Follow Me @linaibuneazzam

Selasa, 04 September 2018

Azzam, Refleksi Mondok (1)

Pertengahan Juli 2018 menjadi momentum Azzam (11tahun) mengukur dirinya untuk belajar "merantau". Hingga hari ini berarti sudah sekitar 30 hari lebih, azzam belajar hidup terpisah dari orangtua. Layaknya anak-anak yang mondok di pesantren. Yah, Azzam ikut program pemondokan dari Ma'had Permata Islam.

Tujuannya adalah anak saya ini sedang menata perencanaan hidupnya ke depan, bahwa dia akan belajar MANDIRI dan BERDIKARI.

Sebagai orang tua tentu peran kami saat ini untuk anak usia Azzam yang jelang baligh, maka kami mengambil posisi sebagai coach/pelatih. Tentu ada target bijaksana yang sama-sama kami tetapkan dalam periode waktu tertentu. Sehingga harapannya, target tersebut mampu dicapai Azzam in time.

Nah sedikit ingin bercerita bagaimana pengalaman "mondok" Azzam ini, sebelum nantinya dia benar-benar akan lepas dari kami. Dan, ternyata Azzam telah mengalami sesuatu hal yang berat di pekan-pekan awal "mondoknya".

Seperti yang saya tuliskan dalam catatan FB saya, bahwa Azzam menerima sebuah tindak kekerasan di pondok.

Begini ceritanya;

Tentang Bullying (bagian 1)
MENDETEKSI DUGAAN BULLYING PADA ANAK

Begini teman-teman, awalnya saya sendiri tidak bisa mempercayai hal ini menimpa si sulung (Azzam). Alhamdulillahnya, kadar bullyannya belum akut. Sehingga, si sulung memungkinkan untuk segera kembali sehat jiwa dan raganya.


Seperti yang kita pahami bersama, bully (kata serapan dari bahasa Inggris) yang secara sederhana dipahami sebagai tindakan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita. Tindakan itu bisa berupa penggertakan, penindasan, kekerasan fisik maupun intimidasi mental. Minimal begitu pengertian yang saya pahami.

Praktek bullying ini sudah terjadi kira-kira sebulan terakhir ini. Kan selama ini azzam ikut sebuah program pemondokan di sebuah tempat belajar. Kesepakatan yang kita ambil bersama antara azzam dan kami (ayah-ibune), azzam akan mondok belajar hidup mandiri bersama beberapa temannya. Dalam sepekan hanya ada waktu libur 1 hari, yakni hari Jumat. Saat itu boleh pulang untuk kembali bersama keluarga sekadar melepas rindu, atau boleh juga nggak. Bebas, itu pilihan.

Nah, pada suatu hari (yang jelas bukan hari liburnya), azzam pulang kerumah dan berkata, "bu, mas boleh nginep disini malam ini?"

Saya terdiam.

Kemudian saya bersuara, "Kok begitu mas?, hari ini bukan hari Jumat loh?", saya mencoba mengingatkan, pikirku mungkin anak ini lupa.

Azzam terdiam.

"Gak boleh !"
"Mas, yang namanya mondok itu ndak boleh pulang-pulang begini. Walaupun rumah kita dekat dengan pondok. Mas harus patuh dengan jadwal. Bagaimana nanti kalo mas mondok di Hamalah atau nyantri di pondok lain yang jauh dari rumah jika mas sedikit-sedikit pulang...."
"Gak bener itu!"
(ternyata ayahnya yang mendengar pembicaraan saya dengan Azzam tiba-tiba bersuara dari balik pintu)

sontak kami berdua kaget.... hihihihi

Hmmm...ayah....duhai ayah, tak kasih kedipan mesra berharap agar tidak meneruskan salah satu gaya komunikasi populer orang tuanya. Begini nih, ayah yang tidak ikut perkuliahan bapak profesional, jadi tidak paham kaidah CtoC, atau minimal menyamakan frekuensi atau teknik komunikasi produktif bersama anak.

Akhirnya ending hari itu adalah azzam tidak jadi nginep di rumah.

Hari demi hari berlalu. Pun Jumat, hari libur juga berlalu. Berlalu dalam sepi tanpa kepulangan mas azzam yang kunanti. Duh, hati ibu mulai tidak enak.


__________________ 🌾🌼🌾🌼🌾_______________


Tidak harus menunggu hingga 3 purnama, anakku pulang. 
Tidak sendiri. Azzam bersama roommatenya (kawan sekamar). Kami sih asyik-asyik aja, kebetulan roommatenya itu berasal dari luar kota Jogja, sehingga jika libur pekanan begini tidak memungkinkan untuk balik kerumahnya.

Ada yang beda, demikian perasaan ibu "berbicara". Azzam saat itu nampak beda dari Azzam yang sebelumnya. Eh..... tapi coba kuabaikan. Namun, tak bisa. Hati ibu terlalu peka merasa. Ada yang gak beres ini. Begitu dugaan awal.

Sambil masak nyiapin makanan kesukaannya, sedikit sedikit kuselipkan pertanyaan, Azzam bahagia di pondok? Azzam nyamankah di sana?

Weww...sejurus memori terbang pada tulisan yang pernah kuposting,

Judulnya "save si kecil", tips mendeteksi tindak kekerasan pada anak.
Lah.... kok begini? batinku, waktu itu saya nulis karena sedang prihatin dengan viralnya sebuah video kekerasan di sebuah TK/Playgroup. Dalam video itu terlihat anak-anak balita yang lucu nan menggemaskan mengalami tindakan kekerasan oleh seorang oknum yang tak layak disebut guru. 

Berdasarkan keprihatinan itu kemudian jempol saya menari diatas keyboard dan lahirlah tulisan yang bagi saya sangat emosional menyinggung soal tersebut.

Dan ini, mungkin dengan konteks yang berbeda, namun memiliki pokok pikiran utama yang sama. Anakku sendiri menjadi korban dari kekerasan tersebut. Rabbanaaa....

Akhirnya berlanjutlah investigasi ala-ala ibune azzam. Saya mendekat ke Azzam, mencoba memindai baik jiwa mapun raga anak itu. Benarlah. Insting seorang ibu hampir tidak pernah salah. Bagaimana salah, wong anak itu pernah hidup dalam rahim ini. Kami berbagi darah dan udara. Kami berbagi rasa dan cinta. Hiks....

Dari pipi kiri atasnya sendiri telah memberi bukti, bahwa something happen. Cedera yang sudah mengering namun masih tergolong luka baru meninggalkan jejak tindak kekerasan. Belum lagi jika kemudian perlahan memori saya kembali segar, tatkala azzam pernah mengeluhkan dadanya sakit. Namun, lagi-lagi kala itu saya menganggapnya biasa. Tidak terlalu memberi respon yang berlebihan, kuatir respon saya nanti menjadikan azzam menjadi anak mami.

Kesakitan-kesakitannya itu kadang ia dapati saat sedang bercanda dan bermain bersama kawan roommatenya.

Yah, pelakunya adalah teman satu kamarnya. Teman yang kadang diprioritaskan Azzam untuk berbagi makanan atau camilan. Teman yang .... ah tidak perlu saya ungkapkan bagaimana kami menganggapnya sebagai sedulur ketemu gede buat Azzam saat di pondok tersebut. Yang kemudian saat hari-hari pertama mereka bersama, saya mengaturnya untuk membangun buddy system. Dengan tujuan agar mereka dapat saling ta'awun dan menguatkan satu sama lain (peer support).

_________________ 🌴🍁🌴🍁🌴 _______________

Itulah yang terjadi, kurang lebih sebulan terakhir ini. Lika liku problematika di pondok. Bahkan di sekolah maupun di tempat lain pun bisa terjadi.

Setelah mengidentifikasi, maka step berikutnya adalah menggali apa solusi yang diinginkan oleh Azzam. Saya merasa perlu melibatkannya dalam proses ini, agar Azzam belajar menjadi decision maker, plus problem solver atas tantangannya sendiri. Tentu setelah melihat bahwa Azzam berada dalam fase pre baligh akhir.

Penting melibatkan Azzam untuk menemukan sebuah solusi, maka kami pun berbicara. Panjang kali lebar. Hingga berhenti pada sebuah kesepakatan baru. Kesepakatan yang diambil berdasarkan pertimbangan dua arah (orang tua dan anak).

Yah, hikmah dari kejadian ini tentu banyak yah. Salah satunya ya itu tadi sebagai stimulus meningkatkan keterampilan hidup anak saat bertemu dengan tantangan.

Cerita berikutnya kita pindah thread yuuk....

Pada bagian 2, MENEMUKAN SOLUSI DAN MEMBUAT KEBIJAKAN

Sekian untuk bagian 1 ini, semoga ada manfaatnya. Selanjutnya boleh kita diskusi santai dalam kolom komentar, apakah ada diantara ayah atau bunda yang menemukan kasus bullying ini menimpa ananda atau ponakan atau anak sahabat/kolega dan sebagainya.



#bullying #tindakkekerasanpadaanak #selfesteem #anakagresif #adabsesamamuslim #trauma #schoolphobia #anaktangguh #buddysystem











Tidak ada komentar:

Posting Komentar