Follow Me @linaibuneazzam

Rabu, 28 September 2016

Materi Matrikulasi #6 Ikhtiar Menjemput Rezeqi

IKHTIAR MENJEMPUT REZEQI
[ BUNDA PRODUKTIF ]

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”  dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR” .  Sehingga muncul ghirah yang luar biasa dalam menjalani  hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati. Para Ibu di kelas Bunda Produktif  memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

“Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada. Sang Maha Memberi  Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”
Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya,  demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar. Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah  bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.
Semua pengalaman para Ibu Profesional di  Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah KEMULIAAN hidup.

“Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI”
Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita. Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya.

Seorang ibu yang produktif bekerja itu agar bisa menambah syukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya.

Bukankah Siti Hajar berlari tujuh kali bolak balik dari Shafa ke Marwa, tetapi zam-zam justru keluar dari kaki mungil Ismail?
Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rejeki adalah Kejutan.
Rejeki adalah kejutan yang datangnya dari arah tak terduga,  untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.
Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya, kemudian ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni?


Pertanyaan-pertanyaan
#1 Pertanyaan Diah – IIP Depok
Jadi sebaiknya kita mempraktekkan bunda sayang/cekatan dalam kehidupan sehari-hari dulu baru masuk ke ranah produktif ya?

Jawaban:
Namanya pijakan memang harus setahap demi setahap. Pijakan pertama yang kuat akan memudahkan langkah kita untuk naik ke pijakan berikutnya. Jadi Kuatkan dulu bunda sayang dan bunda cekatan ( kalau bunda sudah memiliki anak-anak), tapi kalau masih gadis atau belum punya anak pijakannya, bunda cekatan baru bunda sayang. Kejar ilmunya dan segera praktekkan, agar lebih memudahkan langkah kita ketika masuk ke bunda produktif.
Bagaimana kalau kondisi memaksa kita untuk masuk ke ranah produktif terlebih dahulu. Bisa kita kerjakan secara paralel, namun perlu sebuah management waktu yang sangat bagus dan mengejar ilmu bunda sayang dan bunda cekatan dengan cepat, mengikatnya dengan amalan/praktek.

#2 Pertanyaan NiaNio – IIP Depok
Saya mau curcol skaligus tanya konkrit. Saya masih kerja di ranah publik karena masih biayai adek adek saya kuliah dan yang kedua masi kepikiran pembiayaan rumah (kpr). Ingin betul mantap meyakini bahwa rizki itu pasti…tapi logika manusia saya masih menggoda…takut gak kebayar kpr nya..masih panjang belasan tahun lagi hihihi. Bagaimana tips nya ya

Jawaban:
Khawatir akan kondisi sendiri saat ini boleh, tapi yang tidak boleh adalah mengkhawatirkan rizqi dari Allah. Karena itu janji Dia yang akan menjamin rizqi makhluk Nya, selama kita TAAT kepadaNya. Prinsip saya dan keluarga ketika menghadapi sebuah kekhawatiran/ketakutan adalah memakai prinsip di bawah ini : 
‘How to conquer the fear? FACE the fear’
Bagaimana cara mengatasi ketakutan? Hadapi ketakutan tersebut. Hadapi, susun strategi, apabila gagal, ubah strategi berikutnya. Karena There is NO FAILURE, only wrong result, so we have to change our strategy. 

#3 Pertanyaan Laila – IIP Aceh
Jika melaksanakan masing-masing pilar bertahap, dulu Bu Septi di tahun keberapa terjun ke pilar Bun produktif. Butuh berapa lama “selesai dengan diri sendiri.”
Apakah ibu ritme mempercepat/ memperlambat dalam menjalani hari-hari menemukan misi diri?

Jawaban:
Saya menikah tahun 1995, dari tahun 1995 – 2003 saya fokus di bunda sayang dan bunda cekatan. Sambil momong anak-anak. 2003-2008 saya masuk ranah bunda produktif, masih dalam proses menemukan kesejatian diri, belum tuntas selesai dengan diri saya, masih terus mencari, tapi sudah ketemu jalannya. Tinggal kemauan saya sendiri mau lebih cepat atau lebih lambat mencapainya. Sehingga yang penting adalah ketemu peran hidup, atur ritme kita sendiri, mau berapa lama sampai ke tujuan. Karena proses hidup yang saya pakai adalah : Menemukan peran hidup – Menemani anak menemukan peran hidup mereka – Membantu teman-teman lain untuk menemukan peran hidupnya.
Tahap saya sekarang masuk di jalur yang ke 3, membantu teman-teman menemukan peran hidupnya. Setelah itu ? tidak tahu, menunggu surat cintaNya, apakah akan mendapatkan tugas baru lagi, atau justru dapat surat cinta untuk pulang berkumpul bersama dengan para kekasihNya , insya Allah.

#4 Pertanyaan Shanty – IIP Bandung
Kalau lihat materi yang bu Septi sampaikan tentang kelebihan menjadi ibu produktif seperti membuat hidup penuh makna, meningkatkan rasa percaya diri dan gairah hidup, bermanfaat buat orang banyak, sampai ke meningkatkan imunitas tubuh segala. Ini keren banget. Semua orang memerlukan hal ini untuk menjadi ibu yang bahagia.
Tapi di bagian awal, bu septi mengatakan jangan dulu ke Bunda Produktif kalau Bunda Sayang dan Bunda Cekatannya belum beres.
Apa tidak kontradiktif ya Bu? Karena pengalaman saya dulu yang sempat ‘hanya’ mengurus anak dan rumah tangga, tanpa memikirkan kebermanfaatan untuk orang lain rasanya memang kurang optimal dan stress sendiri. Rasanya lebih nyaman dengan saat ini yang bisa menyediakan waktu untuk yang lain juga selain urus anak dan rumah tangga. Walau memang waktu produktifnya hanya sekitar 1-2 jam sehari.

Jawaban:
Kata “hanya” mengurus anak dan rumah tangga itulah yang mengurangi keihklasan kita untuk mencapai kebahagiaan sebuah proses. Tapi itu wajar dialami semua ibu, saya saja di tahun-tahun awal juga mengalaminya. Merasa tidak berguna kalau hanya ngurus anak dan rumah tangga saja. ternyata saya ketemu kuncinya : saya belum menerima fitrah saya sebagai ibu, masih memikirkan ambisi pribadi, karena saat itu melihat teman-teman seangkatan sudah pada “keren-keren” bekerja di sebuah kantor/perusahaan. Ternyata definisi “keren” saya saat itu belum berubah, masih rata-rata pemahaman kebanyakan orang.
Saya tidak memaknai hari-hari saya sebagai sebuah proses produktifitas. Akhirnya saya switch mindset saya dengan kalimat Pak Dodik sebagai penguat: “bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan”
Akhirnya saya buat jam kerja saya bersama anak-anak menjadi jam produktif. Tempat saya punya laboratorium untuk melangkah ke ranah produktif. Saya maknai kebersamaan bersama anak-anak saya menjadi kegiatan dinamis dan sangat menyenangkan. Akhirnya Allah memberikan jalan rejeki yang tak terkira.
Kebersamaan saya bersama anak 1 , diberi bonus usaha oleh Allah sebuah Jarimatika. Kebersamaan saya bersama anak no 2, menghasilkan abaca-baca, kebersamaan saya dengan anak no 3, menghasilkan Jari Qur’an. Setelah anak besar-besar, saya diberikan amanah School of Life Lebah Putih dan Ibu Profesional.
Janji Allah pasti adanya…..tinggal bagaimana cara kita memaknainya.

#5 Pertanyaan Farda – IIP Surabaya
Setiap orang punya masa krisisnya masing-masing. Pada titik bagaimana ya kita bisa merasa merdeka, bebas dari ego, selesai dengan diri sendiri, dan yang terpenting terinspirasi dari orang lain tanpa merasa terintimidasi?

Jawaban:
Kalau pengalaman saya, saya merasa merdeka bebas dari ego, selesai dengan diri sendiri, justru setelah berhasil melewati masa krisis. Silakan diamati, biasanya masa krisis itu akan datang secara periodik dalam rumah tangga kita. Kalau dalam kehidupan pernikahan ada yang 3 th an, 5 th an, atau 7 th an, masing-masing berbeda, dan akan selalu ada. Kalau di anak-anak saya menamai dengan “masa badai”, hasil pengamatan saya ternyata anak-anak akan muncul masa badai di usia ganjil selama mereka berusia 0-15 th, setelah itu tenang, karena sudah aqil baligh.

Ketika melihat kehebatan orang lain, di masa -masa krisis, maka kata ajaib saya adalah “menarik tapi tidak tertarik” agar kita tidak terintimidasi. Saya hanya akan mengatakan, sudah di KM berapa keluarga sukses tersebut? Keluarga saya sedang di KM berapa? Apakah perjalanan saya ON Track atau OFF Track? Semakin mendekat ke surga atau menjauh? Apa yang sudah baik yang sudah dilakukan keluarga tersebut? Terinspirasi satu hal apa yang bisa saya lakukan esok hari agar hidup saya berubah? Tulis-kerjakan satu-satu.

Pinjam istilah renald kasali, di change management mau lompatbke kurva s selanjutnya. Istilah di keluarga kami “High Energy Ending”, berhenti saat mencapai puncak. Untuk mencari tantangan gunung berikutnya.

Nice HomeWork #6

PR yang diberikan Bu Septi pada Selasa, 21 Juni 2016 untuk dikumpulkan paling lambat hari Minggu, 26 Juni 2016 pukul 16.00.

Bunda kali ini kita akan memahami bagaimana cara kita menemukan kekuatan diri dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping.  Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah Bunda tulis di NHW#1 – NHW #5.

Semua ini ditujukan  agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA.

#1 Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb :
masuk kewww.temubakat.com
isi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi : Ibu Profesional
jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya
belajarlah membaca hasil dan Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #6

#2 Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran
Kuadran  1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
Kuadran 2  : Aktivitas yang anda SUKA tetapi  andaTIDAK BISA
Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda  BISA
Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

Adapun format materi dalam bentuk video dapat dilihat pada link inihttps://www.youtube.com/watch?v=kjE5FGuvfrY

Jika seneng dalam versi audio maka suara nyaman bunda Septi dapat di dengarkan melalui soundcloud ini.

Selamat belajar.....



























Kuadran Aktivitas
Shanty’s Nice HomeWork #6 dibuat dalam postingan terpisah.
Review Nice HomeWork #6
Disampaikan pada 20 Juli 2016.
Bunda, terima kasih bagi yang sudah mengerjakan NHW#6 ini dengan sangat baik. Melihat satu persatu hasil talents mapping teman-teman, maka saya lihat beragam potensi fitrah yang dimiliki oleh teman-teman, tinggal sekarang diamati kekuatan potensi dirinya, kemudian berkolaborasilah dengan orang yang tepat agar potensi tersebut bisa optimal. Akan lebih baik lagi kalau kita bisa berkolaborasi dengan pasangan hidup kita. Karena prinsip dari talents mapping, FOKUS pada KEKUATAN, SIASATI segala KELEMAHAN. Salah satu cara mensiasati kelemahan adalah mencari partner yang tepat yang bisa mengisi kekurangan kita. Maka jodoh itu bukan yang memiliki kekuatan dan kelebihan yang sama, jodoh itu adalah mereka yang bisa komplementer untuk saling mensiasati kelemahan sehingga bisa saling menghargai masing-masing kekuatannya.
Saya akan ambil satu contoh dari hasil tulisan teman-teman di NHW #6 Program matrikulasi ini tentang pentingnya berkolaborasi untuk mengoptimalkan potensi kekuatan kita.
“Saya Mesa Dewi, ibu rumah tangga yang berusia 26 tahun. Saya bercita-cita menjadi home educator  dan fasilitator keluarga yang handal. Tujuh urutan bakat tertinggi  saya secara berurutan adalah : INPUT – SIGNIFICANCE – MAXIMIZER – FUTURISTIC – RELATOR – COMPETITION – CONTEXT.
Bakat INPUT membuat saya ingin mengetahui banyak hal secara mendalam. Mudah penasaran dan suka mengulik berbagai hal baru yang saya rasa menarik. Hobi mengoleksi informasi ini memudahkan saya melakukan pencarian data, saat data tersebut dibutuhkan atau ingin dibaca kembali baik untuk diri saya sendiri maupun untuk orang lain. Di sisi lain, rasa keingintahuan akan banyak hal terkadang membuat pikiran menjadi overload dan jenuh. Sehingga saya perlu menguatkan diri untuk memegang komitmen, “Hal itu menarik, tapi saya tidak tertarik. Ketertarikan saya fokus pada pendidikan keluarga.”
Untuk mengoptimalkan bakat ini, saya perlu berkolaborasi dengan orang-orang berbakat FOCUS dan DISCIPLINE supaya dapat menghasilkan pemahaman yang spesifik dan mendalam.
Perpaduan bakat MAXIMIZER dan RELATOR membuat saya senang menjalin relasi, berkomunitas dengan teman-teman sevisi dan dapat menyokong orang lain untuk mencapai tujuan.
Saya perlu bermitra dengan orang RESTORATIVE dalam menangani masalah, karena kemampuan saya dalam hal ini terbatas. Di keluarga, bakat MEDIATOR dan ANALYST suami sangat membantu dalam hal ini.
Dengan bakat COMPETITION, berkumpul dengan teman sevisi juga membuat saya memiliki tambahan energi dari lingkungan yang kondusif untuk senantiasa memajukan kualitas diri. Bukan lagi membandingkan diri dengan orang lain, tapi membandingkan kemajuan diri dan keluarga dari waktu ke waktu. Slogan good is not enough anymore we have to be different sangat mengena pada saya, karena bakat SIGNIFICANCE yang cukup mendominasi. Berkolaborasi dengan bakat FUTURISTIC dan CONTEXT seringkali membuat perencanaan saya berkaca pada masa lalu, unik dan detil.  Untuk mengasah bakat FUTURISTIC ini, saya membutuhkan partner sesama FUTURISTIC untuk berdiskusi kreatif. Alhamdulillah suami juga memiliki bakat VISIONER, sehingga sering tercetus ide unik terkait keluarga saat Home Team Discussion  berlangsung. Karena visi yang sama inilah, lahir GRIYA RISET sebagai nama hometeam keluarga kami. Namun, kami perlu mendekatkan diri pada keluarga-keluarga maupun teman-teman yang memiliki bakat ACTIVATOR, agar tidak terlena di ranah konsep dan ide-ide tersebut dapat tertuang menjadi aksi. Mari berkolaborasi :)”
Ini salah satu contoh pentingnya kita memahami kekuatan diri kita kemudian mencari partner yang cocok. Untuk itu silakan teman-teman amati sekali lagi, potensi kekuatan yang ada pada diri teman-teman, kemudian minta pasangan hidup anda mengisi ST 30 juga, kemudian lihat apakah anda sama-sama kuat di bidang yang sama atau saling mengisi.
Hal ini penting untuk memasuki ranah produktif teman-teman. Akan berkolaborasi dengan pasangan hidup atau memang perlu partner lainnya. Apabila perlu partner lain maka teman-teman sudah paham orang-orang dengan kekuatan seperti apa yang ingin anda ajak kerjasama. Sehingga mulai sekarang sudah tidak lagi asal bilang “saya cocok dengan si A, si B, si C” cocok di bidang mana? Bisa jadi kecocokan anda dengan seseorang tidak bersifat produktif karena memang tidak saling mengisi (komplemen).
Setelah memetakan apa yang SUKA dan BISA, maka mulailah menambah jam terbang di ranah anda SUKA dan BISA, mulailah melihat dengan seksama dan kerjakan dengan serius. Mengapa ranah SUKA terlebih dahulu yang harus saya tekankan. Karena membuat kita BISA itu mudah, membuat SUKA itu baru tantangan.  Maka saran saya masuki ranah SUKA dan BISA terlebih dahulu sebagai awalan, kalau anda sudah menemukan “beat”nya disana, sudah merasa “sukses dan bahagia” , maka mulailah mencoba ke ranah yang lain selama anda BISA. Yang tidak boleh adalah memasuki ranah yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA.
Seiring berjalannya waktu kita semua akan bisa dengan mudah memaknai kalimat ini :
“It is GOOD to DO what you LOVE, but the secret of life is LOVE what you DO”
Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar