Follow Me @linaibuneazzam

Selasa, 30 Januari 2018

Agar anak tangguh dan bahagia

Tulisan kali ini bertajuk "agar anak tangguh dan bahagia". Tentu di zaman now, hal tersebut menjadi impian para orang tua. Terlebih dengan kenyataan pertumbuhan dan perkembangan zaman yang begitu cepat. Sehingga terkadang mampu membuat para orang tua menjadi lebih cemas, kuatir atau takut dengan masa depan si anak. Perasaan yang berdasar emosi itu seolah-olah hadir dan dihadirkan tanpa melalui proses berpikir rasional. Alih-alih mempersiapkan dan mendidik agar anak menjadi tangguh, orang tua malah terjebak melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah menjadi jamak dilakukan. Kesalahan tersebut diantaranya; 

  1. Terprovokasi oleh pencapaian anak lain (membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain atau bahkan dengan saudara sekandungnya)
  2. Sibuk meratakan lembah, bukan meninggikan gunung (memberikan drilling pada subjek pelajaran tertentu, tapi mengabaikan potensi unggul anak)
  3. Menyempitkan ruang kreativitas anak dengan dalih agar lebih cepat berpacu dengan anak lain
  4. Menyeragamkan makna kecerdasan anak, dan menolak teori kecerdasan majemuk
  5. Menitik beratkan pada penilaian kognitif dan terbatas pada angka-angka, dan mengabaikan kebahagiaan anak
Itulah kurang lebih diantara kesalahan-kesalahan fatal yang entah disadari atau tidak, terkadang masih banyak orang tua zaman now yang melakukan hal ini.

Sebenarnya jika kita sebagai orang tua mau berkenan meluangkan waktu untuk melakukan perenungan dan menginsafi diri maka insyaAllah akan terbuka petunjuk dari Ilahi. Sebuah petunjuk bagaimana seyogyanya kita menemani anak-anak dan mengantarkan mereka kepada masa depan yang gemilang.

Diawali dengan mengenali diri. Memahami tujuan penciptaan. Kemudian menyusun life evolution dari titik nol hingga kita telah tiada. Menancapkan janji diri kemudian merancang education map sekeluarga.

Memahami makna Kecerdasan 

"Kemampuan untuk merespon lingkungan secara tepat dan akurat" - Adriano Rusfi
Definisi yang disampaikan Bapak Adriano Rusfi diatas merupakan pengertian kecerdasan yang dituliskan dalam buku-buku psikologi klasik. Sehingga, pada asalnya makna kecerdasan ini sangat luas. Namun, pada abad 19 makna kecerdasan dipersempit hanya terbatas pada sisi intelektualitas saja, terbukti dengan bermunculan dan berkembangnya tes-tes IQ oleh Thurstone, Binet dan sebagainya.

Dari situlah maka akan pelan-pelan terurai benang kusut pemikiran kita. 

Pertama, memahami makna kecerdasan yang hakiki, adalah segala kemampuan manusia dalam mengoptimalkan potensinya, kreatif dan menemukan pemecahan masalah. 
Kedua, mengerti secara arif bahwasanya kecerdasan manusia itu sangatlah dinamis dan memiliki domain kecerdasan yang tidak hanya satu. Nah, maka kita pun akan terdorong untuk belajar menjadi gurunya manusia. Pendidik manusia berarti menghargai dan memanusiakan anak kita. Sehingga kesalahan orang tua zaman now diatas akan tereliminasi dengan sendirinya.
Ketiga, belajar memahami pendidikan berbasis fitrah. Bahwa dalam pendidikan anak, sesungguhnya kita hampir tidak melakukan apapun dalam keberhasilan pendidikan mereka. Karena, secara fitrah mereka telah dibekali potensi unik, khas dan unggul. Sang Penciptanya telah mengkaruniakan manusia fasilitas-fasilitas yang akan dikelolanya dala menunjang proses kehidupan dan penghambaan.

Setelah benang kusut itu mulai terurai, perlahan kita akan mencari cara bagaimana menstimulus kecerdasan anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang tangguh dan bahagia.

Prinsip utama dalam pembentukan anak yang tangguh dan bermental baja adalah ketegasan bukan kekerasan. Mengajarkan anak-anak sebuah konsekuensi dari pengambilan sebuah keputusan.

Memberikan anak-anak ruang berkreasi agar gagasan brilliant mereka keluar dan meminimalisir intervensi bahkan jika perlu  meniadakannya. Memberikan kepercayaan dengan menerima semua gagasan tersebut, dan mengapreasiasinya.Untuk anak yang lebih besar, melalui diskusi dalam family forum dapat ditingkatkan tantangannya agar lebih terpacu. Begitupun dalam hal merngsang kberanian ananda, maka perlu diberikan peran kepemimpinan dalam proyek keluarga.

Merancang kegiatan belajar berbasis proyek adalah hal menyenagkan ynag dapat dilakukan. Baik di dalam rumah maupun di sekolah. Pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) ini memiliki banyak sekali manfaat. terutama dalam pengembangan potensi dan kompetensi anak. Selain itu dapat juga menjadi alat ukur (temperature check) dan mempererat bonding keluarga. Kegiatan proyek ini tentu berbeda dengan aktivitas harian yang spontan dan cenderung dinamis. Kegiatan ini lebis terstruktur dan terencana dengan baik dan melibatkankan sinergi dari seluruh anggota keluarga.

Secara sederhana Project itu seyogyanya memenuhi kaidah SMART dan PDCA.

Apa itu?

Seperti halnya dalam menyusun Goal Setting maka kaidah SMART ini pun berlaku pada family project. S (Spesific ), M (measurable), A (Achiveable), R (Realistic), T (Timebond). Artinya bahwa sebuah gagasan proyek keluarga itu haruslah spesifik, terukur, mudah diwujudkan, realistis dan memiliki batas waktu.

Selain dari itu pula, sebuah proyek keluarga semestinya melewati proses PDCA (planning-do-check-adjust); proyeknya memiliki perencanaan, kemudian dikerjakan, dievaluasi dan diupayakan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Siap membuat sebuah proyek? Mari kita mulai bersama dalam keluarga-keluarga kecil kita.

Itulah sekilas tentang bagaimana menstimulus kecerdasan anak melalui kegiatan berbasis proyek. Dan kembali pada pertanyaan bagaimana membetuk pribadi tangguh anak, maka menurut saya, jika anak-anak terpelihara fitrahnya dengan baik dan lurus maka peran kita hanyalah sebagai kawan tumbuh dan berkembang bersama mereka. Anak-anak akan menjadi guru kecil kita dan kita akan menjadi pelatih dan mentor mereka. Terlebih untuk membangun jiwa mandiri dan ketangguhan anak, maka "kerasnya" kehidupan sudah turut berkontribusi positif dalam membangun kecerdasan menghadapi tantangan.

Wallahu 'alam

Ngayogyakarto, 29 Januari 2018

Sumber tulisan:

https://munifchatib.wordpress.com/2012/11/19/multiple-intelligences-menurut-prespektif-munif-chatib/

Materi Bunsay 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar