Materi disampaikan oleh Bu Septi Peni Wulandai dalam Kuliah WhatsApp Grup Matrikulasi Batch 1, pada Senin pk Senin, 16 Mei 2016 pukul 5:20 WIB.
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”
Bunda, rumah kita adalah miniatur peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pelaku peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Maka tugas utama kita sebagai pelaku peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Allah menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifik’nya, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
Pertama, temukan potensi unik kita dan suami. Coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki?Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini? Potensi unik produktif apa yang kelak menjadi panggilan hidup atau alasan kehadiran di muka bumi yang menebar rahmat dan manfaat bagi alam dan kehidupan.
Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini?Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalan-Nya. Karena orang yang sudah berjalan di jalan-Nya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Diskusi seputar materi;
#1 Pertanyaan Niken TF Alimah – IIP Salatiga
Antara pekerjaan, berkarya, dan mendidik anak bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Berdasarkan pengalaman ibu, apa saja yang mempengaruhi berapa lama bukti itu datang? Apakah saat kolaborasi jawaban 4 pertanyaan dasar tentang misi hidup tersebut atau ada faktor lain yang menjadi katalisnya?
Jawaban:
Menurut pengalaman saya dan pak Dodik, ternyata kuncinya adalah di nomor satu, penerimaan kita terhadap pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai kehebatan masing-masing, menyiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami. Hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga.
#2 Pertanyaan Nia – IIP Depok
Bagaimana tahapannya kita bisa tahu dan menemukan misi spesifik keluarga kita? Apakah berawal dari memetakan kelebihan kita sebagai orangtua dulu, baru kemudian anak? Usia berapa kita bisa mengikutsertakan anak dalam pemetaan misi spesifik keluarga?
Jawaban:
Betul mbak Nia, dimulai dari pemetaan diri kita berdua sebagai pasangan suami istri, kemudian setelah itu berdua memahami anak-anak yang dihadirkan dalam keluarga ini, selanjutnya potensi unik alam, tempat kita tinggal, komunitas sekeliling kita dan lain-lain. Disanalah kita bakal paham, mengapa Allah menjadikan keluarga kita seperti ini.
Ada gejala-gejalanya, antara lain, ketika kita melakukan hal tersebut,mata kita selalu berbinar-binar, energi tidak pernah habis, serasa ada energi yang terbarukan, tidak pantang menyerah, setiap kali ada ujian, selalu makin bersemangat. (Itu versi saya).
Kalau versi Abah Rama, ada 4 E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Nah untuk itu perlu dicoba satu persatu, ketika menemukan sesuatu yang “gue banget” segera tekuni dan jangan berganti-ganti (mengingat faktor U- umur) disitulah kita akan semakin memahami mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini
#3 Pertanyaan Laila Muhammad – IIP Aceh
Berangkat dari 2 orang yang menikah tanpa visi misi, hanya karena cinta dan merasa sama-sama baik, bagaimana menemukan misi spesifik keluarga? Apakah learning by doing atau harus berupaya dengan membuat poin-poin penting dan dievaluasi?
Jawaban:
Cara menemukan misi spesifik sudah saya jawab di atas ya. Kerentanan sebuah rumah tangga itu biasanya disebabkan karena keluarga tersebut tidak memiliki “misi pernikahan” dan “tidak ada kegiatan mendidik” didalamnya. Hanya sekedar cinta dan merasa sama-sama baik.
Good is not enough anymore, we have to be different.
Harus ada yang membedakan keluarga anda dengan keluarga yang lainnya. Karena keluarga anda adalah unik. Maka tidak bisa keluarga itu asal jalan saja, harus disepakati bersama ke arah mana perjalanan menuju DIA. Dari situlah kita akan paham perjalanan keluarga ini setelah beberapa tahun menikah ON TRACK atau OFF track. Bicarakan dengan suami, dan evaluasi setiap tahun perjalanan hidup.
#4 Pertanyaan Andita – IIP Malang
Boleh tau misi pernikahan Bunda Septi & Pak Dodik? Pada usia berapa tahun menemukan misi spesifik hidup? Boleh tau apa misi spesifik hidupnya?
Jawaban:
Dari awal menikah, Pak Dodik sudah punya misi “membangun peradaban dari dalam rumah”, sehingga meminta saya sebagai calon istrinya untuk melepas SK Pegawai Negeri saya, dan full menjadi ibu bagi anak-anaknya.
Pada usia berapa tahun menemukan misi spesifik hidup? Kalau saya baru menemukan misi spesifik hidup setelah dikaruniai Enes dan Ara.Perlu proses panjang. Kalau pak Dodik kayaknya sebelum menikah sudah punya. Saya banyak belajar dari beliau.
Boleh tau apa misi spesifik hidup? Misi spesifik hidup saya“INSPIRATOR” tugas saya di muka bumi ini ternyata ingin menginspirasi banyak orang. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan “inspirasi” selalu membuat saya berbinar-binar. Dan lebih spesifik lagi khusus untuk pendidikan anak dan keluarga. Kalau pak Dodik ” Developer dan Educator” beliau selalu berbinar ketika menjalankan peran membangun hal baru yang berhubungan dengan pendidikan. Saat ini kami sedang mengamati 3 peran hidup anak-anak, sedang kita lihat konsistensinya.
#5 Pertanyaan St Annisa M – IIP Bandung
Darimana kita tahu kurikulum yang cocok untuk anak-cocok? Membeli ide dimana biasanya Pak Dodik dan Bu Septi? Saya ibu dari 4 anak, jadi kadang bingung jika ketika mereka belajar bersama. Bahasa yang disampaikan harus ikut bahasa usia anak yang mana.
Jawaban:
Personalized Curriculum untuk setiap anak itu muncul bersamaan dengan penemuan misi spesifik masing-masing anak. Sehingga kami tidak pernah memakai kurikulum baku yang sudah dibuat oleh manusia. Seiring berjalannya waktu kita amati perkembangan anak-anak, kami diskusikan berdua, buka dasar Alqur’an dan Hadist, kemudian bersilaturahim dengan para ahli, setelah itu kita susun bersama dengan anak-anak.
Mengenai konsep belajar, bunda nanti bisa belajar di materi “manajemen kelas” biasanya saya mempraktekkan bagaiman mengajar dengan berbagai usia di rumah. Ikuti terus ya
#6 Pertanyaan Nesri Baidani – IIP Bogor
Saya suka bingung kalau bicara misi. Terakhir kali waktu merumuskan misi keluarga, langkahnya seperti ini:
1. saya buat draft misi keluarga dalam bentuk mind map. draft dibuat.berdasarkan hasil ngobrol ngalor ngidul yang saya simpulkan.
2. mengajukan mind map pada suami
3. mendiskusikan mind map (seringnya sih suami udah setuju aja)
4. kesimpulan misi keluarga.
sudah benar belum ya bu prosesnya?
Jawaban:
Kalau melihat langkah mbak Nesri, terlihat mbak Nesri yang lebih sistematis, lebih proaktif dibandingkan suami. Kalau memang kondisinya semacam itu, maka langkah mbak Nesri sudah tepat untuk saat ini. Ke depan akan lebih baik lagi kalau mindmap itu muncul dari kedua belah pihak, banyakin ngobrol dan libatkan anak-anak. Belajar menjadi fasilitator handal untuk keluarga, sampai kita akhirnya banyak mendengarkan daripada berbicara. Setelah itu sistemasikan
#7 Pertanyaan Lisa Agustina – IIP Banjarmasin
Bu Septi dan Pak Dodik di awal pernikahan apa pernah terjadi perubahan visi misi yang sebelumnya sudah di gagas di sebelum menikah? Jika iya, bagaimana caranya bisa kembali ke visi misi awal atau malah merubah bersama-sama visi misi sesuai keadaan?
Jawaban:
Kalau misi pernikahan dari awal selalu ON Track di membangun peradaban. Yang mengganggu biasanya kerikil-kerikil tajam kehidupan yang disebabkan karena kesalahan metodenya bukan MISI nya yang salah. Metode itu bisa komunikasi yang tidak produktif, cara menyelesaikan masalah yang kurang bijaksana, kekreativitasan dalam mengelola rumah tangga yang berhenti dan lain lain. Jadi yang diperbaiki adalah hal tersebut. Kami berdua selalu menguatkan pada core value sebagai jalan kami yaitu IMAN dan KEHORMATAN. Apakah yang kami lakukan ini menguatkan iman dan kehormatan? Kalau ya lanjut, kalau tidak stop. Itu yang menjadi indikator perjalanan.
Ini adalah pertanyaan tambahan, setelah diberikan Nice HomeWork.
#8 Pertanyaan Zakiyah – IIP Malang
Saya ingin bertanya tentang NHW2 poin B terkait kekuatan potensi dan kelemahan anak. Bolehkah Ibu memberi batasan kekuatan potensi dan kelemahan anak menggunakan parameter apa? Karena jika tidak dibatasi, jawaban akan sangat luas.
Bagi kami dengan label psikologi, untuk melihat kekuatan potensi dan kelemahan bisa dilihat dalam banyak aspek, meski dalam bahasa kami untuk anak lebih tepat menggunakan kata matang dan belum matang. Sedangkan istilah kekuatan dan kelemahan lebih cocok digunakan untuk remaja yang sudah terukur bakatnya. Dengan uraian di atas, saya mohon diberi pencerahan dalam menganalisa kekuatan potensi dan kelemahan anak.
Apakah berdasarkan:
- Milestone, yg dijabarkan melalui aspek kognitif, emosi, sosial, dorongan/ motivasi dan fisik & motorik.
- Tipe temperamen anak yang sudah dibawa sejak lahir
- Perkembangan kognitif oleh Piaget
- Tahapan psikoseksual oleh Sigmund Freud
- Tahapan psikososial oleh Erikson
- dsb
Selain itu dalam melihat kekuatan dan kelemahan anak tidak bisa dilihat sepotong-sepotong berdasarkan milestone, tapi juga perlu dilihat usia dan pola asuh ortu.
Izinkan saya untuk memberi contoh:
– anak umur 4 tahun dibilang kelemahannya agresif & pembangkang. Bagi yang memiliki pemahaman psikologi tentang teori perkembangan anak, mungkin lebih mengerti bahwa anak umur 4 tahun secara umum belum bisa mengendalikan emosi dan masih berada dalam tahap negativistik, sehingga tidak akan menganggap hal tersebut kelemahan. Namun orang awam mungkin bilang itu kelemahan.
– Misalnya ortu sangat academic oriented. Sejak bayi, anaknya sudah diperlihatkan flash card berisi huruf alfabet, kata-kata & angka-angka. Sering diberikan games-games edukasi. Yang semuanya dilakukan sambil duduk. Ortunya kurang menstimulasi anaknya untuk melompat, memanjat, menaiki/menuruni tangga, dan sebagainya. Lalu saat berusia 3 tahun, si anak sudah bisa membaca kata. Tapi dia belum bisa naik/turun tangga dengan kaki bergantian, belum bisa jalan mundur, belum bisa melompat. Apakah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kekuatan anak itu adalah membaca (persepsi visual, daya ingat) dan kelemahannya adalah motorik kasar? Padahal jika dianalisa lebih jauh ketidakmatangan anak dalam aspek motorik kasar lebih disebabkan oleh treatment dari orangtuanya.
Demikian Bu Septi, mohon konfirmasi dan pencerahan.
Jawaban:
Di point B kita akan khusus mengamati potensi kekuatan anak kita, tidak perlu menuliskan kelemahannya. Karena dengan mengenal potensi kekuatan kita akan bisa mensiasati kelemahan anak.
Prinsip : “pahami kekuatan diri, siasati kelemahan”
“Apabila engkau melihat anakmu berbuat baik, puji dan catatlah, namun ketika anakmu berbuat buruk, tegur, dan jangan pernah kau mencatatnya”
(-Umar bin Khattab)
Indikator apa yang dipakai?
Bergantung pada masing-masing keluarga, mau mengambil milestone berdasarkan teori yang sudah dibuat orang lain atau berdasarkan value keluarga yang disepakati. Untuk hal ini semua keluarga tidak bisa seragam. Karena kita beragam. Sepakati dengan suami, mana track yang akan dipakai. Sehingga berdua akan mengatakan ON Track atau OFF track.
Contoh kalau di keluarga kami sepakat melihat kekuatan anak denganindikator kefitrahannya:
a. Fitrah Ilahiyah dengan 4 indikator: iman-akhlak-adab-bicara
b. Fitrah Belajar dg 4 indikator : Intellectual curiosity- creative imagination-art of discovery and invention – noble attitude
c. Fitrah Bakat dg 4 indikator : Enjoy-Easy-Excellent-Earn
d. Fitrah perkembangan : Saya pakai buku KIA nya Jica sejak anak-anak ada dlm kandungan.
Silakan buat sesimple mungkin dan semudah mungkin, sehingga bekerja untuk kita dan anak-anak.
Prinsip terakhir: ” Semua boleh, kecuali yang tidak boleh”. Semua teori yang diyakini keluarga boleh dipakai, yang tidak boleh cuma satu“Mencari kelemahan anak-anak kita”
#9 Pertanyaan Fahrina – IIP Singapore
Maksudnya mensiasati kelemahan bagaimana ya bu? Masih bingung. Kita tidak boleh mencari kelemahan Tapi mensiasati. Kalau mau disiasati bukannya harus tahu dulu? Maaf belum mengerti.
Jawaban:
Benar kelemahan itu terdeteksi oleh kita tapi tidak perlu diungkapkan apalagi ditulis gede-gede dan ditempel. Yang perlu ditulis gede dan dimasukkan alam bawah sadar kita adalah kekuatan anak-anak.
Misal : anak kita dalam fitrah bakat terdeteksi lemah di bidang art, maka kita akan siasati kelemahan ini ke depannya dengan tidak memaksa anak belajar art melainkan berkolaborasi dengan anak-anak yang kuat di bidang art.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar