Bagi orang dewasa, hal ini mungkin tidak terlalu sulit untuk dihadapi. Namun, belum tentu bagi anak-anak. Bingkai pengalaman hidup dan referensi yang berbeda menjadi salah satu pemicu selisih paham antara kami dengan eyang. Hal ini membuat mba Syifaa lebih sering menangis dan bersedih apabila sebelumnya telah terjadi interaksi dengan sang eyang. Karenanya, Syifaa selalu meminta untuk pindah rumah dan mencari tempat tinggal yang berbeda dari rumah eyang ini.
Perlahan dan penuh hati-hati saya mencoba menjelaskan keadan kami dan pilihan untuk menetap sementara di rumah eyang ini. Agar lebih nyaman saya mencoba merangkainya dalam bentuk cerita;
Suatu hari terlihat seorang putri dari sebuah kerajaan berada di sebuah rumah nun jauuuh... dari istana tempat tinggalnya terdahulu. Sang Putri ini tersesat ketika sedang asyiik bermain, hingga dia tidak menyadari bahwa dirinya sudah keluar dari istana dan semakin jauh berjalan. Alih-alih menuju kembali pulang, justru sang Putri lupa jalan pulang.
Sang Putri sangat sedih, karena dia kini tidak berada di istana. Beruntung sang putri kemudian dirawat oleh seorang nenek pencari kayu. Saat ini nenek itu seperti biasa setiap hari selalu ke hutan untuk mencari potongan dahan dan pohon untuk dijadikannya kayu bakar. Si nenek tua itu menemukan putri sedang tertidur lemas di atas rerumputan.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar