Follow Me @linaibuneazzam

Kamis, 30 September 2021

Saya ibu rumah tangga dan saya bangga

14.06 0 Comments

Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Bangga

aku dan keluarga

Dahulu menjadi ibu rumah tangga tidak menjadi pilihan karir bagi banyak perempuan, sebab stereotipe yang ada menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah aktivitas atau profesi yang membanggakan.


Menyandang predikat ibu rumah tangga seolah-olah telah menurunkan martabat, apalagi jika sang ibu ini memiliki latar belakang pendidikan yang hebat. Bahkan sempat terhinggap rasa tak berguna, kehilangan daya dan merasa sia-sia.

Ahh... jujur, itu perasaan yang dahulu juga mengusik jiwa. Awal-awal menjalani peran ibu rumah tangga membuatku kehilangan semangat. Aktivitas domestik berjalan tanpa makna, hanya sebatas menggugurkan tugas semata.


Hari demi hari berlalu, aku mulai sadar ada yang harus berubah. Sebab, nyatanya ada yang tidak baik-baik saja. 


Sebagai individu tentu aku ingin punya karya, ingin berharga, ingin seperti ibu-ibu lain yang punya prestasi dari rumah (bahkan) untuk dunia. Tapi sekali lagi, jika tidak segera menuntaskan hal-hal masalah jiwa maka apa yang bisa ditata untuk melahirkan karya.


Tahun 2009 kuasa Allah mempertemukanku dengan seorang ibu rumah tangga juga, hanya saja beliau berbeda sekali denganku. Beliau sangat bangga dengan perannya, bahkan sang ibu itu begitu antusias dan penuh semangat menceritakan mimpi besarnya tentang sebuah komunitas pembelajar para ibu. Yups, Institut Ibu Profesional. Sebuah penamaan komunitas yang menjadi daya ungkit tersendiri. Berhasil mencuri rasa ingin tahuku untuk menelusur lebih dalam. 


Ibu Profesional ini seperti secercah cahaya dalam kegelapan goa kebodohan. Memberi petunjuk dalam kebingungan dan juga obat hati bagi para perempuan yang terjangkit virus “insecure”.


Dari sang founder Ibu Profesional inilah kemudian aku belajar banyak. Yang pertama, belajar menyayangi dan menilai diri dengan jujur. Kemudian, menerimanya dengan tulus. Selanjutnya mempersiapkan jiwa agar layak mendapat rahmat dan hikmah dari Nya. Seketika aku merasa seperti terberkahi. 

Abundance!


Dari sang founder juga akhirnya aku mengerti bahwa hidup sebagai ibu rumah tangga itu sebenarnya membanggakan dan membahagiakan. Tergantung bagaimana sudut pandang kita.

Terlebih jika kita mengukur dunia ini, tidak semua yang nampak gemerlap adalah sesuatu yang penting.

Kesuksesan karir juga bukan mutlak diukur dari besaran rupiah.

Bahkan, dalam hal martabat, tak seorangpun yang berhak menurunkan martabatmu hingga kau mengizinkannya. That’s it.


Sesederhana itu,

Sehingga mantra ajaib yang diajarkan sang founder yang juga guru besar kehidupan kami adalah “protect yourself, cancel-cancel go away!”


MasyaaAllah, walhamdulillah setelah pertemuan 2009 itu hingga kini, aku tidak pernah lagi merasa menjadi manusia yang tidak efisien, aku bukan lagi ibu rumah tangga payah yang berpenyakitan insecure.


Mantab kuteriakkan dengan penuh percaya diri, aku bangga menjadi ibu rumah tangga.


Kini, aku lebih santai dan tenang menjalani hari, serta menyadari bahwa kehidupan ini tidak seperti matematika, tapi ia lebih mirip soal kalkulus, tidak ada cara menghitung dan jawaban yang paling benar. Yang penting adalah bagaimana menyelesaikan soal itu, terserah kita.


#darirumahuntukdunia

#sayembaracatatanperempuanKIP2021

#konferensiibupembaharu2021

#ibuprofesional

✓ Tulisan ini diikutsertakan dalam sayembara catatan perempuan KIP 2021


Ibu berdaya, ibu berkarya

13.55 0 Comments

Ibu berdaya, ibu berkarya. 

Sejatinya setiap perempuan memiliki kesempatan untuk berdaya. Bahkan sebelum ia menjadi seorang ibu, ia bisa melatih dirinya menjadi seorang pribadi yang berdaya. Sehingga, kelak ketika peran ibu itu  sudah tersemat pada dirinya, maka ia tinggal mengoptimalkan dan memperkuatnya agar semakin jaya.

Berdaya tentu bukan melulu soal kemampuan menghasilkan uang.

Berdaya ini lebih luas maknanya. Dan setiap perempuan berhak memilih ingin berdaya melalui caranya sendiri, dan dalam ruangnya sendiri.


Merdeka Berdaya !

Berdaya dan berkarya pada kedalaman makna lebih dekat dengan value kebermanfaatan. Sehingga ibu yang berdaya berarti ibu yang dapat mengoptimalkan segala potensinya agar memiliki nilai guna.


Satu hal yang patut menjadi kesyukuran setiap harinya adalah saya bersama ribuan member Ibu Professional menjadi penerima manfaat dari sebuah gerakan How to be Professional Mother

Dalam gerakan itu, kami diberi ruang untuk berdaya dan berkarya sesuai dengan kekuatan masing-masing. Berbasis passion. Maka tidak heran, selama satu dekade pertama perjalanan Ibu Profesional akhirnya banyak sekali melahirkan ibu-ibu yang produktif dan punya karya.


Sebagai sebuah contoh nyata, adanya buku-buku terbitan dari Ibu Profesional menjadi evidence bahwa memiliki takdir sebagai seorang ibu rumah tangga tetap bisa punya karya. 

Sebuah catatan perjalanan panjang dalam tahapan bunda sayang, bunda cekatan dan bunda produktif akhirnya terekam melalui buku kolaborasi bersama member Ibu Profesional. 

Dan, Alhamdulillahnya, saya berkesempatan menjadi salah satu kontributor. 


Berikut ini dia, hasil karya emak-emak yang berikhtiar menjalankan perannya secara professional;

1. Bunda Sayang, 12 Ilmu  Dasar Mendidik Anak

2. Bunda Cekatan, 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga

3. Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rezeqi

Karya Ibu Profesional

Dan, satu lagi tulisan jurnal saya ketika diberi amanah menjadi salah satu fasilitator Bunda Sayang, yaitu Jejak Langkah Bunda Sayang.

Jurnal Fasilitator Institut Ibu Profesional

Harapan terbesar saya dan teman-teman penyusun buku adalah semoga usaha ini menjadi wasilah menebar kebaikan dan manfaat yang lebih luas, selaras dengan slogan Ibu Pembaharu, dari rumah untuk dunia. 


Tidak banyak yang tahu bagaimana kemudian karya-karya itu lahir. Dimana kondisi para penulis pun dengan latar belakang yang beragam pastinya menjadi tantangan tersendiri.  Bagaimana kemudian mengintegrasikannya hingga menjadi kesatuan tulisan yang apik dan inspiratif. 

Tantangan

Tidak ada karya yang lahir tanpa tantangan. 

Tidak ada karya tanpa pengorbanan. 

Demikian juga barisan buku terbitan Ibu Profesional ini. Maka, mengemasnya menjadi projek sinergi menjadi hal yang asik dan menyenangkan. Semua kontributor bersama tim penyusun buku bekerja dalam ruang kerja yang sama dan saling support.


Dari awal menyemai ide, semua anggota tim berhak bicara tentang strong why, noble purpose dan juga golden rules yang akan disepakati bersama. Poin-poin tersebut disusun dengan maksud sebagai pijakan ketika tim mulai mengeksekusi rencana hingga goals yang diinginkan tercapai.


Tahapan demi tahapan dilalui dengan bahagia. Bahagia ini sangat penting, sebab dengan kebahagiaan, energi positif untuk menyalakan daya tetap ada.

Hingga, akhirnya Ibu Profesional mempersembahkan karya dari ibu untuk ibu, dari rumah untuk dunia.



Apakah kemudian perjalanan tantangan semulus jalan tol?

Oh tentu tidak, bahkan untuk sebuah niat baik, terkadang tak selalu lancar prosesnya. Semua sangat dinamis. Terlebih para kontributor dan tim berada di daerah yang berbeda. Disinilah ujian kesungguhan dimulai, dan saatnya golden rules bekerja.


Sehingga kriteria utama yang juga diharapkan adalah para ibu ini semangat belajar mengupgrade dirinya, terkhusus dalam bidang digital. Kita harus mau dan mampu menguasai keterampilan digital zaman now, sebab dalam workspace yang saat ini tersedia pun menuntut kecakapan tersebut.

Sampai disini apakah ada yang menghalangimu untuk berkarya wahai bunda?

Temukan jawabannya segera!


 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini diikutsertakan dalam sayembara catatan perempuan Konferensi Ibu Pembaharu. 

#darirumahuntukdunia

#sayembaracatatanperempuanKIP2021

#konferensiibupembaharu2021

#ibuprofesional

Minggu, 11 Juli 2021

Feedback System ( Review My First Buddy Niya Nuryanti)

22.37 0 Comments

Alhamdulillah pekan kedua di Kampus Ibu Pembaharu (www.ibupembaharu.com) adalah pekan yang seru dan menyenangkan. Kami diminta untuk melakukan review atas jurnal buddy kami. Dan, untuk kali pertama ini saya dijodohkan dengan mbak Niya Nuryanti, beliau dari IP Regional Banten.


Setelah tahu siapa buddy-ku, segera kuhubungi beliau. Obrolan di awal masih seputar menghangatkan komunikasi, keesokan harinya kami mulai aga-agak serius ngobrolin tentang problem statement yang sudah dibuat dalam jurnal masing-masing.


Ingat pesan ibu Septi, bahwa kami diminta untuk memastikan problem statement dan akar masalah yang sudah ditentukan dalam tahap identifikasi masalah benar-benar menjadi pijakan kita untuk melangkah. Dan sangat diharapkan tidak berubah setelahnya. Hal ini pastinya akan terkait dengan tahap mastermind di akhir program Problem Based Learning ini.


Oiya sekilas tentang Problem Based Learning, secara sederhana ini adalah salah satu gaya belajar yang sedang dilatihkan kepada mahasiswa Kampus Ibu Pembaharu. Dimana, pada gaya ini kita akan meng-upgrade gaya belajar tradisional/konvensional menjadi problem based ini. 


Pada tradisional learning, skema belajar yang terjadi secara umum adalah pembelajar diberi tahu sebuah konten, kemudian diminta untuk mengingatnya/menghafalkannya lalu dibuatlah soal untuk memastikan materi yang telah dihafal bisa menjawabnya.


Berbeda dengan skema problem based learning, dimana dari tahap menemukan masalah dulu, baru kemudian mengidentifikasi apa yang perlu dipelajari untuk menemukan solusi. Dan kemudian mengujicobakan solusi dengan model learn and relearn, hingga benar-benar akhirnya menemukan solusi yang tepat.

^-^


Dan, akhirnya sampailah saya pada tahap memberi feedback atas jurnal mbak Niya. Berikut ini problem statement dan juga analisa akar masalah yang mba Niya pilih untuk ditemukan solusinya.


Problem Statement by Niya


Akar Masalah by Niya

Setelah membaca jurnal mb Niya, maka saya melihat bahwa mb Niya merasa terpanggil untuk menyelesaikan masalah sosial di sekitarnya. 
Big problem yang dipilih mb Niya adalah penyimpangan seksual dan emosi.
Mengapa? Menurut mb Niya, karena beliau melihat dari banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi, salah satu penyebabnya karena kurangnya edukasi dari orang tua. Dan faktanya, korban pelecehan tersebut kebanyakan adalah perempuan. Hal itu jugalah yang menjadi alasan besar mengapa mereka para korban tidak mau, tepatnya tidak berani bicara ( speak up ), untuk sekadar menyuarakan kepedihan derita mereka.

Saya coba menuliskan hasil feedback untuk mbak Niya, kedalam template yang sudah disediakan oleh tim formula Bunda Shaliha. Berikut isinya;



Sebagai kesimpulan, dalam jurnal 1 mba Niya, beliau sudah mampu mengidentifikasi masalah dengan baik. Nampak juga mb Niya memiliki pemahaman yang baik terhadap sisi ilmiah dari problem yang ingin disolusikan.


Sehingga, sekali lagi jurnal mb Niya sudah baik, MasyaaAllah...
Tinggal lebih spesifik saja, dan menyusun goal settingnya dalam tenggat waktu 5-6 bulan ini dengan rencana aksi yang terukur.
Sebagai saran mungkin perlu membuka peluang relawan "oprec volunteer" yang akan menguatkan mb Niya membuat solusinya.


Wallahu 'alam,
Yogyakarta, 11 Juli 2021
Lina Ibune Azzam

Sabtu, 26 Juni 2021

Identifikasi Masalah (Jurnal 1 Bunda Shaliha Batch#1)

23.47 0 Comments

Identifikasi Masalah,

yah seperti yang teman-teman sudah ketahui, atau ada yang belum tahu, bahwa sejak tanggal 21 Juni 2021 tempo hari, akhirnya kelanjutan proses belajarnya para ibu di Institut Ibu Profesional mulai diaktifkan kembali. Dan, saya bersama sekitar 600 an ibu-ibu alumni dari tahapan Bunda Produktif diberi kesempatan melaju ke tahapan puncak yakni Bunda Shaliha.

Walaupun tahapan puncak, bukan berarti proses belajar pun akan berhenti. Big No!
Justru, seperti yang dinasehatkan Ibu Septi, kami harus terus belajar dan belajar hingga jatah hidup ini habis. Sebab, belajar itu sepanjang hayat, dari buaian hingga liang lahat.

Nah, di etape Bunda Shalihah ini, tema pembelajaran kami adalah tentang menjadi ibu pembaharu. Ibu yang mampu menemukan masalah baik itu dalam konteks masalah personal, keluarga bahkan lingkungan sosial. Kemudian mengubah masalah itu menjadi tantangan, sehingga kita akan berusaha untuk menaklukkan tantangan tersebut. Berikutnya, menghadirkan solusi yang diharapkan memiliki nilai manfaat yang luas. 

Bukankah di dunia saat ini, jumlah masalah itu jauh lebih banyak dari jumlah solusi. Maka, kata ibu lagi... "mari kita balik!". Perbanyak jumlah solusinya. Dengan begitu kita akan menjadi agen perubahan. Perubahan yang membawa kebaikan.

Untuk memulai tahapan ini, berdasarkan kuliah dari ibu Septi di hari Rabu, 23 Juni 2021 kemarin, maka kita akan mulai dengan mengidentifikasi masalah. Cari dan tulis semua hal-hal yang meresahkan, yang dianggap sebagai masalah. Apapun itu! Dalam level manapun itu!

Mau personal, keluarga atau komunal? Tulis saja...., dibuat ke dalam bank masalah.

Akhirnya setelah mikir agak panjang, saya memilih sebuah masalah didalam lingkup sosial. Saya coba tuliskan konsepnya dalam file pdf berikut.

Karena pekan ini masih mencoba mengidentifikasi masalah, maka kemungkinan pekan depan ketika sudah memilih mana masalah yang prioritas untuk disolusikan dengan catatan masalah yang ketika ia tersolusikan maka masalah-masalah lainnya (turunannya) akan solved juga. Pekan depan sudah mencoba membangun tim yang kompak dan sama-sama ingin memperjuangkan masalah tersebut selesai.

Saya jadi tak sabar, kira-kira saya akan bertemu siapa yah???

Ibu Septi dan tim formula memang pandai bikin hati ini berdebar-debar hepi. Hihihihi...



#materi1

#bundashalihah

#ibupembaharu

#darirumahuntukdunia

#hexagoncity

#institutibuprofesional

#semestaberkaryauntukindonesia

Jumat, 07 Mei 2021

Putriku, jadilah tameng dari neraka untuk kami

03.30 0 Comments


Ketahuilah memiliki anak perempuan pertama itu sangat dipuji oleh para Sahabat Rasulullah. Hal ini perlu saya sampaikan dalam tulisan ini, karena saya teringat bahwa pernah ada seorang kawan yang sangat bersedih, ketika Allah memberinya anak pertama seorang baby girl yang amat manis menggemaskan, seketika raut mukanya berubah. Kesedihannya bagiku lebih tepat sebagai sebuah kekecewaan, kesedihan yang semestinya tidak dirasakan oleh seseorang yang baru saja dikaruniai momongan. 

Hal ini juga membuat kita kembali teringat bagaimana dahulu di zaman jahiliyah, kaum Arab masa itu sangat tidak suka dengan kelahiran anak perempuan. Mereka malu dan merasa terhina jika melahirkan bayi perempuan. 


Hingga, kemudian datanglah Islam yang memberikan kabar tentang keutamaan anak perempuan dalam Qs. Asy Syura: 49

{Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ Ù…ُÙ„ْÙƒُ السَّÙ…َÙˆَاتِ Ùˆَالأرْضِ ÙŠَØ®ْÙ„ُÙ‚ُ Ù…َا ÙŠَØ´َاءُ ÙŠَÙ‡َبُ Ù„ِÙ…َÙ†ْ ÙŠَØ´َاءُ Ø¥ِÙ†َاثًا ÙˆَÙŠَÙ‡َبُ Ù„ِÙ…َÙ†ْ ÙŠَØ´َاءُ الذُّÙƒُورَ (49) Ø£َÙˆْ ÙŠُزَÙˆِّجُÙ‡ُÙ…ْ ذُÙƒْرَانًا ÙˆَØ¥ِÙ†َاثًا ÙˆَÙŠَجْعَÙ„ُ Ù…َÙ†ْ ÙŠَØ´َاءُ عَÙ‚ِيمًا Ø¥ِÙ†َّÙ‡ُ عَÙ„ِيمٌ Ù‚َدِيرٌ (50) }

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.


Dari ayat Allah yang mulia tersebut, seorang ulama Salaf mengatakan diantara sumber keberkahan seorang ibu adalah manakala Allah jadikan anak pertamanya perempuan, karena dalam ayat 49 Qs Asy Syura tersebut Allah memulai penyebutan anak perempuan terlebih dahulu. Maka jangan pernah bersedih atau kecewa, atau malah merasa tidak sanggup mendidik anak perempuan, sebab perasaan-perasaan itu datangnya dari syaithan yang berusaha melemahkan jiwa seorang ibu.


Ingatlah bahwa Rasulullah juga bersabda bahwa "Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini." Beliau menggabungkan jari-jarinya. (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).


Hal ini juga membuktikan keutamaan dari anak perempuan. MasyaaAllah...


Dan, masih banyak hadits-hadist Rasulullah yang memberi kabar kepada kita wahai orang tua, bahwa dengan ikhlas mendidik anak perempuan, memberinya nafkah dari yang halal, mengajarinya menjadi wanita ta'at, memelihara dan memuliakannya maka keberkahan demi keberkahan akan kita diterima.

Bahkan, kelak di akhirat kita akan dekat dengan Rasulullah, seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah. 

Aamiin....

Senin, 08 Maret 2021

Zona N (Pekan 2) Selebrasi Cluster Bisnis dan Marketing

23.08 0 Comments

 Alhamdulillah, pada pekan kedua Maret ini masih termasuk zona newstime dan kami juga memasuki pekan selebrasi.

Dimana kami diminta untuk mendiskusikan bersama warga cluster Bisnis dan Marketing sebuah konsep selebrasi ala cluster. Maka hasil curah gagasannya diperlihatkan seperti di dalam worksheet berikut;






Dan akhirnya kami bisa selebrasi dengan gembira...



Selasa, 26 Januari 2021

Zona Growth Pekan 2

10.18 0 Comments

Sepertinya ada yang perlu ditata lagi ini, khususnya dari manajemen diri. Entahlah mengapa daku merasa semua tanggung jawab nyaris harus xtramiles semua. Dari seluruh penjuru arah mata angin serasa di kepung deadline demi deadline. 

Belum lagi, amanah utama sebagai ibu dan istri tentu yang harus selalu berada di prioritas atas. Jangan bergeser ya buLin... heheheh, seperti itulah diriku jika sesekali selftalk. Hanya agar dapat menjaga semua tetap on track di jalur yang benar dan selaras dengan visi di awal.

Apa kabar PP Co Housing Balakosa?

MasyaaAllah namanya keren banget yah,

Balakosa, itu dari bahasa sansekerta yang sebenarnya identik untuk penamaan sesuatu yang maskulin dan gagah, tapi ide nama ini berasal dari ide keren leader CH kami yaitu mbak Rieke Kurniawati (biasa kami panggil Mahike). 

Balakosa diartikan kekuatan atau kejayaan/kemuliaan. Awalnya untuk nama Co Housing 9 kami mau diberi nama Dewi Balakosa, namun kemudian menyepakati memakai kata Balakosa saja, tanpa Dewi. Menurutku selain dari makna, nama ini juga unik dan mudah diucapkan. So, akhirnya CH 9 disebut juga Balakosa. Semoga menjadi co housing yang kuat dan menguatkan satu sama lain membernya menuju sebuah tujuan jaya/mulia bersama-sama.

Desain brand Balakosa, dibuat dengan hati oleh mbak Rena Nurul Ummah

Perjalanan PP Balakosa di Zona Growth Pekan 2

Pekan ini sejujurnya termasuk pekan yang menantang, dimana semakin menuju garis finish timeline projek semakin banyak pula ujiannya. Anggota Balakosa juga satu per satu secara bergiliran juga mesti mengambil jeda dulu dari hiruk pikuknya kegiatan projek, dikarenakan ada yang harus fokus dengan kesehatan keluarga (anak sakit, suami sakit), ada juga yang qodarullah berjuang untuk survive dari hantaman banjir karena hujan telah mengguyur langit bumi berhari-hari. Dan keadaan ini so challenging banget, benar-benar menantang plus bikin cenat cenut juga.

Sehingga, mungkin tidak banyak yang bisa saya ceritakan dalam jurnal pekan ini, lompatan PP Balakosa juga masih tentang menuntaskan tugas-tugas persiapan launching produk. Pada model awal, bisnis Balakosa merupakan pp non profit, dimana kami tidak cenderung untuk membawa pp balakosa menjadi profitable. Namun, ketika Hexabooks diluncurkan oleh BUMH (Badan Usaha Milik Hexa) maka kemudian kami mengambil aksi untuk sedikit "pivot" atau memutar bisnis model Balakosa. Semula pp non profit, kami "putar" menjadi pp profit oriented. Dengan menimbang adanya Hexabooks, mengapa tidak Balakosa turut mengambil peluang di sana. Ye kan....??? Hehehehe

Bisnis Model Balakosa


Penjelasan singkat tentang Bisnis Model Balakosa bisa dilihat dengan mengklik infografis The Business Road Map diatas.

Kemudian untuk petugas di masing-masing stage/sprint, kami membaginya seperti berikut ini;

Nah, nanti kulanjutkan lagi yah ceritanya... insyaAllah... 








Selasa, 19 Januari 2021

Zona Growth (My Personal Growth)

13.21 0 Comments



https://docs.google.com/document/d/1p9J6AZRh6pyAvMndUyYBO399aElSngoOWiTgCSWI5p4/edit?usp=sharing

Pencetus Growth Mindset ni https://www.ted.com/talks/carol_dweck_the_power_of_believing_that_you_can_improve?language=en 
Hear from Dr. Carol Dweck, the leading growth mindset researcher for over 30 years
What is a growth mindset?
Carol S. Dweck, Ph.D., explains the concept of growth mindset.
A growth mindset is the understanding that we can develop our abilities and intelligence. Research has shown that our implicit beliefs about the nature of intelligence can have a great impact on our achievement. In this TED Talk, Dr. Dweck, who first coined the terms “fixed mindset” and “growth mindset,” explains how a growth mindset leads to a focus on learning, increased effort, and a willingness to learn from mistakes. (https://www.mindsetworks.com/#research-modal-window )


Translated by Sukmawati N. Susanti
Reviewed by Agoes Santosa
00:05
Kekuatan kata "belum" 
00:07
Saya mendengar tentang sebuah sekolah di Chicago dimana para siswa harus melalui beberapa mata pelajaran untuk lulus, dan jika tidak lulus di satu pelajaran, mereka mendapat nilai "belum". Dan saya berpikir itu luar biasa, karena jika anda gagal, anda pikir, saya bukan apa-apa, saya jalan ditempat Namun jika anda mendapat nilai "Belum", anda mengerti bahwa anda berada pada kurva proses belajar. Hal itu membawa anda pada jalan menuju masa depan. Kata "Belum" memberi saya pemahaman mengenai peristiwa penting di awal karir saya, 
00:45
titik balik sebenarnya. Saya ingin melihat bagaimana anak-anak mengatasi tantangan dan kesulitan. Maka saya memberikan anak umur 10 tahun masalah yang sedikit sulit untuk mereka. Beberapa dari mereka secara tidak terduga menanggapinya dengan positif. Mereka berkata sesuatu seperti, "Saya suka tantangan," atau, "kamu tahu, saya tadi berharap hal ini akan bersifat informatif." Mereka paham bahwa kemampuan mereka dapat dikembangkan. Mereka memiliki apa yang saya sebut mindset berkembang ("growth mindset"). Namun siswa yang lain merasa masalah tersebut tragis, sebuah bencana berasal dari pola berpikir mereka yang lebih kaku ("fixed-mindset"), kecerdasan mereka telah terpaku pada suatu penilaian 
01:39
dan mereka gagal. Alih-alih menggunakan kekuatan konsep "masih belum" mereka terjebak dalam tirani konsep "sekarang". Jadi apa yang mereka lakukan? Saya beritahu apa yang lalu mereka lakukan. Dalam sebuah penelitian, mereka berkata mungkin kali ini akan curang, alih-alih belajar lagi ketika mereka gagal dalam tes. Dalam penelitian yang lain, setelah sebuah kegagalan, mereka mencari orang lain yang hasilnya jauh lebih buruk dari mereka sehingga mereka merasa lebih baik. Dalam satu penelitian ke penelitian lain, mereka lari dari kesulitan. Para peneliti mengukur aktivitas listrik di otak saat siswa diperhadapkan dengan sebuah kekeliruan. Gambar sebelah kiri adalah pola berpikir yang menetap ("fixed-mindset"). Tidak ada aktivitas apapun yang terjadi. Mereka lari dari kekeliruan. Mereka tidak melibatkan diri. Namun, di sebelah kanan adalah gambar otak siswa dengan cara berpikir pertumbuhan yang memiliki ide bahwa kemampuan dapat dikembangkan. 
02:51
Mereka melibatkan diri secara mendalam. Otak mereka menyala dengan "masih belum". Mereka melibatkan diri secara mendalam. Mereka memproses kekeliruan tersebut. Mereka belajar darinya dan memperbaikinya. Bagaimana kita membesarkan anak-anak kita? Apakah kita membesarkannya untuk keadaan saat ini daripada untuk masa depan? Apakah kita membesarkan anak-anak yang terobsesi mendapat nilai A? Apakah kita membesarkan anak 
03:20
yang tidak tahu bagaimana memimpikan mimpi besar? Tujuan terbesar mereka mendapat nilai A selanjutnya 
03:28
atau nilai tes selanjutnya? dan apakah mereka membawa kebutuhan akan validasi yang terus-menerus dalam diri mereka ke kehidupan di masa depan? Mungkin karena para bos datang dan berkata pada saya, kita telah membesarkan sebuah generasi profesional muda yang tidak dapat melalui hari tanpa sebuah penghargaan. Jadi apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana kita membangun jembatan menuju "masih belum"? 
04:01
Ini ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama-tama, kita dapat memberi pujian secara bijak, bukan memuji kecerdasan atau bakat. Cara itu sudah gagal. Jangan lakukan hal itu lagi. Tetapi pujilah proses yang dilalui anak-anak tersebut: usaha mereka, strategi mereka, fokus mereka, ketekunan mereka, perkembangan mereka. Pujian akan proses tersebut menghasilkan anak-anak yang kuat dan tahan banting. Masih ada beberapa cara untuk menghargai sikap "masih belum". Baru saja kami bekerja sama dengan pakar ilmu permainan 
04:38
dari Universitas Washington untuk membuat sebuah permainan matematika online yang memberi upah atas usahanya. Di permainan ini, siswa dihargai untuk usaha, strategi dan progres. Permainan matematika pada umumnya menghadiahi siswa yang menjawab dengan benar saat itu juga, namun permainan ini menghargai proses. Dan kami mendapat lebih banyak usaha, lebih banyak strategi, 
05:07
lebih banyak keterlibatan selama jangka waktu yang lama, dan lebih banyak ketekunan  ketika mereka menghadapi masalah yang sangat sulit. Hanya kata-kata "masih" atau "belum", kami menemukan, memberi anak-anak kepercayaan diri yang lebih, 
05:24
memberi mereka jalan menuju masa depan yang menghasilkan kegigihan yang lebih kuat dan kita sebenarnya bisa mengubah cara berpikir siswa. Dalam sebuah penelitian, kami mengajarkan mereka bahwa setiap kali mereka keluar dari zona nyaman untuk belajar sesuatu yang baru dan sulit, sel-sel neuron dalam otak mereka dapat membentuk jaringan baru yang lebih kuat dan sejalan dengan waktu mereka menjadi lebih pandai. Lihat apa yang terjadi: pada penelitian ini, para siswa yang tidak diajari cara berpikir berkembang tetap menunjukan penurunan nilai terhadap transisi sekolah yang sulit, tetapi mereka yang diajarkan pelajaran cara berpikir ini, menunjukkan peningkatan yang melambung  dalam nilai-nilai mereka. Kami telah menunjukkannya saat ini, perkembangan semacam ini, melalui ribuan anak-anak, khususnya para siswa yang mengalami kesulitan. Mari kita berbicara mengenai kesetaraan. Di negara kami, ada kelompok murid yang kurang berprestasi, contohnya, anak-anak di dalam kota, atau yang ada dalam perlindungan suku asli Amerika. Dan prestasi yang kurang ini terjadi sudah sangat lama 
06:50
sehingga banyak orang berpikir hal ini tidak bisa dihindari. Namun jika para pendidik menciptakan ruang kelas dengan cara pikir berkembang yang berakar pada "masih belum", kesetaraan terjadi. Dan berikut adalah beberapa contoh. Dalam satu tahun, sebuah kelas TK di Harlem, New York mencapai angka 95 persen  pada Tes Prestasi Nasional. Banyak dari anak-anak tersebut tidak dapat memegang pensil ketika masuk sekolah. Dalam satu tahun, siswa-siswa kelas empat di Bronx Selatan, yang tertinggal jauh, 
07:37
menjadi kelas empat nomer satu di negara bagian New York pada tes matematika. Dalam satu sampai satu setengah tahun, Siswa bersuku asli Amerika yang bersekolah di tempat perlindungan, beranjak dari level bawah wilayah mereka ke atas, dan wilayah tersebut termasuk bagian wilayah makmur di Seattle. Jadi anak-anak suku asli itu mengalahkan anak-anak Microsoft. Hal ini terjadi karena arti sebuah usaha dan tantangan  telah mengalami transformasi. 
08:25
Sebelumnya, usaha dan tantangan membuat mereka merasa bodoh, membuat mereka merasa putus asa, Namun sekarang, usaha dan tantangan, itulah saat neuron mereka membangun sebuah jaringan baru, jaringan yang makin kuat. Saat itulah mereka menjadi semakin cerdas. Saya mendapat sebuah surat dari anak laki-laki usia 13 tahun. Ia berkata, "Salam Profesor Dweck,  
08:56
Saya menghargai bahwa tulisan anda  berdasarkan pada penelitian ilmiah murni, oleh karena itu saya memutuskan untuk mempraktekannya. Saya memberi usaha lebih lagi untuk tugas sekolah, untuk hubungan saya dengan keluarga, dan hubungan saya dengan teman-teman di sekolah, dan saya mengalami perkembangan luar biasa  di area-area tersebut. Sekarang saya menyadari  bahwa saya telah menyia-nyiakan sebagian besar waktu di hidup saya." Mari kita tidak menyia-nyiakan lagi kehidupan lainnya, karena begitu kita tahu  bahwa kemampuan dapat begitu berkembang, hal ini menjadi hak asasi dasar manusia untuk anak-anak, semua anak, untuk hidup di tempat yang menciptakan perkembangan, untuk hidup di tempat dipenuhi dengan konsep "masih belum". Terima kasih.


 

Selasa, 05 Januari 2021

My Personal Agility ( Pasca Liburan 2021)

10.39 0 Comments

Dan, jurnal belajar Bunda Produktif masih berlanjut...

Lembar Personal Agility menjadi semacam alarm untuk segera bangun dan sadar situasi, bahwa libur akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021 telah berlalu. Saatnya kembali ke dunia nyata dan dunia Hexagonia.

Klo diminta assesment mandiri, jujur aku mungkin belum layak dalam level Bunda yang Produktif, sebab terkadang masih belum mahir mengatur fokus, sebagai karakter yang kupilih untuk kulatihkan dalam kawah candradimuka Hexagon City.

Fokus masih saja mudah terpecah karena sesuatu hal,

Apalagi jika kemudian diminta menakar dalam sesi mastermaindan..., apa yang sudah baik sepekan dua pekan ini?

Apa yang perlu masih kurang dan ingin diperbaiki di masa depan.

Wah... pertanyaan yang tajam menusuk hati ini, dan sebagai ibu yang kesatria, aku harus jujur dengan diri sendiri, ternyata aku mungkin belum xtramiles.

Ya Allah, tolonglah kami...


Nah, bagaimana dengan kegiatan di Co Housing?
Co Housing saya bernama Balakosa, artinya apa yah? Saya sampai lupa, insyaAllah relate banget dengan Cluster Bisnis dan Marketing.




Dalam level Cluster;