Follow Me @linaibuneazzam

Senin, 26 Februari 2018

Mendidik Anak Cerdas Financial

22.59 2 Comments
Ini merupakan materi ke-8 pada program perkuliahan Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional. 













Apa itu Cerdas Financial?

Cerdas financial artinya kemampuan seseorang dalam mendapatkan dan mengelola keuangan. Dalam konsep Ibu Profesional, uang merupakan bagian terkecil dari bentuk rezeqi. Dimana secara umum rezeqi adalah segala fasilitas yang telah Sang Pencipta berikan kepada manusia untuk dimanfaatkan dalam mendukung pola berkehidupan mereka di dunia. Sehingga dengan demikian, uang bukanlah satu-satunya rezeqi. 

Lalu apakah memiliki kecerdasan financial ini menjadi hal yang penting untuk dibekalkan kepada anak-anak? Tentu jawabannya adalah iya. Karena hal ini erat kaitannya dengan kemampuannya mengelola kebutuhan hidup maupun hajat orang banyak di sekitarnya kelak. Dan keterampilan ini perlu untuk dilatihkan dengan tujuan agar kemuliaan anak semakin meningkat. Sebab hal ini selaras dengan prinsip dalam Ibu Profesional,

Rezeqi itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari

Sehingga hal ini juga menjadi penting untuk terus dilatihkan dan dipahamkan ke anak bahwa dalam upaya melatih keterampilannya dalam mengelola keuangan, anak perlu diberi pengertian tentang;

1# Anak dipahamkan bahwa satu-satunya Pemberi Rezeqi adalah Allah Ar-Rozzaq. Bagaimana konsep dan alur rezeqi diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya di muka bumi.

2# Mengajak anak berdiskusi untuk membedakan yang mana "kebutuhan" dan "keinginan". Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda, sementara keinginan adalah sesuatu yang masih bisa ditunda pengadaannya. Setelah paham perbedaannya, maka selanjutnya mengarahkan anak untuk menyusun daftar kebutuhannya berdasarkan skala prioritas.

3# Membuat perencanaan keuangan, boleh berupa "mini budget" sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Dibuat perpekanan, setelah mahir lalu meningkat perbulan.

4# Melatih komitmen anak dalam setiap kesepakatan yang diambil, kemudian bertanggung jawab atas konsekuensinya.

5# Anak dilatih keterampilannya mengelola pendapatan berdasarkan alur keuangan yang diyakini oleh keluarga tersebut.

Untuk keluarga kami sendiri, anak-anak (8 - 12) diberi stimulasi berupa pemberian uang saku. Uang saku inilah nnatinya yang akan mereka kelola selama sepekan. Untuk awalan, anak-anak membaginya ke dalam 3 pos alur keuangan;

  • Pos Hak Allah (2,5 - 10% dari pendapatan/uang saku)
  • Pos Tabungan (min 20% dari pendapatan/uang saku)
  • Pos Belanja (40-60 % dari pendapatan/uang saku)
3 pos ini dulu dilatihkan, didampingi dengan kepercayaan dari orang tuanya. Prinsipnya Latih-Beri Kepercayaan-Supervisi dan latih lagi, hingga anak mampu tertib dan sesuai dengan kesepakatan.


Cerdas Financial Anak & Sifat Ar-Rusyd

Ar-Rusyd bermakna kesempurnaan akal dan jiwa (bagi manusia), yang menjadikan manusia itu mampu bersikap dan bertindak setepat mungkin. Sehingga bagi Allah dengan Asma' wa Shifatnya yang Agung, Dia memiliki nama Ar-Rasyiid yang berarti Yang Maha Tepat Tindakannya, dari kata yang terdiri dari rangkaian huruf ro, syi dan da. Yang pada dasarnya berarti ketepatan dan kelurusan jalan.

Setelah memahami makna kata Ar-Ruusyd diatas, maka mari kita coba mengkaji bagaimanaAl-Quran memberi petunjuk kaitannya dengan upaya menstimulasi kecerdasan financial anak kita.

Al-Quran surah An-Nisa' : 5-6 memberi panduan bahwa seorang anak ketika telah baligh dan rusyda maka itu menjadi tanda siapnya sang anak memegang amanah mengelola harta. Rusyda, fase dimana anak memiliki kecerdasan financial (mengembangkan, menyimpan dan membelanjakan) secara proporsional. Tentu sebelumnya telah melewati fase belajar latihan memegang harta.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً وَارْزُقُوهُمْ فِيها وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً (5) وَابْتَلُوا الْيَتامى حَتَّى إِذا بَلَغُوا النِّكاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ وَلا تَأْكُلُوها إِسْرافاً وَبِداراً أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفى بِاللَّهِ حَسِيباً (6)

Artinya :

(5) Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (6) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu); dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kalian adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas kesaksian itu).

Bila menilik dari Siroh Nabawiyah, maka fase latihan memegang harta ini dimulai sejak usia tamyiz (sekitar 7 atau 8 tahun) hingga pre-baligh (di bawah 14 tahun).


  • Rasulullah mulai mendapatkan upah kecil-kecilan di usia 8 atau 10 tahun saat beliau diberi amanah menggembala kambing. untuk zaman now, bisa diibaratkan dengan bolehnya anak-anak memegang uang sendiri (uang saku) dalam nominal kecil.
  • Usia 11 tahun, Rasulullah menemani pamannya Abu Thalib melakukan perjalanan dagang ke Negeri Syam. Untuk saat ini diqiyaskan dengan magang (learn from the master), atau nyantrik (mengabdi sekaligus berguru). Rasulullah memasuki fase pre-baligh namun belum rusyda.
  • Usia 15 atau 17 tahun, Rasulullah sudah menjalankan bisnisnya (usaha dagang) secara mandiri. Afzalur Rahman dalam buku Muhammad A Trader menyebutkan bahwa Rasulullah telah memiliki bisnis skala internasional. Beliau dalam ekspedisi perdagangannya telah mengarungi 17 negara, sungguh Rasulullah mencapai kegemilangan di usia muda.
Maka dapatlah kita simpulkan bahwa, indikasi anak siap untuk memegang harta adalah dengan dua indikator berikut;

Baligh (akalnya sempurna) dan Rusyda (cerdas memelihara harta)

Nah, karena itulah orang tua pun perlu belajar bagaimana bisa mengelola harta dengan amanah agar dapat menjadi teman belajar dan cermin positif buat ananda. Dalam Ibu Profesional, model belajar demikian disebutnya learning by teaching (belajar dengan mengajar).


Salam Ibu Profesional

/Lina Ibune Azzam/

Sumber tulisan :

Materi Level 8, Bunda Sayang 2017, Ibu Profesional, 2017

https://didaytea.com/2009/07/29/ar-rasyiid-yang-maha-tepat-tindakannya/

https://irham-anas.blogspot.co.id/2011/11/harta-pengelolaanya-dalam-islam.html

Jumat, 23 Februari 2018

Mana Gaya Belajarmu

22.51 0 Comments

MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK

Definisi Gaya Belajar 

Menurut De Porter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur dan mengolah informasi. 

Sebelum membahas lebih dalam tentang gaya belajar, maka yang perlu kita pahami pula adalah tujuan dari belajar itu sendiri. 

Menurut Septi Peni Wulandani, sebuah aktivitas belajar bertujuan pada 4 hal, yang kemudian dikenal dengan Piramida Pendidikan Anak. Disinilah kita akan melangkah, artinya semestinya segala proses dan puncak dari pendidikan anak akan berujung pada;
1. Intellectual Curiosity (rasa ingin tahu yang tinggi)
2. Creative Imagination (kreativitas)
3. Art of Discovery & Invention (seni menemukan)
4. Noble Attitude (akhlaq mulia)

Dari Piramida Pendidikan tersebut dapat kita pahami bahwa pendidikan yang baik dan benar itu adalah proses belajar dari tadinya tidak tahu kemudian menjadi tahu, semakin menambah rasa ingin tahu anak yang secara fitrah telah dimilikinya sejak lahir. Melejitkan daya imajinasi dan kreativitas anak, yang pada gilirannya menjadikan anak mampu menemukan sebuah konsep/teori baik yang sebelumnya sudah ada namun belum diketahui oleh orang (discovery) atau menemukan sebuah konsep/teori baru yang belum ada sebelumnya (invention).

Dan tentunya semua proses belajar diharapkan akan bermuara pada puncak piramida yakni noble attitude (akhlaq mulia). Hal ini dimaksudkan agar segala kepandaian dan hasil temuan mampu mengantarkan kepada kebermanfaatan, baik untuk sesama makhluk maupun untuk lingkungan.

Nah, Piramida Pendidikan Anak ini nantinya dapat kita jadikan sebagai tolak ukur kita. Caranya dengan membuat pertanyaan evaluasi;
  • Apakah dengan belajar "sesuatu" maka akan meningkatkan rasa ingin tahunya? 
  • Apakah daya kreasinya ikut berkembang ketika belajar bersama kita/sekolah? atau malah tergerus habis? 
  • Apakah kemudian pada proses belajar itu anak kemudian menemukan hal baru? Muncul binar-binar Aha dimatanya ?
  • Apakah dengan bertambahnya ilmu maka akhlaq mulia anak juga terjaga dan meningkat?

Indera sebagai Modalitas Belajar

Setelah memahami tujuan langkah pendidikan kita, maka selanjutnya adalah memahami cara bekerja indera yang telah Allah karuniakan kepada kita sebagai sebuah modalitas belajar. 

Dalam kajian NLP ( Neuro-Linguistic-Programming) bahwasanya gambar, suara, rasa, aroma dan sensasi yang ada dalam pikiran kita disebut sebagai representasi internal (persepsi). Representasi internal inilah yang mempengaruhi state (sikap) dan pada gilirannya mempengaruhi perilaku anak. Represnetasi internalterbentuk melalui sistem representasi. Representasi sistem ini ibarat pintu masuk dari persepsi, berupa visual, auditorial, kinestetik, olfaktory (indra penciuman) dan gustatory (indra pengecapan). Bisa disingkat VAKOG.

Bagaimanakah cara bekerjanya?
Represntasi sistem ini bekerja dengan cara menerima informasi dan mengaktifkan memori yang kita miliki sebagai referensi dalam  menghasilkan perilaku tertentu. Representasi sistem ini yang dinamakan dengan learning modality atau modalitas belajar.

Secara sederhana dijelaskan dalam skema berikut;

Informasi >>>>> masuk melalui representasi sistem (VAKOG) = learning modalities

Setiap individu memiliki perpaduan learning modalities(gaya belajar) yang beragam. Beberapa mendapati mereka lebih dominan di satu gaya dan tidak menggunakan banyak gaya lain dalam belajar. Bagi sebagian orang caranya saat itu sangat efektif untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Namun pada beberapa orang yang lain mungkin juga akan merubah gaya belajarnya ketika mereka mengalami perbedaan kondisi yang dihadapi atau jenis pelajaran yang diterima. Tidak ada paduan yang tetap, atau gaya belajar yang fix pada setiap orang.

Bisa saja kita mengembangakan gaya belajar yang semula jarang kita pakai, namun pada konteks lain menjadi sangat efektif dipakai.


Kemudian oleh karena sensory VAKOG merupakan pintu masuk informasi, maka VAKOG itu sebaiknya di stimulasi, agar terintegrasi, nah yuk kita pelajari apa sih sebetulnya sensory integrasi ini?

Melalui panca indra yang tersedia, manusia memperoleh informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan yang berada di sekitarnya (Ayres, 1979). Informasi sensorik (Sensory information) tersebut berasal dari:

1. Mata (Visual)

Mata (Visual) disebut juga indera penglihatan. Terletak pada retina. Fungsinya menyampaikan semua informasi visual tentang benda dan manusia.

2. Telinga (Auditory)

Telinga (Auditory) disebut juga indera pendengaran, terletak di telinga bagian dalam. Fungsinya meneruskan informasi suara. Ayres (1972) menyebutkan adanya hubungan antara sistem auditory ini dengan perkembangan bahasa. Apabila sistem auditory mengalami gangguan, maka perkembangan bahasanya juga akan terganggu.

3. Hidung (Olfactory)

Hidung (Olfactory) disebut juga indera pembau, terletak pada selaput lendir hidung, fungsinya meneruskan informasi mengenai bau-bauan (bunga, parfum, bau makanan).

4. Lidah (Gustatory)

Lidah (Gustatory) disebut juga indera perasa, terletak pada lidah, fungsinya meneruskan informasi tentang rasa (manis, asam, pahit,dan lain-lain) dan tektur di mulut (kasar, halus, dan lain-lain).

5. Kulit (Tactile)

Kulit (Tactile) adalah indera peraba. Terletak pada kulit dan sebagian dari selaput lendir. Bayi yang baru lahir, menerima informasi untuk pertama kalinya melalui indera peraba ini. Trott, Laurel dan Windeck (1993), menjelaskan bahwa:

“Processing tactile information effectively allow us to feel save, which in turn allows us to bond with those who love us and to develop socially and emotionally.”

Sistem taktil ini mempunyai dua sifat, yaitu diskriminatif dan protektif. Diskriminatif adalah kemampuan membedakan rasa (kasar, halus, dingin, panas), sedangkan sifat protektif adalah kemampuan untuk menghindar atau menjaga dari input sensorik yang berbahaya. Dari sifat kedua ini, akan menimbulkan respon flight, fright dan fight (Trott, Laurel dan Windeck, 1993).

6. Otot dan persendian (Proprioceptive)

Ayres (1979) menyebutkan bahwa proprioseptif merupakan sensasi yang berasal dari dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen dan reseptor yang berhubungan dengan tulang. Ayres (1979) menyebutkan bahwa sistem vestibular dan proprioseptif merupakan dua sistem yang spesial dan Ayres menyebutnya sebagai “The Hidden Sense”. Input proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau meregang (stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang (extending), ditaril (beingpull) atau ditekan (compressed). Melalui informasi ini, individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana bagian tubuh tersebut bergerak (dalam Ayres, 1972).

7. Keseimbangan / balance (Vestibular)

Ayres (1979) menyebut sistem vestibular ini sebagai “business center”, karena semua sistem sensorik berkaitan dengan sistem ini. Sistem vestibular ini terletak pada labyrinth di dalam telinga bagian tengah. Fungsinya meneruskan informasi mengenai gerakan dan gravitasi. Sistem ini sangat mempengaruhi gerakan kepala dalam hubungannya dengan gravitasi dan gerakan cepat atau lambat (Accelerated or decelerated movement), gerakan bola mata (okulomotor), tingkat kewaspadaan ( level of arousal ) dan emosi.

Proses sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri, kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran, serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia sekolah dasar (SD).

Lalu, yang manakah gaya belajarmu?

Semua manusia memiliki gaya belajar kombinasi yang sangat fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi saat pembelajaran berlangsung. Sehingga dengan begini kita tinggal memaksimalkan dan mengoptimalkan modalitas belajar ini sebagai karunia Sang Pencipta yang Maha Baik.

Referensi :

https ;//riezkaratna73.wordpress.com/2015/03/09/gangguang-belajar-sensory-integration-dan-dispraxia/

Materi Kuliah Bunda Sayang Batch#1, Institut Ibu Profesioanal, 2017

Minggu, 11 Februari 2018

Oleh-oleh Pandu 45

22.55 4 Comments

Prolog,


Dua pekan sebelumnya bu Septi berkesempatan mengunjungi teman-teman IP Jogja sekaligus mengisi Workshop Home Team. Saat itu, saya sudah mendaftarkan diri pada ibu ketupat untuk menyisihkan satu seat buat saya, namun qodarulloh di hari H yang dinanti justru saya tidak dapat bertemu ibu dan pak Dodik. Raga sedang diminta istrahat setelah sepekan sebelumnya bertarung melawan virus, akhirnya tumbang juga.


Namun, Allah Maha Baik, kerinduan akan bertemu langsung dengan ibu diberikan tidak lama setelah fisik mulai membaik. Awal Februari 2018, seperti ada yang mengarahkan mata dan hati ini membaca sebuah e-flyer bahwa nun jauh di kota Wonogiri insyaAllah bapak dan ibu Septi diminta untuk sharing tentang Pandu 45. Segera kemudian saya menelpon panitia disana, jawabannya saya masuk ke dalam peserta waiting list. Uhuk


Yup, tiket workshop Pandu 45nya laris manis bak kacang rebus. Hampir pupus asa, saya pun merencanakan untuk mendaftar workshop serupa yang akan dilaksanakan di Salatiga maret depan. Sungguh benar-benar kejutan yang indah, sore harinya mendapat pemberitahuan dari mbak panitia bahwa saya bisa mengisi satu seat kosong karena ada peserta yang cancel. Alhamdulillah.... seketika mata dan hati ini mulai berbinar, akhirnya rezeqinya dapet untuk bertemu ibu.




3 Februari 2018

Sabtu ceria yang bener-bener sulit terlupakan nantinya, sungguh saya bertemu ibu Septi dalam dunia nyata. Perjalanan Jogja-Wonogiri menjadi perjalanan yang asik. Seperti biasa, saya bersama pasukan (minus Azzam) bersiap-siap sedari pagi. Karena ayah ada urusan kerjaan di Klaten akhirnya menyempatkan mampir di Klaten sebentar. Setelah selesai, lanjut menuju Wonogiri. Yeayyy....


Kasur lipat di jok belakang sudah siap menjadi tempat anak-anak meluruskan punggung, yah... memang setiap kami berjalan sengaja mengosongkan kursi di jok belakang untuk kids area. Disanalah mereka akan saling bercanda, tertawa dan nangis berjamaah juga. wuahahaha... ruame, teng gejuwit!


Acara Workshop Pandu 45 berlangsung di Angkringan Sopo Ngiro, angkringan yang asyik ditambah suasana Wonogiri yang suejuk-suejuk suegerrrr..., sayang banget saya itu kelemahannya adalah mendokumentasikan dalam bentuk foto, sehingga visualisasi dari acara ini kurang lengkap deh.




Catatan Hasil Belajar

Nah berikut saya coba menuliskan hasil belajar saya, semoga nanti ada manfaatnya;
Fokus Kekuatan, Siasati Kelemahan
Fokus pada kekuatan dan siasati kelemahan merupakan mantra dasar Pandu 45. Oiya mengapa Pandu 45? Simpelnya Pandu 45 adalah program kegiatan untuk memahami bakat anak dengan mengeksplorasi 45 aktivitas potensi kekuatan yang bersumber dari  30 sifat dan 15 bidang.


Sebisa mungkin, fokus kita pada Kekuatan, agar energi dan waktu kita tidak menguap hanya mengurusi kelemahan. Hal ini pun selaras dengan atsar dari sahabat Nabi yang bernama Umar bin Khattab "Ketika anakmu berbuat salah, tegur dan jangan pernah kamu mencatatnya. Ketika anakmu berbuat baik, puji dan segera catat".


Ketika kita fokus pada kekuatan maka sebenarnya kita fokus pada solusi. Bukankah setiap tantangan yang dihadapi kita perlu solusinya? Adanya solusi, maka galau akan pergi. yippieee....


Karena berfokus pada kekuatan, maka perlu mengenali diri sendiri dulu. Tugas kita sebagai orang tua adalah membantu ananda untuk mengenali diri mereka dalam rangka menemukan peran spesifiknya di muka bumi ini.


Bagaimana caranya?


1# Menerima anak, apapun keadaannya. Sebab mereka makhluk Allah yang sejak lahir telah dikaruniai kehebatan BAKATnya masing-masing. 

Allah Ta'ala berfirman :
{قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا}
Katakanlah, "Setiap orang berbuat/beramal menurut syaakilahnya masing-masing. Maka Rabb kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya " (Qs. Al-Isra : 84)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud 'ala syaakilatihi adalah menurut keahliannya masing-masing.
Menurut Mujahid makna yang dimaksud adalah menurut keadaannya masing-masing.
Sementara menurut Qotadah, yang dimaksud adalah menurut niatnya masing-masing.


2# Membenarkan cara berkomunikasi kepada anak, dengan cara membangun komunikasi produktif dan jernih


3#Menggunakan mata hati untuk melihat potensi pada diri anak. Boleh dengan membangun profiling anak, kemudian mengobservasi kecenderungan sifat produktifnya, lalu menajamkan jam terbang serta pengetahuan anak yang disaring dengan formula 4E. Detailnya akan dibahas kemudian insyaAllah


Tentang Pandu 45


Perlu diperhatikan bahwa, Pandu 45 ini bukanlah alat labelling anak, karena melabel anak terlampau dini justru akan menyempitkan sisi potensi mereka yang lain. Pandu 45 ini dibuat oleh ibu Septi dan pak Dodik dengan maksud memberikan panduan berbagai macam aktivitas yang bisa digunakan untuk menjadi salah satu pedoman berkegiatan bersama anak dalam rangka mengamati dan akhirnya menemukan potensi unggul anak. Karena pak Dodik dan bu Septi adalah pramuka sejati, maka diberilah nama Pandu 45. heheheheh....


Dalam Pandu 45, kita akan menyamakan frekuensi dan bahasa. dalam hal ini bahasa BAKAT. Secara bahasa, bakat dipahami sebagai bibit unggul yang sudah ada (baik dari sifat atau panca indera) yang khas -mereka banget- melekat secara natural pada diri anak. Bakat ini ketika dikembangkan melalui aktivitas-aktivitas yang relevan maka akan menjadi produktif, disinilah fungsi parameter 4E yang akan membantu kita melakukan penilaian dan evaluasi.


4E yang dimaksud adalah Easy (bisa), Enjoy (asyik), Excellent (mahir), Earn (bermanfaat/produktif). Jika ke empat E ini terpenuhi, maka tugas selanjutnya adalah mengkonfirmasi temuan bakat anak tersebut kepada Sang Pemberi Bakat.


Setelah menerima pengertian bakat, maka tentu kita perlu tahu sumber bakat itu seperti apa?


Bakat sebagai potensi kekuatan memiliki 2 sumber, bersumber dari sifat dan panca indera.

sumber bakat
  • Bakat yang bersumber dari sifat, contoh potensinya adalah mengajar, meneliti, berjualan, memimpin. Puncak dari optimasi bakat ini akan menjadi peran.
  • Bakat yang bersumber dari panca indera, contoh potensinya adalah melukis, menggambar, memasak, berenang. Puncak dari optimasinya akan menjadi bidang.

Maka, disini Pandu 45 akan membicarakan 45 bakat yang terdiri dari 30 peran dan 15 bidang.
Untuk lebih jelas, silakan mengunduh ebook Pandu 45 ini dengan mengklik gambar di bawah;

 Pandu 45

Berdasarkan framework pendidikan anak milik Keluarga bu Septi dan pak Dodik maka anak-anak usia di bawah 16 tahun hendaknya dicobakan dengan beragam aktivitas. Disinilah prinsi "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah". Dari beragamnya aktivitas tersebut, anak-anak kemudian akan memperlihatkan kecenderungan pada kegiatan mana yang membuatnya merasa nyaman (enjoy), mudah melakukannya (easy) kemudian anak menjadi mahir dan lebih cemerlang dari kawan-kawannya (excellent). Pada etape ini, teruslah menambah jam terbang anak pada aktivitasnya tersebut dengan tujuan menajamkan bakat anak.


Belajar Pandu 45 asyiik bukan?
Nah, sampai disini dulu tulisan hasil belajar saya, jujur belum semua saya tuliskan disini. Karena beberapa materi dalam format workshop sehingga tidak ditemukakn di dalam ebook. Mohon doanya saya berkesempatan untuk menuangkan cara pandu dan baca bakat anak dalam tulisan berikutnya. InsyaAllah lebih aplikatif dengan teknis praktis.

Semoga bermanfaat,

/Lina Ibune Azzam/


Foto-foto saat di angkringan;








Kamis, 08 Februari 2018

Presentasi Keren pakai steller

22.33 0 Comments
Tadinya mau mencari aplikasi apa yah yang mudah tapi tetep keren? Nah seorang kawan menyarankan untuk mencoba steller, aplikasi ini bagus banget buat membantu presentasi kita. Modelnya juga manis seperti sedang membuka buku. Bisa insert fotodan video. Hmm menarik untuk dicoba

Selasa, 06 Februari 2018

Belajar bersama Khan Academy (hari 2)

23.34 0 Comments
Masih di dalam tema Keluarga Multimedia, ini adalah hari kedua tantangan 10 hari. Dimana kami para murid diminta untuk hunting beragam aplikasi berbasis digital yang berguna dalam membantu proses belajar keluarga, pertumbuhan kepribadian, dan lain-lain.

Tiba-tiba teringat Khan Academy. Pertama kali mengetahui aplikasi ini saat belajar materi Don't teach me, I love to learn. Kala itu belum sempat mencobanya, karena support systemnya kurang mendukung. Sehingga, sempat vakum dan lupa dengan aplikasi ini.

Nah, kina baru saja mencoba mengintip di playstore ternyata Khan Academy sudah ada disana. Itu artinya melalui smartphone kita juga sudah bisa menikmati sajian keilmuan dan latihan-latihan di Khan Academy.

Waaah...senangnya,
Langsung saja deh kita coba-coba, semoga suka ya




Canva favoritku (hari 1)

22.44 0 Comments
Yeayyy akhirnya sampai juga Bunda Sayang Batch#1 ini pada penghujung materi, yakni materi ke 12 dengan tema "KELUARGA MULTIMEDIA".

hmmm... sebenarnya saya sendiri dalam hal keterampilan berdigital (opo kuwi) belumlah sampai pada level mahir, makanya pernah dalam sebuah kesempatan ikut pelatihan menjadi Digital Mommy yang diselenggarakan oleh Rumah Inspirasi nya mba Mira Julia. Tujuannya hanya satu yakni agar Lina yang gaptek, akan meningkat lebih maju.

Nah, kali ini saya cuma mau ngabarin saja, bukan ngajarin tentang 1 aplikasi yang sangat-sangat membantu khususnya orang seperti saya yang minat mendesain-desain tapi gak pinter bikin-bikinnya. Dalam aplikasi itu sudah tersedia dengan manis, template yang kita inginkan sehingga tidak perlu repot lagi. Nama aplikasinya yaitu Canva.



Coba deh, insyaAllah akan ketagihan. Kabar baiknya sekarang canva bisa dimainkan di android. wah semakin jatuh cinta deh...

Kamis, 01 Februari 2018

Mengajar itu Belajar Dua Kali

00.56 0 Comments

Bismillah,

Mencoba menjadikan satu kebiasaan baru, setelah selesai mendapat ilmu dan pencerahan saatnya merekontruksikannya dan (ini yang paling penting) membuat jurnal refleksinya sebagai murid sekaligus fasilitator dalam perkuliahan Bunda Sayang ibu-ibu keren sejagad raya (insyaaAllah) yakni Institut Ibu Profesional.

Founder IIP bersama dengan Invisible Team beliau berhasil membuat kami (para murid IIP) terpana dan terpesona dengan kejutan demi kejutan dalam setiap materi perkuliahan. Setiap etape menuju Pembelajar Sejati dilewati setahap demi setahap, beliau pun sebagai Kanda Guru kami mengajarkan tanpa menggurui tentang bagaimana itu Learn How To Learn yang sebenarnya. Benar-benar pengalaman belajar yang tak terlupakan.

Nah, pada materi 11 ini mengusung cara belajar baru yakni "Learning by Teaching", wuihhh... benar-benar sangat seru dan menantang. Semua pembelajar di IIP pun kembali tersadarkan bahwa, semua adalah guru, semua adalah murid, tidak ada satu sumber utama. Semua jadi aktiv, bersama-sama mengeksplorasi gagasan baik yang sudah terpendam maupun gagasan baru. Semua saling terlibat mengkaji beraneka sumber ilmu kemudian mendiskusikan bahkan saling mencerahkan satu sama lain. Semua meningkatkan pengetahuan serta keterampilan berkomunikasi, curah gagasan dan presentasi. Sehingga pada gilirannya kita bertabur harta karun keilmuan yang sangat berharga.

Learning by Teaching, sejatinya proses belajar yang dilakukakan dua kali. Artinya belajar dengan cara mengajar maka kita tanpa sadar telah Belajar untuk diri kita sendiri (1 kali) dan Belajar untuk teman-teman (2 kali). Maka semoga dengan cara belajar dan mengajar ini akan memberi kontribusi positif dan keberkahan sebuah ilmu dan taman ilmu.

Dan, akhirnya saya pun mengumpulkan jurnal refleksi ini dengan bahagia.

Yogyakarta, 31 Januari 2018
bertepatan dengan fenomena Super Blue Blood Moon

/Lina Prihatin/