Bismillah,
Kullu nafsin dzaaiqatul mauut... hal ini tentu menjadi sebuah perkara yang tidak terbantahkan dan tidak ada satupun yang sanggup mengingkarinya.
Bahkan selevel Fir'aun pun bisa tiada, apalagi kita yang orang biasa.
Kematian merupakan pembelajaran dari Allah yang mungkin dianggap sederhana (karena lazim terjadi disekitar kita), tapi percayalah hal ini tak sesederhana itu karenanya jangan sampai kita kehilangan makna.
Untuk itu marilah mempersiapkan akhir hidup kita ini dengan serius, sebab tak ada manusia dan makhluk manapun di muka ini yang akan hidup selamanya tanpa batas. Dan sadarkah kita bahwa saat akhir hidup itu tiba, tiada lagi yang bermanfaat selain amal shalih yang diperbuat saat masih hidup di dunia. Betapa banyak ayat Al Qur'an yang memngabarkan kepada kita, penyesalan orang-orang yang durhaka kepada Rabbnya, ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahannam, mereka kemudian meraung-raung berteriak minta dikeluarga dari neraka barang sekejap saja. Mereka ingin melakukan amal perbuatan yang dahulu tidak mereka lakukan saat masih hidup.
Tapi, semuanya akan sia-sia... Habis sudah toleransi yang diberikan Allah kepada manusia yang menyesal itu. Yang tersisa hanya "buah dari maksiat" yang mereka lakukan saat di dunia.
Sehingga, banyak juga ayat Al Qur'an yang mengingatkan serta memotivasi kita untuk senantiasa beramal sholih, meningkatkan kualitasnya dan menjaga konsistensinya serta istiqomah.
Seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Qs. Al Insyirah : 7, sebab sejatinya tidak ada ujung beramal seorang muslim, kecuali KEMATIAN.
"Dan sembahlah Rabbmu, hingga datang kepadamu al-yaqin" ( Qs. Al Hijr:99)
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, "sampai kapan kita harus beramal dan kapankah kita ini beristrahat?"
Maka beliau menjawab, "kita akan berhenti beramal dan beristrahat ketika meletakkan kaki di surga". Sehingga perjuangan kita menjadi hamba Allah itu sesungguhnya sampai mati, dan inilah pemahaman yang benar.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar