Follow Me @linaibuneazzam

Sabtu, 27 Januari 2018

Anak adalah Bintang

Anak adalah Bintang


Bintang. Secara filosofis dapat dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki pendaran cahaya. Cahaya ini juga diartikan sebagai sebuah keadaan yang awalnya gelap kemudian menjadi terang, awalnya tidak tahu kemudian menjadi tahu. 

Posisi bintang di langit menyiratkan makna ketinggian, kemuliaan atau sesuatu yang berbeda/unik dari yang lain. Mungkin demikianlah yang dimaksud dengan kalimat “setiap anak adalah bintang”. Asosiasi kata “bintang” dipilih untuk mengesankan juga bahwa setiap anak itu unik dan semua lahir sebagai bintang sesuai dengan kekhasan atau potensi diri mereka yang boleh jadi tidak seragam dengan anak-anak lainnya.

Makna ini senada dengan pernyataan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah ini merupakan bawaan lahir (karakter dasar) manusia. Membahas fitrah ini akan luas sekali cakupannya. Karena manusia terlahir membawa fitrahnya masing-masing yang spesifik, baik itu fitrah belajar, perkembangan, seksualitas, bakat, keimanan dan lain-lain. Di dalam Al Qur'an, dikatakan bahwa “fa alhamahaa fujuuurohaa wa taqwaahaa”, 

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).
Maknanya apa? Bahwasanya manusia tercipta dengan dua potensi jiwa, kefasiqan dan ketaqwaan. Namun pada asalnya, setiap insan akan cenderung pada  jalan ketaqwaan (mencintai hal-hal kebaikan).

Nah, berdasar kaidah ini maka kita sebagai orang tua, tentu akan mengupayakan menjaga, memelihara dan membangkitkan fitrah-fitrah kebaikan ananda. Sehingga harapan kita mempunyai anak dengan bintang yang cerah insyaAllah tercapai. Sebuah kaidah penciptaan manusia yang lain juga turut menguatkan kaidah pertama tadi, yakni bahwa dengan Maha Agung nya Sang Khalik tentu tidaklah Dia menciptakan produk yang gagal / failure. Bahkan pada anak dengan special need sekalipun, bukanlah kemudian menjadikan bahwa itu sebagai sebuah kegagalan penciptaan. Akal manusia yang dangkal terkadang tidak mampu menangkap dan meraba kasih sayang serta hikmah dibalik penciptaan itu. Sehingga, kerap kali ditemukan orang tua yang kemudian memiliki emosi negative dengan hal ini.

Ada sebuah cerita pendek yang inspiratif. Cerita tentang “animals schooling” yang bisa menjadi bahan renungan para pendidik anak-anak untuk mengkaji lebih jernih, jujur dan tulus terhadap makna setiap anak adalah bintang.

Alkisah, tersebutlah sebuah sekolah para binatang yang berada dalam hutan belantara. Sekolah tersebut memiliki status “disamakan", yaitu disamakan dengan sekolah manusia. Sekolah tersebut di pimpin atau dikepalai oleh manusia layaknya sekolah manusia pada umumnya. Karena sekolah tersebut memiliki status “disamakan”, maka sudah pasti kurikulum yang ditetapkan di sekolah binatang tersebut sama seperti standar kurikulum yang diterapkan pada sekolah manusia pada umumnya.

Kurikulum pada sekolah binatang tersebut mewajibkan kepada para binatang bahwa jika ingin lulus mereka harus mendapatkan ijazah, syarat untuk mendapatkan ijasah setiap siswa diwajibkan berhasil menguasai lima mata pelajaran pokok dengan nilai rata-rata minimal 8,00 pada masing-masing mata pelajaran tersebut. Apa saja kelima mata pelajaran pokok tersebut? lima mata pelaran tersebut adalah; Berenang, Terbang, Berlari, Memanjat, dan Menyelam.

Mengingat bahwa mereka diwajibkan mencapai nilai yang telah ditetapkan, maka para binatang tersebutpun berharap suatu saat mereka dapat hidup lebih baik dari pada binatang-binatang lainya, sama seperti manusia yang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Sehingga mereka (para binatang) berbondong-bondong berbagai jenis binatang mendaftarkan dirinya untuk sekolah disana; mulai dari; Tupai, Elang, Rusa, Bebek, dan Katak.

Setelah waktu pendaftaran ditutup proses pembelajaranpun akhirnya dimulai, terlihat jelas bahwa dari masing-masing binatang yang sekolah memiliki keunggulan masing-masing dari setiap mata pelajaran di sekolah tersebut.

Mulai dari Tupai, ia sangat menguasai pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan lihai sekali untuk urusan memanjat pohon, berpindah dari ranting pohon satu ke ranting pohon lainnya. Hingga untuk mencapai puncak pohon tidak ada kesulitan bagi tupai tersebut.

Kemudian Elang, ia begitu menguasai pelajaran terbang; ia mempunyai kemampuan terbang yang hebat yang tidak dimiliki oleh binatang-binatang lainnya. Ia mampu melayang di udara dengan mudah, meliuk dan menikuk di udara dengan leluasa. Bahkan untuk mencapai puncak pohon dia tidak perlu susah-susah melompati ranting-ranting pohon, ia hanya cukup mengipaskan sayapnya saja untuk mencapai puncak tersebut.

Dan disusul oleh Bebek, ia pun tidak mau kalah dengan binatang lainnya, ia terlihat begitu ahli dalam pelajaran berenang, dengan keahlian yang dimilikinya ia mampu menyeberangi setiap sungai yang ada dihutan dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun.

Rusa juga menunjukkan keahliannya, ia merupakan murid yang sangat lihai dalam pelajaran berlari. Kecepatan larinya sungguh luar biasa, dan bukan hanya kecepatannya saja, ia juga memiliki gaya berlari yang indah dan tidak ada hewan yang mampu menandingi keahliannya dalam hal berlari.

Lain lagi dengan Katak, ia begitu profesional dalam menguasai pelajaran menyelam, ia mampu menahan nafas ketika menyelam hingga berjam-jam. Tentunya keahlian menyelam si katak tidak dimiliki satupun dari teman-teman disekolahnya.

Begitulah awal ceritanya, dari setiap murid memiliki keunggulan masing-masing, di sekolahan tersebut kini memiliki murid yang sangat berbakat disetiap mata pelajaran masing-masing. Namun kurikulum yang berlaku berbicara lain, kurikulum tersebut tidak menghendaki para murid hanya menguasi satu atau beberapa mata pelajaran saja. Tetapi kurikulum yang berlaku mewajibkan kepada murid untuk menguasai seluruh mata pelajaran dengan nilai rata-rata minimal 8,00. Jika para murid ingin mendapatkan ijasah maka para murid harus mampu mendapatkan nilai tersebut.

Para binatang yang kini menjadi siswa disekolah tersebut mulai kacau. Mereka tahu bahwa untuk mendapatkan ijazah tidak lagi hanya bisa mengandalkan keahliannya masing-masing, meskipun mereka bangga pada keahliannya yang tidak dikuasai oleh siswa lainnya tetapi kurikulum sekolah tidak mengharap demikian. Akhirnya para siswa pun mulai giat belajar untuk menguasai seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah demi kelulusan dan mendapatkan ijazah.

Tupai yang ahli dalam pelajaran memanjat kini mulai belajar terbang. Meskipun hari demi hari ia belajar terbang dengan sungguh-sungguh tetapi hasilnya tidak memuaskan, malahan si tupai babak belur akibat terjatuh dari puncak pohon ketia ia nekat terbang dari puncak pohon tersebut.

Kini giliran Elang yang mulai belajar cara memanjat dan menyelam. Tetapi sayang sekali meski ia susah payah belajar memanjat dan menyelan ia tetap saja tidak mampu menguasainya. Bahkan ia sempat kehabisan nafas ketika mencoba menyelam seperti apa yang dilakukan oleh katak.

Beda lagi dengan Bebek, ia sedikit bisa mempelajari pelajaran berlari tetapi ia sering ditertawakan teman sekolahnya karena gaya berlarinya yang lucu. Ia juga sedikit bisa terbang tetapi tidak sepandai Elang. Lain lagi ketika mengikuti pelajaran memanjat, tentu saja ini bukan keahliannya, tetapi ia tetap ingin mencobanya demi kelulusan, alhasil ia malah penuh luka, memar, dan sayapnya banyak yang rontok akibat terjatuh ketika mencoba untuk memanjat pohon.

Demikian juga dengan siswa-siswa lainya; walaupun mereka semua telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan susah payah demi menguasai pelajaran yang tidak mereka kuasai, dari pagi dan sore hingga malam, tetapi tetap saja tidak ada hasil yang memuaskan bagi mereka, semua mata pelajaran tidak dapat mereka kuasai dengan sempurna.

Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah sebab mereka terlalu terfokus supaya dapat berhasil menguasai semua mata pelajaran yang memang susah mereka kuasai; perlahan-lahan mereka kehilangan keahlian yang sudah mereka miliki selama ini. Kemampuan terbang Elang mulai menghilang; Tupai kini mulai lupa bagaimana cara memanjat, Keahlian berenang Bebek kini tidak selihai dulu lagi, sirip kakinya sobek karena terlalu sering belajar memanjat. Katak juga kini tidak dapat menahan nafas ketika menyelam. Dan yang sangat menyedihkan adalah Rusa, ia tidak mampu lagi berlari sekencang dulu, dikarenakan paru-parunya lemah sebab sering kemasukan air ketika mencoba menguasai pelajaran renang.

Akhirnya, tidak ada satupun siswa yang berhasil lulus dari sekolah tersebut. Yang sangat menyedihkan lagi adalah ketika mereka keluar dari sekolah mereka malah kehilangan keahlian mereka yang selama ini mereka kuasai. Hilangnya kemampuan mereka sudah tentu akibat dari kurikulum yang berlaku disekolah tersebut yang mengharuskan mereka menguasai apa yang tidak dapat mereka kuasai. Sehingga mereka kini susah beradaptasi dengan lingkungan mereka dan satu demi satu mulai mati karena kelaparan sebab tidak lagi bisa memanfaatkan keahliannya untuk mencari makan.

Apa hikmah dari cerita fiktif diatas?

Bila dikaitkan dengan potensi unggul anak-anak maka sistim pada sekolah para binatang itu membunuh potensi “bintang”nya para binatang. Potensi bawaan lahir yang telah Sang Pencipta karuniakan untuk mereka dan kehidupannya.
Maka, biarkanlah anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai path (jalurnya) masing-masing, agar mereka mampu menggali potensi fitrah mereka dan bersinar menjadi bintang. Peran kita sebagai orang dewasa disekitar anak adalah penyelam kekuatan kemampuan mereka (discovering ability), dengan memberi motivasi, menyiapkan fasilitas, memberi apresiasi dan mendoakan mereka. Agar anak-anak itu kelak bertumbuh menjadi bintang di bidangnya masing-masing.

Referensi :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar