Follow Me @linaibuneazzam

Kamis, 30 September 2021

Saya ibu rumah tangga dan saya bangga

14.06 0 Comments

Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Bangga

aku dan keluarga

Dahulu menjadi ibu rumah tangga tidak menjadi pilihan karir bagi banyak perempuan, sebab stereotipe yang ada menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah aktivitas atau profesi yang membanggakan.


Menyandang predikat ibu rumah tangga seolah-olah telah menurunkan martabat, apalagi jika sang ibu ini memiliki latar belakang pendidikan yang hebat. Bahkan sempat terhinggap rasa tak berguna, kehilangan daya dan merasa sia-sia.

Ahh... jujur, itu perasaan yang dahulu juga mengusik jiwa. Awal-awal menjalani peran ibu rumah tangga membuatku kehilangan semangat. Aktivitas domestik berjalan tanpa makna, hanya sebatas menggugurkan tugas semata.


Hari demi hari berlalu, aku mulai sadar ada yang harus berubah. Sebab, nyatanya ada yang tidak baik-baik saja. 


Sebagai individu tentu aku ingin punya karya, ingin berharga, ingin seperti ibu-ibu lain yang punya prestasi dari rumah (bahkan) untuk dunia. Tapi sekali lagi, jika tidak segera menuntaskan hal-hal masalah jiwa maka apa yang bisa ditata untuk melahirkan karya.


Tahun 2009 kuasa Allah mempertemukanku dengan seorang ibu rumah tangga juga, hanya saja beliau berbeda sekali denganku. Beliau sangat bangga dengan perannya, bahkan sang ibu itu begitu antusias dan penuh semangat menceritakan mimpi besarnya tentang sebuah komunitas pembelajar para ibu. Yups, Institut Ibu Profesional. Sebuah penamaan komunitas yang menjadi daya ungkit tersendiri. Berhasil mencuri rasa ingin tahuku untuk menelusur lebih dalam. 


Ibu Profesional ini seperti secercah cahaya dalam kegelapan goa kebodohan. Memberi petunjuk dalam kebingungan dan juga obat hati bagi para perempuan yang terjangkit virus “insecure”.


Dari sang founder Ibu Profesional inilah kemudian aku belajar banyak. Yang pertama, belajar menyayangi dan menilai diri dengan jujur. Kemudian, menerimanya dengan tulus. Selanjutnya mempersiapkan jiwa agar layak mendapat rahmat dan hikmah dari Nya. Seketika aku merasa seperti terberkahi. 

Abundance!


Dari sang founder juga akhirnya aku mengerti bahwa hidup sebagai ibu rumah tangga itu sebenarnya membanggakan dan membahagiakan. Tergantung bagaimana sudut pandang kita.

Terlebih jika kita mengukur dunia ini, tidak semua yang nampak gemerlap adalah sesuatu yang penting.

Kesuksesan karir juga bukan mutlak diukur dari besaran rupiah.

Bahkan, dalam hal martabat, tak seorangpun yang berhak menurunkan martabatmu hingga kau mengizinkannya. That’s it.


Sesederhana itu,

Sehingga mantra ajaib yang diajarkan sang founder yang juga guru besar kehidupan kami adalah “protect yourself, cancel-cancel go away!”


MasyaaAllah, walhamdulillah setelah pertemuan 2009 itu hingga kini, aku tidak pernah lagi merasa menjadi manusia yang tidak efisien, aku bukan lagi ibu rumah tangga payah yang berpenyakitan insecure.


Mantab kuteriakkan dengan penuh percaya diri, aku bangga menjadi ibu rumah tangga.


Kini, aku lebih santai dan tenang menjalani hari, serta menyadari bahwa kehidupan ini tidak seperti matematika, tapi ia lebih mirip soal kalkulus, tidak ada cara menghitung dan jawaban yang paling benar. Yang penting adalah bagaimana menyelesaikan soal itu, terserah kita.


#darirumahuntukdunia

#sayembaracatatanperempuanKIP2021

#konferensiibupembaharu2021

#ibuprofesional

✓ Tulisan ini diikutsertakan dalam sayembara catatan perempuan KIP 2021


Ibu berdaya, ibu berkarya

13.55 0 Comments

Ibu berdaya, ibu berkarya. 

Sejatinya setiap perempuan memiliki kesempatan untuk berdaya. Bahkan sebelum ia menjadi seorang ibu, ia bisa melatih dirinya menjadi seorang pribadi yang berdaya. Sehingga, kelak ketika peran ibu itu  sudah tersemat pada dirinya, maka ia tinggal mengoptimalkan dan memperkuatnya agar semakin jaya.

Berdaya tentu bukan melulu soal kemampuan menghasilkan uang.

Berdaya ini lebih luas maknanya. Dan setiap perempuan berhak memilih ingin berdaya melalui caranya sendiri, dan dalam ruangnya sendiri.


Merdeka Berdaya !

Berdaya dan berkarya pada kedalaman makna lebih dekat dengan value kebermanfaatan. Sehingga ibu yang berdaya berarti ibu yang dapat mengoptimalkan segala potensinya agar memiliki nilai guna.


Satu hal yang patut menjadi kesyukuran setiap harinya adalah saya bersama ribuan member Ibu Professional menjadi penerima manfaat dari sebuah gerakan How to be Professional Mother

Dalam gerakan itu, kami diberi ruang untuk berdaya dan berkarya sesuai dengan kekuatan masing-masing. Berbasis passion. Maka tidak heran, selama satu dekade pertama perjalanan Ibu Profesional akhirnya banyak sekali melahirkan ibu-ibu yang produktif dan punya karya.


Sebagai sebuah contoh nyata, adanya buku-buku terbitan dari Ibu Profesional menjadi evidence bahwa memiliki takdir sebagai seorang ibu rumah tangga tetap bisa punya karya. 

Sebuah catatan perjalanan panjang dalam tahapan bunda sayang, bunda cekatan dan bunda produktif akhirnya terekam melalui buku kolaborasi bersama member Ibu Profesional. 

Dan, Alhamdulillahnya, saya berkesempatan menjadi salah satu kontributor. 


Berikut ini dia, hasil karya emak-emak yang berikhtiar menjalankan perannya secara professional;

1. Bunda Sayang, 12 Ilmu  Dasar Mendidik Anak

2. Bunda Cekatan, 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga

3. Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rezeqi

Karya Ibu Profesional

Dan, satu lagi tulisan jurnal saya ketika diberi amanah menjadi salah satu fasilitator Bunda Sayang, yaitu Jejak Langkah Bunda Sayang.

Jurnal Fasilitator Institut Ibu Profesional

Harapan terbesar saya dan teman-teman penyusun buku adalah semoga usaha ini menjadi wasilah menebar kebaikan dan manfaat yang lebih luas, selaras dengan slogan Ibu Pembaharu, dari rumah untuk dunia. 


Tidak banyak yang tahu bagaimana kemudian karya-karya itu lahir. Dimana kondisi para penulis pun dengan latar belakang yang beragam pastinya menjadi tantangan tersendiri.  Bagaimana kemudian mengintegrasikannya hingga menjadi kesatuan tulisan yang apik dan inspiratif. 

Tantangan

Tidak ada karya yang lahir tanpa tantangan. 

Tidak ada karya tanpa pengorbanan. 

Demikian juga barisan buku terbitan Ibu Profesional ini. Maka, mengemasnya menjadi projek sinergi menjadi hal yang asik dan menyenangkan. Semua kontributor bersama tim penyusun buku bekerja dalam ruang kerja yang sama dan saling support.


Dari awal menyemai ide, semua anggota tim berhak bicara tentang strong why, noble purpose dan juga golden rules yang akan disepakati bersama. Poin-poin tersebut disusun dengan maksud sebagai pijakan ketika tim mulai mengeksekusi rencana hingga goals yang diinginkan tercapai.


Tahapan demi tahapan dilalui dengan bahagia. Bahagia ini sangat penting, sebab dengan kebahagiaan, energi positif untuk menyalakan daya tetap ada.

Hingga, akhirnya Ibu Profesional mempersembahkan karya dari ibu untuk ibu, dari rumah untuk dunia.



Apakah kemudian perjalanan tantangan semulus jalan tol?

Oh tentu tidak, bahkan untuk sebuah niat baik, terkadang tak selalu lancar prosesnya. Semua sangat dinamis. Terlebih para kontributor dan tim berada di daerah yang berbeda. Disinilah ujian kesungguhan dimulai, dan saatnya golden rules bekerja.


Sehingga kriteria utama yang juga diharapkan adalah para ibu ini semangat belajar mengupgrade dirinya, terkhusus dalam bidang digital. Kita harus mau dan mampu menguasai keterampilan digital zaman now, sebab dalam workspace yang saat ini tersedia pun menuntut kecakapan tersebut.

Sampai disini apakah ada yang menghalangimu untuk berkarya wahai bunda?

Temukan jawabannya segera!


 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini diikutsertakan dalam sayembara catatan perempuan Konferensi Ibu Pembaharu. 

#darirumahuntukdunia

#sayembaracatatanperempuanKIP2021

#konferensiibupembaharu2021

#ibuprofesional