Follow Me @linaibuneazzam

Minggu, 17 Desember 2017

Kecerdasan Matematika Logis dan CTL (Contextual Teaching and Learning)

credit freepik.com

Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA itu baru tantangan -Septi Peni, 2017-

Serupa dengan kreativitas, maka secara fitrah, sejak lahir anak pun telah dibekali potensi kecerdasan matematika logis ini. Ini menjadi pijakan kita saat menemani tumbuh kembangnya anak-anak.

Definisi

Menurut Howard Gardner, kecerdasan matematika adalah kemampuan memahami suatu kondisi/keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Atau sering juga disebut kemampuan analisis. Sehingga kecerdasan matematika logis ini tidak hanya terbatas pada persoalan perhitungan semata.

Masih menurut H.Gardner, bahwa ada kaitan antara kecerdasan matematika logis dengan kecerdasan bahasa. Dimana, pada kemampuan matematika, anak menganalisa (menjabarkan alasan logis) serta mampu mengkontruksikan solusi dari problem yang timbul. Sementara pada kemampuan bahasa, diperlukan untuk mensistematiskan dan menjabarkannya dalam bentuk narasi/bahasa.

Belajar Matematika dengan Mudah dan Menyenangkan

Berdasarkan pengertian kecerdasan matematika logis dari Gardner tersebut, maka dapat ditarik rangkuman sederhana bahwa kecerdasan matematika logis tidak hanya berkaitan dengan belajar calistung atau berhitung semata. Namun lebih luas dalam arti kemampuan menganalisa, menjabarkan secara sistematis dan runut, lalu mengkontruksikan sebuah persoalan untuk kemudian menemukan solusinya. 

Faktanya, masih banyak orang dewasa (baik orang tua atau pendidik persekolahan) yang salah kaprah dalam mengaplikasikan pengajaran matematika ini kepada anak-anak. Alih-alih membuat anak-anak "bergairah" dengan matematika, justru membuat anak merasa sulit bahkan jenuh dengan pelajaran ini. Gaya mengajar kita sebagai orang yang sok tahu atau sesungguhnya tidak mengerti bagaimana mengajar yang benar membuat matematika menjadi pelajaran yang kurang menggairahkan. Kebanyakan dari kita hanya mengajar dengan mentransfer ilmu (transfer of konwledge) ke anak-anak tanpa melihat kemampuan setiap anak yang memiliki tingkat yang berbeda-beda. Meminta anak-anak untuk menghafalkan rumus tanpa melalui proses menalar bagaimana rumus itu terbentuk juga merupakan pola pengajaran yang terasa melelahkan dan membosankan bagi anak-anak. Kita kadang lebih fokus pada aktivitas pengajarannya daripada pembelajaran.

Sangat disayangkan jika hasilnya seperti itu, sebab matematika ini merupakan bekal pengetahuan penting bagi kehidupan anak-anak kita. 

Kemudian apa yang bisa kita lakukan untuk membenahi hal tersebut?
Bagaimana mengemas pembelajaran matematika menjadi aktivitas yang bermakna?
Bagaimana membuat anak-anak bebas mengaktualisasikan segenap potensinya dalam upaya penguatan kecerdasan matematika logisnya?

Maka salah satu jawabannya adalah lakukan revolusi mengajar; melakukan pendekatan pembelajaran yang terpusat pada anak/peserta didik melalui Pengajaran dan Pembelajaran Konstekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Harapannya tentu adalah dengan pendekatan kontekstual ini akan membuat anak-anak belajar matematika terasa nyama, mudah dan menyenangkan.

Apa itu Pendekatan Kontekstual?

Ada banyak pengertian yang dapat kita temukan dan pahami tentang pendekatan ini. Diantaranya adalah, menurut Johnson (dalam Suyadi, 2013:81) pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nah poinnya ada disini, terkadang kita sebagai orang tua terburu-buru mengadakan buku pelajaran A, B atau C, memberikan soal latihan ini itu tanpa paham bagaimana kita mengemas pembelajaran matematika ini ke anak-anak agar menjadi pembelajaran yang asyik, menyenangkan dan penuh makna (meaning full). Kita terlampau bersemangat dalam menggegas (drilling) anak belajar berhitung dan lalai membangun pondasi konsep berpikir ilmiah dan logika anak.

Kembali kepada pengertian CTL, bahwa landasan filosofis pembelajaran ini adalah kontruktivisme, yakni belajar bukan hanya sekedar menghafal, melainkan membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif berdasarkan pengalamannya, sehingga terlihat bahwa anak mengalami peningkatan tahapan berpikir. Oleh karena itulah dengan CTL anak-anak akan distimulasi untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), bukan sekedar sampai pada level berpikir tingkat rendah (LOTS).

Peran Ibu Arsitek Peradaban

Sebagai ibu arsitek peradaban, maka yang perlu untuk kita perhatikan sebelum mengajari anak-anak matematika adalah;

1# Menanamkan konsep bilangan dan membilang.

2# Menguatkan konsep berhitung dasar.
     Menambah >> proses menggabungkan
     Mengurangi >> proses memisahkan
     Mengalikan >> penjumlahan secara berulang
     Membagi >> pengurangan secara berulang

3# Menghidupkannya dengan mengaitkan dalam kehidupan nyata.

Dengan memahami 3 (tiga) catatan penting diatas maka selanjutnya kita akan dengan mudah menyusun pola stimulasi dalam memantik kecerdasan matematika logis anak. Stimulasi yang nantinya akan disesuaikan dengan tumbuh kembang serta daya nalar anak. 

Stimulus-stimulus yang kita berikan itu nantinya diharapkan agar anak akan menyukai pelajaran matematika karena sesungguhnya dalam lingkaran kehidupan mereka bertabur konsep matematika, riil dan nyata. Anak pun akan menikmati matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan, bukan deretan angka yang menjenuhkan.


Bagaimana model stimulus yang tepat? InsyaaAllah akan kita pelajari bersama dalam tulisan berikutnya.




Referensi :

https://www.kompasiana.com/ayuputri14/5985aa5a76698f3e8b28fba2/penerapan-pendekatan-kontekstual-dalam-pembelajaran-matematika

Diskusi Materi#6 Menstimulus Kecerdasan Logis Anak, Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017

Howard Gardner, Multiple Intelligence, Gramedia, 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar