Tentang Mendidik Anak Agar Suka Membaca
Saya sangat setuju dengan usaha menumbuhkan minat baca anak sehingga is menjadi suka membaca, daripada sekedar bisa membaca.
Sederhananya, anak yang suka membaca pasti bisa membaca. Sementara, anak yang bisa baca belum tentu suka membaca.
Sehingga inilah target pertama dalam menstimulus keterampilan membaca anak. Bukan malah memaksa mereka untuk segera bisa membaca namun minus semangat/gairah terhadap aktivitas membaca. Dalam upaya ini maka hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah;
- Keteladanan (role model), tentu ayah bundanya juga terlebih dahulu suka membaca, yang kemudian akan mewarnai anak-anak.
- Membacakan buku dengan suara keras (read aloud), jika dilakukan secara rutin maka anak-anak akan bisa membaca isi buku persis sama dengan ayah bunda membacakannya. Ini disebutnya “magic reading”, kemampuan membaca tanpa orang tua mengajarinya.
- Bangun perpustakaan keluarga, tempatkan buku-buku anak pada area yang mudah dijangkau, percantik dengan interior yang nyaman dan hangat.
- Membuat projek literasi bersama keluarga.
- Menjadikan buku sebagai hadiah/reward atas prestasi anak-anak, prestasi yang dimaksud adalah seluruh progrees kebaikan yang telah dicapainya.
- Membuat panggung bocah sebagai latihan mereview sebuah tulisan versi anak-anak, dan orang tua cukup memberi apresiasi tak perlu evaluasi.
Begitu diantara usaha yang dapat dilakukan oleh orang tua. Dan, saya pun sedang memperjuangkannya di rumah. Ganbatte ne!
Mari kemudian coba kita kaji bagaimana pola pendidikan zaman dulu dengan zaman now. Saya mulai dengan keterampilan calistung sebagai pengetahuan dasar yang hampir menjadi keharusan untuk dikuasai oleh anak.
Tentang Calistung
Calistung adalah akronim dari baca tulis dan hitung, dan kini kemampuan calistung ini seolah-olah dianggap harus segera dikuasai oleh manusia. Bahkan “sejak dini mampu calistung itu makin baik”. Demikianlah kurang lebih anggapan kebanyakan orang. Sehingga hal ini makin menjadikan pelajaran calistung menempati urutan pertama pelajaran yang harus dikuasai oleh anak-anak. Anak sekolah yang belum mahir calistung kemudian ada yang diberi label anak tertinggal, anak kurang belajar dan semacamnya.
Maka, terlihat hampir menyeluruh di pojok negeri, bertabur kegiatan-kegiatan pengajaran calistung usia dini. Malah cenderung pada usaha drilling (menggegas) tanpa mengedepankan visi “menumbuhkan” atau inside out potensi unggul anak. Padahal para praktisi kegiatan drilling baca tersebut sadar bahwa apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak bukanlah termasuk pendidikan yang ramah anak. Kelak gaya pengajaran seperti ini justru akan memadamkan minat baca anak, memadamkan kreatifitas dan mengkerdilkan self-confident anak.
Yang lebih parah, jika anak-anak kehilangan ruh belajar. Kehilangan esensi “Learn How To Learn”.
Jika kita mengacu pada pendidikan yang mengimplementasikan visi 21st century, maka UNESCO menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan 21st century readiness, yaitu :
- Learning to how (belajar untuk mengetahui)
- Learning to do (belajar untuk melakukan)
- Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian)
- Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
- Pendidikan yang membangun kompetensi “partnership 21st Century Learning” yaitu framework pembelajaran abad 21 yang menuntut peserta didik memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran, inovasi, keterampilan hidup.
Dengan ini pola pendidikan gaya lama sudah harus mengalami revolusi.
“Simpelnya, kita nggak bisa terus menyiapkan generasi muda dengan cara yang sama di dunia yang udah mulai berubah” - Cathy N. Davidson
Dunia berubah begitu cepat, manusia pun harus berubah dan mampu menghadapi perubahan itu. Abad 21 yang ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dengan sangat cepat yang didukung oleh penerapan media dan teknologi digital (information super highway) sehingga informasi tersebut semakin mudah terdistribusi ke seluruh penjuru dunia.
Merenungkan ini semua, maka kita akan sampai pada satu titik pembelajaran bahwa dalam dunia pendidikan zaman now, tidaklah cukup hanya bisa membaca, menulis dan berhitung saja, namun lebih dari itu. Anak bangsa harus memiliki sikap dan keterampilan belajar calistung, berbicara, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini disebut literasi (National Institute for Literacy, 1998)
![]() |
| Diagram 21st Century Skills |
Nah, berdasarkan diagram diatas memperlihatkan kemampuan-kemampuan yang perlu dimiliki oleh anak yang bertemu dengan abad 21 ini adalah;
Pertama, Kemampuan Dasar
Adalah keterampilan fundamen meliputi literasi (membaca, menulis), berhitung, sains, pengetahuan-pengetahuan praktis dan pemahaman finansial serta sosial kemasyarakatan (kearifan lokal) dimana disanalah nantinya anak bangsa akan berdaya dan memberi manfaat bagi sesama.
Kedua, Kompetensi
Adalah keterampilan bagaimana melakukan pendekatan untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meliputi; berpikir kritis, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Keempat kemampuan ini disebut The Four Cs of 21st Century Skills.
![]() |
Ketiga, Kualitas Karakter
Adalah bagaimana sikap seorang pembelajar menghadapi beragam perubahan. Karakter apa saja yang dibutuhkan agar tetap survive? Diantaranya adalah rasa ingin tahu, inisiatif yang tinggi, tangguh/kegigihan, kemampuan adaptasi, kepemimpinan, serta kepekaan sosial budaya.
Beruntungnya saya menjadi salah satu murid dalam universitas kehidupan ini dan berkesempatan mendulang ilmu di Institut Ibu Profesional. Saya semakin bertambah wawasan dan memperluas sudut pandang bahwa makna belajar khususnya dalam hal ini belajar membaca tak hanya dibatasi pada kegiatan membaca tulisan kata per kata namun lebih dalam memaknainya sebagai aktivitas “membaca” hikmah dari alam semesta, “membaca” esensi perubahan zaman, “membaca” kearifan local di sekitar sehingga terus berusaha mengasah sisi humanisme yang tidak mampu dikalahkan oleh robot maupun computer di era 21st ini.
Referensi :
Materi Level 5 Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017 https://www.weforum.org/agenda/2016/03/21st-century-skills-future-jobs-students/
http://www.p21.org/our-work/p21-framework
http://www.ishaqmadeamin.com/2015/03/konsep-pendidikan-abad-21-bag-1.html
Catatan: tulisan ini dibuat dalam rangka menunaikan tugas remedial materi Bunda Sayang level#5


Tidak ada komentar:
Posting Komentar