Setelah proses mendeteksi tindak kekerasan (baca : bullying) pada Azzam selesai, maka etape berikutnya adalah mencari solusi bijaksana atas tantangan tersebut.
Seperti yang saya sampaikan juga kepada Azzam dalam sepekan terakhir ini, saat masa pemulihan mental pasca bullying, saya memintanya untuk merenungkan semua apa-apa yang telah dialaminya. Mencoba melihatnya dari berbagai sudut pandang, agar kemudian Azzam memiliki wawasan yang luas.
Saya pun meminta Azzam untuk mensyukuri segala taqdir yang menimpanya, baik itu disenanginya maupun tidak. Karena pada prinsipnya, apa-apa yang telah Allah tetapkan itulah yang terbaik untuknya. Termasuk kasus bullying ini. Azzam berkesempatan mendapat banyak hikmah disana. Hingga saya pun memberikan Azzam kesempatan untuk memilih apa keputusan untuk dirinya.
Azzam "ibu, mas senang di pondok. Semua ustadz termasuk Abah Kamidi baik-baik insya Allah. Yang tidak membuat mas nyaman adalah hanya *a**t. Azzam kadang merasa kesal di dekatnya, kesal karena Azzam tidak kuasa melindungi diri mas. Mas ingin mengambil jeda sejenak dari pondok. Mas ingin pulang"
Begitulah yang disampaikan si sulung, saat saya meminta pendapatnya terkait bullying ini.
Sebagai ibu sekaligus coach kehidupan bagi Azzam, saya hanya memberikan dukungan saja. Dan mencoba mempercayai keputusan yang dipilihnya. Saya dan ayahnya tidak banyak intervensi dalam hal ini
Disinilah Azzam kemudian belajar menjadi seorang decision maker, pembuat sebuah kebijakan atas problema atau tantangan yang dihadapinya.
Bismillah nak, tetap semangat dan berkuatlah. Bersama teh manis hangat untukmu....
Seperti yang saya sampaikan juga kepada Azzam dalam sepekan terakhir ini, saat masa pemulihan mental pasca bullying, saya memintanya untuk merenungkan semua apa-apa yang telah dialaminya. Mencoba melihatnya dari berbagai sudut pandang, agar kemudian Azzam memiliki wawasan yang luas.
Saya pun meminta Azzam untuk mensyukuri segala taqdir yang menimpanya, baik itu disenanginya maupun tidak. Karena pada prinsipnya, apa-apa yang telah Allah tetapkan itulah yang terbaik untuknya. Termasuk kasus bullying ini. Azzam berkesempatan mendapat banyak hikmah disana. Hingga saya pun memberikan Azzam kesempatan untuk memilih apa keputusan untuk dirinya.
Azzam "ibu, mas senang di pondok. Semua ustadz termasuk Abah Kamidi baik-baik insya Allah. Yang tidak membuat mas nyaman adalah hanya *a**t. Azzam kadang merasa kesal di dekatnya, kesal karena Azzam tidak kuasa melindungi diri mas. Mas ingin mengambil jeda sejenak dari pondok. Mas ingin pulang"
Begitulah yang disampaikan si sulung, saat saya meminta pendapatnya terkait bullying ini.
Sebagai ibu sekaligus coach kehidupan bagi Azzam, saya hanya memberikan dukungan saja. Dan mencoba mempercayai keputusan yang dipilihnya. Saya dan ayahnya tidak banyak intervensi dalam hal ini
Disinilah Azzam kemudian belajar menjadi seorang decision maker, pembuat sebuah kebijakan atas problema atau tantangan yang dihadapinya.
Bismillah nak, tetap semangat dan berkuatlah. Bersama teh manis hangat untukmu....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar