Follow Me @linaibuneazzam

Selasa, 16 Juni 2020

Tahun ajaran baru 2020, masuk sekolah atau di rumah aja?

Sekedar pengantar tulisan


Kemarin siang ceritanya daripada saya bengong, saya iseng tapi serius bertanya kepada para ibu melalui status WA.

"Selama 2 bulan yang berlalu ini anak-anak kita yang tadinya sekolah, akhirnya dengan adanya wabah covid-19 "memaksa" mereka untuk #sfh alias #schoolfromhome.

Saya penasaran apakah saat ini para ibu semakin bahagia atau semakin galau?"

Dan, teng ting tong...!!!
akhirnya ada 14 ibu yang berkenan memberi jawab. Mudah-mudahan aliran rasa para ibu ini mewakili suara hati emak-emak lainnya...

Kita periksa dulu yuuuk, apa kata dan cerita para ibu tentang #sfh

"Karna anakku dah gede (klas X) jadi ya biasa aja"

"Sedih galau bingung gak tahu... apalah-apalah namanya. Makin merasa bodoh. Aku gak bisa ngajari anake belajar"

"Semakin bahagia😃"

"Kalo aku mah mau diterusin aja SHFnya mbak, daripada aku was-was menitipkan anak ke sekolah 🙊🙊🙊"

"Galau mbak... jujur ya hahahaha. Pegel dengar anak berantem. Pegel denger tv nyala"

"Biasa aja sih. Kalau materi sekolah, anak sudah bisa tanggung jawab sendiri. Saya cuma mengingatkan saja. Yang paling suka adalah tugas life skill di luar pelajaran. Yaitu menjahit dan memasak. Nah ini seru. Anak jadi belajar sesuatu di luar materi pelajaran"

"Akunya mah happy mba, anak dah 4kg, tambah putih tambah lemu 😂. Cuma belajarnya masih sakkarepe dewe karna anak paud ya, cuma ya kasian ga ketemu temen-temennya, aktifitas fisik juga berkurang"

"Tambah pinter malahan, fokus karena takut sama emaknya 😂😂😂Daaann si emak dapat gelar baru bu guru galak"

"Galau sih nggak, tapi yaa ribet atur waktu"

"Anak-anak lihat saya seperti ketemu dosen killer😂"

Anyway, seruuu banget yah membaca kesan-kesan para ibu tersebut... Ada bagian yang lucu dan gokil, membuat saya tak kuat menahan tawa. Ya, apapun yang dirasakan dan nantinya menjadi pilihan (lanjut SFH atau tidak) saya akan diam saja dan tidak berani kasih komentar sebab bukan kapasitas saya.

Silakan para bunda melakukan refleksi, analisis dan menimbang serta memutuskannya bersama anak dan pak suami. Disini bagian yang paling menarik. Orang tua bener-bener seolah-olah diberi kedaulatan dalam hal menentukan arah pendidikan anak selanjutnya. I love it.

Jika akhirnya diputuskan tidak bersekolah, apakah kemudian HS menjadi solusi?

Hmm...mari berpikir bersama.

Apa sih tujuan pendidikan anak kita sebenarnya?


Bicara tentang pendidikan itu sejatinya kita membahas topik yang agung dan panjang. Panjang bahasannya, panjang pula waktu berprosesnya.

Sebagaimana tugas Nabiyullah adalah untuk mendidik umat. Mendidik kita untuk menjadi hamba Allah yang seutuhnya. Itulah TUJUAN PENDIDIKANNYA.

TAHUN AJARAN BARU DI MASA PANDEMI

‌Kembali ke persoalan pendidikan anak-anak kita. Saat ini kita berada di tengah pandemi Covid-19 yang juga qodarulloh bertemu dengan TA Baru 2020. Tidak seperti tahun ajaran baru sebelum-sebelumnya, tahun ini sungguh unik dan insyaaAllah akan menjadi hal yang selalu terkenang.

‌Hantaman pandemi ini juga menyasar dunia persekolahan.  Menggeser sesuatu yang tidak lazim kini menjadi lazim. Bahkan mulai jamak dan merata hingga di pelosok negeri. Lazimnya anak-anak bersekolah di gedung sekolah, kini mereka bersekolah di rumah ( diberi istilah keren #schoolfromhome ). Metode pembelajaran nya pun dilakukan dengan online (daring), karena memang tujuannya untuk membatasi kontak fisik dan interaksi sosial secara langsung.
‌Homeschooling yang tadinya tak lazim, kini perlahan mulai lazim. Heheheh...
‌Kalau dari kacamataku, ini kabar gembira buat para orangtua. Sebab, kondisi ini akan menstimulus para ortu untuk membangkitkan fitrah mendidiknya. Fitrah spesial ini yang mungkin lama terpendam dan tumpul karena kepentingan tertentu, atau boleh jadi karena kehilangan kepercayaan diri sehagai madrosah pertama keluarga.

Kini, sudah 2 bulan lamanya kita #schoolfromhome dan nampaknya kita mulai jenuh. Apalagi tahun ajaran baru bertepatan dengan pandemi yang belum tahu kapan berakhir. Hal ini membuat beberapa orang tua pun ada yang risau dengan rencana pendidikan anak-anak mereka selanjutnya.

Pilihan lanjut #sfh atau masuk sekolah walau menerjang pandemi atau malah bukan kedua-duanya, membawa kegalauan tersendiri.


GALAU TANDA TAK PUNYA TUJUAN

Allah, Rabb kita telah memberi petunjuk perihal pendidikan ini. Seperti yang Allah sampaikan dalam QS. At Tahrim : 6. "Quw anfusakum wa ahlikum naaroo..." inilah yang menjadi TUJUAN kita mendidik anak dan keluarga. 

Dengan memahami hal ini, kita jadi tahu "kemana kita akan melangkah ke depan". Kita juga jadi tahu mana yang prioritas untuk kita lakukan. 

"Better late than early" , ini untuk aspek-aspek yang terkait hal akademis. Namun untuk hal-hal yang pokok, tentu lebih utama ditunaikan pertama kali.

Layaknya membuat sebuah bangunan, maka tentu pondasi menjadi hal pertama yang dikerjakan. Dalam pendidikan, bangun pondasi IMAN sebelum anak-anak Aqil Baligh. Agar apa? Agar mereka mengenal Penciptanya, mengidolakan Nabinya, memuliakan Ad Dienul Islam sebagai agamanya.

Karena itulah, saya dan suami sekarang tidak galau lagi bagaimana memulai pendidikan anak-anak di rumah. Kami sudah tahu mana yang prioritas untuk kami lakukan dulu. Sehingga konsentrasi bisa lebih optimal. 

PONDASI IMAN ADALAH PRIORITAS UTAMA

Simpelnya, sebenarnya kita punya anak itu buat apa? Saya dan suami mencoba menyederhanakan pikiran saja, sebab kami berdua tidak kuat klo disuruh mikir yang berat-berat.

Kita punya anak itu, agar kita bahagia. Dan bagaimana biar kita bahagia? 

Anak HARUS TA'AT pada ALLAH

Kebahagiaan kita ketika mereka ta'at pada Allah, anak menjadi kesyukuran kita saat mereka berhasil masuk surga (terbebas dari ancaman api neraka).

Maka, membangun pondasi pendidikan itu dari mana?

Dimulai dari menetapkan TUJUAN. Nanti tinggal diturunkan menjadi lesson plan dan delivery method yang pas dan *gue banget* bagi anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar