Follow Me @linaibuneazzam

Rabu, 16 September 2020

Panduan Anak Masuk Pesantren Ketika Masa Pandemi

Bismillah,

Apakah ayah atau bunda sedang menimbang Ananda masuk pesantren?

Jika dalam suasana normal mungkin proses menimbang ini tidak terlalu menyedot energi yah, beda dengan situasi saat ini, dimana status pandemik belum juga berakhir. Qodarullah wa masyaafa’al.

Sebagai orang tua, saya sangat memahami kerisauan bunda, sebab kita diperhadapkan pada hal yang sama-sama penting bagi kehidupan Ananda. Namun, sepanjang pihak pondok patuh dan mampu menjaga ketertiban protokol kesehatan era pandemik, maka sependek pemahaman saya mengembalikan Ananda untuk “tholabul ‘ilm” menjadi prioritas pertama. Sebab, anak-anak kita butuh lingkungan yang mendukung ketakwaannya, anak kita membutuhkan pembinaan dari asatidz secara langsung. Yang sejatinya, pilihan "memondokkan" ananda ini adalah kebutuhan kami sekeluarga.

Panduan Anak Masuk Pesantren Ketika Masa Pandemi

Alhamdulillah per Juli 2020 kemarin, anak sulung saya sudah mondok kembali. Sepanjang dua bulan terakhir ini, insyaAllah dari pihak pondok pun sangat komunikatif perihal protokol kesehatan ini. Sehingga, kami sebagai orang tua meyakinkan diri untuk percaya dan kooperatif bersama pihak pondok untuk sama-sama saling menjaga atsmosfer sehat.

anak masuk pondok
Ayah dan Azzam saat pelepasan 


anak masuk pondok
Ibu, baby A dan Azzam


Dalam kesempatan (tulisan saya) ini, saya ingin membagikan beberapa catatan pribadi terkait awal-awal melepas Ananda kembali nyantri.

Hadist Kewajiban Menuntut Ilmu

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Satu hal yang saya ingat bahwa, menuntut ilmu apapun itu, saran terbaiknya adalah langsung mengambil ilmu dari Gurunya. Terlebih untuk ilmu akhirat. 

Kemudian ilmu apakah yang dimaksud Beliau Shalallahu 'Alaihi Wa Salam tersebut? Dalam Fathul Baari, 1/92 dikatakan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu syari/ilmu agama. Ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengenal Rabbnya, Nabinya, dan agamanya dengan pemahaman yang lurus. Mengantarkan ia memahami kewajibannya dalam perkara ibadah dan muamalah.  

Namun tentu tidak semua ilmu agama menjadi wajib dipelajari, karena ilmu agama dari sisi hukumnya ada 3 macam;
  1. Ilmu agama yang hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap muslim)  
  2. Ilmu agama yang hukumnya fardhu kifayah (wajib kolektif)
  3. Ilmu agama yang hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang diutamakan)
Maka yang menjadi kewajiban setiap muslim dan muslimah adalah yang fardhu ‘ain, apapun profesi dan latar belakang kita maka kita wajib menuntaskan ilmu agama yang fardhu ‘ain.

Seperti apakah ilmu yang fardhu ‘ain?

Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ilmu fadhu ‘ain :

وضابطه أن يتوقف عليه معرفة عبادة يريد فعلها أو معاملة يريد القيام بها , فإنه يجب عليه في هذه الحال أن يعرف كيف يتعبد الله بهذه العبادة , وكيف يقوم بهذه المعاملة , وما عدا ذلك من العلم ففرض كفاية

Dan patokannya (ilmu fardhu ‘ain) adalah suatu ilmu yang menjadi syarat bisa terlaksananya (dengan benar) sebuah ibadah yang hendak dilakukan oleh seorang hamba atau mu’amalah (aktifitas dengan orang lain) yang hendak dikerjakannya, maka pada keadaan ini wajib ia mengetahui (ilmu tentang )bagaimana beribadah kepada Allah dengan ibadah itu, dan (ilmu tentang )bagaimana bermu’amalah dengan aktifitas mu’amalah itu. Adapun ilmu-ilmu selain itu, adalah ilmu fardhu kifayah” (Kitabul Ilmi, Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin hal. 23)
Dari keterangan Syaikh Al-‘Utsaimin tersebut maka dapat dipahami bahwa ada 4 kategori ilmu yang menjadi fardhu ‘ain bagi kita, yaitu:

  1. Ilmu yang terkait dengan perkara Aqidah, pokok-pokok keimanan (al ushulul tsalatsah), rukun iman, rukun islam, hal-hal yang dihalalkan dan diharamkan. Termasuk didalamnya ilmu yang berkenaan dengan membenarkan bacaan Al Qur’an (tahsin dan tajwid)
  2. Ilmu yang bersifat untuk menghiasi diri, seperti adab, tawadhu, ta’awun, tazkiyah nafs
  3. Ilmu yang bersifat kasuistik (menyesuaikan kondisi kita saat itu), seperti ibadah haji, zakat 
  4. Ilmu yang terkait dengan aktivitas muamalah dan menjadi kebutuhan kita, seperti fiqh muamalah, hukum nikah, tholaq dan aturan syariat lainnya.
Catatan :
^ Nomor 1 dan 2 adalah jenis fardhu ‘ain yang harus dipelajari oleh seluruh mukallafiin (orang yang baligh dan berakal sehat)
^ Nomor 3 dan 4 adalah jenis fardhu ‘ain yang harus dipelajari sebagian mukallafiin yang memiliki kewajiban tertentu atau khusus padanya (kasuistik)

Terkait orientasi anak untuk belajar agama

Saya sangat percaya setiap orang tua di muka bumi ini pastinya memiliki impian melahirkan anak-anak yang shalih/shalihah. Shalih disini artinya insan yang menunaikan hak Allah dan hak manusia. Inilah cita-cita kita bersama. Belum lagi hadits tentang keutamaan anak shalih ini juga memotivasi kita untuk mengikhtiarkannya, termasuk salah satu bentuk ikhtiar adalah memilihkan sekolah/ma’had yang tepat agar fitrah baiknya terjaga.

Islamic University of Madinah
Islamic University of Madinah


Nah, dalam ilmu agama sendiri secara garis besar ada 5 penjurusan yang umum dan bisa dipilih oleh Ananda kelak, jurusan tersebut adalah;
1. Bahasa Arab (sastra, nahwu shorof)
2. Al-Quran (syaratnya mutqin 30 juz, konsentrasi ada 2 tafsir dan qiro’ah)
3. Syariah ( ushul fiqh, muamalat, siyasah syar’iyyah)
4. Hadist ( hadist riwayah | redaksi/sanad, hadist diroyah | silsilah hadist shohih/dhoif)
5. Dakwah dan Ushul Diin (studi islam, sejarah, tarbiyah)

Stigma yang terbentuk di masyarakat saat ini bahwa sekolah agama itu menjadi seken (2nd choice) pilihan dan tidak prospektif. Apakah bunda juga berpikir demikian?

Jika mindset kita mindset duniawi maka boleh jadi kita akan menganggapnya demikian disebabkan pemahaman tentang sukses dan keberuntungan dalam perspektif dunia. Tetapi sesungguhnya muara dari Pendidikan agama itu bukanlah hal-hal yang duniawi, namun tentang kualitas jiwa, keluhuran akhlaq. Inilah yang menjadi fokus utama anak-anak belajar agama. Mereka akan menjadi manusia yang beraqal dan juga cerdas.
Sebab dalam Islam, aqal itu berbeda dengan cerdas. Cerdas terkait dengan kemampuan kognitif/IQ dan akademik. Sementara aqal itu kemampuan menimbang manfaat vs mudhorat, berfikir jauh ke depan dan menimbang dampak.

 
Tetap jaga jarak dan pakai masker

Lalu, bagaimana jika anak tidak memiliki kecenderungan pada jurusan agama?

Bila ayah bunda memiliki Ananda yang (belum) nampak kecenderungan pada jurusan agama khususnya lagi pada 5 jurusan tersebut diatas, maka hendaklah jangan memaksakan kehendak kita kepada anak, sebab kebutuhan umat bukan hanya bidang agama saja. Asalkan ilmu fardhu ‘ainnya terpenuhi maka berikan support anak untuk menemukan minat dan bakatnya ada di bidang apa.

Orientasi kita sebagai orang tua adalah seyogyanya kita menginginkan anak yang sholih, anak yang berbakti pada kedua orang tua, anak yang bermanfaat dari sisi ilmu agama dan dunia.

Beginilah cara Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam mendidik para shahabatnya Radhiyallahu 'Anhum Ajmain , tidak semua shahabat Nabi menjadi ulama. Mereka mendapatkan pendidikan keimanan dan pelatihan bakat sesuai dengan potensi bidangnya masing-masing.

Seperti yang kita ketahui, shahabat yang menjadi ulama diantaranya Muadz bin Jabal (paham fiqh halal-haram), Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas Rahiyallahu 'Anhum.

Dan ada juga shahabat beliau Shalallahu 'Alaihi wa Salam  yang mengambil peran di bidang lain, seperti Khalid ibn Walid yang fokus pada urusan jihad (strategi perang), Abdurrahman bin ‘Auf (sangat berbakat dalam urusan bisnis / perniagaan).

Bumi yang suci, tidak akan mensucikan penghuninya


Demikian perkataan shahabat Salman Al-Farisy ketika berbicara tentang keistimewaan kota Madinah. Apa maknanya? Jika dibawa ke dalam konteks dunia pesantren, maka mungkin banyak harapan baik yang muncul ketika seorang anak masuk pesantren disebabkan merasa anak berada dalam lingkungan yang baik pula dengan suasana yang religius. Namun, terkadang ekspektasi tak berjalan linear dengan realita. Ada juga yang kita temukan, lulusan pesantren namun sematan santri sukses tak pantas diberikan padanya, bahkan warna santri sama sekali tidak menghiasi pribadinya. 


Jika demikian adanya, maka mungkin kita melupakan satu hal yang hendaknya ditanamkan pada diri ananda sebelum ia masuk dunia pesantren. Amalan hati yang bernama ikhlas. Inilah yang sepatutnya kita upayakan diawal, kita melatih jiwa untuk ikhlas. Termasuk jiwa ananda. Sampaikan padanya untuk memilih dan mengawali aktivitas pondok dengan keikhlasan. 


Mengapa ikhlas ini penting ?


Sebab, keikhlasan adalah faktor utama pembersih hati. Hati yang bersih akan menjadi wadah yang baik untuk optimalnya penerimaan ilmu. Sebab ilmu itu membutuhkan wadah. Bila hati ananda ikhlas, maka ia akan masuk pondok berangkat dari keinginan sendiri, atau kala diarahkan untuk bersekolah di pesantren maka ia akan menerimanya dengan ikhlas.  Dan kita sebagai orang tua hendaknya membangun motivasi belajar di pesantren ini jauh-jauh hari sebelum mendaftarkannya di pondok pesantren. Bangun dengan cerita keutamaan belajar ilmu agama, menjelaskan keutamaan penghafal Al-Quran dan lain sebagainya. Sehingga, harapannya dengan ikhtiar ini Allah akan memberi taufiq dan menuntut anak kita untuk memilih pesantren sebagai wasilah belajarnya.


Wallahu 'alam
/Lina Ibune Azzam/
17 September 2020




Tidak ada komentar:

Posting Komentar