Follow Me @linaibuneazzam

Minggu, 31 Desember 2017

Belajar Menjadi #changemakerfamily 2018

10.46 0 Comments

Mari kita lihat bagaimana Keluarga MERDEKA di tahun 2018.

Membuat resolusi individu dan keluarga setiap awal tahun sebenarnya mulai rutin kami lakukan sejakn tahun 2015. Kemudiaan saat gerakan #changemakerfamily digulirkan maka otomatis memori ini sejenak terbang pada tema-tema perubahan apa saja yang telah saya dan keluarga capai. Juga berkaca dan menghitung-hitung apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu dibenahi, plus ditingkatkan lagi.

#changemakerfamily ini di tahun 2018 secara resmi dimulai pada tanggal 22 Desember 2017 dengan timeline 1 tahun hingga 22 Desember 2018 mendatang. #changemakerfamily ini merupakan gagasan sentral dari Ibu Profesional Pusat. Event #changemakerfamily ini diharapkan bahwa setiap ibu bersama keluarga mampu melakukan perubahan menuju kebaikan, yang pada gilirannya nanti akan menginspirasi kaum ibu lainnya untuk turut melakukan gerakan yang serupa. Hingga bertaburlah ibu-ibu agen perubahan di langit Indonesia. Info detail tentang #changemakerfamily ini dapat di baca dalam web Ibu Profesional.

Prinsip dari #changemakerfamily ini adalah "mengubah masalah menjadi berkah, menemukan tantangan dan mengubahnya menjadi peluang". 

Benar-benar kebayang bakal bertabur ide-ide keren bertema #changemakerfamily di dunia ibu, ide yang lahir dari keluarga-keluarga Indonesia yang memimpikan sebuah perubahan menuju kebermanfaatan dan keberkahan.

Baiklah...

Dengan bekal BISMILLAH, Keluarga MERDEKA mencoba ikut "meramaikan" challenge to be #changemakerfamily ini. Walaupun masil pada level pemula, tetapi Keluarga MERDEKA tetap berusaha memupuk PD (percaya diri). Masih serupa pada tahun 2017, maka "berbenah" menjadi spirit gerakan #changemaker kami.


Di tahun 2018 ini, Keluarga MERDEKA mengambil tema "Semakin Cendekia dan Bahagia" dengan fokus perubahan pada zona internal (individu/keluarga inti) dan zona eksternal (masyarakat sekitar/komunitas).

Sederhana sekali memang, tampak begitu simpel dari mindmap #changemakerfamily ala kami, belum muncul sebuah gagasan yang "mletik" atau cemerlang. Namun, kami berharap rencana tersebut diatas akan kami jalani dengan konsisten dan bahagia.

Semakin Cendekia dan Bahagia

Artinya diharapkan Keluarga MERDEKA pada 2018 bertambah cendekia (memiliki ketajamn pikiran, semakin cerdas dan mencapai derajat HOTS), seiring dengan meningkatnya kebahagiaan yang dirasakan dari hari ke hari dalam menjalani proses kehidupan.

Nantikan cerita berikutnya bagaimana kami menjalani proses demi prosesnya, baik yang sukses maupun yang gagal akan coba kami ceritakan nanti insyaAllah.

#changemakerfamily #IbuProfesional6th #agenperubahan #changemakeraward


@Yogyakarta
Lina IbuneAzzam

Rabu, 20 Desember 2017

Jurnal Reflektif as Fasilitator Bunda Sayang Ibu Profesional

21.58 0 Comments

Jurnal Reflektif as Fasilitator Bunda Sayang 

(Level 8, Mempengaruhi jiwa dan akal anak dengan aktivitas bertutur kisah)


Bunda Bertutur

Aktivitas berkisah atau menuturkan cerita/dongeng ini sejujurnya masih termasuk aktivitas yang belum sungguh-sungguh saya jalankan dengan baik. Padahal saya mengerti bahwa melalui penuturan akan banyak nilai positif dan manfaat yang dapat diperoleh. Terkhusus membersamai anak-anak di rumah. Menuturkan kisah akan menjadi jurus ampuh dalam mengarahkan dan mempengaruhi jiwa serta akal anak.

Bertutur adalah mengarahkan tanpa memaksa, memerintah tanpa menekan, memotivasi tanpa intimidasi, mengajar tanpa menggurui, menasehati tanpa menyakiti 

-Lina Ibune Azzam-
Sejujurnya hati terasa sendu pada sesi refleksi ini. Semakin sendu kala kemudian menakar diri dan menyadari bahwa diri ini belumlah apa-apa. Belum melakukan sesuatu yang berarti bagi anak-anak, padahal di dalam Al-Quran materi kisah ini nampaknya mendominasi isi Al Quran itu sendiri. Bahkan terdapat 1 (satu) surah khusus yang diberi nama Al-Qashash (kisah-kisah).

Pun, bahwa bercerita dan menyimak cerita sangat erat kaitannya dengan keterampilan berpikir. Mengambil hikmah dari setiap cerita merupakan ciri orang yang berakal. Tentunya kita juga sepaham bahwa berpikir/menalar merupakan aktivitas makhluk mulia di muka bumi ini.

Sejatinya untuk berkisah atau mendongeng kita tidak membutuhkan bakat. Kita hanya perlu MAU melakukannya untuk anak-anak dengan penuh CINTA - Septi Peni Wulandani-

Penggalan kalimat bunda Septi diatas kembali "menampar" saya dengan keras. 
Kemana CINTA itu?

Aktivitas bertutur pada asalnya hanya membutuhkan cinta. Cinta yang tulus akan memanggil jiwa kita. Raga kita pun akan bergerak selaras dengan panggilan jiwa dalam satu resonansi.

Duhai jiwa yang lalai,
bergeraklah sebelum capai
berbenahlah sebelum lunglai

Antara Dongeng dan Imajinasi

Kunci sukses menjadi bunda yang kaya imajinasi adalah dengan membebaskan pikiran. Berpikir INSIDE OUT! Keluarlah dari kotak pikiran yang memenjarakan ide cemerlang kita. Menikmati kotak penjara yang sebenarnya tidak ada itu justru akan menumpulkan daya imajinasi kita, padahal kekuatan dari sebuah dongeng adalah imajinasi yang bebas dan lepas sehingga kita pun leluasa memasukkan pesan moral yang ingin disampaikan pada pendengar dongeng kita tanpa perlu berlelah-lelah menasehati dan menggurui.

Saatnya ibu banyak bertutur baik kepada ananda. Tentu jika kita ingin konten yang dikonsumsi oleh anak-anak berisi kebaikan, positif dan sehat bagi akal dan jiwanya. Bersama teman-teman di kelas Bunsay hal ini menjadi tantangan yang menarik dan sangat menguji kesungguhan kita. Bukan soal bakat, namun titik fokusnya adalah keMAUan berbasis CINTA yang berpikir.

Maafkan ibumu nak...

/Lina Ibune Azzam/
@ngayogyakarto hadidiningrat


Sumber gambar :
Diakses pada tanggal 21 September 2018, https://www.pexels.com/photo/toddler-reading-book-1257105/

Minggu, 17 Desember 2017

Kecerdasan Matematika Logis dan CTL (Contextual Teaching and Learning)

22.00 0 Comments
credit freepik.com

Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA itu baru tantangan -Septi Peni, 2017-

Serupa dengan kreativitas, maka secara fitrah, sejak lahir anak pun telah dibekali potensi kecerdasan matematika logis ini. Ini menjadi pijakan kita saat menemani tumbuh kembangnya anak-anak.

Definisi

Menurut Howard Gardner, kecerdasan matematika adalah kemampuan memahami suatu kondisi/keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Atau sering juga disebut kemampuan analisis. Sehingga kecerdasan matematika logis ini tidak hanya terbatas pada persoalan perhitungan semata.

Masih menurut H.Gardner, bahwa ada kaitan antara kecerdasan matematika logis dengan kecerdasan bahasa. Dimana, pada kemampuan matematika, anak menganalisa (menjabarkan alasan logis) serta mampu mengkontruksikan solusi dari problem yang timbul. Sementara pada kemampuan bahasa, diperlukan untuk mensistematiskan dan menjabarkannya dalam bentuk narasi/bahasa.

Belajar Matematika dengan Mudah dan Menyenangkan

Berdasarkan pengertian kecerdasan matematika logis dari Gardner tersebut, maka dapat ditarik rangkuman sederhana bahwa kecerdasan matematika logis tidak hanya berkaitan dengan belajar calistung atau berhitung semata. Namun lebih luas dalam arti kemampuan menganalisa, menjabarkan secara sistematis dan runut, lalu mengkontruksikan sebuah persoalan untuk kemudian menemukan solusinya. 

Faktanya, masih banyak orang dewasa (baik orang tua atau pendidik persekolahan) yang salah kaprah dalam mengaplikasikan pengajaran matematika ini kepada anak-anak. Alih-alih membuat anak-anak "bergairah" dengan matematika, justru membuat anak merasa sulit bahkan jenuh dengan pelajaran ini. Gaya mengajar kita sebagai orang yang sok tahu atau sesungguhnya tidak mengerti bagaimana mengajar yang benar membuat matematika menjadi pelajaran yang kurang menggairahkan. Kebanyakan dari kita hanya mengajar dengan mentransfer ilmu (transfer of konwledge) ke anak-anak tanpa melihat kemampuan setiap anak yang memiliki tingkat yang berbeda-beda. Meminta anak-anak untuk menghafalkan rumus tanpa melalui proses menalar bagaimana rumus itu terbentuk juga merupakan pola pengajaran yang terasa melelahkan dan membosankan bagi anak-anak. Kita kadang lebih fokus pada aktivitas pengajarannya daripada pembelajaran.

Sangat disayangkan jika hasilnya seperti itu, sebab matematika ini merupakan bekal pengetahuan penting bagi kehidupan anak-anak kita. 

Kemudian apa yang bisa kita lakukan untuk membenahi hal tersebut?
Bagaimana mengemas pembelajaran matematika menjadi aktivitas yang bermakna?
Bagaimana membuat anak-anak bebas mengaktualisasikan segenap potensinya dalam upaya penguatan kecerdasan matematika logisnya?

Maka salah satu jawabannya adalah lakukan revolusi mengajar; melakukan pendekatan pembelajaran yang terpusat pada anak/peserta didik melalui Pengajaran dan Pembelajaran Konstekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Harapannya tentu adalah dengan pendekatan kontekstual ini akan membuat anak-anak belajar matematika terasa nyama, mudah dan menyenangkan.

Apa itu Pendekatan Kontekstual?

Ada banyak pengertian yang dapat kita temukan dan pahami tentang pendekatan ini. Diantaranya adalah, menurut Johnson (dalam Suyadi, 2013:81) pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nah poinnya ada disini, terkadang kita sebagai orang tua terburu-buru mengadakan buku pelajaran A, B atau C, memberikan soal latihan ini itu tanpa paham bagaimana kita mengemas pembelajaran matematika ini ke anak-anak agar menjadi pembelajaran yang asyik, menyenangkan dan penuh makna (meaning full). Kita terlampau bersemangat dalam menggegas (drilling) anak belajar berhitung dan lalai membangun pondasi konsep berpikir ilmiah dan logika anak.

Kembali kepada pengertian CTL, bahwa landasan filosofis pembelajaran ini adalah kontruktivisme, yakni belajar bukan hanya sekedar menghafal, melainkan membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif berdasarkan pengalamannya, sehingga terlihat bahwa anak mengalami peningkatan tahapan berpikir. Oleh karena itulah dengan CTL anak-anak akan distimulasi untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), bukan sekedar sampai pada level berpikir tingkat rendah (LOTS).

Peran Ibu Arsitek Peradaban

Sebagai ibu arsitek peradaban, maka yang perlu untuk kita perhatikan sebelum mengajari anak-anak matematika adalah;

1# Menanamkan konsep bilangan dan membilang.

2# Menguatkan konsep berhitung dasar.
     Menambah >> proses menggabungkan
     Mengurangi >> proses memisahkan
     Mengalikan >> penjumlahan secara berulang
     Membagi >> pengurangan secara berulang

3# Menghidupkannya dengan mengaitkan dalam kehidupan nyata.

Dengan memahami 3 (tiga) catatan penting diatas maka selanjutnya kita akan dengan mudah menyusun pola stimulasi dalam memantik kecerdasan matematika logis anak. Stimulasi yang nantinya akan disesuaikan dengan tumbuh kembang serta daya nalar anak. 

Stimulus-stimulus yang kita berikan itu nantinya diharapkan agar anak akan menyukai pelajaran matematika karena sesungguhnya dalam lingkaran kehidupan mereka bertabur konsep matematika, riil dan nyata. Anak pun akan menikmati matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan, bukan deretan angka yang menjenuhkan.


Bagaimana model stimulus yang tepat? InsyaaAllah akan kita pelajari bersama dalam tulisan berikutnya.




Referensi :

https://www.kompasiana.com/ayuputri14/5985aa5a76698f3e8b28fba2/penerapan-pendekatan-kontekstual-dalam-pembelajaran-matematika

Diskusi Materi#6 Menstimulus Kecerdasan Logis Anak, Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017

Howard Gardner, Multiple Intelligence, Gramedia, 2000

Kamis, 14 Desember 2017

Lili

22.19 0 Comments
Si kecil Lili tiba-tiba meringis kesakitan, giginya sakit. Sakit karena sering makan kudapan yang manis-manis. Rasa sakit yang tak tertahankan itu membuat Lili akhirnya menyesal dan berjanji untuk tidak sering-sering memakan makanan yang serba manis. Lili pun akan rajin sikat gigi, baik setelah makan maupun saat hendak berangkat tidur.

Kini, Lili dapat menikmati tidur nyenyaknya hingga pagi hari.

Rabu, 13 Desember 2017

Panggung Bocah

20.59 0 Comments
Selamat menikmati....


  • Cerita mbak Aisy (5) https://www.dropbox.com/s/05ghwonl9gaqx5z/Aisy_Cerita.m4a?dl=0
  • Cerita dek Alifa (3) https://www.dropbox.com/s/2g33wc8tczdupfs/Alif_Cerita.m4a?dl=0
  • Cerita kakak Syifaa (8) https://www.dropbox.com/s/z55a2depzpyu79f/Syifaa_Cerita.amr?dl=0

Selasa, 12 Desember 2017

Syifaa pengen rumah ya Allah

21.10 0 Comments
Ini adalah tahun kedua kami di rumah eyang (Jogja), sebelumnya kami semua tinggal di Karawang sejak tahun 2007. Juni 2016 kami diboyong hijrah atau tepatnya pulang kampung ke Jogja dalam rangka mendekat, melayani dan merawat sang eyang yang sudah sepuh dan mulai sakit-sakitan. Satu tahun pertama ini adalah masa-masa berat kami melalui hari demi hari, anak-anak sedang dalam proses penyesuaian dengan tempat tinggal baru pun adaptasi dengan karakter eyang yang benar-benar membutuhkan kesabaran dan kelapangan dada untuk memakluminya.

Bagi orang dewasa, hal ini mungkin tidak terlalu sulit untuk dihadapi. Namun, belum tentu bagi anak-anak. Bingkai pengalaman hidup dan referensi yang berbeda menjadi salah satu pemicu selisih paham antara kami dengan eyang. Hal ini membuat mba Syifaa lebih sering menangis dan bersedih apabila sebelumnya telah terjadi interaksi dengan sang eyang. Karenanya, Syifaa selalu meminta untuk pindah rumah dan mencari tempat tinggal yang berbeda dari rumah eyang ini.

Perlahan dan penuh hati-hati saya mencoba menjelaskan keadan kami dan pilihan untuk menetap sementara di rumah eyang ini. Agar lebih nyaman saya mencoba merangkainya dalam bentuk cerita;

Suatu hari terlihat seorang putri dari sebuah kerajaan berada di sebuah rumah nun jauuuh... dari istana tempat tinggalnya terdahulu. Sang Putri ini tersesat ketika sedang asyiik bermain, hingga dia tidak menyadari bahwa dirinya sudah keluar dari istana dan semakin jauh berjalan. Alih-alih menuju kembali pulang, justru sang Putri lupa jalan pulang. 

 Sang Putri sangat sedih, karena dia kini tidak berada di istana. Beruntung sang putri kemudian dirawat oleh seorang nenek pencari kayu. Saat ini nenek itu seperti biasa setiap hari selalu ke hutan untuk mencari potongan dahan dan pohon untuk dijadikannya kayu bakar. Si nenek tua itu menemukan putri sedang tertidur lemas di atas rerumputan. 

Bersambung...

Kami sayang ayah...

20.06 0 Comments
Di sebuah desa, terdapat satu rumah sederhana. Di dalam rumah itu  hiduplah sepasang panda bersama kelima anak mereka yang manis dan lucu-lucu.

Ayah dan ibu panda sangat menyayangi anak-anak mereka. Begitupun sebaliknya. Setiap hari ayah panda keluar rumah untuk menjemput rezeki dan memenuhi tanggung jawab nafkah terhadap keluarga kecilnya. Ayah panda pun berusaha untuk selalu mendapatkan rizqi yang halal, agar kehidupannya bersama keluarga diberkahi Allah.

Setiap ayah panda berangkat menjemput rezeqi, ibu panda mengajak anak-anaknya untuk sellau mendoakan sang ayah, semoga Allah permudah jalannya, perluas rezeqinya agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga namun oleh orang-orang banyak lainnya. Demikian setiap hari yang dilakukan oleh ibu panda.

Dan setiap ayah panda pulang, anak-anak sudah menanti dengan penuh kerinduan. Hampir serentak mereka bergegas menyambut sang ayah dengan pelukan dan ucapan manja , "kami sayang ayah..."

Ibu panda tersenyum haru...

Minggu, 10 Desember 2017

Kesenduan Ibu Beruang

22.41 0 Comments
Suatu hari, terlihat ibu beruang sedang duduk di pinggir telaga. Telaga yang sangat indah. Airnya bening, tepi telaga dikelilingi oleh bunga-bunga yang beraneka warna dan jenis. Benar-benar menyenangkan hati. Sesekali terlihat kupu-kupu mungil nan cantik beterbangan dan hinggap dari kelopak bunga yang satu ke bunga yang lain.

Ibu beruang tidak sendiri. Di dalam telaga ada beberapa ikan koi yang berwarna warni berenang dengan gemulai dari sana ke sini. Semakin menambah keindahan telaga.

Nampaknya ibu beruang sedang berduka, tampak dari wajah dan air mata yang sesekali membasahi pipinya. Bulir bening hangat itu perlahan namun pasti keluar dari sudut matanya diiringi isak tangis sang ibu beruang.

Ikan koi yang penasaran kemudian bertanya, "ada apa gerangan bunda beruang menangis?"

Ibu beruang masih terdiam dan menikmati kesenduan hatinya.

Kembali ikan koi bertanya, "kenapa bunda beruang menangis? apa yang terjadi?"

Akhirnya ibu beruang berkenan menjelaskan, namun sesekali terputus oleh tangisannya, "saya pergi dari rumah meninggalkan anak-anak saya. Mereka telah membuat saya sedih karena sering berantem antar saudara. Sudah dinasehati namun belum jua berubah, sebentar-bentar berantem lagi dan saling menyakiti.....

bersambung


Menjadi Bunda Imajinatif

14.22 0 Comments
Pernah mendengar deretan animasi finding nemo, toys story atau pun piper ?. Animasi tersebut adalah sebagian karya produktif dari Rumah Produksi Pixar Animation Studios. Karya-karyanya menjadi favorit (terutama di kalangan anak-anak) dan memiliki kekuatan pesan serta alur cerita yang memanjakan imajinasi para penggemarnya.

Nah.... menurut bunda apa yang menjadi rahasia kesuksesan pixar dalam melahirkan karya-karya hebatnya?
Inside Out!
Ya betul, berpikir kreatif dan inside out adalah kunci utama kesuksesannya; membebaskan pikiran dan imajinasi sehingga lahirlah beragam dan banyak ide, yang kemudian memperkaya karya pixar. Dibuktikan dengan karakter-karakter atau inspirasi cerita baru dalam setiap animasinya.

Bagaimana dengan tantangan game level 10 kita?
Menarik bukan?
Dalam camilan 10.3  ini, kami mencoba menyajikan tips menjadi Bunda Imajinatif yang menyenangkan, agar anak-anak juga menyukai beraneka cerita yang bunda tuturkan pada mereka. 

1# Bertuturlah dari hati.
Ini hukum pasti, sesuatu yang berasal dari hati, maka akan sampai ke hati. Sehingga, yang diharapkan dari penuturan cerita kita adalah sampainya pesan positif yang ingin kita tanamkan ke sanubari anak-anak.

2# Bebaskan Imajinasi dan Bangun Dunia Fantasi
Dunia imajinasi hidupnya di alam pikiran kita, namun kita pun dapat membuatnya hidup di alam nyata. Dengan membebaskan imajinasi maka akan berpeluang hadirnya beragam ide. Ketika anak-anak membangun dunia fantasinya, maka terlibatlah secara aktif didalamnya bersama anak.

3# Rasakan-Hayati-Nikmati
Rasakan dunia Fantasi yang telah bunda bangun bersama anak-anak, Hayati secara mendalam seolah-olah hal tersebut menjadi nyata, mainkan imajinasi kita agar alur cerita bisa dinikmati bersama.

4#Persiapkan dan Latihan diwaktu luang
Saat memilih menuturkan sebuah kisah, tentu bunda memerlukan persiapan. Tujuannya agar bunda dapat mengatur tema, alur, karakter dan plot kisah. Kemudian mendalaminya serta memilih media cerita (buku, video, recorder, teater). Berlatihlah diwaktu luang agar lebih menghayati peran dan karakter tertentu.

5# Ekspresif
Kemukakan gagasan, cerita atau perasaan dalam ekspresi yang pas. Sesuaikan pula dengan genre ceritanya, apakah humor, detektif / misteri, melodrama, heroik. Intonasi dan ekspresi bunda turut memberi kontribusi besar dalam menghadirkan cerita yang berkesan mendalam bagi anak-anak.

Sebagai sebuah contoh; berikut kisah yang inspiratif, tentang perjuangan Piper si burung kedidi (sandpiper) mengalahkan rasa takutnya melalui proses belajar yang alami.


Semangat menjadi bunda imajinatif, ntuk melahirkan generasi yang kreatif!

Referensi :

https://www.brilio.net/film/-7-film-pendek-buatan-pixar-ini-singkat-tapi-penuh-makna-170123y.html

Tim Fasilitator Bunda Sayang#1




Melatih Kemandirian Anak#2 (tulisan opini)

12.06 0 Comments
" Don't depend too much on anyone in this world, because even your own shadow leaves, you are in darkness" -Ibn Taymiyyah-
Jangan terlalu mengandalkan orang lain dalam hidup, karena bahkan bayanganmu sendiri akan meninggalkanmu saat gelap. Demikian kurang lebih arti dari perkataan Ibnu Taymiyyah diatas. Saya memaknainya sebagai sebuah pernyataan yang berkaitan dengan kemandirian dan sikap berdikari (mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain).

Spirit inilah yang kemudian mempengaruhi saya bersama suami menanamkan kemandirian sebagai pendidikan karakter dan keterampilan hidup. Karena itulah melatih kemandirian anak menjadi penting dalam pendidikan keluarga kami, mengingat anak-anak kelak akan hidup dan memilih jalannya sendiri sehingga otomatis pun tidak selamanya mereka bersama orang tuanya.

Dalam hal melatih kemandirian, saya bukanlah ibu pelatih yang cakap. Kurun waktu 10 tahun membersamai anak-anak, saya pun mengalami jatuh bangun. Bagi saya kemandirian sama hal nya dengan belajar, sehingga menjadi satu padu dengan kehidupan. Tidak memerlukan rekayasa, namun mengalir secara alami selaras dengan fitrah manusia. Sambil mencoba mengingat, saya akan menuliskan proses Keluarga MANDIRI menjalani latihan kemandirian ini;
  1. Toilet training. Sebenarnya secara alami anak-anak sudah mengenali materi ini, dengan memberi kode saat merasa tidak nyaman dengan kondisi lembab dan bau yang khas. Disinilah awal proses belajar kemandirian dalam istinja' dimulai. Pengalaman saya sendiri, anak perempuan saya umumnya lebih cepat menguasai keterampilan TT ini dibanding kakak sulungnya. mereka rata-rata usia 2 tahun sudah lepas popok dan mampu memberi info bahwa sedang pup atau pee, sementara sang kakak usai 4 tahun baru terampil dalam hal kebersihan pup, untuk pee hampir sama dengan yang perempuan, si sulung sudah lulus di usia 2 tahun. 
  2. Makan, mandi, berpakaian sendiri. Bersyukur sekali 4 anak pertama masuk kategori anak-anak yang mudah dalam perkara makan dan makan sendiri, kecuali di saat-saat tertentu, misal saat sedang tidak sehat, kurang berselera ataupun mood sedang tidak nyaman. Yang sedikit berbeda adalah anak ketiga (Aisyah, 5th) karakternya yang bossy masih cenderung menginginkan pelayanan daripada melayani. 
Dua poin diatas menjadi keterampilan dasar dalam mengurus diri mereka sendiri, minimal 6 tahun pertama hidupnya. 

Cerita berikutnya tentang beberapa keterampilan yang masih dalam proses pembekalan dan pelatihan, yaitu keterampilan dalam aspek kemandirian intelektual, ekonomi, dan emosi. 3 aspek tersebut merupakan aspek kemandirian menurut Robert Havighurst,1970 ditambah satu aspek lagi yaitu aspek sosial.

Aspek Intelektual

Kemandirian dalam berpikir dan menalar sebuah konsep atau beragam kondisi. Pada aspek ini, sudah mulai bisa dilatihkan pada anak usia 7 tahun (tamyiz) yang sudah mampu membedakan, bermanfaat dan bukan bermanfaat. Selain keterampilan mengkaji ini, maka yang paling penting pula adalah kemampuan anak dalam mengambil keputusan (decision making). Bukan hanya usia 7 tahun sebenarnya, sejak mereka sudah memiliki pilihan sendiri, maka saya sudah mulai memberikan penawaran altenatif pilihan dan membebaskan anak-anak untuk memilih berdasarkan keminatan/kecenderungan mereka. Sepanjang pilihan anak-anak tidak keluar dari Golden Rules dan Values Keluarga.


Aspek Ekonomi

Di rumah anak-anak memiliki kebebasan dalam mengelola aset mereka, khususnya rupiah. Kebebasan ini menuntut sebuah pertanggung jawaban, sehingga bebasnya mereka bukan berdasar nafsu (keinginan), melainkan dari hasil berpikir. Nah, aspek intelektual pun berfungsi disini. Mampu dan mandiri memilah dan memilih antara kebutuhan vs keinginan. Kepada anak-anak yang sudah usia sekolah (minimal 7 tahun), saya memberlakukan "uang saku" pekanan, per anak mendapat porsi Rp. 10.000; setiap senin pagi untuk kemudian dikelola dalam sepekan.Orang tua, disini memerankan diri sebagai Financial Consultant saja dan memberi saran pengelolaan dengan membagi uang mereka ke dalam pos-pos tertentu.

Aspek Emosi dan Sosial

Disini PR terbesar saya, karena erat kaitannya dengan rasa. Tidak ada standar target, semua berjalan secara natural saja. Yang bisa saya lakukan sebagai orang tua tentu menerima keunikan mereka dulu, menerima ide-ide mereka, menghargai dan memberi apresiasi terhadapu usaha-usahanya, memberi support baik materi maupun psikologis dan satu hal yang penting pula, tidak membandingkan antara satu dengan lainnya.

Kaidah dasar dalam melatih Kemandirian Anak;
Saya percaya bahwa anak yang diberikan kepercayaan dan diterima ide-idenya kelak akan menjadi anak yang mandiri. Menjadi kebanggaan ayah bundanya. Hal ini seolah sudah otomatis menjadi rumus perbandingan lurus (linear). Sehingga amat penting bagi kami memberikan anak-anak ruang dan kesempatan melakukan semua nya sendiri, tidak tergesa-gesa untuk menawarkan bahkan memberikan pertolongan. Begitu juga gagasan-gagasan yang lahir secara orisinil dari buah pikiran mereka, kami menerima dan menjadikannya bahan obrolan ringan dalam forum keluarga.

Muara Keterampilan Kemandirian

"Barang siapa bersandar hanya kepada Allah, memohon hajat-hajat kepada Nya, dan memasrahkan urusan kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya, mendekatkan untuknya bagi setiap yang jauh dan memudahkan baginya semua yang sulit" -Atsar Asy-Syaikh AbdurRahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahulloh- dalam Fathul Majid : 124.

Menjadikan Allah satu-satunya sandaran hati dan mencukupkan Allah sebagai penolong dan kebergantungan, maka itulah tujuan puncak dari pendidikan kemandirian ini. 

Dimulai dari siapa?

Tentu mulai dari orang tuanya. 


Allahul Musta'an
@ Yogyakarta, 10 Desember 2017


Sabtu, 09 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (10)

20.45 0 Comments
Kembali komunitas kodok menyanyi dan menari kesenangan karena langit pun kembali menumpahkan air bening nan sejuknya ke muka bumi. Sesungguhnya dalam nyanyian dan ocehan para kodok itu mengandung dzikrulloh senandung pujian khusus untuk Sang Penguasa Alam Semesta.

Hari ini yang bertutur cerita adalah mbak Syifaa (8), nampaknya mb Syifaalah yang paling menikmati tantangan kali ini, dia sangat bersuka cita untuk bercerita kepada adik-adiknya. Sementara Aisyah (5)cendrerung menyukai permainan tebak-tebakan sebelum tidur. Ibu, Alifa (2), dan baby Miqdad menyimak cerita mb Syifaa dengan judul persahabatan Harimau dan Tikus Mungil.

Inti cerita awalnya Harimau menargetkan si Tikus mungil untuk menjadi santap makan siangnya, namun begitu akan melahap si tikus, maka muncullah si Kancil yang memberikan pertimbangan kepada Harimau untuk mencari santapan yang lebih besar dan gemuk, dibanding si tikus yang kecil tentu tidak akan membuat Harimau kenyang. Setelah menimbang, maka akhirnya Harimau melepaskan si Tikus dan bersedia menahan rasa laparnya yang semakin menghebat. Tikus kemudian mengucapkan Terimaksih kepada Kancil dan Harimau. Kemudian mereka pun berpisah melanjutkan perjalanan masing-masing.

Singkat cerita,

pada suatu kesempatan, harimau dan tikus bertemu kembali. Kali ini harimau yang berada dalam posisi sulit, harimau terjerat jebakan pemburu. Melihat hal tersebut, maka si tikus bersegera memberi pertolongan dengan mengerat tali jebakan satu per satu dengan gigi tajamnya, hingga akhirnya harimau bebas.

waaah... senangnya, harimau dan tikus juga menjalin persahabatan karenanya.


Jumat, 08 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (9)

20.49 0 Comments
Alhamdulillah bersyukur sekali dikaruniai keluarga inti saat ini, sepekan ini anak-anak komplit berlima menemani perjalanan perjuangan ayah-ibune dalam merintis sebuah projek RHS. Masih RHS buat pembaca, namun di dalam keluarga kami perlahan secara pasti dan kontinyu ayah-ibune mencoba membumikannya ke anak-anak. Tujuannya adalah agar mereka dapat menangkap ruhnya dan bisa sefrekuensi dengan ayah-ibune.

Seperti hari ini, kami mengemas upaya membumikan ruh projek itu ke dalam sebuah cerita, berlatar kerajaan, maka jadilah sebuah cerita singkat yang lumayan seru dan menyenangkan bagi kami. Kegiatan ini kami lakukan saat dalam perjalanan, ayah memulai kisahnya...

Adalah sebuah Istana Nitikromo Ngayogyakarto Hadidiningrat, hiduplah pasangan Raja dan Ratu yang menyayangi anak-anaknya. Putra Mahkota bernama Raden Mas Fawwaz beserta adik-adiknya menjadi kesayangan dan kebanggaan sang Raja. Pada suatu hari Raja tersebut menyampaikan sebuah berita besar kepada kelima anak-anaknya,

"anak-anakku, ayah memiliki sebuah impian ....", belum sempat sang Raja menyelesaikan perkataannya, anak-anak tersebut hampir bersamaan bertanya, "impian apa ayahanda...?"

"dengarkan dulu hingga selesai ya sayang" ujar sang ibu Ratu dengan lembut

anak-anak pun mengangguk sepakat,

"ayah memiliki impian membangun sebuah kerajaan bisnis yang besar dan memiliki kebermanfaatan yang banyak untuk rakyat kita. sekarang ini ayah masih dalam proses babat alas, hingga nanti alas itu siap untuk kita rintis dan bangun kerajaan bisnis impian ayah. semoga Yang Kuasa meridhoinya, sehingga kerajaan itu benar-benar menjadi nyata. Dan, bersiaplah kalian semua untuk menjadi penerusnya", demikian Raja memberi penjelasan awal.

anak-anak mulai gaduh bertanya ini itu, karena rasa penasaran mereka dengan penjelasan sang Raja.

"tenang-tenang....., ayah paham kalian semua sangat ingin tahu tentang hal ini, namun belum bisa ayah jelaskan lebih rinci. Ayah hanya ingin kalian bersiap-siap dahulu, terutama kamu Putra Mahkota, karena dipundakmulah tampuk pimpinan akan berlabuh. Jika kamu tidak siap, maka akan ayah berikan kepada Pangeran Miqdad atau saudara-saudara perempuanmu", lanjut Raja menjelaskan sekaligus memberikan tantangan kepada Putra Mahkota Fawwaz.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wah...seru sekali cerita tersebut, hingga akhirnya anak-anak tanpa sadar telah belajar perencanaan usaha sejak dini, belajar bagaimana membangun sebuah impian. Dalam cerita tersebut juga tersemat pesan untuk bersungguh-sungguh mempersiapkan diri merancang kesuksesan, membangun impian, belajar bahwa mereka pun membutuhkan keluarga sebagai support system dalam kesuksesan, dan lain sebagainya.

Sampai disini ibu merasa senang dan gembira, karena ayah ternyata berhasil membawa anak-anak ke dalam imajinasi sang ayah, sehingga kami semua meRASAkan, mengHAYATI dan meNIKMATI sebuah petualangan ke Dunia Imajinasi. Bismillahi tawakkaltu 'alallah...

#bundasayang
#kuliahbunsayIIP
#tantangan10hari
#gamelevel10
#GrabYourImagination

Kamis, 07 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (8)

21.04 0 Comments
Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang,,,
Tema bakti kepada orang tua khususnya kepada IBU menjadi sentral cerita kami malam ini. Mbak Syifaa berkenan menceritakan kembali kisah Malin kundang versi mbak Syifa dengan bahasa tubuhnya yang khas dan lucu...

Terimakasih mbak Syifaa.
 

Rabu, 06 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (7)

21.45 0 Comments
Hari ini pun begitu spesial, melihat anak sulungku memprioritaskan sholatnya sementara di depannya telah terhidang mie ayam baso spesial kesukaannya. Duh... bener-bener adem di hati. MasyaaAlloh semoga istiqomah ya anakku...

Nah, saat selesai sholat, ibu sempat menceritakan kisah tentang seorang penghafal al-quran yang murtad. Dimana di suatu masa dan di suatu tempat, tersebutlah seorang pemuda penghafal al quran, tidak hanya menghafal dia pun seorang syaikh yang memiliki keluasan ilmu. Nah, dalam sebuah kesempatan si pemuda tadi karena lalai dalam menjaga pandangan matanya, maka ia kemudian terpikat oleh pesona seorang wanita yang berbeda keyakinan dengannya. Hingga syaithon menggoda dan berhasil menarik keluar si pemuda tadi dari keyakinannya. Maka hilanglah semua hafalan dan ilmu yang dimilikinya. Karena pada hakikatnya ilmu dan hafalan-hafalannya itu milik Allah Yang Maha Agung. Allah_lah yang berkehendak dan berkuasa memberikannya keluasan ilmu dan kemudahan hafalan.

Hingga disini, anak sulung hanya terdiam menyimak, belum memberi tanggapan. Mungkin ada yang sedang ia renungkan. Entahlah...

Saya pun lirih berdoa untuknya, agar anak-anakku mendapatkan penjagaan dari Allah di manapun mereka berada. Aamiin

Selasa, 05 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (6)

21.08 0 Comments
Semakin hari tantangan semakin uwow, seolah-olah ujian kenaikan kelas universitas kehidupan.

Hari ini pun suangat padet, mas Azzam dan mbak Syifa masih UAS, adik-adiknya pun masih dunia fantasinya masing-masing.

Untuk mas Azzam, karena tantangan semakin tinggi dan ibu belum mampu menghadirkan cerita sesuai seleranya, maka hari ini ibu mengulang kembali cerita tentang perjuangan seorang pemuda (mantan pencuri) dan masuk ke dalam kategori keadaan yang disampaikan oleh Rasulullah "barangsiapa mwninggalkan yang haram karena Allah, maka kelak dia akan mendapati yang haram itu menjadi halal"

Nanti disambung cwritanya yah...

Senin, 04 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (5)

20.53 0 Comments
Pfiuh.... there is no problem, only CHALLENGE
So just say, cancel...cancel... go away!!!

Terdiam merenungi keterbatasan diri, nampaknya memang kreativitasku masih perlu teruji. Tantangan 10 hari level 10 kali ini bener-bener hampir membuatku give up. Bercerita, berkisah atau apapun judulnya adalah kegiatan yang sehari-hari kami lakukan, tidak hanya dikhususkan pada malam hari menjelang tidur, walaupun sebenarnya aktivitas berkisah itu paling sering dilakukan pada jam malam dalam sesi "bedtime story",

Give up -nya kenapa?

Hampir menyerah pada si sulung, karena setiap ibu menghadirkan sebuah cerita, lagi-lagi si sulung merasa bosan alasannya sudah paham jalan ceritanya, cerita dengan karakter binatang dan tumbuh-tumbuhan membosankan baginya. Ia lebih menyukai cerita kepahlawanan nan heroik, yang nyata (true storie) bukan rekayasa. Wadduh... pusing pala mamah....
Akhirnya ibu memberikan tantangan berupa mencatat hikmah yang dia temui dalam kesehariannya, entah saat bermain bersama kawan, atau saat membaca, saat menyimak ustadz/ah di ma'had. Sambil segera merencanakan hunting buku-buku yang bisa melepas dahaga si sulung.

Ahh...daripada baper karena si sulung, lebih baik kembali mengasah keterampilan bercerita ini dihadapan adik-adiknya yang masih imut dan lucu-lucu. MasyaaAlloh. Yang penting jangan sampai kehilangan penonton pemirsa, walaupun ada "hater" disana.

Minggu, 03 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (4)

20.27 0 Comments
Malam ini sangat spesial, ibu tinggal menyimak dan memandangi anak-anak dengan penuh syukur dan rasa terharu. Betapa anak perempuanku bergantian membacakan cerita buat si kecil Miqdad (4bln).

Dimulai dari mbak Aisyah (5th), walaupun belum bisa membaca namun dia berusaha menghadirkan cerita yang menarik dengan menerjemahkan gambar-gambar dalam buku menjadi sebuah tuturan yang lucu dan menggemaskan.

Berlanjut mbak Syifaa (8thn), mencoba menghadirkan pula cerita persis dalam buku, tinggal membacakan dan semua adik-adik menikmati.

Wah.... sungguh saya ibu yang beruntung, berlimpah kasih sayang dari anak-anak. Terimakasih ya Alloh... akhirnya kemesraan itu menjadi kesan indah penghantar tidur nyenyak kami.




Sabtu, 02 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (3)

21.21 0 Comments
Hari ini benar-benar padat, anak-anak dan saya memiliki aktivitas sendiri. Terkadang kami melakukan aktivitas harian bersama, sambil berusaha menyelipkan cerita-cerita yang keluar dari fantasi masing-masing.

Anak-anakku yang perempuan bermain peran menjadi ibu dan kakak bagi boneka-boneka manis mereka. Boneka -boneka itu ada yang menjadi bayi, ada yang menjadi pasien dan beragam peran yang berganti. Saya membebaskan anak-anak perempuanku untuk mengembangkan imajinasi mereka seluas-lusnya. Mereka bermain sambil mengobrol dan membangun cerita berdasarkan moment saat itu. Kembali saya tersenyum, indahnya anak-anakku.

Nah, malam harinya setelah penat seharian, mereka langsung terlelap. Baru saya mulai membawakan sebuah judul bedtime story " Lucunya monyet dan kelinci", mereka sudah terlelap... masyaaAlloh, Bismika allahumma aamuutu wa ahya...

Jumat, 01 Desember 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (2)

21.26 0 Comments
Jumat, 1 Desember 2017

Hari ini adalah hari kedua tantangan dalam level 10 pada Program Bunda Sayang. Kali ini saya akan menceritakan proses belajar saya dalam menyematkan sebuah pesan dalam sebuah kisah/cerita. Pesan ini ditujukan secara khusus untuk anak sulung saya, Azzam 10th. Dan juga buat kami anggota keluarga Merdeka secara umum.

Sebagai pengantar tidur maka saya mencoba kembali menceritakan kembali kisah seorang sahabat Rasulullah dan kaitannya dengan perkara menahan amarah.

Suatu hari, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam mengunjungi salah satu shahabatnya yang mulia, beliau adalah Abu Bakar Ash Shiddiq. Di rumah shahabatnya tersebut, Rasulullah berbincang-bincang dengan santai sambil sesekali bersenda gurau. Tiba-tiba, datanglah seorang arab badui menemui Abu Bakar kemudian mencelanya. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukan celaan tersebut. Rasulullah pun hanya tersenyum melihat hal tersebut.

Kemudian, orang arab badui itu ternyata tidak berhenti. Malah celaannya semakin kuat, ditambah makian-makian kasarnya yang ditujukan kepada Abu Bakar. Lagi-lagi Abu Bakar masih tenang dan berusaha tidak memperhatikan arab badui itu. Kembali Rasulullah tersenyum.

Merasa diabaikan, si arab badui semakin marah, dan semakin gencar memaki-maki Abu Bakar. Makiannya semakin tidak terkendali dan sangat menyakitkan. Sungguh untuk kali ini, Abu Bakar nampaknya tidak sanggup lagi menahan emosi dalam jiwanya. Sebagai manusia yang memiliki perasaan, tentu wajarlah kemudian Abu Bakar akhirnya tersulut dan pecahlah kesabarannya. Sejurus kemudian, dibalaslah makian arab badui itu. Hingga mereka saling balas membalas makian. Melihat hal tersebut, seketika Rasulullah langsung bangkit dari tempat duduknya, dan kemudian pergi meninggalkan Abu Bakar tanpa sepatah kata.

Abu Bakar kemudian tersadar, tetapi dia pu merasa bingung. Dalam benaknya bertanya mengapa Rasulullah pergi meninggalknnya. Akhirnya bergegaslah Abu Bakar mengejar Rasulullah yang sudah berjalan menjauhi rumahya,

"Yaa Rasulullah, janganlah engkau membiarkan aku dalam kebingungan ini. Jika aku berbuat sebuah kesalahan, tolong jelaskanlah" demikian kata Abu Bakar penuh harap

Kemudian Rasulullah menjawab,
"Sewaktu arab badui itu mencelamu dan kamu tidak menghiraukannya, maka aku tersenyum karena banyak malaikat di sekitarmu yang akan membantu membelamu kelak di hadapan Allah, begitupun ketika kedua kalinya arab badui masih mencelamu dan kami mengabaikannya, maka aku tersenyum karena semakin banyak malaikat disampingmu. Namun, pada ketiga kalinya ia mencelamu dan akhirnya kamu menanggapinya bahkan membalasnya, maka ketahuilah bahwa pada saat itu pula malaikat pergi meninggalkanmu, lalu kemudian hadirlah iblis di dekatmu. Karena itulah aku pergi, dan aku tidak ingin berdekatan dengannya dan menyalaminya"

Begitulah pesan pengantar yang saya sampaikan tadi kepada anak-anak, pesan yang tersemat dalam sebuah kisah, semoga mampu mempengaruhi jiwa mereka agar kemudian mengambil hikmah dan menerapkan nilai-nilai kebaikan khususnya "keutamaan menahan amarah" pada kesehariannya.

Kamis, 30 November 2017

Petualangan ke Dunia Imajinasi (1)

23.26 0 Comments
Kamis, 30 November 2017

Hari ini menjadi hari pertama pelaksanaan tantangan 10 hari game Level 10, Bunda Sayang.

Bertema "Membangun Karakter Lewat Dongeng"

Karena langit Jogja beberapa hari ini dilimpahi air hujan yang masyaaAlloh sangat  banyak, ibu akhirnya mencoba membuat cerita rekayasa untuk menghadirkan pesan terkait fadhilah air hujan, bagaimana terjadi hujan, adab manusia terkait saat hujan dan menanamkan makna keTuhanan dalam proses hujan sebagai rahmat dari sang maha pencipta.

Cerita berkisah tentang sekelompok kodok yang sedang berpesta menikmati limpahan air hujan, mereka sangat bahagia dan berucap syukur atas rizqi air hujan itu. Alif 2th & Aisy 5th sangat excited mendengarkan cerita ibu, bahkan seolah-olah sampai memaknai bahwa cerita ibu itu nyata adanya. Karena, si kodok di belakang rumah pas bernyanyi dengan suaranya yang riuh rame.

Sementara mas Azzam 10th dan mbak Syifa 8th melakukan kegiatannya sendiri. Dan, ternyata... mereka pun membuat ceritanya sendiri.
Cerita mas Azzam

Berikutnya cerita Syifa...
Cerita mbak Syifaa

Waaaah... senangnya anak-anak menikmati sensasi bercerita yang bermakna. Mari terus latihan ya nak...

#Tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#Level10
#GrabYourImagination





T10 Kelas Bunda Sayang Level 10

21.38 0 Comments
🎊🎊Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang level 10 🎊🎊

🌈Membangun Karakter Anak melalui Dongeng 🌈

Dongeng adalah salah satu usaha laku kita dalam bertutur tentang sebuah cerita yang pasti tidak akan ditolak oleh anak-anak. Maka sangat pantaslah jika kita sebagai seorang ibu harus berlatih untuk mendongeng :

📝 Bagi yang anak-anaknya dibawah 12th / belum baligh :
🦋 Latih diri kita untuk membuat dongeng kreatif yang mengandung nilai karakter yang ingin kita tanamkan ke anak-anak, ceritakan kepada anak-anak dengan cara yang kreatif juga & catatlah prosesnya setiap hari.

📝 Bagi yang anak-anaknya sudah baligh:
🦋 Latih diri kita untuk terlibat bersama anak-anak mencari & ngobrol bareng tentang segala sesuatu yang menginspirasi ( tentang siapa, apa , bagaimana , dst ) dan mempunyai nilai2 kebaikan kemudian catat kisah serunya setiap hari .

📝 Untuk semuanya :
Silakan latih diri kita untuk menjawab segala keluh kesah anak atau anggota keluarga atau teman dengan dongeng/kisah

Contoh :

"Ibu, ini bulan-bulan yg sangat berat dalam hidup saya, saya nggak sanggup lagi kayaknya untuk melanjutkan proses yg sdh saya mulai"

Jawab :
"Hmmm...sini ibu peluuuk....kisahmu ini sepertu pilot yang sedang menembus gumpalan awan,, ada rasa takut untuk memasukinya, tapi sang pilot memutuskan harus masuk awan itu, tidak bisa balik, karena pasti tidak akan sampai tujuan.  Apa yang dilakukan sang pilot? Full Konsentrasi, dan High Speed masuk ke awan dan turbulensi yg luar biasa. Penumpang pun berteriak menyebut nama Allah, pilot pun mungkin keluar keringat dingin, adrenalinnya naik, emosinya diguncang, tapi dia harus tenang. Alhamdulillah suasana seperti itu hanya sesaat, yang penting berani unt dilalui. Pilot Pun segera bersyukur tenang.. penumpang mulai senyum bahagia. Sampai di daratan peristiwa di atas tadi memang menakutkan tapi akan menjadi bagian cerita perjalanan kita.


⏳Periode tantangan 30November-16 Desember 2017⏳

📚Kumpulkan tantangan pada link berikut ini :

http://bit.ly/GAME10_FASIL_Bunsay


💻Bagi anda yang menggunakan blog , gunakan label :
Ibu Profesional
Bunda Sayang
Level 10
Tantangan 10 hari

🖥 Gunakan hashtag berikut saat pengumpulan tugas:
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Selasa, 28 November 2017

Berpikir Tingkat Tinggi (Belajar HOTS, bagian 2)

22.59 0 Comments
Setelah menelaah karakteristik abad 21 dan pergeseran model pembelajarannya, maka tahap selanjutnya kita akan memahami bagaimana proses berpikir yang selaras dengan karakteristik abad 21 tersebut. Berpikir yang dimaksud adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS, High Order Thinking Skill).

Apa itu HOTS?


HOTS ini merupakan kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kemampuan berpikir kreatif dan divergen (creative thinking and divergen), kemampuan berargumen (reasoning) dan kemampuan mengambil keputusan (decision making). Kemampuan-kemampuan tersebut dimaknai sebagai kecakapan berpikir pada level tinggi.

Gagasan HOTS ini awalnya, secara sederhana dijelaskan oleh Benjamin S. Bloom (1956) dalam Taxonomy Bloom, yang kemudian mengalami revisi oleh muridnya Anderson, L.W (2001). Mari kemudian kita cermati bersama,

https://thesecondprinciple.com/teaching-essentials/beyond-bloom-cognitive-taxonomy-revised/

Awalnya taksonomi Bloom terdiri atas dua domain, domain kognitif dan afektif. Sehingga pada taksonomi Bloom (old) disusun dalam bentuk kata benda/sifat. Hingga pada versi revisi, terlihat bahwa terdapat penambahan domain psikomotorik melengkapi versi lama.

Maka, pada tahun 2001 murid Benjamin S.Bloom yang bernama Lorin Anderson mempublikasikan hasil revisinya dan diberi nama Revisi Taksonomi Bloom. Beberapa poin perbaikannya adalah;
1. Masing-masing kategori masih dalam urutan hirarkis (dari level terendah, menengah dan tertinggi)
2. Perubahan kategori dalam bentuk Verb Form
3. Kemampuan analitis dan sintesis diintegerasikan menjadi analisis saja
4. Menambahkan kategori creating pada puncak level berpikir


Bagaimana memahami Revisi Taksonomi Bloom?


https://www.karenwalstraconsulting.com/home/index.php?ipkArticleID=15

Tingkatan berpikir itu diawali dengan proses mengerti (remembering) yakni mengambil kembali info yang tersimpan dari memori. Ini masuk pada tingkatan berpikir level terendah ( LOTS, Lower Order Thinking Skills).

Dua tahap berikutnya adalah memahami (understanding) yakni membangun koneksi konsep di dalam pikiran, kemudian menggunakan konsep tersebut dalam sebuah penerapan (applying). Tahap ini masuk ke dalam tingkatan berpikir level menengah ( MOTS, Middle Order Thinking Skills).

Hirarki berikutnya merupakan tingkatan berpikir pada level tertinggi (HOTS, Higher Order Thinking Skills). Dimulai dengan kemampuan menganalisa, mengkritisi, mengidentifikasi kemudian meningkat memeriksa, membuat keputusan, menalar hingga menemukan sebuah solusi dari masalah dan pada puncak HOTS ditandai dengan kemampuan berpikir kreativ (creative thinking), mampu mengorganisasikan segenap informasi yang dimiliki dengan cara baru atau cara yang berbeda.



Referensi :

http://alief-hamsa.blogspot.co.id/2012/11/revisi-taksonomi-bloom.html

Sabtu, 25 November 2017

Bersiaplah Berubah (Belajar HOTS, Bagian 1)

01.12 0 Comments
Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena ia hidup di zaman berbeda dengan zamanmu - Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu
Nasehat tersebut benar-benar terjadi saat ini, dimana zaman terus mengalami perubahan demi perubahan. Tentu bunda sepakat bahwa zamannya orang tua sepuh kita terdahulu memiliki perbedaan yang cukup jelas dari zaman kita hidup. Demikian pula zamannya anak kita nanti akan berbeda dari zamannya kita. Maka apa yang perlu kita persiapkan?

Tentu, yang pertama bekalilah diri kita dengan ilmu dahulu. Mengenali ciri-ciri dimana zaman anak kita akan hidup dan berkarya. Dengan mengenali karakteristik zaman tersebut berarti kita mempersiapkan diri dan keluarga kita menuju perubahan yang lebih baik.

Baiklah, mari kita amati ciri-ciri abad 21.

http://www.ishaqmadeamin.com/2015/03/pembelajaran-abad-21.html
Dari info diatas memperlihatkan bahwa zaman anak kita nanti menuntut keterampilan berpikir kritis dan kreatif, mahir menjadi pengambil keputusan strategis, dan juga menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi. Ini sebuah tantangan bukan?

Setelah memahami hal tersebut, tentu akan mengantarkan kita pada sebuah tingkatan berfikir tahap berikutnya, yakni menalar fenomena perubahan zaman yang akhirnya membuat kita berusaha bergerak untuk memberi kontribusi positif bagi pembangunan peradaban. Jika kita menginginkan sebuah perbaikan kualitas generasi ke generasi, maka kita perlu berbenah. Mulai dari mana? Mulai dengan membenahi cara belajar kita dan anak-anak tentunya.

Belajar Bagaimana Belajar


Artinya apa?

Model belajar konvensional relatif tidak menjawab tantangan abad 21 ini. Kita sebagai generasi konvensional (abad 20) tentu mampu menilai bagaimana pola pendidikan pada masa itu. Dulu pembelajaran terpusat pada guru (teaching), para siswa hanya menyimak dan mengerti (knowing), terkadang sangat teoritis dan abstrak sehingga sulit diterapkan dalam dunia nyata (unkontekstual), mempersempit makna belajar hanya dalam sekotak ruangan kelas.

Sehingga sebagai ibu agen perubahan, hanya ada 2 (dua) pilihan. Change or Not, if you're not to change, you'll be die. 

Nah, salah satu strategi untuk berubah adalah dengan menggeser pola pendidikan yang telah lalu. Konsep CTL (Contextual Teaching & Learning) menjadi pendekatan metode belajar yang menyenangkan, berpusat pada siswa dan mengaitkan mata pelajaran dengan dunia nyata sehari-hari. Sehingga harapannya metode CTL ini akan mewujudkan budaya belajar yang meaningfull (beresensi) dan real (nyata/riil).

Karena terkadang masih banyak orang tua atau malah praktisi pendidikan yang tergesa-gesa mencari konten belajar anak tanpa pernah terlebih dahulu mencari cara bagaimana mengemas konten itu dalam sebuah konteks pembelajaran yang menggairahkan, yang merangsang fitrah rasa ingin tahu anak sebagai makhluk pembelajar. Sehingga, di saat anak-anak mulai "burn out", orang tuanya pun tertular menjadi "mati gaya". Karena telah tergerus kekreatifannya untuk menyajikan menu belajar yang menyenangkan dan meaningful tersebut. Akibatnya belajar menjadi hilang ruhnya.

Bagaimana dengan bunda?

#tingkatanberpikir #ctl #abad21 #21stcentury

Refleksi 13 Nov

00.01 0 Comments
13 November tahun Masehi merupakan tanggal kelahiranku beberapa puluh tahun yang lalu. Kemarin sebenarnya tidak ingat kalau usia ini makin bertambah, karena memang terakhir ultah-ultahan itu waktu seventeenan dengan backsound "kuch-kuch hota hei" (ketahuan banget angkatan berapa, hahaha).

Hari ini bermaksud membuat refleksi terkait penambahan usia yang sejatinya malah kesempatan untuk hidup semakin berkurang. Yah... banyak hal yang ingin kutuangkan, namun entah begitu jemari menari diatas keyboard seakan menjadi blank, tak berdaya. Mengingat betapa banyak aku lebih sering tak bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah beri. Betapa kurangnya kebaikan-kebaikan yang tak kulakukan karena kemalasan dan kebodohanku.

Duhai diri,
Ratapilah dirimu di dunia ini,

Hmmm kembali terpekur dalam diam...

Mulai dari mana yah?

Sabtu, 11 November 2017

Think Creative (10)

21.49 0 Comments
Menjadi manusia kreatif memang tidak mudah, namun percayalah insyaAllah bisa. Bukankah manusia terlahir sudah membawa bakat kreatifitasnya masing-masing? Tinggal digali dan menemukannya lalu mengasahnya agar menjadi sebuah kreatifitas yang memiliki nilai manfaat.

Hari ini hari ke sepuluh peiode tantangan 10 hari pada game level 9 Bunda Sayang, seperti biasa anak-anak selalu mendapat beragam cara untuk menjadi kreatif. Tidak sempat terdokumentasikan dalam foto, namun hari ini semua anak-anakku menampilkan aktifitas kreatif ala mereka sendiri.

Azzam membuat stone art, sehingga batu-batu ditata sedemikian rupa dan memberi sebuah cerita. Syifa dan Aisyah bermain peran dengan mengembangkan imajinasi-imajinasi mereka, Alif asyiik dengan gunting menggunting. Bagiku ini adalah bagian dari aktifitas kreatif.

Jumat, 10 November 2017

Think Creative (9)

21.34 0 Comments
Karena anak-anak sudah terlahir kreatif maka orang tua tinggal merawat fitrah itu dan menggali lebih dalam lagi potensi kreatifnya. Dalam hal waktu pun anak-anak ternyata sangat mahir membunuh kebosanan. Adaaaaaa saja yang mereka lakukan, maka apapun itu ragam kegiatannya mereka selalu berhasil melakukannya dengan asyik dan gembira. Seperti hari ini, sang adik mencoba memainkan permainan kakak. Penasaran dan tertantang membuat adik ingin terus mencoba hingga berhasil. Yuuk kita lihat foto-fotonya;


Nah, mainan favorit kakak inilah yang coba dimainkan si adik;

Kamis, 09 November 2017

Think Creative (8)

22.27 0 Comments
Tantangan hari ini lebih ke persoalan manajemen konflik anak-anak balita saya. Dimana masing-masing pihak masih sama-sama kuat fase egosentrisnya.
Ada saja hal-hal sederhana yang membuat mereka terlibat konflik kepentingan. Sama-sama menguatkan pengAKUan dan cenderung tidak ingin mengalah. Sebagai ibu, jujur hatiku sedih melihat mereka berada dalam kondisi yang memanas, sungguh benar-benar suasana yang tidak nyaman. Namun, aku mencoba menahan diri agar tidak terlalu intervensi lebih dalam, mencoba memberi ruang dan kesempatan pada mereka mencari solusi dari konflik tersebut.

Menahan diri bukan berarti membiarkan, karena bagaimanapun duo balita itu masih membutuhkan pendampingan dan bimbingan. Akhirnya aku mulai menghitung, jika pada menit kelima mereka belum juga berdamai, maka IBU hadir menawarkan solusi. Solusi yang win-win happy.

Setelah itu apa yang terjadi?
Nampaknya foto berikut lebih mampu menceritakan daripada tulisanku
Bahwa mereka baik-baik saja. 

Lalu dimana sisi berpikir kreatifnya? ini lah yang sedang aku cari, bagaimana menekan koflik internal anak-anak dengan cara yang kreatif. Help me... please

Calistung Bekal Menghadapi Abad 21

02.33 0 Comments

Tentang Mendidik Anak Agar Suka Membaca

Saya sangat setuju dengan usaha menumbuhkan minat baca anak sehingga is menjadi suka membaca, daripada sekedar bisa membaca.

Sederhananya, anak yang suka membaca pasti bisa membaca. Sementara, anak yang bisa baca belum tentu suka membaca.

Sehingga inilah target pertama dalam menstimulus keterampilan membaca anak. Bukan malah memaksa mereka untuk segera bisa membaca namun minus semangat/gairah terhadap aktivitas membaca. Dalam upaya ini maka hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah;
  • Keteladanan (role model), tentu ayah bundanya juga terlebih dahulu suka membaca, yang kemudian akan mewarnai anak-anak.
  • Membacakan buku dengan suara keras (read aloud), jika dilakukan secara rutin maka anak-anak akan bisa membaca isi buku persis sama dengan ayah bunda membacakannya. Ini disebutnya “magic reading”, kemampuan membaca tanpa orang tua mengajarinya.
  • Bangun perpustakaan keluarga, tempatkan buku-buku anak pada area yang mudah dijangkau, percantik dengan interior yang nyaman dan hangat.
  • Membuat projek literasi bersama keluarga.
  • Menjadikan buku sebagai hadiah/reward atas prestasi anak-anak, prestasi yang dimaksud adalah seluruh progrees kebaikan yang telah dicapainya.
  • Membuat panggung bocah sebagai latihan mereview sebuah tulisan versi anak-anak, dan orang tua cukup memberi apresiasi tak perlu evaluasi.

Begitu diantara usaha yang dapat dilakukan oleh orang tua. Dan, saya pun sedang memperjuangkannya di rumah. Ganbatte ne!

Mari kemudian coba kita kaji bagaimana pola pendidikan zaman dulu dengan zaman now. Saya mulai dengan keterampilan calistung sebagai pengetahuan dasar yang hampir menjadi keharusan untuk dikuasai oleh anak.

Tentang Calistung


Calistung adalah akronim dari baca tulis dan hitung, dan kini kemampuan calistung ini seolah-olah dianggap harus segera dikuasai oleh manusia. Bahkan “sejak dini mampu calistung itu makin baik”. Demikianlah kurang lebih anggapan kebanyakan orang. Sehingga hal ini makin menjadikan pelajaran calistung menempati urutan pertama pelajaran yang harus dikuasai oleh anak-anak. Anak sekolah yang belum mahir calistung kemudian ada yang diberi label anak tertinggal, anak kurang belajar dan semacamnya.

Maka, terlihat hampir menyeluruh di pojok negeri, bertabur kegiatan-kegiatan pengajaran calistung usia dini. Malah cenderung pada usaha drilling (menggegas) tanpa mengedepankan visi “menumbuhkan” atau inside out potensi unggul anak. Padahal para praktisi kegiatan drilling baca tersebut sadar bahwa apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak bukanlah termasuk pendidikan yang ramah anak. Kelak gaya pengajaran seperti ini justru akan memadamkan minat baca anak, memadamkan kreatifitas dan mengkerdilkan self-confident anak. 

Yang lebih parah, jika anak-anak kehilangan ruh belajar. Kehilangan esensi “Learn How To Learn”.

Jika kita mengacu pada pendidikan yang mengimplementasikan visi 21st century, maka UNESCO menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan 21st century readiness, yaitu :
  1. Learning to how (belajar untuk mengetahui)
  2. Learning to do (belajar untuk melakukan)
  3. Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian)
  4. Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
  5. Pendidikan yang membangun kompetensi “partnership 21st Century Learning” yaitu framework pembelajaran abad 21 yang menuntut peserta didik memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran, inovasi, keterampilan  hidup.


Dengan ini pola pendidikan gaya lama sudah harus mengalami revolusi.

“Simpelnya, kita nggak bisa terus menyiapkan generasi muda dengan cara yang sama di dunia yang udah mulai berubah” - Cathy N. Davidson

Dunia berubah begitu cepat, manusia pun harus berubah dan mampu menghadapi perubahan itu. Abad 21 yang ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dengan sangat cepat yang didukung oleh penerapan media dan teknologi digital (information super highway) sehingga informasi tersebut semakin mudah terdistribusi ke seluruh penjuru dunia. 

Merenungkan ini semua, maka kita akan sampai pada satu titik pembelajaran bahwa dalam dunia pendidikan zaman now, tidaklah cukup hanya bisa membaca, menulis dan berhitung saja, namun lebih dari itu. Anak bangsa harus memiliki sikap dan keterampilan belajar calistung, berbicara, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini disebut literasi (National Institute for Literacy, 1998)

Diagram 21st Century Skills

Nah, berdasarkan diagram diatas memperlihatkan kemampuan-kemampuan yang perlu dimiliki oleh anak yang bertemu dengan abad 21 ini adalah;

Pertama, Kemampuan Dasar
Adalah keterampilan fundamen meliputi literasi (membaca, menulis), berhitung, sains, pengetahuan-pengetahuan praktis dan pemahaman finansial serta sosial kemasyarakatan (kearifan lokal) dimana disanalah nantinya anak bangsa akan berdaya dan memberi manfaat bagi sesama.

Kedua, Kompetensi
Adalah keterampilan bagaimana melakukan pendekatan untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meliputi; berpikir kritis, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Keempat kemampuan ini disebut The Four Cs of 21st Century Skills.


Ketiga, Kualitas Karakter

Adalah bagaimana sikap seorang pembelajar menghadapi beragam perubahan. Karakter apa saja yang dibutuhkan agar tetap survive? Diantaranya adalah rasa ingin tahu, inisiatif yang tinggi, tangguh/kegigihan, kemampuan adaptasi, kepemimpinan, serta kepekaan sosial budaya. 


Beruntungnya saya menjadi salah satu murid dalam universitas kehidupan ini dan berkesempatan mendulang ilmu di Institut Ibu Profesional. Saya semakin bertambah wawasan dan memperluas sudut pandang bahwa makna belajar khususnya dalam hal ini belajar membaca tak hanya dibatasi pada kegiatan membaca tulisan kata per kata namun lebih dalam memaknainya sebagai aktivitas “membaca” hikmah dari alam semesta, “membaca” esensi perubahan zaman, “membaca” kearifan local di sekitar sehingga terus berusaha mengasah sisi humanisme yang tidak mampu dikalahkan oleh robot maupun computer di era 21st ini.



Referensi :



Materi Level 5 Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017 https://www.weforum.org/agenda/2016/03/21st-century-skills-future-jobs-students/

http://www.p21.org/our-work/p21-framework

http://www.ishaqmadeamin.com/2015/03/konsep-pendidikan-abad-21-bag-1.html



Catatan: tulisan ini dibuat dalam rangka menunaikan tugas remedial materi Bunda Sayang level#5