Jurnal Reflektif as Fasilitator Bunda Sayang
(Level 8, Mempengaruhi jiwa dan akal anak dengan aktivitas bertutur kisah)
Bunda Bertutur
Aktivitas berkisah atau menuturkan cerita/dongeng ini sejujurnya masih termasuk aktivitas yang belum sungguh-sungguh saya jalankan dengan baik. Padahal saya mengerti bahwa melalui penuturan akan banyak nilai positif dan manfaat yang dapat diperoleh. Terkhusus membersamai anak-anak di rumah. Menuturkan kisah akan menjadi jurus ampuh dalam mengarahkan dan mempengaruhi jiwa serta akal anak.
Bertutur adalah mengarahkan tanpa memaksa, memerintah tanpa menekan, memotivasi tanpa intimidasi, mengajar tanpa menggurui, menasehati tanpa menyakiti
-Lina Ibune Azzam-
Sejujurnya hati terasa sendu pada sesi refleksi ini. Semakin sendu kala kemudian menakar diri dan menyadari bahwa diri ini belumlah apa-apa. Belum melakukan sesuatu yang berarti bagi anak-anak, padahal di dalam Al-Quran materi kisah ini nampaknya mendominasi isi Al Quran itu sendiri. Bahkan terdapat 1 (satu) surah khusus yang diberi nama Al-Qashash (kisah-kisah).
Pun, bahwa bercerita dan menyimak cerita sangat erat kaitannya dengan keterampilan berpikir. Mengambil hikmah dari setiap cerita merupakan ciri orang yang berakal. Tentunya kita juga sepaham bahwa berpikir/menalar merupakan aktivitas makhluk mulia di muka bumi ini.
Sejatinya untuk berkisah atau mendongeng kita tidak membutuhkan bakat. Kita hanya perlu MAU melakukannya untuk anak-anak dengan penuh CINTA - Septi Peni Wulandani-
Penggalan kalimat bunda Septi diatas kembali "menampar" saya dengan keras.
Kemana CINTA itu?
Aktivitas bertutur pada asalnya hanya membutuhkan cinta. Cinta yang tulus akan memanggil jiwa kita. Raga kita pun akan bergerak selaras dengan panggilan jiwa dalam satu resonansi.
Duhai jiwa yang lalai,
bergeraklah sebelum capai
berbenahlah sebelum lunglai
Antara Dongeng dan Imajinasi
Kunci sukses menjadi bunda yang kaya imajinasi adalah dengan membebaskan pikiran. Berpikir INSIDE OUT! Keluarlah dari kotak pikiran yang memenjarakan ide cemerlang kita. Menikmati kotak penjara yang sebenarnya tidak ada itu justru akan menumpulkan daya imajinasi kita, padahal kekuatan dari sebuah dongeng adalah imajinasi yang bebas dan lepas sehingga kita pun leluasa memasukkan pesan moral yang ingin disampaikan pada pendengar dongeng kita tanpa perlu berlelah-lelah menasehati dan menggurui.
Saatnya ibu banyak bertutur baik kepada ananda. Tentu jika kita ingin konten yang dikonsumsi oleh anak-anak berisi kebaikan, positif dan sehat bagi akal dan jiwanya. Bersama teman-teman di kelas Bunsay hal ini menjadi tantangan yang menarik dan sangat menguji kesungguhan kita. Bukan soal bakat, namun titik fokusnya adalah keMAUan berbasis CINTA yang berpikir.
Maafkan ibumu nak...
Sumber gambar :
Diakses pada tanggal 21 September 2018, https://www.pexels.com/photo/toddler-reading-book-1257105/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar