Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena ia hidup di zaman berbeda dengan zamanmu - Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'AnhuNasehat tersebut benar-benar terjadi saat ini, dimana zaman terus mengalami perubahan demi perubahan. Tentu bunda sepakat bahwa zamannya orang tua sepuh kita terdahulu memiliki perbedaan yang cukup jelas dari zaman kita hidup. Demikian pula zamannya anak kita nanti akan berbeda dari zamannya kita. Maka apa yang perlu kita persiapkan?
Tentu, yang pertama bekalilah diri kita dengan ilmu dahulu. Mengenali ciri-ciri dimana zaman anak kita akan hidup dan berkarya. Dengan mengenali karakteristik zaman tersebut berarti kita mempersiapkan diri dan keluarga kita menuju perubahan yang lebih baik.
Baiklah, mari kita amati ciri-ciri abad 21.
![]() |
| http://www.ishaqmadeamin.com/2015/03/pembelajaran-abad-21.html |
Setelah memahami hal tersebut, tentu akan mengantarkan kita pada sebuah tingkatan berfikir tahap berikutnya, yakni menalar fenomena perubahan zaman yang akhirnya membuat kita berusaha bergerak untuk memberi kontribusi positif bagi pembangunan peradaban. Jika kita menginginkan sebuah perbaikan kualitas generasi ke generasi, maka kita perlu berbenah. Mulai dari mana? Mulai dengan membenahi cara belajar kita dan anak-anak tentunya.
Belajar Bagaimana Belajar
Artinya apa?
Model belajar konvensional relatif tidak menjawab tantangan abad 21 ini. Kita sebagai generasi konvensional (abad 20) tentu mampu menilai bagaimana pola pendidikan pada masa itu. Dulu pembelajaran terpusat pada guru (teaching), para siswa hanya menyimak dan mengerti (knowing), terkadang sangat teoritis dan abstrak sehingga sulit diterapkan dalam dunia nyata (unkontekstual), mempersempit makna belajar hanya dalam sekotak ruangan kelas.
Sehingga sebagai ibu agen perubahan, hanya ada 2 (dua) pilihan. Change or Not, if you're not to change, you'll be die.
Nah, salah satu strategi untuk berubah adalah dengan menggeser pola pendidikan yang telah lalu. Konsep CTL (Contextual Teaching & Learning) menjadi pendekatan metode belajar yang menyenangkan, berpusat pada siswa dan mengaitkan mata pelajaran dengan dunia nyata sehari-hari. Sehingga harapannya metode CTL ini akan mewujudkan budaya belajar yang meaningfull (beresensi) dan real (nyata/riil).
Karena terkadang masih banyak orang tua atau malah praktisi pendidikan yang tergesa-gesa mencari konten belajar anak tanpa pernah terlebih dahulu mencari cara bagaimana mengemas konten itu dalam sebuah konteks pembelajaran yang menggairahkan, yang merangsang fitrah rasa ingin tahu anak sebagai makhluk pembelajar. Sehingga, di saat anak-anak mulai "burn out", orang tuanya pun tertular menjadi "mati gaya". Karena telah tergerus kekreatifannya untuk menyajikan menu belajar yang menyenangkan dan meaningful tersebut. Akibatnya belajar menjadi hilang ruhnya.
Bagaimana dengan bunda?
#tingkatanberpikir #ctl #abad21 #21stcentury

Tidak ada komentar:
Posting Komentar