Follow Me @linaibuneazzam

Senin, 28 September 2020

Rumah hexagon impian (seri belajar di level Bunda Produktif Ibu Profesional)

23.57 0 Comments

 Alhamdulillah, akhirnya 22 September 2020 kelas lanjutan Bunda Cekatan sudah dimulai. Kami melaju ke Pilar Bunda Produktif sekarang. 

Playground di Bunda Produktif ini sangat unik, dan merupakan hal baru buatku. Keren banget pokoknya buat Founding Mothernya yakni Ibu Septi dan juga barisan Tim Formula beliau.

Playground dengan konsep #capacitybuilding, diberi nama Membangun Kota Hexagon, kota peradaban. Dan, kami-kami penduduk kota disebut hexagonia. Wah...wah... sangat menggelitik #curiosity ini.

Nah, kedepan sekitar 6-7 bulan insyaAllah, kami para Hexagonia akan sama-sama berproses kembali melewati etape demi etape pembangunan kota. Maka, semoga saya akan kembali rajin mengisi blog ini dengan laporan jurnal hasil pembelajarannya. Bismillah, ganbatte ne!

Sebagai tugas pertama, kami diberi sepetak tanah berbentuk Hexagon. 

sepetak tanah hexagon
Hexa house

Diatas tanah ini, oleh founding mother meminta kami untuk membuat sketsa bangunan diatasnya, sesuai dengan konsep passion yang membuat kami senantiasa berbinar-binar.

Founding mother juga membebaskan imajinasi kami bermain sebebas-bebasnya dan menggambar sesuka hati.

jujur buatku ini tugas yang cukup sulit untuk kutuntaskan, sebab aku tidak mahir menggambar baik manual maupun digital dengan baik. Tetapi ada yang menari-nari di otakku, sebuah konsep rumah hexa yang menjadi impian Keluarga Merdeka.

Yah, sementara kami menamainya Merdeka lan Migunani. Karena yang itu yang terlintas dalam benak ini. Tujuannya jelas, bagaimana rumah dan penghuninya dapat menjadi insan merdeka yang membawa dampak manfaat. Migunani tumraping liyan…value dalam falsafah jawa yang menjadi value keluarga kami juga.

Sehingga, secara sederhana saya coba menjelaskan layout dari hexa house kami adalah sebagai berikut,

InsyaAllah (semoga Allah kabulkan), hexa house kami ini ada 2 lantai. Lantai 1, dikhususkan sebagai ruang public. Sementara lantai 2, dikhususkan untuk ruang keluarga.




Lantai 1.
Diisi dengan kegiatan sharing ilmu dan kajian seputar tema bisnis, diniyah dan dakwah. Sehingga dapat ditemukan satu ruangan besar yang mengambil separuh luas hexa, dibuat selega dan selapang mungkin. Lesehan. Nanti disediakan bantal duduk yang nyaman. Di ruang ini juga disediakan property standar presentasi, ada proyektor, whiteboard dll.

Ada juga perpustakaan, mini shop buat saya dan anak-anak belajar melayani pelanggan. 

Separuh space berikutnya merupakan ruang tamu dengan sofa nyaman, ruang ibu bekerja yang berdekatan dengan area main anak, dekat dapur dan meja makan. Sehingga, ini memudahkan saya sebagai Ratu rumah menjalani tugas kerumahtanggaan sekaligus panggilan mengelola usaha #dirumahaja, bisnislokal pasarglobal.

Karena rumah domisili sekarang juga secara posisi sudah pas, maka saya berharap dinding di sebelah timur ruang bekerja dan tamu itu merupakan dinding kaca tebal yang bening dan anti UV. Mirip rumahnya Song Hye Kyo dalam drakor full house. Sebab view sebeleah timur rumah kami adalah hamparan sawah yang menghijau asri, dan gemericik air saat pengairannya aktif.

Rumah ini intinya selain menjadi #baityjannaty , juga menjadi rumah merdeka dari ketergantungan pada hal selain Ilahi. Maka, dalam hal pangan, kami pun belajar mengadakan kandang ayam dan kambing, ada kolam ikan juga dan tanaman-tanaman sayur (sayur daun kelor, pohon kelapa enthok, toga lainnya dsb).

Seperti ini dulu konsepnya. Nanti seiring berjalannya waktu, mungkin aka nada pengembangan konsep berikutnya. Sebab, petakan tanah dari founding mother ini akan saya perlihatkan ke paksu dan anak-anak. Saya penasaran bagaimana respon mereka…

#hexahouse
#hexagonia
#foundingmother
#bundaproduktif


Sabtu, 26 September 2020

Menjadi muslimah tangguh dalam setiap keadaan

09.04 0 Comments

Menjadi Muslimah Tangguh Dalam Setiap Keadaan 

Bismillah,

Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuhu

Mompreneur yang diRahmati Allah…

Sudahkah membaca berita yang sedang hangat di akhir September ini? Khususnya yang berkaitan dengan situasi ekonomi Indonesia?

Izin sy geret kesini yah satu berita yang saya maksud…’

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200922110814-4-188481/fix-ri-resesi-ramalan-ngeri-sri-mulyani-ekonomi-q3-negatif

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5183323/sri-mulyani-pastikan-ri-resesi-apa-yang-bakal-terjadi


Monggo silakan bisa dibaca dulu,


Resesi ini adalah kondisi dimana terjadi penurunan secara signifikan dalam jangka waktu yang lama, bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Lalu apa dampak dari resesi ini?

Yang sekarang sedang terlihat, terasa dan terjadi di negara kita diantaranya;

^ daya beli konsumen melemah

^ pendapatan berkurang, barang dagangan kurang laku

^ PHK terus berlanjut hari demi harinya

^ angka pengangguran meningkat tajam

^ beberapa sektor industry colaps / bangkrut,  dst


Begitupula harga barang-barang pokok justru mengalami kenaikan disaat daya beli melemah, 


Dan, boleh jadi diantara kita atau keluarga kita, tetangga, sahabat dan juga mungkin kerabat ada yang terkena dampak ini. Subhanallah, pandemic covid 19 membawa banyak hikmah dan cerita yang menarik.

Qodarullah wa masyaafa’al…

Sampai disini saya teringat seorang pengusaha muslim di New Zealand pernah berkata, “Laa haula wa laa quwwata illa billah, ketika kita bicara tentang pandemic covid ini, maka kita bisa lihat 6 bulan lalu seseorang yang sebelumnya masih seorang Billionare memiliki everything, maka hari ini Nothing, apa-apa yang hari ada, maka besok suatu saat akan tiada. Bahkan Allah Maha Kuasa melakukannya dalam sekejap ! ( Dr. Reza Abdul Jabbar, Founder Murihiku Islamic Trust)

Terkait dengan dampak dari resesi , maka ketahuilah hal tersebut memberikan banyak pelajaran dan menyadarkan kita bahwa hanya Allah yang berkuasa mengatur harga dan perekonomian, Sehebat apapun strategi bisnis seseorang jika Allah ingin buat dia bangkrut maka dia akan bangkrut dengan cara Allah.


Seperti halnya ketika para shahabat mengeluhkan naiknya harga barang, dan mereka radhiyallahu ‘anhum mendatangi Rasulullah ;

يا رسول الله غلا السعر فسعر لنا

“Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang”

Mendengar keluhan para shahabat tersebut, lantas apa jawaban Rasulullah?


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إن الله هو المسعر القابض الباسط الرازق وإني لآرجو أن ألقى الله وليس أحد منكم يطلبني بمظلمة في دم أو مال

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.” 

(HR. Ahmad 12591, Abu Daud 3451, Turmudzi 1314, Ibnu Majah 2200, dan dishahihkan Al-Albani).


Nah, apa yang bisa kita petik dari sabda Beliau Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam tersebut?

Ternyata beliau tidak menekan harga barang, namun beliau justru mengingatkan kita untuk kembali memulihkan Tauhid kita, mengingat lagi tentang keimanan terhadap taqdir dan juga salah satu asma wa shifat Allah yang Agung, 

Allah Ar-Razzaq.

Sampai disini sebagai seorang Mompreneur, yang juga memiliki peran sebagai ibu serta istri, bagaimana sikap kita menghadapi krisis yang belum tahu kapan berhentinya?

Sebagai pengingat dan penguat diri, karena saya pun adalah seorang mompreneur, ibu dan istri maka beberapa insight berikut kiranya dapat kita jadikan pegangan agar kita menjadi Muslimah yang Tangguh adalah;

 


 


1# ✅ Rezeki telah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Jatah rezeqi sudah Allah tetapkan jauh sebelum kita tercipta. Walaupun Indonesia diguncang dengan krisis moneter atau kenaikan barang, itu tidak akan mengurangi atau menambah jatah rezeqi makhluk Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā 'alallāhi rizquhā wa ya'lamu mustaqarrahā wa mustauda'ahā, kullun fī kitābim mubīn

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” – 

QS. Hud Ayat 6


Allah Ta'ala juga berfirman:

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al – Ankabut: 60).

Dua ayat tersebut diatas menerangkan kepada kita bahwa rezeqi itu  tetap an dijamin oleh Allah Azza Wa Jalla. Allah lah yang memudahkan rezeqinya akan sampai kepada makhluk, bukan karena kekuatan atau kehebatan makhluk.

Sebagaimana yang sering kita dengar kisah bahwa betapa berserah dirinya burung kecil ketika berpagi-pagi berangkat mencari makan dalam keadaan lapar, lalu malam harinya ia pulang dalam keadaan kenyang.

Begitupun dalam hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam,

أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)


2#✅ Allah mengatur pembagian Rezeqi (Allah Al-Basith, Allah Yang Maha Melapangkan)

Rezeqi itu tersebar di langit dan bumi. Banyak sedikitnya tentu terserah Allah yang memberi dan mengatur pembagiannya. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Qs. As-Syura : 27;

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 27)


Ibnu Katsir mengatakan,

أي: ولكن يرزقهم من الرزق ما يختاره مما فيه صلاحهم، وهو أعلم بذلك فيغني من يستحق الغنى، ويفقر من يستحق الفقر.

“Maksud ayat, Allah memberi rezeki mereka sesuai dengan apa yang Allah pilihkan, yang mengandung maslahat bagi mereka. Dan Allah Maha Tahu hal itu, sehingga Allah memberikan kekayaan kepada orang yang layak untuk kaya, dan Allah menjadikan miskin sebagian orang yang layak untuk miskin.” (Tafsir Alquran al-Adzim, 7/206)


Untuk itu, perihal pembagian rezeqi ini beserta kadarnya adalah hak prerogratif Allah. Ketika kita miskin, bukan berarti Allah menghinakan kita, ataupun sebaliknya ketika kita diberi kelimpahan harta bukan berarti Allah memuliakan kita. Sebagai mompreneur, saat jualan sedang sepi sehingga omset menurun janganlah merasa rezeqi sedang seret atau telat. Karena, …

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)


Hadits diatas menjelaskan bahwa rezeki kita semua telah dijamin oleh Allah, tidak ada satu orangpun yang tidak mendapatkan rezeki yang telah ditetapkan untuknya, dan dia tidak akan menemui ajalnya kecuali ketika dirinya telah menikmati semua rezekinya. Oleh karenanya, dalam hadits tersebut Rasulullah ﷺ mengajak kita untuk fokus pada ketaqwaan dan halal-haramnya harta kita.

 

3# ✅ Penghalang rezeki bukan pandemi tapi maksiat

Pandemi atau tidak pandemi tidak akan merubah keadaan bahwa Dzat yang memberikan rezeki adalah Allah. Allah lah pemberi rezeki baik di masa normal atau di masa pandemi. Sehingga satu-satunya hal yang bisa menghalangi rezeki adalah kedurhakaan kita kepada Ar-Rozzaq, Dzat yang memberikan rezeki. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagi dari permasalahannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

(QS. Ath Thalaq : 2 – 3).

 


4# ✅ Istighfar sebagai ikhtiar pembuka dan kemudahan rezeqi serta turunnya hujan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)


“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Atsar dari Hasan Al Bashri rahimahullah berikut ini menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa,

أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة

“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian setelah itu Al Hasan Al Bashri membacakan surat Nuh di atas. (Riwayat ini disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari, 11: 98)


Saudaraku Mompreneur yang di cintai Allah,

Dimasa silam, ketika kenaikan harga pangan juga terjadi, seorang Salafush Shalih berkata;

والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني

“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”

Perkataan salaf tersebut sangat relevan dengan firman Allah ﷻ dalam Qs. Adz-Dzariyat,

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan yang Sangat Kokoh.

(QS. Adz – Dzariyat: 56 – 58).

 

5# ✅ Tawakkal, berserah diri kepada Allah adalah sebab mudahnya meraih rizqi.

Ketika hati telah meyakini bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang memberikan rezeki, maka tumbuhlah tawakkal dalam diri. Apa itu tawakkal?

Maka izinkan saya mengambil tulisan al-Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله (bimbinganislam.com)

Tawakkal adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah di setiap keadaan

(referensi: https://binbaz.org.sa/fatwas/17306/حقيقة-التوكل-على-الله). 

Tawakkal merupakan ibadah hati yang harus dijalanan oleh setiap insan yang beriman.


Allah ﷻ berfirman:

Dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal (QS. At – Taubah :51).


Namun, tawakkal bukan berarti bermalas-malasan dan tidak mengambil sebab dalam menggapai tujuan, bahkan para ulama menjelaskan bahwa mengambil sebab merupakan syarat sahnya tawakkal dalam hati. Karena orang yang bersandar kepada Allah maka dia akan melakukan sesuatu yang Allah perintahkan dan akan berjalan di atas ketetapan Allah. Allah ﷻ telah menetapkan perjalanan dunia ini dengan sebab-sebabnya. 


Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah-


Dua jenis orang yang mengaku bertawakal, namun hakikat tawakalnya salah

Begitu pula tidak boleh bagi seseorang untuk bersandar kepada sebab dan menjadikan sebab segalanya. Orang-orang seperti ini tidak lagi bersandar kepada Allah dan mereka tidak meyakini bahwa Allah lah yang menggerakkan sebab-sebab itu terjadi.

Sehingga, ada dua kelompok orang yang salah dalam masalah tawakkal:

1.Orang yang merasa dirinya bertawakkal, lalu tidak mau mengambil sebab. Orang – orang ini adalah orang yang tertipu, dan mengingkari ayat-ayat Allah yang mengharuskan mengambil sebab.

2.Orang yang terlalu bergantung kepada sebab, sehingga lupa bahwa Allah lah yang menetapkan segala sesuatu. Orang yang seperti ini bisa jatuh kepada kesyirikan.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

Seorang hamba wajib menyandarkan hatinya hanya kepada Allah ﷻ, bukan kepada sebab. Allah yang memudahkannya menjalankan sebab yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.

(Majmu’ fatawa: 8/528).


Sedangkan Ahlusunnah mengatakan bahwa kita harus mengikuti ketetapan Allah dan mengambil sebab yang Allah tetapkan akan tetapi hati tetap harus bergantung dan bersandar kepada Allah bukan kepada sebab.

 


Saudariku Muslimahpreneur yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Tawakkal merupakan sebab mudahnya seseorang mencari rezki. 

Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:

Kalaulah kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar – benarnya tawakkal, maka kalian akan diberikan rezeki seperti halnya seekor burung. Burung tersebut pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang. (HR. Tirmidzy : 2344).


Alhafizh Ibnu Hajar berkata:

Hadits Umar ini menunjukkan bahwa manusia mendapatkan hukuman disebabkan kurangnya pengaplikasian tawakkal dalam diri. Dan mereka terlalu bergantung dan merasa tenang dengan sebab-sebab yang zhohir, sehingga mereka berletih-letih dalam mengambil sebab, dan mengerahkan segala sesuatu yang mereka miliki, namun mereka hanya mendapatkan apa yang telah ditetapkan untuk mereka.

Kalaulah mereka benar – benar mengaplikasikan tawakkal dalam hati mereka, maka Allah yang akan membawakan rezeki kepada mereka walaupun hanya dengan sebab yang remeh, sebagaimana Allah membawakan rezeki kepada seekor burung hanya dengan terbang di waktu pagi dan pulang di sore hari, itu memang sebuah usaha dalam mencari rezeki, namun usaha yang ringan.

(Jami’ul Ulum walhikam : 2/321).


Baarokallahu fiikunna,

Tetap semangat, tetap sehat, tetap afiat

/Lina Ibune Azzam/


Senin, 21 September 2020

Cara Mudah Anak Menghafal Al Quran Di Rumah

10.20 0 Comments

 

cara mudah anak menghafal al quran di rumah aja

Cara Mudah Anak Menghafal Al Quran Di Rumah 

Sabtu sore kemarin, alhamdulillah disempatkan untuk menyimak sebuah webinar parenting. Judulnya keren banget, Cara Mudah Anak-anak Menghafal Al Quran Di Rumah Aja. Hihihihi kebayang yah, dari judul aja udah menarik banget. Dan, webinar ini dibawakan oleh seorang ayah muda pengampu parenting “ta’lim anak As-Sunnah”, beliau adalah kak Erlan Iskandar. Wuihhh salut deh pokoknya, masyaaAllah saat ini beliau baru dikaruniai 1 orang putra dengan usia 3 tahun namun udah concern di dunia parenting. Dan, memang sepatutnya beginilah orang tua muda, hendaknya sudah menghiasi dirinya dengan amalan selayaknya amalan orang tua. Sebab, ketika kita dikaruniai buah hati tentu ada maksud Allah disana, ada amanah dan tugas yang harus kita tunaikan dan kelak dipertanggung jawabkan.

Nah, kali ini saya ingin berbagi resume webinar nya, dengan beberapa catatan tambahan dari Ibune Azzam. Harapannya semoga ada manfaat dan menambah semangat kita mengusahakan generasi penghafal Al Quran.

Bismillah,

Ayah Bunda yang di Rahmati Allah…

Hendaknya sebelum kita melangkah ke dalam upaya mengajarkan Al Quran pada Ananda, maka penting sekali untuk memahami pijakannya.

Menghafal bukan sekadar kemampuan mengingat dan menyampaikannya dengan lisan semata. Namun, lebih utama dari sekadar hafalan.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ
Itulah mengapa dalam Al Quran, Allah mengatakan "mengapa kalian tidak mentadabburi Al Qur'an?" -Qs.47:24- Bukan "Mengapa kalian tidak menghafalkan Al Qur'an?"

Pijakan Impian Memiliki Anak Penghafal Al Quran

Maka,apakah pijakan yang perlu menjadi ikhtiar kita sebagai orang tua?


1. Orang tua pun harus belajar dan paham tujuan

Qs. At-Tahrim : 6 sudah menjadi alasan kita untuk turut andil dalam kontribusi mendidik anak. Beban pendidikannya bukan di pundak guru-guru mereka di sekolah, tapi sejatinya hal tersebut menjadi tanggung jawab kita. Karena itulah orang tua pun hendaknya harus belajar dan memberikan keteladanan. Belajarlah tentang Al Quran. Perbaiki bacaannya dan juga penuhi hak-hak huruf Al Quran sesuai makharijul huruf (tempat keluar huruf). Lanjut dengan menyempurnakan tajwidnya.

Paham Tujuan. Untuk apa sih anak-anak menghafal Al Quran? Ini menjadi renungan terdalam kita ketika kita ingin anak-anak menghafal Al Quran. Untuk siapa mereka menghafal Al Quran. Untuk tujuan duniakah atau akhirat.

Maka berkata Syaikh Muhammad adalah tujuan utama menghafal Al Quran itu adalah untuk mengenal Allah Ta’ala, mengenal Allah melalui Al Quran dan makhluk-mahkluk Nya.

2. Niat, luruskan niat lilahi ta’ala

Teringat nasehat Ustadz Aris Munandar hafizhahullah ketika beliau mengingatkan para santri di pesantren anak kami, bahwasanya sebelum menerima ilmu maka yang perlu dipersiapkan adalah wadah. Wadah ilmu itu adalah hati, maka kebersihan dan kesucian hati sangatlah dibutuhkan. Sebab Ilmu Allah hanya akan sampai pada hati-hati manusia yang bersih. Yaitu ikhlas. Ikhlas karena mengharapkan wajah dan keridhoan Allah saja.

3. Keteladanan

Ingat karakter anak-anak, mereka tidak akan pernah salah meniru

"They learn what they see. They act what they get"
Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, dan mereka berperilaku seperti mereka diperlakukan.

Ketika anak melihat kita berinteraksi dengan Al Quran, maka mereka pun akan meniru. Walapun saat itu kita perlu berjuang dengan ekstra, termasuk kecepatan menghafal kita yang pastinya kalah cepat dari anak-anak.

Jangan lakukan hal ini,

anak disuruh baca Al Qur'an, orangtua baca WA

anak disuruh menghafal Al Qur'an, orangtua buka Instagram

Inti dari sebuah upaya pengasuhan anak adalah 2 hal ini keteladanan dan pertolongan Allah Azza Wa Jalla.

 
Hal yang kadang terlupa, yaitu:

Membangunkan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah Ta'ala, karena itu merupakan pondasi iman dan pokok segala ibadah.


عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا »

Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)


Tipsnya :

·         Ciptakan atsmosfer bumi Al Quran yang menyenangkan
·         Beri apresiasi dan reward saat target hafalan tercapai misalnya
·         Berikan hak anak ketika ia menjadi Ahlu Quran, jika ia anak laki-laki maka sangat pas di masa pandemic begini ketika sholat pun terpaksa harus di rumah, maka beri kesempatan Ananda untuk menjadi Imam Sholat
·         Beri doa keberkahan Ananda, mohonkan kemudahan baginya untuk menghafal Al Quran


Fase Mengenalkan Al Quran

1. Fase Persiapan. Diawali dengan mencari calon pendamping yang juga memiliki kesamaan visi misi cinta Al-Qur'an, diutamakan yang memiliki bekal menguasai Al Quran. Karena, pasangan suami istri ini nantinya yang akan sengkuyungan dan saling mengutkan ikhtiar memiliki anak penghafal Al Quran.

2. Fase Awal Kehidupan Anak (Janin)

Syaikh An Nutbusyi "Ibu hamil yang membiasakan memperdengarkan Al Quran kepada janinnya akan melahirkan anak yang hatinya terpaut dengan Al Quran”

3. Fase Persiapan (Usia kanak-kanak, 0-2 th)

Saat usia tersebut  seluruh indranya belum sempurna kecuali kecuali pendengarannya.

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs. An Nahl : 78)

Pada fase ini metode yang dilakukan adalah dengan MENTASMI dan MENTALAQI ==> Memperdengarkan bacaan Al Qur'an langsung dari lisan kita.


3. Fase Ghulam (2 - 7th)

Penglihatan sudah baik. Anak-anak mulai mengobservasi, sehingga keteladanan orangtua sangat penting.

Pada fase ini sudah diperbolehkan mengajarkan Al Qur'an.

Sebagaimana Sufyan Ats Tsauri belajar Al Qur'an pada usia 4th, "Aku membaca Al Qur'an  ketika 4th dan menulis hadits saat usia 7th".

Kombinasi metode tasmi, talqi dan iqro’ diperlukan. Mulai dibuatkan program hafalan. Mulai dari surah termudah

 

5. Fase Mumayyiz (7-10 thn)

Pemahaman mereka sudah terbentuk dan cenderung sudah mulai kooperatif, sehingga program hafalan sudah mulai dijalankan secara intensif, namun tetap dikemas mudah dan menyenangkan. Fokus utama tentu pada tahsinnya dahulu. Tidak memberi beban diluar kesanggupannya. Sedikit (porsi kecil) namun rutin insyaAllah menjadi kunci keberhasilan pada fase ini.

Dilakukan bersama anak dan orang tua pun akan lebih menyenangkan ketimbang hafalan itu menjadi kewajiban buat anak. Sambil senantiasa menanamkan rasa roja’ (berharap/bersandar) pada kemudahan dan kuasa Allah saja.

Shahabat  Ustman, Ibnu Mas'ud menghafal per 10 ayat,

Abul Musa menghafal per 5 ayat

Abu Bakar Bin Ayyas per 1 ayat.

Yg penting Istiqomah ==> Alloh Ta'ala mencintai amalan walau sedikit tetapi terus menerus (istiqomah).

 

6. Fase Syabab (10 thn sampai Baligh).

♡ Ditanamkan rasa khauf kepada Alloh Ta'ala.

♡ Punishment/hukuman --> Bila target hafalan tdk tercapai.

♡ Bisa dipertegas.

♡ Anak ditingkatkan Tadabbur Quran ==> Baca Tafsir Qur'an bersama-sama.

 

Sesi Tanya Jawab:

1. Kapan waktu yang tepat untuk anak-anak menghafal.

Metode teknis tiap anak berbeda-beda. Ada dominan visual, audio atau kinestatis.

Waktu terbaik itu Subuh (Waktu yg diberkahi Allah), Ashar atau Maghrib.

Pilih waktu dimana anak-anak sedang riang, tidak capek dan lapar.

 

Metode Tiqrar (Mengulang ayat)

misal 1 ayat 20x pengulangan, lanjyt ayat ke 2 dengan 20x pemgulangan, bila sudah hafal kembali ke ayat 1 digabung dengan ayat 2 kembali diylang 20x pengulangan.

 

Ahsani pemenang Hafiz Indonesia

: setiap subuh Audio murottal 1/4 juz diulang 3x, selama 1 jam. selama 5 hari ==> Tugasnya mendengarkan dan menunjuk mushaf.

Senin sampai Jum'at.  Jumat siang setoran.

sabtu ahad muroja'ah hafalan yang sudah dituntaskan.

Pekan kedepannya lanjut halaman berikutnya.

 

2. Jika anak bertanya mengapa anak-anak disuruh menghafal Al-Qur'an tetapi ayah bunda belum menghafal Al-Qur'an.

Jawab:  Nak, Ayah bunda juga sedang berusaha menghafal Al-Qur'an. Yuk menghafal bareng-bareng. Dan keutamaan mempelajari Alquran, mendapatkan balasan dari Allah berupa surga.

3. Bagaimana orang tua yg belum mengetahui Ilmu Al-Qur'an: Hendaknya mendatangi guru yang berkompeten untuk mengajarkannya Al Quran.



Sebagai akhir dari tulisan ini saya berdoa dan mendoakan teman-teman juga, semoga Allah karuniakan kita anak yang hamiilul qur'an, anak yang sholih/ah yang mencintai Al Quran, membawa dan menghiasi diri mereka dengan Al Quran. Ammin ya Rabbal Alamiin

Allahul Musta'an
/Lina Ibune Azzam/

Rabu, 16 September 2020

Panduan Anak Masuk Pesantren Ketika Masa Pandemi

23.44 0 Comments

Bismillah,

Apakah ayah atau bunda sedang menimbang Ananda masuk pesantren?

Jika dalam suasana normal mungkin proses menimbang ini tidak terlalu menyedot energi yah, beda dengan situasi saat ini, dimana status pandemik belum juga berakhir. Qodarullah wa masyaafa’al.

Sebagai orang tua, saya sangat memahami kerisauan bunda, sebab kita diperhadapkan pada hal yang sama-sama penting bagi kehidupan Ananda. Namun, sepanjang pihak pondok patuh dan mampu menjaga ketertiban protokol kesehatan era pandemik, maka sependek pemahaman saya mengembalikan Ananda untuk “tholabul ‘ilm” menjadi prioritas pertama. Sebab, anak-anak kita butuh lingkungan yang mendukung ketakwaannya, anak kita membutuhkan pembinaan dari asatidz secara langsung. Yang sejatinya, pilihan "memondokkan" ananda ini adalah kebutuhan kami sekeluarga.

Panduan Anak Masuk Pesantren Ketika Masa Pandemi

Alhamdulillah per Juli 2020 kemarin, anak sulung saya sudah mondok kembali. Sepanjang dua bulan terakhir ini, insyaAllah dari pihak pondok pun sangat komunikatif perihal protokol kesehatan ini. Sehingga, kami sebagai orang tua meyakinkan diri untuk percaya dan kooperatif bersama pihak pondok untuk sama-sama saling menjaga atsmosfer sehat.

anak masuk pondok
Ayah dan Azzam saat pelepasan 


anak masuk pondok
Ibu, baby A dan Azzam


Dalam kesempatan (tulisan saya) ini, saya ingin membagikan beberapa catatan pribadi terkait awal-awal melepas Ananda kembali nyantri.

Hadist Kewajiban Menuntut Ilmu

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim”