" Don't depend too much on anyone in this world, because even your own shadow leaves, you are in darkness" -Ibn Taymiyyah-
Jangan terlalu mengandalkan orang lain dalam hidup, karena bahkan bayanganmu sendiri akan meninggalkanmu saat gelap. Demikian kurang lebih arti dari perkataan Ibnu Taymiyyah diatas. Saya memaknainya sebagai sebuah pernyataan yang berkaitan dengan kemandirian dan sikap berdikari (mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain).
Spirit inilah yang kemudian mempengaruhi saya bersama suami menanamkan kemandirian sebagai pendidikan karakter dan keterampilan hidup. Karena itulah melatih kemandirian anak menjadi penting dalam pendidikan keluarga kami, mengingat anak-anak kelak akan hidup dan memilih jalannya sendiri sehingga otomatis pun tidak selamanya mereka bersama orang tuanya.
Dalam hal melatih kemandirian, saya bukanlah ibu pelatih yang cakap. Kurun waktu 10 tahun membersamai anak-anak, saya pun mengalami jatuh bangun. Bagi saya kemandirian sama hal nya dengan belajar, sehingga menjadi satu padu dengan kehidupan. Tidak memerlukan rekayasa, namun mengalir secara alami selaras dengan fitrah manusia. Sambil mencoba mengingat, saya akan menuliskan proses Keluarga MANDIRI menjalani latihan kemandirian ini;
- Toilet training. Sebenarnya secara alami anak-anak sudah mengenali materi ini, dengan memberi kode saat merasa tidak nyaman dengan kondisi lembab dan bau yang khas. Disinilah awal proses belajar kemandirian dalam istinja' dimulai. Pengalaman saya sendiri, anak perempuan saya umumnya lebih cepat menguasai keterampilan TT ini dibanding kakak sulungnya. mereka rata-rata usia 2 tahun sudah lepas popok dan mampu memberi info bahwa sedang pup atau pee, sementara sang kakak usai 4 tahun baru terampil dalam hal kebersihan pup, untuk pee hampir sama dengan yang perempuan, si sulung sudah lulus di usia 2 tahun.
- Makan, mandi, berpakaian sendiri. Bersyukur sekali 4 anak pertama masuk kategori anak-anak yang mudah dalam perkara makan dan makan sendiri, kecuali di saat-saat tertentu, misal saat sedang tidak sehat, kurang berselera ataupun mood sedang tidak nyaman. Yang sedikit berbeda adalah anak ketiga (Aisyah, 5th) karakternya yang bossy masih cenderung menginginkan pelayanan daripada melayani.
Dua poin diatas menjadi keterampilan dasar dalam mengurus diri mereka sendiri, minimal 6 tahun pertama hidupnya.
Cerita berikutnya tentang beberapa keterampilan yang masih dalam proses pembekalan dan pelatihan, yaitu keterampilan dalam aspek kemandirian intelektual, ekonomi, dan emosi. 3 aspek tersebut merupakan aspek kemandirian menurut Robert Havighurst,1970 ditambah satu aspek lagi yaitu aspek sosial.
Aspek Intelektual
Kemandirian dalam berpikir dan menalar sebuah konsep atau beragam kondisi. Pada aspek ini, sudah mulai bisa dilatihkan pada anak usia 7 tahun (tamyiz) yang sudah mampu membedakan, bermanfaat dan bukan bermanfaat. Selain keterampilan mengkaji ini, maka yang paling penting pula adalah kemampuan anak dalam mengambil keputusan (decision making). Bukan hanya usia 7 tahun sebenarnya, sejak mereka sudah memiliki pilihan sendiri, maka saya sudah mulai memberikan penawaran altenatif pilihan dan membebaskan anak-anak untuk memilih berdasarkan keminatan/kecenderungan mereka. Sepanjang pilihan anak-anak tidak keluar dari Golden Rules dan Values Keluarga.
Aspek Ekonomi
Di rumah anak-anak memiliki kebebasan dalam mengelola aset mereka, khususnya rupiah. Kebebasan ini menuntut sebuah pertanggung jawaban, sehingga bebasnya mereka bukan berdasar nafsu (keinginan), melainkan dari hasil berpikir. Nah, aspek intelektual pun berfungsi disini. Mampu dan mandiri memilah dan memilih antara kebutuhan vs keinginan. Kepada anak-anak yang sudah usia sekolah (minimal 7 tahun), saya memberlakukan "uang saku" pekanan, per anak mendapat porsi Rp. 10.000; setiap senin pagi untuk kemudian dikelola dalam sepekan.Orang tua, disini memerankan diri sebagai Financial Consultant saja dan memberi saran pengelolaan dengan membagi uang mereka ke dalam pos-pos tertentu.
Aspek Emosi dan Sosial
Disini PR terbesar saya, karena erat kaitannya dengan rasa. Tidak ada standar target, semua berjalan secara natural saja. Yang bisa saya lakukan sebagai orang tua tentu menerima keunikan mereka dulu, menerima ide-ide mereka, menghargai dan memberi apresiasi terhadapu usaha-usahanya, memberi support baik materi maupun psikologis dan satu hal yang penting pula, tidak membandingkan antara satu dengan lainnya.
Saya percaya bahwa anak yang diberikan kepercayaan dan diterima ide-idenya kelak akan menjadi anak yang mandiri. Menjadi kebanggaan ayah bundanya. Hal ini seolah sudah otomatis menjadi rumus perbandingan lurus (linear). Sehingga amat penting bagi kami memberikan anak-anak ruang dan kesempatan melakukan semua nya sendiri, tidak tergesa-gesa untuk menawarkan bahkan memberikan pertolongan. Begitu juga gagasan-gagasan yang lahir secara orisinil dari buah pikiran mereka, kami menerima dan menjadikannya bahan obrolan ringan dalam forum keluarga.
Muara Keterampilan Kemandirian
"Barang siapa bersandar hanya kepada Allah, memohon hajat-hajat kepada Nya, dan memasrahkan urusan kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya, mendekatkan untuknya bagi setiap yang jauh dan memudahkan baginya semua yang sulit" -Atsar Asy-Syaikh AbdurRahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahulloh- dalam Fathul Majid : 124.
Menjadikan Allah satu-satunya sandaran hati dan mencukupkan Allah sebagai penolong dan kebergantungan, maka itulah tujuan puncak dari pendidikan kemandirian ini.
Dimulai dari siapa?
Tentu mulai dari orang tuanya.
Allahul Musta'an
@ Yogyakarta, 10 Desember 2017
@ Yogyakarta, 10 Desember 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar