Suatu sore, 20 ramadhan 1440...
Seperti biasa, kami sekeluarga kruntelan di kamar. Tahun ini sudah berdelapan, alhamdulillah sebelum ramadhan kemarin bertambah satu anggota Keluarga Merdeka.
Ayah, ibu, azzam, syifaa, aisy, alif, miqdad dan abdullah. Yeayyy alhamdulillah komplit.
Entahlah sudah berapa hari keluarga Indonesia dan mungkin juga keluarga Dunia #stayathome, sepertinya sudah masuk bulan kedua masa isolasi #dirumahaja. Nampaknya anak-anak "seperti" mulai dilanda kejenuhan. Tetapi, saya melihatnya bukan jenuh atau bosan sih. Karena keseharian kami pun tak ada bedanya dengan sebelum badai Covid-19 menerjang. Kami sudah terbiasa #dirumahaja sepanjang hari. Kegiatan-kegiatan semuanya berbasis rumah. Belajar, main, bekerja, ibadah semua #dirumahterus.
Jadi yang bisa saya baca sebenarnya, anak-anak lebih kepengen punya kegiatan lain yang bisa mereka lakukan di luar rumah. Mereka rindu untuk berkunjung ke perpusda, mereka kangen berenang di kolam renang kampus UNY, mereka ingin bernostalgia menikmati alun-alun kota. Iyaaaa... itu diantara keinginan anak-anak, dan saya sebagai ibu sangat memaklumi hal ini. Sebab, sejatinya mereka adalah manusia, makhluk sosial.
Saat sedang kruntelan itu, Aisyah ( 7 tahun) kemudian berkata "ayah, yuk jalan-jalan... bosen nih dirumah aja"
"iya ya yah... hayuuk lah yah... pliisss boleh ya yah..." demikian anak-anak yang lain turut merajuk, berharap memperkuat permintaan Aisya yang seolah-olah mewakili suara hati mereka.
Ayah seketika menjawab, "mau jalan-jalan kemana nak?, semua tempat saat ini sedang lockdown, dibatasi bahkan ditutup dari akses"
Aisyah, "mau jalan-jalan aja, kemana kek..."
Ayah, "sabarlah, coba ditahan dulu.., yang jenuh bukan kamu aja, semua orang-orang mengalaminya..."
"dan, jangan mengeluh bosan, jenuh atau semacamnya. fokus saja pada apa yang kita syukuri saat ini", demikian Ayah menyambung perkataannya
Alhasil, kami sekeluarga terdiam merenung bersama. Hening.
Covid-19 bagian dari kurikulum Allah
Corona Virus Disease 2019 atau disingkat dengan Covid-19 ini benar-benar membawa pelajaran yang amat sangat berarti bagi penduduk bumi. Ia hadir sebagai bagian dari kurikulum langit yang membawa amanah untuk mendidik makhluk Allah di bumi. Siapapun manusia yang hidup di zaman ini maka akan bersaksi bahwa masa wabah covid-19 ini menuntut banyak perubahan dalam hidup dan kehidupan itu sendiri.
Hampir di semua lini kehidupan. Perlahan beradaptasi untuk berubah. Mengikuti alur dan irama zaman. Hingga muncul "the new normal". Tidak ada yang tahu pasti kapan wabah ini akan berakhir, yang pasti kita harus tetap bersabar dan ikhlas.
Sebagai orangtua yang juga berperan sebagai home-educator, maka kami berpikir situasi ini menjadi penting untuk menanamkan nilai keimanan pada anak-anak. Dimulai dari memberi jawaban keimanan atas berbagai pertanyaan yang tercetus dari lisan dan rasa ingin tahu mereka.
Kemudian teringat sebuah kisah yang pas sekali dengan kondisi pandemi ini, kisah yang diceritakan oleh al-Ustadz Khalid Bassalamah ketika beliau hafidzahullah dimintai jawaban atas kerisauan seorang penanya tentang kesulitan hidup yang dirasakan di masa pandemi ini.
Allahlah satu-satunya sandaran hidup
Saya coba tuliskan disini kisah klasik yang diceritakan Ustadz tersebut, semoga menjadi penguat dan pengingat di saat kita berada dalam situasi yang sama.
Alkisah,
Ada seorang lelaki yang sangat susah hidupnya, dan saking susahnya dia hanya dapat hidup dari pendapatan harian saja. Sehingga, suatu waktu ia keluar untuk mencari rezeqi, namun sungguh saat itu benar-benar sedang sepi dan tidak menemukan satu sumber rezeqi pun. Hingga ia tidak pulang kerumah sampai selepas malam (sekitar waktu isya). Dan, pada akhirnya pun dengan lemas ia pun terpaksa pulang. Di pintu rumah, keluarganya yakni anak dan istrinya telah menyambut dengan penuh harap. Mereka berharap sang ayah ini pulang dan juga membawa bekal makan hari itu. Sebab hari itu anak dan istrinya pun belum makan sama sekali.
"Baik, saya istrahat sejenak. Setelah itu saya akan coba keluar lagi mencari rizqi. Semoga malam ini Allah berikan untuk kita", demikian kata sang ayah mencoba menenangkan istrinya.
Subhanallah, tanpa mengenal letih ayah yang sholih ini keluar dari rumahnya. Dalam gelapnya malam sang ayah ini berjalan sambil berdoa "ya Allah kemana akan kulangkahkan kakiku, aku sendiri belum makan seharian, begitupula anak dan istriku, berikanlah kami rizqi"
Tak begitu jauh berjalan, tiba-tiba sang ayah ini melihat sebuah masjid. Gelap. Dia wudhu dan sholat kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Di sisi lain, seorang penguasa di kota tempat tinggal sang ayah itu sedang merasa gelisah. Tidak dapat tidur nyenyak sedetikpun. Dan hatinya tergerak "seolah-olah" ingin bersedekah. Maka penguasa itu pun mengambil beberapa kantong emas dan berdoa "ya Allah izinkan aku bersedekah, aku takut mati sementara belum memiliki bekal untuk berjumpa denganMu"
Akhirnya singkat cerita, sang penguasa ini keluar dari huniannya yang mewah dan menuju ke masjid dimana sang ayah sholih tadi bersimpuh berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian sang penguasa tersebut mendekatinya dan memintanya untuk menerima emas yang sudah diniatkan untuk dishodaqohkan tersebut. Juga meminta kepada sang ayah itu untuk datang kepadanya ketika membutuhkan sesuatu.
Maka apa tanggapan sang ayah sholih ini, ia menjawab "tidak aku tidak akan datang kepada Anda, namun aku akan datang kepada Rabbku yang telah membawa Anda kesini"
so spechless...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar