatang lainnya, ia terlihat begitu ahli dalam pelajaran berenang, dengan keahlian yang dimilikinya ia mampu menyeberangi setiap sungai yang ada dihutan dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun.

Rusa juga menunjukkan keahliannya, ia merupakan murid yang sangat lihai dalam pelajaran berlari. Kecepatan larinya sungguh luar biasa, dan bukan hanya kecepatannya saja, ia juga memiliki gaya berlari yang indah dan tidak ada hewan yang mampu menandingi keahliannya dalam hal berlari.

Lain lagi dengan Katak, ia begitu profesional dalam menguasai pelajaran menyelam, ia mampu menahan nafas ketika menyelam hingga berjam-jam. Tentunya keahlian menyelam si katak tidak dimiliki satupun dari teman-teman disekolahnya.

Begitulah awal ceritanya, dari setiap murid memiliki keunggulan masing-masing, di sekolahan tersebut kini memiliki murid yang sangat berbakat disetiap mata pelajaran masing-masing. Namun kurikulum yang berlaku berbicara lain, kurikulum tersebut tidak menghendaki para murid hanya menguasi satu atau beberapa mata pelajaran saja. Tetapi kurikulum yang berlaku mewajibkan kepada murid untuk menguasai seluruh mata pelajaran dengan nilai rata-rata minimal 8,00. Jika para murid ingin mendapatkan ijasah maka para murid harus mampu mendapatkan nilai tersebut.

Para binatang yang kini menjadi siswa disekolah tersebut mulai kacau. Mereka tahu bahwa untuk mendapatkan ijazah tidak lagi hanya bisa mengandalkan keahliannya masing-masing, meskipun mereka bangga pada keahliannya yang tidak dikuasai oleh siswa lainnya tetapi kurikulum sekolah tidak mengharap demikian. Akhirnya para siswa pun mulai giat belajar untuk menguasai seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah demi kelulusan dan mendapatkan ijazah.

Tupai yang ahli dalam pelajaran memanjat kini mulai belajar terbang. Meskipun hari demi hari ia belajar terbang dengan sungguh-sungguh tetapi hasilnya tidak memuaskan, malahan si tupai babak belur akibat terjatuh dari puncak pohon ketia ia nekat terbang dari puncak pohon tersebut.

Kini giliran Elang yang mulai belajar cara memanjat dan menyelam. Tetapi sayang sekali meski ia susah payah belajar memanjat dan menyelan ia tetap saja tidak mampu menguasainya. Bahkan ia sempat kehabisan nafas ketika mencoba menyelam seperti apa yang dilakukan oleh katak.

Beda lagi dengan Bebek, ia sedikit bisa mempelajari pelajaran berlari tetapi ia sering ditertawakan teman sekolahnya karena gaya berlarinya yang lucu. Ia juga sedikit bisa terbang tetapi tidak sepandai Elang. Lain lagi ketika mengikuti pelajaran memanjat, tentu saja ini bukan keahliannya, tetapi ia tetap ingin mencobanya demi kelulusan, alhasil ia malah penuh luka, memar, dan sayapnya banyak yang rontok akibat terjatuh ketika mencoba untuk memanjat pohon.

Demikian juga dengan siswa-siswa lainya; walaupun mereka semua telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan susah payah demi menguasai pelajaran yang tidak mereka kuasai, dari pagi dan sore hingga malam, tetapi tetap saja tidak ada hasil yang memuaskan bagi mereka, semua mata pelajaran tidak dapat mereka kuasai dengan sempurna.

Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah sebab mereka terlalu terfokus supaya dapat berhasil menguasai semua mata pelajaran yang memang susah mereka kuasai; perlahan-lahan mereka kehilangan keahlian yang sudah mereka miliki selama ini. Kemampuan terbang Elang mulai menghilang; Tupai kini mulai lupa bagaimana cara memanjat, Keahlian berenang Bebek kini tidak selihai dulu lagi, sirip kakinya sobek karena terlalu sering belajar memanjat. Katak juga kini tidak dapat menahan nafas ketika menyelam. Dan yang sangat menyedihkan adalah Rusa, ia tidak mampu lagi berlari sekencang dulu, dikarenakan paru-parunya lemah sebab sering kemasukan air ketika mencoba menguasai pelajaran renang.

Akhirnya, tidak ada satupun siswa yang berhasil lulus dari sekolah tersebut. Yang sangat menyedihkan lagi adalah ketika mereka keluar dari sekolah mereka malah kehilangan keahlian mereka yang selama ini mereka kuasai. Hilangnya kemampuan mereka sudah tentu akibat dari kurikulum yang berlaku disekolah tersebut yang mengharuskan mereka menguasai apa yang tidak dapat mereka kuasai. Sehingga mereka kini susah beradaptasi dengan lingkungan mereka dan satu demi satu mulai mati karena kelaparan sebab tidak lagi bisa memanfaatkan keahliannya untuk mencari makan.

Apa hikmah dari cerita fiktif diatas?

Bila dikaitkan dengan potensi unggul anak-anak maka sistim pada sekolah para binatang itu membunuh potensi “bintang”nya para binatang. Potensi bawaan lahir yang telah Sang Pencipta karuniakan untuk mereka dan kehidupannya.
Maka, biarkanlah anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai path (jalurnya) masing-masing, agar mereka mampu menggali potensi fitrah mereka dan bersinar menjadi bintang. Peran kita sebagai orang dewasa disekitar anak adalah penyelam kekuatan kemampuan mereka (discovering ability), dengan memberi motivasi, menyiapkan fasilitas, memberi apresiasi dan mendoakan mereka. Agar anak-anak itu kelak bertumbuh menjadi bintang di bidangnya masing-masing.

Referensi :


Rabu, 10 Januari 2018

Merancang permainan Fitrah Seksualitas

00.01 0 Comments
Bersama tim 10, ada saya, mb Heniffah, mb Wening dan mb Fatheeyah mencoba berpikir kreatif mencari ide permainan yang bertujuan untuk mengedukasi anak-anak tentang fitrah seksualitas mereka.

Penasarankah?

Saya juga... semoga dimudahkan nantinya. Dan akan saya tulisakan disinj insyaAllah hasilnya nanti.

Senin, 08 Januari 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Jumat, 05 Januari 2018

Mengarahkan Fitrah Seksualitas Anak (2)

23.18 1 Comments
Alhamdulillah hari ini, secara perdana Kelas Bunsay Mr. Jatsela telah menyajikan presentasi perdananya dengan mengulas "pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas anak".

Karena kecenderungan seksual ini juga termasuk ke dalam fitrah (potensi dasar) yang telah dibawa oleh manusia sejak lahir maka fitrah ini perlu untuk dijaga, dirawat dan diarahkan agar tetap berada dalam jalan dan norma yang lurus. Adapun makna membangkitkan fitrah seksualitas anak, dimaksudkan bahwa seorang anak yang terlahir dengan jenis kelamin laki-laki semestinya menyadari identitas dirinya, memahami gendernya dan berpikir, merasa serta bertindak sebagaimana seorang laki-laki. Pun demikian dengan anak perempuan, semestinya menyadari identitasnya, memahami gendernya sehingga ia pun berpikir, merasa dan bertindak selayaknya seorang perempuan.




Kamis, 04 Januari 2018

Mengarahkan Fitrah Seksualitas Anak (1)

22.01 1 Comments

Mengarahkan atau membangkitkan?

Terkait pada poin fitrah seksualitas anak, karena sudah bersifat fitrah maka perkara seksual ini lebih tepatnya membutuhkan pengarahan, bukan pembentukan atau pembangunan (membangkitkan). Sebab, secara fitrah hal ini sudah tertanam dalam diri manusia. Sebagai makhluk beragama, kegiatan mengarahkan ini membutuhkan petunjuk yang datangnya dari Pencipta manusia itu sendiri.

Sejatinya, kecenderungan seksual yang telah Sang Pencipta berikan pada makhlukNya bertujuan untuk menjadi media reproduksi dan keberlangsungan kehidupan mereka, termasuk manusia. Sehingga Allah Ta'ala telah mengatur syariat khusus dalam fase kehidupan manusia yang dikenal dengan masa taklif, dimana pada masa ini setiap anak manusia telah berada dalam kondisi siap menerima beban syariah sama seperti orang dewasa, siap bertanggung jawab atas semua perilaku dan amal perbuatannya.

Mengapa fitrah seksualitas ini menjadi penting untuk diarahkan. Agar kemudian kecenderungan seksual ini dapat mengalir dengan tenang tanpa anomali dan selaras dengan fitrahnya yang lurus, maka inilah hikmah dimana agama Islam khususnya memberikan perintah dan larangan.  Tujuannya supaya fitrah seksualitas anak menjadi terarah di jalan yang lurus, anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang proporsional dan suci dari penyimpangan seksual.


#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayangsesi11