Follow Me @linaibuneazzam

Selasa, 04 September 2018

Azzam, Refleksi Mondok (1)

15.27 0 Comments
Pertengahan Juli 2018 menjadi momentum Azzam (11tahun) mengukur dirinya untuk belajar "merantau". Hingga hari ini berarti sudah sekitar 30 hari lebih, azzam belajar hidup terpisah dari orangtua. Layaknya anak-anak yang mondok di pesantren. Yah, Azzam ikut program pemondokan dari Ma'had Permata Islam.

Tujuannya adalah anak saya ini sedang menata perencanaan hidupnya ke depan, bahwa dia akan belajar MANDIRI dan BERDIKARI.

Sebagai orang tua tentu peran kami saat ini untuk anak usia Azzam yang jelang baligh, maka kami mengambil posisi sebagai coach/pelatih. Tentu ada target bijaksana yang sama-sama kami tetapkan dalam periode waktu tertentu. Sehingga harapannya, target tersebut mampu dicapai Azzam in time.

Nah sedikit ingin bercerita bagaimana pengalaman "mondok" Azzam ini, sebelum nantinya dia benar-benar akan lepas dari kami. Dan, ternyata Azzam telah mengalami sesuatu hal yang berat di pekan-pekan awal "mondoknya".

Seperti yang saya tuliskan dalam catatan FB saya, bahwa Azzam menerima sebuah tindak kekerasan di pondok.

Begini ceritanya;

Tentang Bullying (bagian 1)
MENDETEKSI DUGAAN BULLYING PADA ANAK

Begini teman-teman, awalnya saya sendiri tidak bisa mempercayai hal ini menimpa si sulung (Azzam). Alhamdulillahnya, kadar bullyannya belum akut. Sehingga, si sulung memungkinkan untuk segera kembali sehat jiwa dan raganya.


Seperti yang kita pahami bersama, bully (kata serapan dari bahasa Inggris) yang secara sederhana dipahami sebagai tindakan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita. Tindakan itu bisa berupa penggertakan, penindasan, kekerasan fisik maupun intimidasi mental. Minimal begitu pengertian yang saya pahami.

Praktek bullying ini sudah terjadi kira-kira sebulan terakhir ini. Kan selama ini azzam ikut sebuah program pemondokan di sebuah tempat belajar. Kesepakatan yang kita ambil bersama antara azzam dan kami (ayah-ibune), azzam akan mondok belajar hidup mandiri bersama beberapa temannya. Dalam sepekan hanya ada waktu libur 1 hari, yakni hari Jumat. Saat itu boleh pulang untuk kembali bersama keluarga sekadar melepas rindu, atau boleh juga nggak. Bebas, itu pilihan.

Nah, pada suatu hari (yang jelas bukan hari liburnya), azzam pulang kerumah dan berkata, "bu, mas boleh nginep disini malam ini?"

Saya terdiam.

Kemudian saya bersuara, "Kok begitu mas?, hari ini bukan hari Jumat loh?", saya mencoba mengingatkan, pikirku mungkin anak ini lupa.

Azzam terdiam.

"Gak boleh !"
"Mas, yang namanya mondok itu ndak boleh pulang-pulang begini. Walaupun rumah kita dekat dengan pondok. Mas harus patuh dengan jadwal. Bagaimana nanti kalo mas mondok di Hamalah atau nyantri di pondok lain yang jauh dari rumah jika mas sedikit-sedikit pulang...."
"Gak bener itu!"
(ternyata ayahnya yang mendengar pembicaraan saya dengan Azzam tiba-tiba bersuara dari balik pintu)

sontak kami berdua kaget.... hihihihi

Hmmm...ayah....duhai ayah, tak kasih kedipan mesra berharap agar tidak meneruskan salah satu gaya komunikasi populer orang tuanya. Begini nih, ayah yang tidak ikut perkuliahan bapak profesional, jadi tidak paham kaidah CtoC, atau minimal menyamakan frekuensi atau teknik komunikasi produktif bersama anak.

Akhirnya ending hari itu adalah azzam tidak jadi nginep di rumah.

Hari demi hari berlalu. Pun Jumat, hari libur juga berlalu. Berlalu dalam sepi tanpa kepulangan mas azzam yang kunanti. Duh, hati ibu mulai tidak enak.


__________________ 🌾🌼🌾🌼🌾_______________


Tidak harus menunggu hingga 3 purnama, anakku pulang. 
Tidak sendiri. Azzam bersama roommatenya (kawan sekamar). Kami sih asyik-asyik aja, kebetulan roommatenya itu berasal dari luar kota Jogja, sehingga jika libur pekanan begini tidak memungkinkan untuk balik kerumahnya.

Ada yang beda, demikian perasaan ibu "berbicara". Azzam saat itu nampak beda dari Azzam yang sebelumnya. Eh..... tapi coba kuabaikan. Namun, tak bisa. Hati ibu terlalu peka merasa. Ada yang gak beres ini. Begitu dugaan awal.

Sambil masak nyiapin makanan kesukaannya, sedikit sedikit kuselipkan pertanyaan, Azzam bahagia di pondok? Azzam nyamankah di sana?

Weww...sejurus memori terbang pada tulisan yang pernah kuposting,

Judulnya "save si kecil", tips mendeteksi tindak kekerasan pada anak.
Lah.... kok begini? batinku, waktu itu saya nulis karena sedang prihatin dengan viralnya sebuah video kekerasan di sebuah TK/Playgroup. Dalam video itu terlihat anak-anak balita yang lucu nan menggemaskan mengalami tindakan kekerasan oleh seorang oknum yang tak layak disebut guru. 

Berdasarkan keprihatinan itu kemudian jempol saya menari diatas keyboard dan lahirlah tulisan yang bagi saya sangat emosional menyinggung soal tersebut.

Dan ini, mungkin dengan konteks yang berbeda, namun memiliki pokok pikiran utama yang sama. Anakku sendiri menjadi korban dari kekerasan tersebut. Rabbanaaa....

Akhirnya berlanjutlah investigasi ala-ala ibune azzam. Saya mendekat ke Azzam, mencoba memindai baik jiwa mapun raga anak itu. Benarlah. Insting seorang ibu hampir tidak pernah salah. Bagaimana salah, wong anak itu pernah hidup dalam rahim ini. Kami berbagi darah dan udara. Kami berbagi rasa dan cinta. Hiks....

Dari pipi kiri atasnya sendiri telah memberi bukti, bahwa something happen. Cedera yang sudah mengering namun masih tergolong luka baru meninggalkan jejak tindak kekerasan. Belum lagi jika kemudian perlahan memori saya kembali segar, tatkala azzam pernah mengeluhkan dadanya sakit. Namun, lagi-lagi kala itu saya menganggapnya biasa. Tidak terlalu memberi respon yang berlebihan, kuatir respon saya nanti menjadikan azzam menjadi anak mami.

Kesakitan-kesakitannya itu kadang ia dapati saat sedang bercanda dan bermain bersama kawan roommatenya.

Yah, pelakunya adalah teman satu kamarnya. Teman yang kadang diprioritaskan Azzam untuk berbagi makanan atau camilan. Teman yang .... ah tidak perlu saya ungkapkan bagaimana kami menganggapnya sebagai sedulur ketemu gede buat Azzam saat di pondok tersebut. Yang kemudian saat hari-hari pertama mereka bersama, saya mengaturnya untuk membangun buddy system. Dengan tujuan agar mereka dapat saling ta'awun dan menguatkan satu sama lain (peer support).

_________________ 🌴🍁🌴🍁🌴 _______________

Itulah yang terjadi, kurang lebih sebulan terakhir ini. Lika liku problematika di pondok. Bahkan di sekolah maupun di tempat lain pun bisa terjadi.

Setelah mengidentifikasi, maka step berikutnya adalah menggali apa solusi yang diinginkan oleh Azzam. Saya merasa perlu melibatkannya dalam proses ini, agar Azzam belajar menjadi decision maker, plus problem solver atas tantangannya sendiri. Tentu setelah melihat bahwa Azzam berada dalam fase pre baligh akhir.

Penting melibatkan Azzam untuk menemukan sebuah solusi, maka kami pun berbicara. Panjang kali lebar. Hingga berhenti pada sebuah kesepakatan baru. Kesepakatan yang diambil berdasarkan pertimbangan dua arah (orang tua dan anak).

Yah, hikmah dari kejadian ini tentu banyak yah. Salah satunya ya itu tadi sebagai stimulus meningkatkan keterampilan hidup anak saat bertemu dengan tantangan.

Cerita berikutnya kita pindah thread yuuk....

Pada bagian 2, MENEMUKAN SOLUSI DAN MEMBUAT KEBIJAKAN

Sekian untuk bagian 1 ini, semoga ada manfaatnya. Selanjutnya boleh kita diskusi santai dalam kolom komentar, apakah ada diantara ayah atau bunda yang menemukan kasus bullying ini menimpa ananda atau ponakan atau anak sahabat/kolega dan sebagainya.



#bullying #tindakkekerasanpadaanak #selfesteem #anakagresif #adabsesamamuslim #trauma #schoolphobia #anaktangguh #buddysystem











Memulai Home Education

12.04 0 Comments

Sebaik-baik usahamu adalah ANAK, maka perhatikan pendidikannya

Home Education dimaknai sebagai pendidikan berbasis keluarga. Model pendidikan ini bukanlah hal baru, namun sudah lama ada sejak zaman kenabian. Dimana, dari rumah-rumah para ibu para ulama lahirlah generasi cemerlang yang membawa kemuliaan Islam. Sehingga, jika di zaman ini kemudian mulai banyak ditemui keluarga-keluarga yang mengambil jalur ini, maka sejatinya hal tersebut bukanlah hal yang "LUAR BIASA", namun merupakan hal yang memang "SEMESTINYA". Dianggap luar biasa karena, secara jamak hampir banyak keluarga lain yang mulai meninggalkan model pendidikan ini. Mereka telah lama memilih jalur sekolah sebagai satu-satunya model belajar atau menambah pengetahuan.  Padahal beragam model dan metode belajar yang bisa menjadi pilihan. Karena menjalani Home Education ini nampak berbeda dari umumnya, maka secara substansial hal yang paling dibutuhkan adalah mentalitas, kita membutuhkan perasaan nyaman untuk terlihat berbeda dari yang lainnya.

Nah, pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana memulai Home Education?

1. Tenang dan rileks. Dua sikap dan perasaan ini amatlah dibutuhkan agar membantu kita untuk berpikir rasional, bukan emosional. Kemudian renungkan hakikat kemanusiaan kita sebagai individu, mengenali nilai-nilai luhur yang dijunjung dalam keluarga, merenungi misi hidup dan pernikahan kita bersama pasangan, sebagai arsitek peradaban. Mengapa disebut sebagai arsitek? Yah, bukankah anak-anak itu terlahir karena kontribusi dan kolaborasi bersama ayah-bundanya? Maka, apakah anak-anak itu akan terlahir biasa saja, atau kita ingin mereka menjadi ORANG yang besar nantinya?

Hal-hal mendasar itulah yang perlu kita persiapkan dan menjadi perhatian di awal merancang pendidikan bagi keluarga termasuk anak-anak didalamnya

2. Bersyukur dengan segala keadaan. Karena dengan syukur ini maka hikmah itu akan hadir. Kita membutuhkan hikmah dalam memulai perjalanan pendidikan anak (yang sejatinyanya juga adalah pendidikan kita juga). Jika Allah menganugerahi kita 5 anak, maka Allah pun akan memberi kita 5 hikmah.

3. Menyamakan frekuensi dengan partner hidup kita. Caranya, dengan memperbanyak ngobrol yang berkualitas, sama-sama merumuskan visi dan misi pendidikan keluarga. Membuat profiling anak, dan memetakan bersama potensi unggul anak. Dalam Home Education itu fokus utamanya pada esensi dan potensi. Sehingga, kelak jika kemudian dari hasil ngobrol rumusan visi pendidikan dan kemudian menemukan sistem sekolah lah sebagai delivery methodnya, maka hal tersebut bukanlah hal yang terlarang. Sepanjang.... kendali fitrah dan adab anak berada dibawah kendali orangtua. Maka, penting memahami esensi ini.

Amanah pendidikan;
"Pendidikan adalah proses menemani dan merawat serta menjaga fitrah anak-anak , tetap tumbuh dan berkembang selaras dengan panggilan hidupnya, hingga anak menjadi individu yang menerima kewajiban syariah dan memiliki peran-peran peradaban tepat ketika mereka berusia baligh"

Yogyakarta, 3 September 2018
/Lina Ibune Azzam/
ibu perindu surga

Senin, 26 Februari 2018

Mendidik Anak Cerdas Financial

22.59 2 Comments
Ini merupakan materi ke-8 pada program perkuliahan Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional. 













Apa itu Cerdas Financial?

Cerdas financial artinya kemampuan seseorang dalam mendapatkan dan mengelola keuangan. Dalam konsep Ibu Profesional, uang merupakan bagian terkecil dari bentuk rezeqi. Dimana secara umum rezeqi adalah segala fasilitas yang telah Sang Pencipta berikan kepada manusia untuk dimanfaatkan dalam mendukung pola berkehidupan mereka di dunia. Sehingga dengan demikian, uang bukanlah satu-satunya rezeqi. 

Lalu apakah memiliki kecerdasan financial ini menjadi hal yang penting untuk dibekalkan kepada anak-anak? Tentu jawabannya adalah iya. Karena hal ini erat kaitannya dengan kemampuannya mengelola kebutuhan hidup maupun hajat orang banyak di sekitarnya kelak. Dan keterampilan ini perlu untuk dilatihkan dengan tujuan agar kemuliaan anak semakin meningkat. Sebab hal ini selaras dengan prinsip dalam Ibu Profesional,

Rezeqi itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari

Sehingga hal ini juga menjadi penting untuk terus dilatihkan dan dipahamkan ke anak bahwa dalam upaya melatih keterampilannya dalam mengelola keuangan, anak perlu diberi pengertian tentang;

1# Anak dipahamkan bahwa satu-satunya Pemberi Rezeqi adalah Allah Ar-Rozzaq. Bagaimana konsep dan alur rezeqi diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya di muka bumi.

2# Mengajak anak berdiskusi untuk membedakan yang mana "kebutuhan" dan "keinginan". Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda, sementara keinginan adalah sesuatu yang masih bisa ditunda pengadaannya. Setelah paham perbedaannya, maka selanjutnya mengarahkan anak untuk menyusun daftar kebutuhannya berdasarkan skala prioritas.

3# Membuat perencanaan keuangan, boleh berupa "mini budget" sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Dibuat perpekanan, setelah mahir lalu meningkat perbulan.

4# Melatih komitmen anak dalam setiap kesepakatan yang diambil, kemudian bertanggung jawab atas konsekuensinya.

5# Anak dilatih keterampilannya mengelola pendapatan berdasarkan alur keuangan yang diyakini oleh keluarga tersebut.

Untuk keluarga kami sendiri, anak-anak (8 - 12) diberi stimulasi berupa pemberian uang saku. Uang saku inilah nnatinya yang akan mereka kelola selama sepekan. Untuk awalan, anak-anak membaginya ke dalam 3 pos alur keuangan;

  • Pos Hak Allah (2,5 - 10% dari pendapatan/uang saku)
  • Pos Tabungan (min 20% dari pendapatan/uang saku)
  • Pos Belanja (40-60 % dari pendapatan/uang saku)
3 pos ini dulu dilatihkan, didampingi dengan kepercayaan dari orang tuanya. Prinsipnya Latih-Beri Kepercayaan-Supervisi dan latih lagi, hingga anak mampu tertib dan sesuai dengan kesepakatan.


Cerdas Financial Anak & Sifat Ar-Rusyd

Ar-Rusyd bermakna kesempurnaan akal dan jiwa (bagi manusia), yang menjadikan manusia itu mampu bersikap dan bertindak setepat mungkin. Sehingga bagi Allah dengan Asma' wa Shifatnya yang Agung, Dia memiliki nama Ar-Rasyiid yang berarti Yang Maha Tepat Tindakannya, dari kata yang terdiri dari rangkaian huruf ro, syi dan da. Yang pada dasarnya berarti ketepatan dan kelurusan jalan.

Setelah memahami makna kata Ar-Ruusyd diatas, maka mari kita coba mengkaji bagaimanaAl-Quran memberi petunjuk kaitannya dengan upaya menstimulasi kecerdasan financial anak kita.

Al-Quran surah An-Nisa' : 5-6 memberi panduan bahwa seorang anak ketika telah baligh dan rusyda maka itu menjadi tanda siapnya sang anak memegang amanah mengelola harta. Rusyda, fase dimana anak memiliki kecerdasan financial (mengembangkan, menyimpan dan membelanjakan) secara proporsional. Tentu sebelumnya telah melewati fase belajar latihan memegang harta.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً وَارْزُقُوهُمْ فِيها وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً (5) وَابْتَلُوا الْيَتامى حَتَّى إِذا بَلَغُوا النِّكاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ وَلا تَأْكُلُوها إِسْرافاً وَبِداراً أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفى بِاللَّهِ حَسِيباً (6)

Artinya :

(5) Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (6) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu); dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kalian adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas kesaksian itu).

Bila menilik dari Siroh Nabawiyah, maka fase latihan memegang harta ini dimulai sejak usia tamyiz (sekitar 7 atau 8 tahun) hingga pre-baligh (di bawah 14 tahun).


  • Rasulullah mulai mendapatkan upah kecil-kecilan di usia 8 atau 10 tahun saat beliau diberi amanah menggembala kambing. untuk zaman now, bisa diibaratkan dengan bolehnya anak-anak memegang uang sendiri (uang saku) dalam nominal kecil.
  • Usia 11 tahun, Rasulullah menemani pamannya Abu Thalib melakukan perjalanan dagang ke Negeri Syam. Untuk saat ini diqiyaskan dengan magang (learn from the master), atau nyantrik (mengabdi sekaligus berguru). Rasulullah memasuki fase pre-baligh namun belum rusyda.
  • Usia 15 atau 17 tahun, Rasulullah sudah menjalankan bisnisnya (usaha dagang) secara mandiri. Afzalur Rahman dalam buku Muhammad A Trader menyebutkan bahwa Rasulullah telah memiliki bisnis skala internasional. Beliau dalam ekspedisi perdagangannya telah mengarungi 17 negara, sungguh Rasulullah mencapai kegemilangan di usia muda.
Maka dapatlah kita simpulkan bahwa, indikasi anak siap untuk memegang harta adalah dengan dua indikator berikut;

Baligh (akalnya sempurna) dan Rusyda (cerdas memelihara harta)

Nah, karena itulah orang tua pun perlu belajar bagaimana bisa mengelola harta dengan amanah agar dapat menjadi teman belajar dan cermin positif buat ananda. Dalam Ibu Profesional, model belajar demikian disebutnya learning by teaching (belajar dengan mengajar).


Salam Ibu Profesional

/Lina Ibune Azzam/

Sumber tulisan :

Materi Level 8, Bunda Sayang 2017, Ibu Profesional, 2017

https://didaytea.com/2009/07/29/ar-rasyiid-yang-maha-tepat-tindakannya/

https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/11/harta-pengelolaanya-dalam-islam.html

Jumat, 23 Februari 2018

Mana Gaya Belajarmu

22.51 0 Comments

MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK

Definisi Gaya Belajar 

Menurut De Porter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur dan mengolah informasi. 

Sebelum membahas lebih dalam tentang gaya belajar, maka yang perlu kita pahami pula adalah tujuan dari belajar itu sendiri. 

Menurut Septi Peni Wulandani, sebuah aktivitas belajar bertujuan pada 4 hal, yang kemudian dikenal dengan Piramida Pendidikan Anak. Disinilah kita akan melangkah, artinya semestinya segala proses dan puncak dari pendidikan anak akan berujung pada;
1. Intellectual Curiosity (rasa ingin tahu yang tinggi)
2. Creative Imagination (kreativitas)
3. Art of Discovery & Invention (seni menemukan)
4. Noble Attitude (akhlaq mulia)

Dari Piramida Pendidikan tersebut dapat kita pahami bahwa pendidikan yang baik dan benar itu adalah proses belajar dari tadinya tidak tahu kemudian menjadi tahu, semakin menambah rasa ingin tahu anak yang secara fitrah telah dimilikinya sejak lahir. Melejitkan daya imajinasi dan kreativitas anak, yang pada gilirannya menjadikan anak mampu menemukan sebuah konsep/teori baik yang sebelumnya sudah ada namun belum diketahui oleh orang (discovery) atau menemukan sebuah konsep/teori baru yang belum ada sebelumnya (invention).

Dan tentunya semua proses belajar diharapkan akan bermuara pada puncak piramida yakni noble attitude (akhlaq mulia). Hal ini dimaksudkan agar segala kepandaian dan hasil temuan mampu mengantarkan kepada kebermanfaatan, baik untuk sesama makhluk maupun untuk lingkungan.

Nah, Piramida Pendidikan Anak ini nantinya dapat kita jadikan sebagai tolak ukur kita. Caranya dengan membuat pertanyaan evaluasi;
  • Apakah dengan belajar "sesuatu" maka akan meningkatkan rasa ingin tahunya? 
  • Apakah daya kreasinya ikut berkembang ketika belajar bersama kita/sekolah? atau malah tergerus habis? 
  • Apakah kemudian pada proses belajar itu anak kemudian menemukan hal baru? Muncul binar-binar Aha dimatanya ?
  • Apakah dengan bertambahnya ilmu maka akhlaq mulia anak juga terjaga dan meningkat?

Indera sebagai Modalitas Belajar

Setelah memahami tujuan langkah pendidikan kita, maka selanjutnya adalah memahami cara bekerja indera yang telah Allah karuniakan kepada kita sebagai sebuah modalitas belajar. 

Dalam kajian NLP ( Neuro-Linguistic-Programming) bahwasanya gambar, suara, rasa, aroma dan sensasi yang ada dalam pikiran kita disebut sebagai representasi internal (persepsi). Representasi internal inilah yang mempengaruhi state (sikap) dan pada gilirannya mempengaruhi perilaku anak. Represnetasi internalterbentuk melalui sistem representasi. Representasi sistem ini ibarat pintu masuk dari persepsi, berupa visual, auditorial, kinestetik, olfaktory (indra penciuman) dan gustatory (indra pengecapan). Bisa disingkat VAKOG.

Bagaimanakah cara bekerjanya?
Represntasi sistem ini bekerja dengan cara menerima informasi dan mengaktifkan memori yang kita miliki sebagai referensi dalam  menghasilkan perilaku tertentu. Representasi sistem ini yang dinamakan dengan learning modality atau modalitas belajar.

Secara sederhana dijelaskan dalam skema berikut;

Informasi >>>>> masuk melalui representasi sistem (VAKOG) = learning modalities

Setiap individu memiliki perpaduan learning modalities(gaya belajar) yang beragam. Beberapa mendapati mereka lebih dominan di satu gaya dan tidak menggunakan banyak gaya lain dalam belajar. Bagi sebagian orang caranya saat itu sangat efektif untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Namun pada beberapa orang yang lain mungkin juga akan merubah gaya belajarnya ketika mereka mengalami perbedaan kondisi yang dihadapi atau jenis pelajaran yang diterima. Tidak ada paduan yang tetap, atau gaya belajar yang fix pada setiap orang.

Bisa saja kita mengembangakan gaya belajar yang semula jarang kita pakai, namun pada konteks lain menjadi sangat efektif dipakai.


Kemudian oleh karena sensory VAKOG merupakan pintu masuk informasi, maka VAKOG itu sebaiknya di stimulasi, agar terintegrasi, nah yuk kita pelajari apa sih sebetulnya sensory integrasi ini?

Melalui panca indra yang tersedia, manusia memperoleh informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan yang berada di sekitarnya (Ayres, 1979). Informasi sensorik (Sensory information) tersebut berasal dari:

1. Mata (Visual)

Mata (Visual) disebut juga indera penglihatan. Terletak pada retina. Fungsinya menyampaikan semua informasi visual tentang benda dan manusia.

2. Telinga (Auditory)

Telinga (Auditory) disebut juga indera pendengaran, terletak di telinga bagian dalam. Fungsinya meneruskan informasi suara. Ayres (1972) menyebutkan adanya hubungan antara sistem auditory ini dengan perkembangan bahasa. Apabila sistem auditory mengalami gangguan, maka perkembangan bahasanya juga akan terganggu.

3. Hidung (Olfactory)

Hidung (Olfactory) disebut juga indera pembau, terletak pada selaput lendir hidung, fungsinya meneruskan informasi mengenai bau-bauan (bunga, parfum, bau makanan).

4. Lidah (Gustatory)

Lidah (Gustatory) disebut juga indera perasa, terletak pada lidah, fungsinya meneruskan informasi tentang rasa (manis, asam, pahit,dan lain-lain) dan tektur di mulut (kasar, halus, dan lain-lain).

5. Kulit (Tactile)

Kulit (Tactile) adalah indera peraba. Terletak pada kulit dan sebagian dari selaput lendir. Bayi yang baru lahir, menerima informasi untuk pertama kalinya melalui indera peraba ini. Trott, Laurel dan Windeck (1993), menjelaskan bahwa:

“Processing tactile information effectively allow us to feel save, which in turn allows us to bond with those who love us and to develop socially and emotionally.”

Sistem taktil ini mempunyai dua sifat, yaitu diskriminatif dan protektif. Diskriminatif adalah kemampuan membedakan rasa (kasar, halus, dingin, panas), sedangkan sifat protektif adalah kemampuan untuk menghindar atau menjaga dari input sensorik yang berbahaya. Dari sifat kedua ini, akan menimbulkan respon flight, fright dan fight (Trott, Laurel dan Windeck, 1993).

6. Otot dan persendian (Proprioceptive)

Ayres (1979) menyebutkan bahwa proprioseptif merupakan sensasi yang berasal dari dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen dan reseptor yang berhubungan dengan tulang. Ayres (1979) menyebutkan bahwa sistem vestibular dan proprioseptif merupakan dua sistem yang spesial dan Ayres menyebutnya sebagai “The Hidden Sense”. Input proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau meregang (stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang (extending), ditaril (beingpull) atau ditekan (compressed). Melalui informasi ini, individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana bagian tubuh tersebut bergerak (dalam Ayres, 1972).

7. Keseimbangan / balance (Vestibular)

Ayres (1979) menyebut sistem vestibular ini sebagai “business center”, karena semua sistem sensorik berkaitan dengan sistem ini. Sistem vestibular ini terletak pada labyrinth di dalam telinga bagian tengah. Fungsinya meneruskan informasi mengenai gerakan dan gravitasi. Sistem ini sangat mempengaruhi gerakan kepala dalam hubungannya dengan gravitasi dan gerakan cepat atau lambat (Accelerated or decelerated movement), gerakan bola mata (okulomotor), tingkat kewaspadaan ( level of arousal ) dan emosi.

Proses sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri, kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran, serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia sekolah dasar (SD).

Lalu, yang manakah gaya belajarmu?

Semua manusia memiliki gaya belajar kombinasi yang sangat fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi saat pembelajaran berlangsung. Sehingga dengan begini kita tinggal memaksimalkan dan mengoptimalkan modalitas belajar ini sebagai karunia Sang Pencipta yang Maha Baik.

Referensi :

https ;//riezkaratna73.wordpress.com/2015/03/09/gangguang-belajar-sensory-integration-dan-dispraxia/

Materi Kuliah Bunda Sayang Batch#1, Institut Ibu Profesioanal, 2017

Minggu, 11 Februari 2018

Oleh-oleh Pandu 45

22.55 4 Comments

Prolog,


Dua pekan sebelumnya bu Septi berkesempatan mengunjungi teman-teman IP Jogja sekaligus mengisi Workshop Home Team. Saat itu, saya sudah mendaftarkan diri pada ibu ketupat untuk menyisihkan satu seat buat saya, namun qodarulloh di hari H yang dinanti justru saya tidak dapat bertemu ibu dan pak Dodik. Raga sedang diminta istrahat setelah sepekan sebelumnya bertarung melawan virus, akhirnya tumbang juga.


Namun, Allah Maha Baik, kerinduan akan bertemu langsung dengan ibu diberikan tidak lama setelah fisik mulai membaik. Awal Februari 2018, seperti ada yang mengarahkan mata dan hati ini membaca sebuah e-flyer bahwa nun jauh di kota Wonogiri insyaAllah bapak dan ibu Septi diminta untuk sharing tentang Pandu 45. Segera kemudian saya menelpon panitia disana, jawabannya saya masuk ke dalam peserta waiting list. Uhuk


Yup, tiket workshop Pandu 45nya laris manis bak kacang rebus. Hampir pupus asa, saya pun merencanakan untuk mendaftar workshop serupa yang akan dilaksanakan di Salatiga maret depan. Sungguh benar-benar kejutan yang indah, sore harinya mendapat pemberitahuan dari mbak panitia bahwa saya bisa mengisi satu seat kosong karena ada peserta yang cancel. Alhamdulillah.... seketika mata dan hati ini mulai berbinar, akhirnya rezeqinya dapet untuk bertemu ibu.




3 Februari 2018

Sabtu ceria yang bener-bener sulit terlupakan nantinya, sungguh saya bertemu ibu Septi dalam dunia nyata. Perjalanan Jogja-Wonogiri menjadi perjalanan yang asik. Seperti biasa, saya bersama pasukan (minus Azzam) bersiap-siap sedari pagi. Karena ayah ada urusan kerjaan di Klaten akhirnya menyempatkan mampir di Klaten sebentar. Setelah selesai, lanjut menuju Wonogiri. Yeayyy....


Kasur lipat di jok belakang sudah siap menjadi tempat anak-anak meluruskan punggung, yah... memang setiap kami berjalan sengaja mengosongkan kursi di jok belakang untuk kids area. Disanalah mereka akan saling bercanda, tertawa dan nangis berjamaah juga. wuahahaha... ruame, teng gejuwit!


Acara Workshop Pandu 45 berlangsung di Angkringan Sopo Ngiro, angkringan yang asyik ditambah suasana Wonogiri yang suejuk-suejuk suegerrrr..., sayang banget saya itu kelemahannya adalah mendokumentasikan dalam bentuk foto, sehingga visualisasi dari acara ini kurang lengkap deh.




Catatan Hasil Belajar

Nah berikut saya coba menuliskan hasil belajar saya, semoga nanti ada manfaatnya;
Fokus Kekuatan, Siasati Kelemahan
Fokus pada kekuatan dan siasati kelemahan merupakan mantra dasar Pandu 45. Oiya mengapa Pandu 45? Simpelnya Pandu 45 adalah program kegiatan untuk memahami bakat anak dengan mengeksplorasi 45 aktivitas potensi kekuatan yang bersumber dari  30 sifat dan 15 bidang.


Sebisa mungkin, fokus kita pada Kekuatan, agar energi dan waktu kita tidak menguap hanya mengurusi kelemahan. Hal ini pun selaras dengan atsar dari sahabat Nabi yang bernama Umar bin Khattab "Ketika anakmu berbuat salah, tegur dan jangan pernah kamu mencatatnya. Ketika anakmu berbuat baik, puji dan segera catat".


Ketika kita fokus pada kekuatan maka sebenarnya kita fokus pada solusi. Bukankah setiap tantangan yang dihadapi kita perlu solusinya? Adanya solusi, maka galau akan pergi. yippieee....


Karena berfokus pada kekuatan, maka perlu mengenali diri sendiri dulu. Tugas kita sebagai orang tua adalah membantu ananda untuk mengenali diri mereka dalam rangka menemukan peran spesifiknya di muka bumi ini.


Bagaimana caranya?


1# Menerima anak, apapun keadaannya. Sebab mereka makhluk Allah yang sejak lahir telah dikaruniai kehebatan BAKATnya masing-masing. 

Allah Ta'ala berfirman :
{قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا}
Katakanlah, "Setiap orang berbuat/beramal menurut syaakilahnya masing-masing. Maka Rabb kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya " (Qs. Al-Isra : 84)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud 'ala syaakilatihi adalah menurut keahliannya masing-masing.
Menurut Mujahid makna yang dimaksud adalah menurut keadaannya masing-masing.
Sementara menurut Qotadah, yang dimaksud adalah menurut niatnya masing-masing.


2# Membenarkan cara berkomunikasi kepada anak, dengan cara membangun komunikasi produktif dan jernih


3#Menggunakan mata hati untuk melihat potensi pada diri anak. Boleh dengan membangun profiling anak, kemudian mengobservasi kecenderungan sifat produktifnya, lalu menajamkan jam terbang serta pengetahuan anak yang disaring dengan formula 4E. Detailnya akan dibahas kemudian insyaAllah


Tentang Pandu 45


Perlu diperhatikan bahwa, Pandu 45 ini bukanlah alat labelling anak, karena melabel anak terlampau dini justru akan menyempitkan sisi potensi mereka yang lain. Pandu 45 ini dibuat oleh ibu Septi dan pak Dodik dengan maksud memberikan panduan berbagai macam aktivitas yang bisa digunakan untuk menjadi salah satu pedoman berkegiatan bersama anak dalam rangka mengamati dan akhirnya menemukan potensi unggul anak. Karena pak Dodik dan bu Septi adalah pramuka sejati, maka diberilah nama Pandu 45. heheheheh....


Dalam Pandu 45, kita akan menyamakan frekuensi dan bahasa. dalam hal ini bahasa BAKAT. Secara bahasa, bakat dipahami sebagai bibit unggul yang sudah ada (baik dari sifat atau panca indera) yang khas -mereka banget- melekat secara natural pada diri anak. Bakat ini ketika dikembangkan melalui aktivitas-aktivitas yang relevan maka akan menjadi produktif, disinilah fungsi parameter 4E yang akan membantu kita melakukan penilaian dan evaluasi.


4E yang dimaksud adalah Easy (bisa), Enjoy (asyik), Excellent (mahir), Earn (bermanfaat/produktif). Jika ke empat E ini terpenuhi, maka tugas selanjutnya adalah mengkonfirmasi temuan bakat anak tersebut kepada Sang Pemberi Bakat.


Setelah menerima pengertian bakat, maka tentu kita perlu tahu sumber bakat itu seperti apa?


Bakat sebagai potensi kekuatan memiliki 2 sumber, bersumber dari sifat dan panca indera.

sumber bakat
  • Bakat yang bersumber dari sifat, contoh potensinya adalah mengajar, meneliti, berjualan, memimpin. Puncak dari optimasi bakat ini akan menjadi peran.
  • Bakat yang bersumber dari panca indera, contoh potensinya adalah melukis, menggambar, memasak, berenang. Puncak dari optimasinya akan menjadi bidang.

Maka, disini Pandu 45 akan membicarakan 45 bakat yang terdiri dari 30 peran dan 15 bidang.
Untuk lebih jelas, silakan mengunduh ebook Pandu 45 ini dengan mengklik gambar di bawah;

 Pandu 45

Berdasarkan framework pendidikan anak milik Keluarga bu Septi dan pak Dodik maka anak-anak usia di bawah 16 tahun hendaknya dicobakan dengan beragam aktivitas. Disinilah prinsi "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah". Dari beragamnya aktivitas tersebut, anak-anak kemudian akan memperlihatkan kecenderungan pada kegiatan mana yang membuatnya merasa nyaman (enjoy), mudah melakukannya (easy) kemudian anak menjadi mahir dan lebih cemerlang dari kawan-kawannya (excellent). Pada etape ini, teruslah menambah jam terbang anak pada aktivitasnya tersebut dengan tujuan menajamkan bakat anak.


Belajar Pandu 45 asyiik bukan?
Nah, sampai disini dulu tulisan hasil belajar saya, jujur belum semua saya tuliskan disini. Karena beberapa materi dalam format workshop sehingga tidak ditemukakn di dalam ebook. Mohon doanya saya berkesempatan untuk menuangkan cara pandu dan baca bakat anak dalam tulisan berikutnya. InsyaAllah lebih aplikatif dengan teknis praktis.

Semoga bermanfaat,

/Lina Ibune Azzam/


Foto-foto saat di angkringan;








Kamis, 08 Februari 2018

Presentasi Keren pakai steller

22.33 0 Comments
Tadinya mau mencari aplikasi apa yah yang mudah tapi tetep keren? Nah seorang kawan menyarankan untuk mencoba steller, aplikasi ini bagus banget buat membantu presentasi kita. Modelnya juga manis seperti sedang membuka buku. Bisa insert fotodan video. Hmm menarik untuk dicoba

Selasa, 06 Februari 2018

Belajar bersama Khan Academy (hari 2)

23.34 0 Comments
Masih di dalam tema Keluarga Multimedia, ini adalah hari kedua tantangan 10 hari. Dimana kami para murid diminta untuk hunting beragam aplikasi berbasis digital yang berguna dalam membantu proses belajar keluarga, pertumbuhan kepribadian, dan lain-lain.

Tiba-tiba teringat Khan Academy. Pertama kali mengetahui aplikasi ini saat belajar materi Don't teach me, I love to learn. Kala itu belum sempat mencobanya, karena support systemnya kurang mendukung. Sehingga, sempat vakum dan lupa dengan aplikasi ini.

Nah, kina baru saja mencoba mengintip di playstore ternyata Khan Academy sudah ada disana. Itu artinya melalui smartphone kita juga sudah bisa menikmati sajian keilmuan dan latihan-latihan di Khan Academy.

Waaah...senangnya,
Langsung saja deh kita coba-coba, semoga suka ya




Canva favoritku (hari 1)

22.44 0 Comments
Yeayyy akhirnya sampai juga Bunda Sayang Batch#1 ini pada penghujung materi, yakni materi ke 12 dengan tema "KELUARGA MULTIMEDIA".

hmmm... sebenarnya saya sendiri dalam hal keterampilan berdigital (opo kuwi) belumlah sampai pada level mahir, makanya pernah dalam sebuah kesempatan ikut pelatihan menjadi Digital Mommy yang diselenggarakan oleh Rumah Inspirasi nya mba Mira Julia. Tujuannya hanya satu yakni agar Lina yang gaptek, akan meningkat lebih maju.

Nah, kali ini saya cuma mau ngabarin saja, bukan ngajarin tentang 1 aplikasi yang sangat-sangat membantu khususnya orang seperti saya yang minat mendesain-desain tapi gak pinter bikin-bikinnya. Dalam aplikasi itu sudah tersedia dengan manis, template yang kita inginkan sehingga tidak perlu repot lagi. Nama aplikasinya yaitu Canva.



Coba deh, insyaAllah akan ketagihan. Kabar baiknya sekarang canva bisa dimainkan di android. wah semakin jatuh cinta deh...

Kamis, 01 Februari 2018

Mengajar itu Belajar Dua Kali

00.56 0 Comments

Bismillah,

Mencoba menjadikan satu kebiasaan baru, setelah selesai mendapat ilmu dan pencerahan saatnya merekontruksikannya dan (ini yang paling penting) membuat jurnal refleksinya sebagai murid sekaligus fasilitator dalam perkuliahan Bunda Sayang ibu-ibu keren sejagad raya (insyaaAllah) yakni Institut Ibu Profesional.

Founder IIP bersama dengan Invisible Team beliau berhasil membuat kami (para murid IIP) terpana dan terpesona dengan kejutan demi kejutan dalam setiap materi perkuliahan. Setiap etape menuju Pembelajar Sejati dilewati setahap demi setahap, beliau pun sebagai Kanda Guru kami mengajarkan tanpa menggurui tentang bagaimana itu Learn How To Learn yang sebenarnya. Benar-benar pengalaman belajar yang tak terlupakan.

Nah, pada materi 11 ini mengusung cara belajar baru yakni "Learning by Teaching", wuihhh... benar-benar sangat seru dan menantang. Semua pembelajar di IIP pun kembali tersadarkan bahwa, semua adalah guru, semua adalah murid, tidak ada satu sumber utama. Semua jadi aktiv, bersama-sama mengeksplorasi gagasan baik yang sudah terpendam maupun gagasan baru. Semua saling terlibat mengkaji beraneka sumber ilmu kemudian mendiskusikan bahkan saling mencerahkan satu sama lain. Semua meningkatkan pengetahuan serta keterampilan berkomunikasi, curah gagasan dan presentasi. Sehingga pada gilirannya kita bertabur harta karun keilmuan yang sangat berharga.

Learning by Teaching, sejatinya proses belajar yang dilakukakan dua kali. Artinya belajar dengan cara mengajar maka kita tanpa sadar telah Belajar untuk diri kita sendiri (1 kali) dan Belajar untuk teman-teman (2 kali). Maka semoga dengan cara belajar dan mengajar ini akan memberi kontribusi positif dan keberkahan sebuah ilmu dan taman ilmu.

Dan, akhirnya saya pun mengumpulkan jurnal refleksi ini dengan bahagia.

Yogyakarta, 31 Januari 2018
bertepatan dengan fenomena Super Blue Blood Moon

/Lina Prihatin/

Selasa, 30 Januari 2018

Agar anak tangguh dan bahagia

11.24 0 Comments
Tulisan kali ini bertajuk "agar anak tangguh dan bahagia". Tentu di zaman now, hal tersebut menjadi impian para orang tua. Terlebih dengan kenyataan pertumbuhan dan perkembangan zaman yang begitu cepat. Sehingga terkadang mampu membuat para orang tua menjadi lebih cemas, kuatir atau takut dengan masa depan si anak. Perasaan yang berdasar emosi itu seolah-olah hadir dan dihadirkan tanpa melalui proses berpikir rasional. Alih-alih mempersiapkan dan mendidik agar anak menjadi tangguh, orang tua malah terjebak melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah menjadi jamak dilakukan. Kesalahan tersebut diantaranya; 

  1. Terprovokasi oleh pencapaian anak lain (membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain atau bahkan dengan saudara sekandungnya)
  2. Sibuk meratakan lembah, bukan meninggikan gunung (memberikan drilling pada subjek pelajaran tertentu, tapi mengabaikan potensi unggul anak)
  3. Menyempitkan ruang kreativitas anak dengan dalih agar lebih cepat berpacu dengan anak lain
  4. Menyeragamkan makna kecerdasan anak, dan menolak teori kecerdasan majemuk
  5. Menitik beratkan pada penilaian kognitif dan terbatas pada angka-angka, dan mengabaikan kebahagiaan anak
Itulah kurang lebih diantara kesalahan-kesalahan fatal yang entah disadari atau tidak, terkadang masih banyak orang tua zaman now yang melakukan hal ini.

Sebenarnya jika kita sebagai orang tua mau berkenan meluangkan waktu untuk melakukan perenungan dan menginsafi diri maka insyaAllah akan terbuka petunjuk dari Ilahi. Sebuah petunjuk bagaimana seyogyanya kita menemani anak-anak dan mengantarkan mereka kepada masa depan yang gemilang.

Diawali dengan mengenali diri. Memahami tujuan penciptaan. Kemudian menyusun life evolution dari titik nol hingga kita telah tiada. Menancapkan janji diri kemudian merancang education map sekeluarga.

Memahami makna Kecerdasan 

"Kemampuan untuk merespon lingkungan secara tepat dan akurat" - Adriano Rusfi
Definisi yang disampaikan Bapak Adriano Rusfi diatas merupakan pengertian kecerdasan yang dituliskan dalam buku-buku psikologi klasik. Sehingga, pada asalnya makna kecerdasan ini sangat luas. Namun, pada abad 19 makna kecerdasan dipersempit hanya terbatas pada sisi intelektualitas saja, terbukti dengan bermunculan dan berkembangnya tes-tes IQ oleh Thurstone, Binet dan sebagainya.

Dari situlah maka akan pelan-pelan terurai benang kusut pemikiran kita. 

Pertama, memahami makna kecerdasan yang hakiki, adalah segala kemampuan manusia dalam mengoptimalkan potensinya, kreatif dan menemukan pemecahan masalah. 
Kedua, mengerti secara arif bahwasanya kecerdasan manusia itu sangatlah dinamis dan memiliki domain kecerdasan yang tidak hanya satu. Nah, maka kita pun akan terdorong untuk belajar menjadi gurunya manusia. Pendidik manusia berarti menghargai dan memanusiakan anak kita. Sehingga kesalahan orang tua zaman now diatas akan tereliminasi dengan sendirinya.
Ketiga, belajar memahami pendidikan berbasis fitrah. Bahwa dalam pendidikan anak, sesungguhnya kita hampir tidak melakukan apapun dalam keberhasilan pendidikan mereka. Karena, secara fitrah mereka telah dibekali potensi unik, khas dan unggul. Sang Penciptanya telah mengkaruniakan manusia fasilitas-fasilitas yang akan dikelolanya dala menunjang proses kehidupan dan penghambaan.

Setelah benang kusut itu mulai terurai, perlahan kita akan mencari cara bagaimana menstimulus kecerdasan anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang tangguh dan bahagia.

Prinsip utama dalam pembentukan anak yang tangguh dan bermental baja adalah ketegasan bukan kekerasan. Mengajarkan anak-anak sebuah konsekuensi dari pengambilan sebuah keputusan.

Memberikan anak-anak ruang berkreasi agar gagasan brilliant mereka keluar dan meminimalisir intervensi bahkan jika perlu  meniadakannya. Memberikan kepercayaan dengan menerima semua gagasan tersebut, dan mengapreasiasinya.Untuk anak yang lebih besar, melalui diskusi dalam family forum dapat ditingkatkan tantangannya agar lebih terpacu. Begitupun dalam hal merngsang kberanian ananda, maka perlu diberikan peran kepemimpinan dalam proyek keluarga.

Merancang kegiatan belajar berbasis proyek adalah hal menyenagkan ynag dapat dilakukan. Baik di dalam rumah maupun di sekolah. Pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) ini memiliki banyak sekali manfaat. terutama dalam pengembangan potensi dan kompetensi anak. Selain itu dapat juga menjadi alat ukur (temperature check) dan mempererat bonding keluarga. Kegiatan proyek ini tentu berbeda dengan aktivitas harian yang spontan dan cenderung dinamis. Kegiatan ini lebis terstruktur dan terencana dengan baik dan melibatkankan sinergi dari seluruh anggota keluarga.

Secara sederhana Project itu seyogyanya memenuhi kaidah SMART dan PDCA.

Apa itu?

Seperti halnya dalam menyusun Goal Setting maka kaidah SMART ini pun berlaku pada family project. S (Spesific ), M (measurable), A (Achiveable), R (Realistic), T (Timebond). Artinya bahwa sebuah gagasan proyek keluarga itu haruslah spesifik, terukur, mudah diwujudkan, realistis dan memiliki batas waktu.

Selain dari itu pula, sebuah proyek keluarga semestinya melewati proses PDCA (planning-do-check-adjust); proyeknya memiliki perencanaan, kemudian dikerjakan, dievaluasi dan diupayakan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Siap membuat sebuah proyek? Mari kita mulai bersama dalam keluarga-keluarga kecil kita.

Itulah sekilas tentang bagaimana menstimulus kecerdasan anak melalui kegiatan berbasis proyek. Dan kembali pada pertanyaan bagaimana membetuk pribadi tangguh anak, maka menurut saya, jika anak-anak terpelihara fitrahnya dengan baik dan lurus maka peran kita hanyalah sebagai kawan tumbuh dan berkembang bersama mereka. Anak-anak akan menjadi guru kecil kita dan kita akan menjadi pelatih dan mentor mereka. Terlebih untuk membangun jiwa mandiri dan ketangguhan anak, maka "kerasnya" kehidupan sudah turut berkontribusi positif dalam membangun kecerdasan menghadapi tantangan.

Wallahu 'alam

Ngayogyakarto, 29 Januari 2018

Sumber tulisan:

https://munifchatib.wordpress.com/2012/11/19/multiple-intelligences-menurut-prespektif-munif-chatib/

Materi Bunsay 2017

Sabtu, 27 Januari 2018

Anak adalah Bintang

23.15 0 Comments

Anak adalah Bintang


Bintang. Secara filosofis dapat dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki pendaran cahaya. Cahaya ini juga diartikan sebagai sebuah keadaan yang awalnya gelap kemudian menjadi terang, awalnya tidak tahu kemudian menjadi tahu. 

Posisi bintang di langit menyiratkan makna ketinggian, kemuliaan atau sesuatu yang berbeda/unik dari yang lain. Mungkin demikianlah yang dimaksud dengan kalimat “setiap anak adalah bintang”. Asosiasi kata “bintang” dipilih untuk mengesankan juga bahwa setiap anak itu unik dan semua lahir sebagai bintang sesuai dengan kekhasan atau potensi diri mereka yang boleh jadi tidak seragam dengan anak-anak lainnya.

Makna ini senada dengan pernyataan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah ini merupakan bawaan lahir (karakter dasar) manusia. Membahas fitrah ini akan luas sekali cakupannya. Karena manusia terlahir membawa fitrahnya masing-masing yang spesifik, baik itu fitrah belajar, perkembangan, seksualitas, bakat, keimanan dan lain-lain. Di dalam Al Qur'an, dikatakan bahwa “fa alhamahaa fujuuurohaa wa taqwaahaa”, 

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).
Maknanya apa? Bahwasanya manusia tercipta dengan dua potensi jiwa, kefasiqan dan ketaqwaan. Namun pada asalnya, setiap insan akan cenderung pada  jalan ketaqwaan (mencintai hal-hal kebaikan).

Nah, berdasar kaidah ini maka kita sebagai orang tua, tentu akan mengupayakan menjaga, memelihara dan membangkitkan fitrah-fitrah kebaikan ananda. Sehingga harapan kita mempunyai anak dengan bintang yang cerah insyaAllah tercapai. Sebuah kaidah penciptaan manusia yang lain juga turut menguatkan kaidah pertama tadi, yakni bahwa dengan Maha Agung nya Sang Khalik tentu tidaklah Dia menciptakan produk yang gagal / failure. Bahkan pada anak dengan special need sekalipun, bukanlah kemudian menjadikan bahwa itu sebagai sebuah kegagalan penciptaan. Akal manusia yang dangkal terkadang tidak mampu menangkap dan meraba kasih sayang serta hikmah dibalik penciptaan itu. Sehingga, kerap kali ditemukan orang tua yang kemudian memiliki emosi negative dengan hal ini.

Ada sebuah cerita pendek yang inspiratif. Cerita tentang “animals schooling” yang bisa menjadi bahan renungan para pendidik anak-anak untuk mengkaji lebih jernih, jujur dan tulus terhadap makna setiap anak adalah bintang.

Alkisah, tersebutlah sebuah sekolah para binatang yang berada dalam hutan belantara. Sekolah tersebut memiliki status “disamakan", yaitu disamakan dengan sekolah manusia. Sekolah tersebut di pimpin atau dikepalai oleh manusia layaknya sekolah manusia pada umumnya. Karena sekolah tersebut memiliki status “disamakan”, maka sudah pasti kurikulum yang ditetapkan di sekolah binatang tersebut sama seperti standar kurikulum yang diterapkan pada sekolah manusia pada umumnya.

Kurikulum pada sekolah binatang tersebut mewajibkan kepada para binatang bahwa jika ingin lulus mereka harus mendapatkan ijazah, syarat untuk mendapatkan ijasah setiap siswa diwajibkan berhasil menguasai lima mata pelajaran pokok dengan nilai rata-rata minimal 8,00 pada masing-masing mata pelajaran tersebut. Apa saja kelima mata pelajaran pokok tersebut? lima mata pelaran tersebut adalah; Berenang, Terbang, Berlari, Memanjat, dan Menyelam.

Mengingat bahwa mereka diwajibkan mencapai nilai yang telah ditetapkan, maka para binatang tersebutpun berharap suatu saat mereka dapat hidup lebih baik dari pada binatang-binatang lainya, sama seperti manusia yang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Sehingga mereka (para binatang) berbondong-bondong berbagai jenis binatang mendaftarkan dirinya untuk sekolah disana; mulai dari; Tupai, Elang, Rusa, Bebek, dan Katak.

Setelah waktu pendaftaran ditutup proses pembelajaranpun akhirnya dimulai, terlihat jelas bahwa dari masing-masing binatang yang sekolah memiliki keunggulan masing-masing dari setiap mata pelajaran di sekolah tersebut.

Mulai dari Tupai, ia sangat menguasai pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan lihai sekali untuk urusan memanjat pohon, berpindah dari ranting pohon satu ke ranting pohon lainnya. Hingga untuk mencapai puncak pohon tidak ada kesulitan bagi tupai tersebut.

Kemudian Elang, ia begitu menguasai pelajaran terbang; ia mempunyai kemampuan terbang yang hebat yang tidak dimiliki oleh binatang-binatang lainnya. Ia mampu melayang di udara dengan mudah, meliuk dan menikuk di udara dengan leluasa. Bahkan untuk mencapai puncak pohon dia tidak perlu susah-susah melompati ranting-ranting pohon, ia hanya cukup mengipaskan sayapnya saja untuk mencapai puncak tersebut.

Dan disusul oleh Bebek, ia pun tidak mau kalah dengan binatang lainnya, ia terlihat begitu ahli dalam pelajaran berenang, dengan keahlian yang dimilikinya ia mampu menyeberangi setiap sungai yang ada dihutan dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun.

Rusa juga menunjukkan keahliannya, ia merupakan murid yang sangat lihai dalam pelajaran berlari. Kecepatan larinya sungguh luar biasa, dan bukan hanya kecepatannya saja, ia juga memiliki gaya berlari yang indah dan tidak ada hewan yang mampu menandingi keahliannya dalam hal berlari.

Lain lagi dengan Katak, ia begitu profesional dalam menguasai pelajaran menyelam, ia mampu menahan nafas ketika menyelam hingga berjam-jam. Tentunya keahlian menyelam si katak tidak dimiliki satupun dari teman-teman disekolahnya.

Begitulah awal ceritanya, dari setiap murid memiliki keunggulan masing-masing, di sekolahan tersebut kini memiliki murid yang sangat berbakat disetiap mata pelajaran masing-masing. Namun kurikulum yang berlaku berbicara lain, kurikulum tersebut tidak menghendaki para murid hanya menguasi satu atau beberapa mata pelajaran saja. Tetapi kurikulum yang berlaku mewajibkan kepada murid untuk menguasai seluruh mata pelajaran dengan nilai rata-rata minimal 8,00. Jika para murid ingin mendapatkan ijasah maka para murid harus mampu mendapatkan nilai tersebut.

Para binatang yang kini menjadi siswa disekolah tersebut mulai kacau. Mereka tahu bahwa untuk mendapatkan ijazah tidak lagi hanya bisa mengandalkan keahliannya masing-masing, meskipun mereka bangga pada keahliannya yang tidak dikuasai oleh siswa lainnya tetapi kurikulum sekolah tidak mengharap demikian. Akhirnya para siswa pun mulai giat belajar untuk menguasai seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah demi kelulusan dan mendapatkan ijazah.

Tupai yang ahli dalam pelajaran memanjat kini mulai belajar terbang. Meskipun hari demi hari ia belajar terbang dengan sungguh-sungguh tetapi hasilnya tidak memuaskan, malahan si tupai babak belur akibat terjatuh dari puncak pohon ketia ia nekat terbang dari puncak pohon tersebut.

Kini giliran Elang yang mulai belajar cara memanjat dan menyelam. Tetapi sayang sekali meski ia susah payah belajar memanjat dan menyelan ia tetap saja tidak mampu menguasainya. Bahkan ia sempat kehabisan nafas ketika mencoba menyelam seperti apa yang dilakukan oleh katak.

Beda lagi dengan Bebek, ia sedikit bisa mempelajari pelajaran berlari tetapi ia sering ditertawakan teman sekolahnya karena gaya berlarinya yang lucu. Ia juga sedikit bisa terbang tetapi tidak sepandai Elang. Lain lagi ketika mengikuti pelajaran memanjat, tentu saja ini bukan keahliannya, tetapi ia tetap ingin mencobanya demi kelulusan, alhasil ia malah penuh luka, memar, dan sayapnya banyak yang rontok akibat terjatuh ketika mencoba untuk memanjat pohon.

Demikian juga dengan siswa-siswa lainya; walaupun mereka semua telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan susah payah demi menguasai pelajaran yang tidak mereka kuasai, dari pagi dan sore hingga malam, tetapi tetap saja tidak ada hasil yang memuaskan bagi mereka, semua mata pelajaran tidak dapat mereka kuasai dengan sempurna.

Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah sebab mereka terlalu terfokus supaya dapat berhasil menguasai semua mata pelajaran yang memang susah mereka kuasai; perlahan-lahan mereka kehilangan keahlian yang sudah mereka miliki selama ini. Kemampuan terbang Elang mulai menghilang; Tupai kini mulai lupa bagaimana cara memanjat, Keahlian berenang Bebek kini tidak selihai dulu lagi, sirip kakinya sobek karena terlalu sering belajar memanjat. Katak juga kini tidak dapat menahan nafas ketika menyelam. Dan yang sangat menyedihkan adalah Rusa, ia tidak mampu lagi berlari sekencang dulu, dikarenakan paru-parunya lemah sebab sering kemasukan air ketika mencoba menguasai pelajaran renang.

Akhirnya, tidak ada satupun siswa yang berhasil lulus dari sekolah tersebut. Yang sangat menyedihkan lagi adalah ketika mereka keluar dari sekolah mereka malah kehilangan keahlian mereka yang selama ini mereka kuasai. Hilangnya kemampuan mereka sudah tentu akibat dari kurikulum yang berlaku disekolah tersebut yang mengharuskan mereka menguasai apa yang tidak dapat mereka kuasai. Sehingga mereka kini susah beradaptasi dengan lingkungan mereka dan satu demi satu mulai mati karena kelaparan sebab tidak lagi bisa memanfaatkan keahliannya untuk mencari makan.

Apa hikmah dari cerita fiktif diatas?

Bila dikaitkan dengan potensi unggul anak-anak maka sistim pada sekolah para binatang itu membunuh potensi “bintang”nya para binatang. Potensi bawaan lahir yang telah Sang Pencipta karuniakan untuk mereka dan kehidupannya.
Maka, biarkanlah anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai path (jalurnya) masing-masing, agar mereka mampu menggali potensi fitrah mereka dan bersinar menjadi bintang. Peran kita sebagai orang dewasa disekitar anak adalah penyelam kekuatan kemampuan mereka (discovering ability), dengan memberi motivasi, menyiapkan fasilitas, memberi apresiasi dan mendoakan mereka. Agar anak-anak itu kelak bertumbuh menjadi bintang di bidangnya masing-masing.

Referensi :


Rabu, 10 Januari 2018

Merancang permainan Fitrah Seksualitas

00.01 0 Comments
Bersama tim 10, ada saya, mb Heniffah, mb Wening dan mb Fatheeyah mencoba berpikir kreatif mencari ide permainan yang bertujuan untuk mengedukasi anak-anak tentang fitrah seksualitas mereka.

Penasarankah?

Saya juga... semoga dimudahkan nantinya. Dan akan saya tulisakan disinj insyaAllah hasilnya nanti.

Senin, 08 Januari 2018

Sabtu, 06 Januari 2018