Follow Me @linaibuneazzam

Selasa, 24 Juni 2025

Anak pondok, anak buangan?

20.20 0 Comments

 Gemez dgn obrolan sore kemarin, 

Ibu : "kak Aisy besok klo dah masuk (pondok) yang ramah ama temen2 baru yah? Diajak kenalan duluan, gak usah nunggu disapa. Ada yang jauh-jauh dari papua, lombok, makassar juga"

Aisy : "iya bu insyaAllah. Tahu gak buk? Di kelasku yg masuk pondok cuman aku, yg lainnya ke Spansa". (SMP 1 deket sini maksudnya). 

Ibu : "ya gpp, itukan pilihan... Semua berhak sekolah dimana aja. Di SMP juga bagus, MTs juga bagus, mau mondok juga bagus... Asal niatnya menuntut ilmu karena Allah, disesuaikan juga dgn minatnya." 

Aisy : "tapi buk.... (auto menunduk) temen-temenku bilang pada gak mau mondok, karena kayak anak dibuang. Mereka pilihannya klo gak diterima di Spansa, mau ke PG (smp swasta)."

( berhenti dulu dari oncek bawang, lalu menatap lembut mata putriku yang masyaaAllah indah sekali)

Ibu : "kalo kakak Aisy gimana perasaanmu nak? apakah seperti itu juga?"

(ibu mencoba memvalidasi suara hatinya)

Aisy : ''aku biasa aja, gak kayak mereka."

Ibu : ''mmm...tapi apa kakak mengerti kenapa lulus SD ini lanjut ke W****A?,...... artinya walaupun itu pilihan ibu, tapi aisy juga boleh punya pilihan lain?!''

Aisy : ''iya gpp, aku juga mau kok mondok di W*****A. Cuma teman-teman di kelas kayak gimana gitu tahu klo kakak masuk pondok"

Ibu : ''apa yang ada di benak teman-temanmu, kira-kira?''

Aisy : ''mereka ngertinya klo lulus yo lanjut SMP, makanya mendaftar ke SMP-SMP negeri dulu, klo gak keterima baru ke SMP swasta, kalo gak keterima juga baru masuk pondok"

-------- ibu mulai menerka kearah mana pembicaraan ini ---------------

akhirnya, oncek bawang tertunda dulu, penting banget untuk memfollow up apa yang sedang Aisy pikirkan dan rasakan. Urusan nyate, nongseng dipikir keri...

Anak pondok, anak buangan?

Tulisan judul dalam postingan blog ini mungkin terkesan subjektif (bahkan mengandung unsur tuduhan yang gak berdasar) tergantung bagaimana konteks dan intonasi saat membacanya. Atau mungkin beneran bertanya mencari faktanya seperti apa. Namun dalam beberapa kasus, hal ini bisa benar.


Terlepas dari itu semua, sebagai wali santri saya tidak sepakat dengan judul tersebut. Saya punya cerita di masa lalu, memang benar adanya bahwa "menyekolahkan" anak ke pesantren (di zaman saya sekolah dulu) bukanlah pilihan utama. Orang tua ku sendiri juga gak melirik pesantren sebagai model pendidikan untuk anak-anaknya. Salah satu penyebabnya ya karena dalam sejarah keluarga kami sebelumnya tidak ada satupun anggota keluarga yang mengenyam pendidikan di pesantren. 


Mungkin stereotip yang terbangun kala itu, pesantren hanyalah pilihan terakhir (atau malah gak jadi pilihan) diatas pilihan sekolah-sekolah umum dan kejuruan. Atau juga terkadang ada sebagian orang tua yang menjadikan pondok pesantren sebagai ''ancaman'' bagi anak-anak tertentu yang sudah membuat kepala orang tuanya cenat-cenut karena tingkah polah mereka.


Maka muncullah kalimat, ''kamu kalo gak mau belajar yang bener, bunda masukin pondok loh...!", "kalo gak lulus di SMP/SMA favorit ayah bakalan daftarin pesantren aja, biar dapat pembinaan disana..."


Ya begitulah kurang lebih, yang bagiku lebih mirip kalimat mengancam/intimidasi.


Alhasil, anak-anak akan mempersepsikan bahwa pondok pesantren itu sekolahnya para murid yang bermasalah, para murid yang tidak layak mendapat pendidikan bonafid, para murid yang pantas ''dibuang'' ke dalam lembaga pembinaan karakter bernama pondok pesantren.


Boleh jadi, justru kitalah para orang tua yang membingkai pondok pesantren dengan bingkai yang menyeramkan dan tidak  menyenangkan, boleh jadi karena ulah kita para orang tua yang tak sengaja jatuh ke dalam dosa ''memfitnah'' kepada pondok pesantren secara umum.


Jika memang demikian adanya, segera istighfar duhai ayah bunda...


Kamis, 28 September 2023

Catatan kecil dalam kegiatan merti desa

06.19 0 Comments

 CATATAN KECIL DALAM MERTI DESA

https://www.instagram.com/reel/Cxk0xuSSngD/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Mendamaikan realita dan asa

Sejak 2017 saya stay di bumi Ngayogyakarta Hadiningrat baru tahun ini 2023 ikut berpartisipasi sebagai peserta dalam merti dusun/desa. Alhamdulillah, ahad pon kemarin 24 September 2023 sebagai keikutsertaan untuk pertama kalinya sebagai perwakilan dari Jama’ah Masjid Baiturrohmaan.

Kami Bersama tim Muslimah dan adik-adik santri TPA SABA (Santri Baiturrohmaan) meniatkan partisipasi ini mampu memberi warna baik bagi kehidupan bermasyarakat di kapanewon Panjatan ini.

Sebab menebar kebaikan itu artinya bersedia ‘’srawung’’ dengan warga, berinteraksi secara santun bersama mereka, menggali apa keinginannya, menangkap rasa yang mungkin sulit terungkap dan memfasilitasi kebutuhan mereka.

Namun ya srawung ini tentu menjadi hal yang menantang, apalagi jika pijakan nilai ada perbedaan. Seni berinteraksi sangat diperlukan dalam kondisi seperti ini pastinya. Agar harmoni tetap terjaga.

Alhamdulillah merti desa telah berlalu, namun masih meninggalkan beberapa catatan. Semoga catatan ini bisa menjadi bahan muhasabah bagi siapa saja yang merindukan perubahan kearah kebaikan.

1️⃣ Qimatul ‘amal ( tujuan nilai dari sebuah amal perbuatan)

Setiap manusia yang beraktivitas ( baca : beramal) tentu memiliki qimah. Dalam agama Islam, kita diajarkan untuk menancapkan qimah ini karena dan untuk Allah Sang Pencipta. 

إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan menurut informasi yang kami dengar dan kami baca disini, merti desa/dusun ini diadakan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas segala karunia yang telah diberikan Sang Pencipta.  

Rasa aman, panen/rezeki melimpah, ketentraman, dan keselarasan hidup yang tercipta diatas Buminya Allah. Nikmat berharga itu sudah sepatutnya untuk senantiasa disyukuri. Maka sangat lazim ditemui tradisi merti desa seperti ini dimanapun, bahkan dilestarikan secara turun temurun.

Sampai disini insyaaAllah semua akan aman, namun merti desa/dusun akan mulai menjadi kegiatan yang tidak perlu dilestarikan apabila dalam perspektif agama Islam bertolak belakang dengan aturan-aturan syariat.

 

2️⃣ Posisi budaya dalam agama.

Budaya itu bukan agama, dan budaya tidak dapat menggeser agama. 

Dahoeloe orang arab jahiliyah (sebelum mengenal dakwah Islam) memiliki budaya dan adat istiadat yang baik, dan setelah Islam turun masih tetap dipertahankan (selama tidak menyelisihi nilai-nilai islam). Contohnya memuliakan tamu, solidaritas warga (membela ketika ada yang didzolimi), keberanian.

Jika dibawa ke dalam kearifan lokal di negeri kita, maka budaya memberi makan, kebersamaan (guyub), saling perhatian, tepa seliro, rukun, gotong royong adalah nilai-nilai budaya yang juga patut dijaga. 

Poinnya selama budaya tersebut tidak menyelisihi nilai agama, silakan dilestarikan. 


Namun jika budaya tersebut ada yang bertentangan dengan syariat, maka harus ditinggalkan. Contohnya kesyirikan, khurafat, sesajen (biasa ditemukan di kuburan leluhur, tempat-tempat mistis / sumur tua/pohon keramat dll. Amalan-amalan ini oleh para ulama menyebutnya perbuatan keji.

‘’Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah, "Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh berbuat keji. Mengapa kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (Qs. Al A’rof: 28)

Perbuatan keji diatas itu barangkali memang tidak merugikan manusia lainnya, namun sesungguhnya ia adalah bentuk kedzoliman kepada hak Allah. Beralasan sebagai kearifan lokal dan warisan simbah leluhur bukanlah alasan yang dapat diterima secara syar’i.

Sehingga, kita sebagai generasi intelek di akhir zaman ini semestinya bisa lebih cerdas menakar hal tersebut.


3️⃣ False Celebration

False celebration adalah cara asik untuk merenungi sebuah kesalahan/kekeliruan. 

Bikin klustering hal-hal yang sudah baik dan hal-hal yang perlu diperbaiki. Dengan begitu kita akan fokus pada faktor kebaikan apa yang tetap dilestarikan dan yang akan dibenahi kedepannya. 

Misalnya, 

^ yang sudah baik : menyapa masyarakat dengan keramahan ✅

^ yang perlu diperbaiki : susunan acara merti sebaiknya tidak menabrak jam sholat, ❎ 

opsi solusi : ada break ishoma (istrahat-sholat-makan).


Sekiranya demikian catatan kecil seputar Merti Desa/Dusun, teriring do’a semoga negeri kita, 🇮🇩 Indonesia menjadi negeri yang baldatun thoyyibah wa robbun ghofuur ( negeri yang diberi kelimpahan kebaikan alamnya dan kebaikan akhlak masyarakatnya ).


Salam kebaikan,


Lina Ibune Azzam

Dari Masjid Baiturrohmaan Untuk Masyarakat Cerme Panjatan




Sabtu, 08 Oktober 2022

Catatan Seminar Keluarga Pembaharu 2022

19.06 0 Comments

KELUARGA PEMBAHARU, TINGKATKAN KUALITAS KELUARGA INDONESIA


Begitu judul seminar yang kami ikuti pada Kamis, 6 Oktober 2022 tempo hari. Saya, mbak Eva Syarifah serta puluhan peserta dari beragam komunitas/instansi memenuhi undangan dari Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemkab DIY.

Alhamdulillah, saya dan mbak Eva diberikan kesempatan oleh Ibu Septi untuk mewakili Institut Ibu Profesional. Event ini merupakan sinergi antara Kementrian PPPA dengan berbagai stakeholder salah satunya ASHOKA yang mengusung Gerakan Keluarga Pembaharu (GAHARU). Dimana tujuan dari seminar ini diharapkan dapat memantik lahirnya keluarga-keluarga pembaharu dalam upaya mengimplementasikan Peraturan Menteri PPPA Nomor 7 Tahun 2022 tentang Peningkatan Kualitas Keluarga dalam Pembangunan.

Tulisan ini hanya sekedar impressi, tentu rasa yang diterima atau dirasakan setiap peserta dalam seminar ini akan berbeda-beda. Saya tulis disini spesial buat sahabat seperjuangan di Ekosistem Ibu Pembaharu, semoga dapat dinikmati dengan lahap dan menyenangkan. 

  

foto pasca seminar, wajah lelah bin ngantuk

Seneng banget dan sangat bersyukur atas kesempatan ini. Bagaimana tidak, ini adalah kesempatan langka yang belum tentu kelak menyapa. Sementara terpantau 3 daerah yang menyelenggarakan seminar ini, yaitu Surabaya, Yogyakarta dan Lampung. Semoga kedepan bisa lebih merata hingga ke kota-kota lain se Indonesia Raya. 


Sebab, seperti yang disampaikan oleh ibu Erlina Hidayati Sumardi, S.IP.,MM (Kepala DP3AP2DIY) di awal pembukaan seminar, beliau mengatakan bahwasanya keluarga adalah unit terkecil dalam bangsa, sehingga sangat urgent mewujudkan keluarga berkualitas dalam upaya membangun bangsa yang besar dan jaya.

Disini poin yang saya tangkap adalah, untuk melihat kualitas suatu bangsa maka mari kita lihat kondisi keluarga-keluarga dalam bangsa itu. Mereka adalah cerminan bangsanya. 

Sebagaimana perkataan seorang ulama yang bernama Ibnu Khaldun,

Negara itu kuat atau hancur sesuai dengan kondisi keluarga di negara itu

 

Ki-Ka (Peserta Seminar, kak Rina Fasilitator ASHOKA, pak Cahyadi, pak Nur Hasyim, ibu Eko Moderator, bu Nani Direktur ASHOKA Asia Tenggara, pak Priyadi, ibu Erlina)

      


Ibu Erlina juga memaparkan berbagai permasalahan-permasalahan keluarga di DIY, diantaranya pengasuhan yang tidak layak, tingginya angka perokok pemula, penggunaan narkoba di kalangan pelajar, kehamilan yang tidak diinginkan, anak kecanduan gadget, kekerasan terhadap anak dan perempuan, perceraian dst.


Alhamdulillah, beruntungnya kami di Ibu Profesional sudah dibiasakan menghadapi berbagai masalah, bahkan diberi tahu kunci awal sebagai pembuka pintu solusi, yakni dengan mengubah cara pandang, MASALAH menjadi TANTANGAN. Nampaknya sederhana, namun itu beneran powerfull banget membuat kita menjadi pribadi yang gak suka ngeluh, dikit-dikit ngeluh, yang akhirnya bikin ide kreatif menjadi beku.

Dengan mindset yang demikian (ubah MASALAH jadi TANTANGAN) akhirnya akan menstimulus kerja otak dan hati bersinergi harmonis lewat proses empati-aksi-solusi (dengan formula lingkar mekar). Ini bocoran strategi yang kami dapatkan di meja belajar bersama Ibu Septi. MasyaaAllah yah, Ibu Profesional memang rezeki nomplok. 


Balik lagi ke cerita seminar, disana ada 3 pembicara yang kemudian secara bergantian menyampaikan materinya dalam sesi diskusi interaktif keluarga pembaharu;

1. Prijadi Santosa, KemenPPPA

2. Nani Zulminarni, Direktur ASHOKA Regional Asia Tenggara

3. Cahyadi Takariawan, Founder Jogja Family Center

Mari kita tengok catatan bu Lina dari ketiga pembicara tersebut, mungkin nantinya gak lengkap, ya pastilah, kami aja butuh seminar sehari untuk khatam. Jika temen-temen penasaran, nanti bisa kontak saya secara langsung untuk mendapatkan salinan materi presentasi. 

Nah, disini saya mencatat poin-poin utama yang tertangkap oleh radar saya (maklum kadang-kadang ada distraksi dikit karena sambil monitoring bebi dan balita di rumah via handphone).

---------------------------------~

1. Prijadi Santosa dari KemenPPPA, di awal presentasi beliau menjelaskan tentang 

Renstra Kemen PPPA 2020-2024

Renstra Kemen PPPA 2020-2024, dengan 7 agenda pembangunan. Dan tujuan mewujudkan keluarga berkualitas ini masuk dalam urutan agenda ketiga yaitu, SDM Berkualitas dan Berdaya Saing. Yang selanjutnya berdasarkan arahan Presiden untuk Kemen PPPA menjadi target rencana dalam 5 hal;
1. Peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan
2. Peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak ( ssst... ini pendapat pribadi yah, kok yang dimention hanya peran ibu dan keluarga? ayahnya gak ditulis kah? kan semestinya biar afdhol disitu berbunyi "peningkatan peran ayah dan ibu serta keluarga ...." )
3. Penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak
4. Penurunan pekerja anak
5. Pencegahan perkawinan anak


Nah, setelah menjelaskan renstra diatas selanjutnya beliau memaparkan berbagai regulasi-regulasi yang sudah disusun termasuk kewenangan dan variable IKK (indeks kualitas keluarga). Simplenya, keluarga yang berkualitas menurut pemerintah itu dapat diukur dengan variable IKK dalam 5 dimensi;
Dimensi 1, Legalitas dan Struktur
Dimensi 2, Ketahanan Fisik
Dimensi 3, Ketahanan Ekonomi
Dimensi 4, Ketahanan Sosial Psikologi
Dimensi 5, Ketahanan Sosial Budaya

Seperti apa variablenya? temen-temen boleh tengok gambar berikut;

Indeks Kualitas Keluarga

Next, inilah pembicara yang saya nanti-nanti.

2. Nani Zulminarni

Beliau Ashoka Fellow tahun 2007 

Ibu Nani

Beliau menjelaskan bagaimana para fellow Ashoka memaknai sebuah perubahan dalam definisi,
A changemaker adalah seseorang yang menyadari dan memahami realitas baru, melakukan aksi, dan berkolaborasi dengan yang lain untuk membawa perubahan bagi kebaikan semua
Wiiih, keren yah masyaaAllah...


Kemudian ibu Nani melanjutkan bahwa setiap orang itu bisa menjadi pembawa perubahan, istilahnya mah "Everyone a changemaker". Terkait dengan barisan masalah atau problematika keluarga di negara kita ini, maka setelah diurai ternyata lokus problemnya itu ada di keluarga. Senada dengan penjelasan di awal oleh ibu Erlina. 

Alhamdulillahnya, pemerintah sangat supportif terhadap gagasan perubahan ini sehingga kemudian berkumpulnya kita dalam forum seminar ini adalah bagian dari ikhtiar menemukan solusi. Dimulai dengan elaborasi konsep, hingga sharing atau lesson learning dari pihak-pihak yang concern (pegiat keluarga).

Kemudian ibu Nani melanjutkan bagaimana konsep perubahan ala Ashoka, tahapan perubahan sistemik, pendekatan yang dipakai hingga kerangka gerakan pembaharu (gaharu) keluarga. 

Keterampilan Inovator Sosial
Perubahan Sistemik


Pendekatan
Kerangka Gerakan GAHARU


MasyaAllah kebayang indahnya bila setiap keluarga menjadi keluarga pembaharu. Sebagai kaum ibu, kami di Institut Ibu Profesional dianjurkan untuk memberi ruang bertumbuh dan mendukung penuh bagi setiap pembawa perubahan. Sekecil apapun aksinya.

Asasnya, ibunya dahulu yang harus memulai. Jika ibunya selalu berpikir menjadi orang pembaharu maka lahir generasi PEMBAHARU MUDA.

👏👏👏
Sesi Bu Nani ditutup dengan tepuk tangan bangga dari seluruh pendengar di ruang seminar. 

Selanjutnya, pembicara ketiga juga merupakan pembicara favorit dalam seminar ini.

3. Cahyadi Takariawan, Gender Champion DIY 2021

Beliau mengajak kami untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda dari stereotip keluarga di masyarakat kita. 

Stereotip yang jamak tersebut bahwasanya tugas domestik itu adalah kewajiban istri. Namun, dalam perspektif Islam justru hal tersebut merupakan kewajiban suami.

Bpk Cahyadi menjelaskan dengan sangat tenang dan terang

Pak Cahyadi juga kembali mengingatkan peserta tentang akad nikah dalam Islam itu esensinya adalah untuk menghalalkan farji (kesucian perempuan), dalam arti bahwa tujuan dari pernikahan bila diperas dari berbagai tujuan maka esensinya akan berujung pada menghalalkan hubungan (intim) suami istri. Sehingga, dari sini dipahami bahwa tugas utama seorang istri adalah memberikan pelayanan syahwat dengan niat ibadah (pendamping suami) yang mana nantinya disebut sebagai fungsi reproduksi.

Lalu ketika sang istri ini menunaikan kewajibannya dengan baik, dan Sang Pencipta karuniakan amanah mungil dalam rahimnya maka tugasnya bertambah menjadi pendidik anak (al umm madrasatul ula).

Kita dapat simpulkan bahwa tugas asal seorang perempuan yang telah menikah ada 2;

1. Sebagai pendamping suami (fungsi reproduksi)

2. Pendidik anak (fungsi edukasi)

Pembagian peran rumah tangga (pendapat mahzab  Hanafiyah & Malikiyah)

Pembagian peran rumah tangga (pendapat mahzab  Syafi'iyyah & Hanbali)

Dan para suami memiliki tugas sebagai Qowwam (pemimpin) keluarga dan Pejuang nafkah. Terkait urusan domestik, seperti cuci bilas jemur, masak sayur mayur, belanja isi dapur itu juga  pada asalnya adalah tugas suami. Ketika sang suami tidak dapat melakukannya ia boleh meng-hire asisten untuk membantu tugas tersebut, atau sang istri secara sukarela turut ta'awun sebagai bentuk aplikasi nilai keromantisan dalam rumah tangga.

Maka, adanya asisten rumah tangga hakikatnya bukan membantu kerja para istri, tapi justru membantu para suami menunaikan kewajibannya.


Inilah insight paling nendang yang disampaikan oleh pak Cahyadi dalam presentasinya. Ketika kita melihat siroh Nabi Muhammad, akhirnya kita juga temui kisah dimana Nabiyullah juga menjahit baju nya sendiri, memperbaiki sendalnya bahkan mengangkat ember air. Demikian kesaksian langsung dari istri beliau, Aisyah Radhiyallahu Anha.

masyaAllah, indah sekali

-----------------------------

Akhirnya selesai sudah sesi diskusi interaktif bersama dengan para narasumber keren-keren.

Setelah ishoma, seminar dilanjutkan dengan dinamika kelompok bersama kakak fasilitator mba Rina (ASHOKA).

Kak Rina sang fasilitator uwuu

ini tim aku, tim Air

lagi curah gagasan

Sudah menjadi tradisi diskusi kelompok adalah tempat paling asik untuk curah gagasan, ruang interaksi yang membangun dan saling memberi manfaat antara satu sama lainnya.

Pada sesi ini peserta mulai menyelam lebih dalam tentang pengetahuan akan dirinya dalam segmen Mandala Diri, setelah itu lanjut dengan brainstorming masalah vs peluang.

Satu kata buat segmen ini, nagih.

Ya nagih banget, dan rasanya kami merasa perlu ada follow up dari seminar ini, mungkin semacam gagasan kolaborasi antar elemen/instansi untuk bikin projek inovasi bersama.

Ki-Ka : aku, bu Nani, kak Rina, mb Eva

aku dan mb Eva

Semoga dikumpulkan kembali dalam kesempatan yang serupa, dan langsung bikin aksi nyata.

Makasih yah yang udah berkenan baca,

Mohon maaf bila ada salah kata,

Semuanya murni kesalahan saya,

Wassalam,

Yogyakarta, 08/10/2022

/Lina Ibune Azzam/

Catatan ini ditulis sebagai oleh-oleh untuk sahabat seperjuangan di ekosistem Ibu Pembaharu



Jumat, 26 Agustus 2022

Mempersiapkan Husnul Khatimah

13.19 0 Comments

 Bismillah,

Kullu nafsin dzaaiqatul mauut... hal ini tentu menjadi sebuah perkara yang tidak terbantahkan dan tidak ada satupun yang sanggup mengingkarinya.


Bahkan selevel Fir'aun pun bisa tiada, apalagi kita yang orang biasa.


Kematian merupakan pembelajaran dari Allah yang mungkin dianggap sederhana (karena lazim terjadi disekitar kita), tapi percayalah hal ini tak sesederhana itu karenanya jangan sampai kita kehilangan makna.


Untuk itu marilah mempersiapkan akhir hidup kita ini dengan serius, sebab tak ada manusia dan makhluk manapun di muka ini yang akan hidup selamanya tanpa batas. Dan sadarkah kita bahwa saat akhir hidup itu tiba, tiada lagi yang bermanfaat selain amal shalih yang diperbuat saat masih hidup di dunia. Betapa banyak ayat Al Qur'an yang memngabarkan kepada kita, penyesalan orang-orang yang durhaka kepada Rabbnya, ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahannam, mereka kemudian meraung-raung berteriak minta dikeluarga dari neraka barang sekejap saja. Mereka ingin melakukan amal perbuatan yang dahulu tidak mereka lakukan saat masih hidup.

Tapi, semuanya akan sia-sia... Habis sudah toleransi yang diberikan Allah kepada manusia yang menyesal itu. Yang tersisa hanya "buah dari maksiat" yang mereka lakukan saat di dunia.

Sehingga, banyak juga ayat Al Qur'an yang mengingatkan serta memotivasi kita untuk senantiasa beramal sholih, meningkatkan kualitasnya dan menjaga konsistensinya serta istiqomah.

 Seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Qs. Al Insyirah : 7, sebab sejatinya tidak ada ujung beramal seorang muslim, kecuali KEMATIAN.

"Dan sembahlah Rabbmu, hingga datang kepadamu al-yaqin" ( Qs. Al Hijr:99) 

Ijma' ahli tafsir mengatakan "al yaqin" dimaknai al-maut/kematian


Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, "sampai kapan kita harus beramal dan kapankah kita ini beristrahat?"

Maka beliau menjawab, "kita akan berhenti beramal dan beristrahat ketika meletakkan kaki di surga". Sehingga perjuangan kita menjadi hamba Allah itu sesungguhnya sampai mati, dan inilah pemahaman yang benar.


Tentu saja kita ingin akhir hidup kita dalam kondisi yang tebaik sebab penentu baik atau buruknya hamba di dunia itu berbeda dengan penentu baik vs buruknya amal hamba ketika di akhirat.

Nabiyullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :"amal pertama yang akan dihisab dari hamba Nya kelak di hari kiamat adaah shalatnya, jika sholatnya baik maka amal yang lain dianggap baik".
Sehingga, kata kunci keberhasilan hisab di dunia itu beda dengan akhirat.


Maka perjuangan kita sampai mati! sebab di penghujung itulah standar penilaian hidup kita. Gak jamin ya bestie, klo/ mudanya bagus nanti hari tua/senjanya juga bagus. Ataupun sebaliknya. Kita semua punya peluang kematian yang sama. Kematian itu bukan tentang usia, karena tidak ada kuburan yang dikhususkan bagi mereka-mereka yang usia senja/sepuh saja.

Karena itulah para ulama banyak menasehatkan agar ujung hidup kita itu adalah penghujung terbaik.

HUSNUL KHATIMAH !

Yup, untuk mendapat penghujung terbaik itu ya harus dipersiapkan dan diperjuangkan. Lalu. bagaimana ikhtiarnya?


Baarokallahu fiikum,
Saya berdo'a, semoga saya dan keluarga saya dan juga temen-temen yang membaca tulisan ini mendapatkan karunia Husnul Khotimah, our ultimate goals dalam hidup ini.

Uhibbukum fillah,
Lina Ibune Azzam
Jum'at, 26/08/2022