Follow Me @linaibuneazzam

Senin, 26 Februari 2018

Mendidik Anak Cerdas Financial

Ini merupakan materi ke-8 pada program perkuliahan Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional. 













Apa itu Cerdas Financial?

Cerdas financial artinya kemampuan seseorang dalam mendapatkan dan mengelola keuangan. Dalam konsep Ibu Profesional, uang merupakan bagian terkecil dari bentuk rezeqi. Dimana secara umum rezeqi adalah segala fasilitas yang telah Sang Pencipta berikan kepada manusia untuk dimanfaatkan dalam mendukung pola berkehidupan mereka di dunia. Sehingga dengan demikian, uang bukanlah satu-satunya rezeqi. 

Lalu apakah memiliki kecerdasan financial ini menjadi hal yang penting untuk dibekalkan kepada anak-anak? Tentu jawabannya adalah iya. Karena hal ini erat kaitannya dengan kemampuannya mengelola kebutuhan hidup maupun hajat orang banyak di sekitarnya kelak. Dan keterampilan ini perlu untuk dilatihkan dengan tujuan agar kemuliaan anak semakin meningkat. Sebab hal ini selaras dengan prinsip dalam Ibu Profesional,

Rezeqi itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari

Sehingga hal ini juga menjadi penting untuk terus dilatihkan dan dipahamkan ke anak bahwa dalam upaya melatih keterampilannya dalam mengelola keuangan, anak perlu diberi pengertian tentang;

1# Anak dipahamkan bahwa satu-satunya Pemberi Rezeqi adalah Allah Ar-Rozzaq. Bagaimana konsep dan alur rezeqi diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya di muka bumi.

2# Mengajak anak berdiskusi untuk membedakan yang mana "kebutuhan" dan "keinginan". Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda, sementara keinginan adalah sesuatu yang masih bisa ditunda pengadaannya. Setelah paham perbedaannya, maka selanjutnya mengarahkan anak untuk menyusun daftar kebutuhannya berdasarkan skala prioritas.

3# Membuat perencanaan keuangan, boleh berupa "mini budget" sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Dibuat perpekanan, setelah mahir lalu meningkat perbulan.

4# Melatih komitmen anak dalam setiap kesepakatan yang diambil, kemudian bertanggung jawab atas konsekuensinya.

5# Anak dilatih keterampilannya mengelola pendapatan berdasarkan alur keuangan yang diyakini oleh keluarga tersebut.

Untuk keluarga kami sendiri, anak-anak (8 - 12) diberi stimulasi berupa pemberian uang saku. Uang saku inilah nnatinya yang akan mereka kelola selama sepekan. Untuk awalan, anak-anak membaginya ke dalam 3 pos alur keuangan;

  • Pos Hak Allah (2,5 - 10% dari pendapatan/uang saku)
  • Pos Tabungan (min 20% dari pendapatan/uang saku)
  • Pos Belanja (40-60 % dari pendapatan/uang saku)
3 pos ini dulu dilatihkan, didampingi dengan kepercayaan dari orang tuanya. Prinsipnya Latih-Beri Kepercayaan-Supervisi dan latih lagi, hingga anak mampu tertib dan sesuai dengan kesepakatan.


Cerdas Financial Anak & Sifat Ar-Rusyd

Ar-Rusyd bermakna kesempurnaan akal dan jiwa (bagi manusia), yang menjadikan manusia itu mampu bersikap dan bertindak setepat mungkin. Sehingga bagi Allah dengan Asma' wa Shifatnya yang Agung, Dia memiliki nama Ar-Rasyiid yang berarti Yang Maha Tepat Tindakannya, dari kata yang terdiri dari rangkaian huruf ro, syi dan da. Yang pada dasarnya berarti ketepatan dan kelurusan jalan.

Setelah memahami makna kata Ar-Ruusyd diatas, maka mari kita coba mengkaji bagaimanaAl-Quran memberi petunjuk kaitannya dengan upaya menstimulasi kecerdasan financial anak kita.

Al-Quran surah An-Nisa' : 5-6 memberi panduan bahwa seorang anak ketika telah baligh dan rusyda maka itu menjadi tanda siapnya sang anak memegang amanah mengelola harta. Rusyda, fase dimana anak memiliki kecerdasan financial (mengembangkan, menyimpan dan membelanjakan) secara proporsional. Tentu sebelumnya telah melewati fase belajar latihan memegang harta.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً وَارْزُقُوهُمْ فِيها وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً (5) وَابْتَلُوا الْيَتامى حَتَّى إِذا بَلَغُوا النِّكاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ وَلا تَأْكُلُوها إِسْرافاً وَبِداراً أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفى بِاللَّهِ حَسِيباً (6)

Artinya :

(5) Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (6) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu); dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kalian adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas kesaksian itu).

Bila menilik dari Siroh Nabawiyah, maka fase latihan memegang harta ini dimulai sejak usia tamyiz (sekitar 7 atau 8 tahun) hingga pre-baligh (di bawah 14 tahun).


  • Rasulullah mulai mendapatkan upah kecil-kecilan di usia 8 atau 10 tahun saat beliau diberi amanah menggembala kambing. untuk zaman now, bisa diibaratkan dengan bolehnya anak-anak memegang uang sendiri (uang saku) dalam nominal kecil.
  • Usia 11 tahun, Rasulullah menemani pamannya Abu Thalib melakukan perjalanan dagang ke Negeri Syam. Untuk saat ini diqiyaskan dengan magang (learn from the master), atau nyantrik (mengabdi sekaligus berguru). Rasulullah memasuki fase pre-baligh namun belum rusyda.
  • Usia 15 atau 17 tahun, Rasulullah sudah menjalankan bisnisnya (usaha dagang) secara mandiri. Afzalur Rahman dalam buku Muhammad A Trader menyebutkan bahwa Rasulullah telah memiliki bisnis skala internasional. Beliau dalam ekspedisi perdagangannya telah mengarungi 17 negara, sungguh Rasulullah mencapai kegemilangan di usia muda.
Maka dapatlah kita simpulkan bahwa, indikasi anak siap untuk memegang harta adalah dengan dua indikator berikut;

Baligh (akalnya sempurna) dan Rusyda (cerdas memelihara harta)

Nah, karena itulah orang tua pun perlu belajar bagaimana bisa mengelola harta dengan amanah agar dapat menjadi teman belajar dan cermin positif buat ananda. Dalam Ibu Profesional, model belajar demikian disebutnya learning by teaching (belajar dengan mengajar).


Salam Ibu Profesional

/Lina Ibune Azzam/

Sumber tulisan :

Materi Level 8, Bunda Sayang 2017, Ibu Profesional, 2017

https://didaytea.com/2009/07/29/ar-rasyiid-yang-maha-tepat-tindakannya/

https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/11/harta-pengelolaanya-dalam-islam.html

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus