Follow Me @linaibuneazzam

Minggu, 11 Februari 2018

Oleh-oleh Pandu 45

Prolog,


Dua pekan sebelumnya bu Septi berkesempatan mengunjungi teman-teman IP Jogja sekaligus mengisi Workshop Home Team. Saat itu, saya sudah mendaftarkan diri pada ibu ketupat untuk menyisihkan satu seat buat saya, namun qodarulloh di hari H yang dinanti justru saya tidak dapat bertemu ibu dan pak Dodik. Raga sedang diminta istrahat setelah sepekan sebelumnya bertarung melawan virus, akhirnya tumbang juga.


Namun, Allah Maha Baik, kerinduan akan bertemu langsung dengan ibu diberikan tidak lama setelah fisik mulai membaik. Awal Februari 2018, seperti ada yang mengarahkan mata dan hati ini membaca sebuah e-flyer bahwa nun jauh di kota Wonogiri insyaAllah bapak dan ibu Septi diminta untuk sharing tentang Pandu 45. Segera kemudian saya menelpon panitia disana, jawabannya saya masuk ke dalam peserta waiting list. Uhuk


Yup, tiket workshop Pandu 45nya laris manis bak kacang rebus. Hampir pupus asa, saya pun merencanakan untuk mendaftar workshop serupa yang akan dilaksanakan di Salatiga maret depan. Sungguh benar-benar kejutan yang indah, sore harinya mendapat pemberitahuan dari mbak panitia bahwa saya bisa mengisi satu seat kosong karena ada peserta yang cancel. Alhamdulillah.... seketika mata dan hati ini mulai berbinar, akhirnya rezeqinya dapet untuk bertemu ibu.




3 Februari 2018

Sabtu ceria yang bener-bener sulit terlupakan nantinya, sungguh saya bertemu ibu Septi dalam dunia nyata. Perjalanan Jogja-Wonogiri menjadi perjalanan yang asik. Seperti biasa, saya bersama pasukan (minus Azzam) bersiap-siap sedari pagi. Karena ayah ada urusan kerjaan di Klaten akhirnya menyempatkan mampir di Klaten sebentar. Setelah selesai, lanjut menuju Wonogiri. Yeayyy....


Kasur lipat di jok belakang sudah siap menjadi tempat anak-anak meluruskan punggung, yah... memang setiap kami berjalan sengaja mengosongkan kursi di jok belakang untuk kids area. Disanalah mereka akan saling bercanda, tertawa dan nangis berjamaah juga. wuahahaha... ruame, teng gejuwit!


Acara Workshop Pandu 45 berlangsung di Angkringan Sopo Ngiro, angkringan yang asyik ditambah suasana Wonogiri yang suejuk-suejuk suegerrrr..., sayang banget saya itu kelemahannya adalah mendokumentasikan dalam bentuk foto, sehingga visualisasi dari acara ini kurang lengkap deh.




Catatan Hasil Belajar

Nah berikut saya coba menuliskan hasil belajar saya, semoga nanti ada manfaatnya;
Fokus Kekuatan, Siasati Kelemahan
Fokus pada kekuatan dan siasati kelemahan merupakan mantra dasar Pandu 45. Oiya mengapa Pandu 45? Simpelnya Pandu 45 adalah program kegiatan untuk memahami bakat anak dengan mengeksplorasi 45 aktivitas potensi kekuatan yang bersumber dari  30 sifat dan 15 bidang.


Sebisa mungkin, fokus kita pada Kekuatan, agar energi dan waktu kita tidak menguap hanya mengurusi kelemahan. Hal ini pun selaras dengan atsar dari sahabat Nabi yang bernama Umar bin Khattab "Ketika anakmu berbuat salah, tegur dan jangan pernah kamu mencatatnya. Ketika anakmu berbuat baik, puji dan segera catat".


Ketika kita fokus pada kekuatan maka sebenarnya kita fokus pada solusi. Bukankah setiap tantangan yang dihadapi kita perlu solusinya? Adanya solusi, maka galau akan pergi. yippieee....


Karena berfokus pada kekuatan, maka perlu mengenali diri sendiri dulu. Tugas kita sebagai orang tua adalah membantu ananda untuk mengenali diri mereka dalam rangka menemukan peran spesifiknya di muka bumi ini.


Bagaimana caranya?


1# Menerima anak, apapun keadaannya. Sebab mereka makhluk Allah yang sejak lahir telah dikaruniai kehebatan BAKATnya masing-masing. 

Allah Ta'ala berfirman :
{قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا}
Katakanlah, "Setiap orang berbuat/beramal menurut syaakilahnya masing-masing. Maka Rabb kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya " (Qs. Al-Isra : 84)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud 'ala syaakilatihi adalah menurut keahliannya masing-masing.
Menurut Mujahid makna yang dimaksud adalah menurut keadaannya masing-masing.
Sementara menurut Qotadah, yang dimaksud adalah menurut niatnya masing-masing.


2# Membenarkan cara berkomunikasi kepada anak, dengan cara membangun komunikasi produktif dan jernih


3#Menggunakan mata hati untuk melihat potensi pada diri anak. Boleh dengan membangun profiling anak, kemudian mengobservasi kecenderungan sifat produktifnya, lalu menajamkan jam terbang serta pengetahuan anak yang disaring dengan formula 4E. Detailnya akan dibahas kemudian insyaAllah


Tentang Pandu 45


Perlu diperhatikan bahwa, Pandu 45 ini bukanlah alat labelling anak, karena melabel anak terlampau dini justru akan menyempitkan sisi potensi mereka yang lain. Pandu 45 ini dibuat oleh ibu Septi dan pak Dodik dengan maksud memberikan panduan berbagai macam aktivitas yang bisa digunakan untuk menjadi salah satu pedoman berkegiatan bersama anak dalam rangka mengamati dan akhirnya menemukan potensi unggul anak. Karena pak Dodik dan bu Septi adalah pramuka sejati, maka diberilah nama Pandu 45. heheheheh....


Dalam Pandu 45, kita akan menyamakan frekuensi dan bahasa. dalam hal ini bahasa BAKAT. Secara bahasa, bakat dipahami sebagai bibit unggul yang sudah ada (baik dari sifat atau panca indera) yang khas -mereka banget- melekat secara natural pada diri anak. Bakat ini ketika dikembangkan melalui aktivitas-aktivitas yang relevan maka akan menjadi produktif, disinilah fungsi parameter 4E yang akan membantu kita melakukan penilaian dan evaluasi.


4E yang dimaksud adalah Easy (bisa), Enjoy (asyik), Excellent (mahir), Earn (bermanfaat/produktif). Jika ke empat E ini terpenuhi, maka tugas selanjutnya adalah mengkonfirmasi temuan bakat anak tersebut kepada Sang Pemberi Bakat.


Setelah menerima pengertian bakat, maka tentu kita perlu tahu sumber bakat itu seperti apa?


Bakat sebagai potensi kekuatan memiliki 2 sumber, bersumber dari sifat dan panca indera.

sumber bakat
  • Bakat yang bersumber dari sifat, contoh potensinya adalah mengajar, meneliti, berjualan, memimpin. Puncak dari optimasi bakat ini akan menjadi peran.
  • Bakat yang bersumber dari panca indera, contoh potensinya adalah melukis, menggambar, memasak, berenang. Puncak dari optimasinya akan menjadi bidang.

Maka, disini Pandu 45 akan membicarakan 45 bakat yang terdiri dari 30 peran dan 15 bidang.
Untuk lebih jelas, silakan mengunduh ebook Pandu 45 ini dengan mengklik gambar di bawah;

 Pandu 45

Berdasarkan framework pendidikan anak milik Keluarga bu Septi dan pak Dodik maka anak-anak usia di bawah 16 tahun hendaknya dicobakan dengan beragam aktivitas. Disinilah prinsi "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah". Dari beragamnya aktivitas tersebut, anak-anak kemudian akan memperlihatkan kecenderungan pada kegiatan mana yang membuatnya merasa nyaman (enjoy), mudah melakukannya (easy) kemudian anak menjadi mahir dan lebih cemerlang dari kawan-kawannya (excellent). Pada etape ini, teruslah menambah jam terbang anak pada aktivitasnya tersebut dengan tujuan menajamkan bakat anak.


Belajar Pandu 45 asyiik bukan?
Nah, sampai disini dulu tulisan hasil belajar saya, jujur belum semua saya tuliskan disini. Karena beberapa materi dalam format workshop sehingga tidak ditemukakn di dalam ebook. Mohon doanya saya berkesempatan untuk menuangkan cara pandu dan baca bakat anak dalam tulisan berikutnya. InsyaAllah lebih aplikatif dengan teknis praktis.

Semoga bermanfaat,

/Lina Ibune Azzam/


Foto-foto saat di angkringan;








4 komentar:

  1. Masya Alloh... Matur Nuwun sharingnya Mb Lina... Ditunggu postingan selanjutnya 😍😘

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah mampir. Semoga bermanfaat yah

    BalasHapus
  3. Mbak lina...terimakasih,sangat bermafaat tulisannya. Oke..angan selalu saya ingat "Meninggikan gunung..bukan meratakan lembah".

    BalasHapus